Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Perubahan sikap 2


__ADS_3

Arga terhenyak ketika mendapatkan surat pengalihan saham dari istrinya ternyata dara tidak selugu yang dia pikirkan. Arga benar-benar kaget mendapatkan semua ini sebelumnya dia tidak pernah berfikir jika semuanya akan seperti ini. Dara yang melihat suaminya hanya diam dengan mulut terbuka pun bertanya dengan sinis.


"Kenapa mas kamu kaget, aku tidak selemah yang kamu pikir mas. Dan hari ini hiks kamu telah menghilangkan kepercayaan aku untuk kamu mas hiks hiks kamu kejam dan sangat keterlaluan." Dara menunjuk nunjuk dadanya Arga dengan muka yang memerah karena menahan amarah.


"Maaf aku khilaf maafkan sayang, tolong jangan menangis aku punya alasan untuk semua ini." Arga tidak kuasa melihat tangisnya dara yang begitu memilukan.


"Alasan apa mas, aku selama ini selalu ada buat kamu mas. Semua kebutuhan aku selalu aku cukupin apa pernah kamu merasa kesepian mas." Tanya dara dengan lemah.


"Aku kesepian semenjak kamu memilih untuk berkarir, aku menikahi dia juga bukan karena kehendak ku ada alasan untuk semua itu."


"Heh. Karirku tidak bisa kamu jadikan sebagai alasan mas aku izin langsung ke kamu mas, sebelum aku berkarir kita juga hanya ketemu di waktu malam karena pagi sampai sore kamu di kantor. Jadi apa bedanya dengan sekarang walaupun aku juga kerja tapi aku sangat menjaga waktu ku untuk kalian. Untuk kamu dan juga anak anak mas, dimana salahnya aku mas, DIMANA MAS JAWAB." bahunya kembali bergetar karena menangis, dara tidak kuasa jika tidak mengeluarkan air matanya.


Memang benar apa yang dikatakan oleh dara, sebenarnya bukan hanya itu alasan yang dimiliki oleh Arga. Ada alasan lain yang membuatnya malu jika dia harus mengatakannya pada dara, dia tidak sanggup bila harus kembali menyaksikan kesedihan istrinya.


"Sayang aku mohon jangan nangis lagi ini semua kesalahan aku, maafkan aku hiks maaf." Lirih Arga dengan batu bergetar.


"Maaf katamu tidak semudah itu mas. Kamu telah berbuat masalah besar kali ini tidak semudah itu aku bisa memafkan kamu." Setelah mengucapkan itu dara kembali menghampiri karina dan kembali memperingatkannya.


"Heh kamu jangan senang dulu tunggu pembalasan yang setimpal dariku, kamu telah salah dalam memerankan acting dan mencari lawan mainnya." Karina meringsut kebelakang karena takut akan kembali di jambak oleh dara.


Sekali lagi dara menoleh ke arah Arga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Sayang tunggu sayang aku mohon jangan pergi." Arga berusaha untuk mengejar dara namun tangannya langsung di cekal oleh karina.

__ADS_1


"Mas gak usah di kejar ah. Istri devil begitu Syco memang istrinya kamu itu." Karina mengatai dara dengan sebutan pembunuh.


"Jaga bicara kamu karin, dia wanita yang lembut bukan seperti kamu."


"Buta kali kamu mas lembut apanya cobak. Enggak liat kamu tadi dia jambak aku hah."


"Dia akan lembut jika di lembutin dia juga bisa lebih kejam dari pada yang tadi kalau kita mintak, paham kamu." Arga menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman karina.


"Mas mau kemana kamu." Karina mengejar Arga yang sudah keluar dari kamar.


"Ihhh ini semua gara-gara kamu dara, mas mas arga." Karina berteriak dari dalam namun sama sekali tidak di hiraukan oleh Arga.


Dia pun memilih masuk ke dalam lagi karena percuma Arga juga tidak akan menggubris panggilannya.


Walaupun keadaan hatinya sedang rapuh dia juga harus tetap memikirkan kedua buah hatinya yang sedang berada di rumah. Pasti mereka akan sedih bila melihatnya terluka dan berurai air mata, apalagi jika dia sampai lost control waktu menyetir.


Dara masih waras akan itu semua, ini bukan cerita novel atau dunia perfileman. Sehancur hancurnya dia sekarang, dia tetap harus bisa berpikir dengan jenih.


"Aku harus kuat untuk kedua anak anakku, aku pasti bisa menghadapi semuanya aku bisa." Dara menyemangati dirinya sendiri.


"Ternyata kamu sama aja mas sama lelaki bejat di luaran sana, sikap manismu selama ini ternyata hanya modus belaka."


"Hiks hiks ya Allah tolong jaga hatiku untuk tetap kuat dalam mengahadapi musibah yang engkau berikan, hiks hiks terlalu sakit dengan kebenaran ini." Dara mencoba untuk menghilangkan memory otaknye tentang kejadian beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Dia enggan mengingatnya sangat menjijikkan perbuatan mereka di belakangnya, bahkan sekarang dara sangat jijik bila harus bersentuhan dengan suaminya. Suara laknat dari karina masih terngiang-ngiang di kepalanya hingga saat ini.


Lelah berperang dengan hati dan perasaannya dara memilih kembali untuk pulang dan tidur bersama anak anaknya. Karena tidak akan ada gunanya bila hanya menangisi seorang pengkhianat. Akan sia sia air mata yang berjatuhan membasahi pipinya, dara menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


Begitu sampai di rumah ternyata Arga telah lebih dulu sampai dan menunggunya.


"Sayang maafkan aku hiks tolong maafkan kekhilafan ku." Arga bersujud di kaki istrinya, dara mencoba untuk tetap tenang dia tidak ingin bila air matanya kembali mengapung di pelupuk matanya.


"Bangun mas aku bukan ibumu yang harus kamu sujud di kakinya, aku ini istrimu." Dara membukakan pintu rumah dan Arga kembali berdiri dia sedikit heran melihat reaksi istrinya saat ini.


"Apa aku boleh masuk." Tanya Arga dengan lemah.


"Kenapa tidak ini rumah kamu kan." Jawab dara kemudian berlalu dari sana.


Arga sangat senang ternyata dara membolehkannya untuk tetap masuk dia bertekad agar malam ini dia bisa mencet ia semuanya sama dara. Namun harapan tidak sesuai kenyataan, ternyata dara memilih tidur di kamar anaknya dan langsung meng kunci pintunya dari dalam.


Arga berjalan lesu ke dalam kamarnya sekarang dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya. Karena sebuah nafsu kini dia telah kehilangan kepercayaan istrinya, Arga sangat menyesal namun dia hanya bisa pasrah dan menerimanya.


"Aku sangat bodoh sangat bodoh. Aku harus apa sekarang bagaimana jika dara meninggalkan aku hiks hiks ya Allah maafkan kesalahan ku." Arga menjambak rambutnya dengan kuat.


Di kamar anak anaknya dara hanya bisa mengelus ngelus pucuk kepala mereka dengan sayang. Dia tidak boleh egois dalam mengambil keputusan karena masih ada kedua anaknya yang harus tetap dia jaga mental dan juga fisiknya. Kan seperti apa kehidupan mereka jika dia sampai harus berpisah dengan Arga, akan sangat ironis nasip kedua anaknya.


"Ku pasrahkan semuanya ya Allah semoga jalanmu yang terbaik."

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2