Suami Pilihan Abang

Suami Pilihan Abang
Bukti pertama


__ADS_3

Firasat seorang istri memang tidak akan pernah meleset jauh dari perkiraannya, jika hati sudah berkata iya pasti semuanya akan nyata di depan mata. Sakit memang pasti namun setiap istri punya caranya sendiri untuk mengatasi segala permasalahannya.


Hanya perempuan bodoh saja yang akan membiarkan suaminya jatuh ke dalam kubangan dosa. Walaupun sakit hati dengan kenyataan yang begitu perih, namun akal masih berfungsi dengan baik. Ada kedua buah hati dan keluarga yang harus di pikirkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang salah.


Dara juga tidak ingin egois dalam mengambil keputusan, apa jadinya jika dia bersama Arga harus berpisah. Akan seperti apa nasip kedua anaknya, walaupun dia mampu membiayai kehidupan kedua anaknya. Namun itu tidak akan menjamin kebahagiaan mereka seutuhnya, hanya mereka kekuatan yang dia miliki.


Akan sangat egois bila dia tidak memikirkan perasaan anak anaknya, sangat sesak bila membayangkan itu semua.


"Mama aku kesekolah dulu ya." Bella menyalim mamanya dan mencium pipinya.


"Ma aku juga ya." Brian juga menyalim mamanya.


"Hati hati ya kesayangan mama." Dara memeluk kedua anaknya dan menciumi mereka.


Arga hanya menatap perlakuan dara kepada anak anaknya, dia tidak berani bersuara karena kejadian semalam mereka masih sama-sama saling diam.


"Pa kenapa gak cium mama." Tanya bella.


"Iya biasanya juga pasti mama Salim papa, terus papa gantian cium keningnya mama." Ucap Bella dan Brian polos.


Arga jadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan dara hanya berdiam diri dan mencoba untuk memberikan penjelasan.


"Udah kok tadi sebelum keluar, kalian belajar yang rajin ya sayang jangan bandel." Ucapnya kepada anak anak.


Merekapun mengangguk dengan patuh, Arga menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Arga keluar dari gerbang rumah, dara kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil tas untuk segera berangkat ke kantor.


Dara memarkirkan mobilnya di parkiran khusus CEO, hatinya masih tidak tenang sebelum kedok suami dan sekretarisnya terkuak.


"Selamat pagi ibuk yang cantik." Dara begitu kaget melihat kehadiran alexsa dan juga Celine.


"Loh kalian kenapa bisa barengan." Tanyanya begitu senang melihat kejadian kedua sahabatnya.


"Bisa dong bestie hehe."


"Kita ngerumpi cantiknya di dalam aja yuk." Dara mengajak mereka masuk ke dalam ruangan.


"Kalian duduk aja dulu mau minum apa." Tanya dara antusias.


"Udah lah jangan repot begitu, kayak sama siapa aja kamu." Ujar Celine.

__ADS_1


"Haduh bisa gak kerja aku hari ini." Dara cekikan.


"Ih sialan kamu dar. Gimana jadi gak liburannya minggu depan."


"Mau liburan gak ngajak ngajak ih." Alexsa manyun.


"Udah lama rencanainnya bestie, kalau mau ikut gak papa ikut aja. Makin seru tau." Jawab dara tersenyum melihat alexsa.


"Udah basi ajakannya."


"Hahaha udah udah nanti siang lunch bareng yuk." Celine mengajak kedua sahabatnya.


"Ayuk." Dara dan alexsa antusias mendengar ajakan Celine.


Mereka asik becanda dan tertawa-tawa bersama, dara sedikit terhibur dengan kehadiran mereka.


"Yaudah lah kita pamit ya, nanti ketemuan di cafe aja ya." Celine dan alexsa balik ke kantor mereka masing-masing.


Sekarang hanya tinggal dara sendiri di ruangannya, sambil mengecek ponselnya dia jadi teringat sama alat sadap dan juga kamera yang dia pasang dalam ruangan suaminya.


Dara pun dengan semangat melihat isi rekaman tersebut.


Dan tak lama kemudian juga muncul karina di sana, terlihat dia yang mengelus-elus pundaknya Arga.


Karena penasaran dara segera mendengarkan percakapan mereka lewat alat sadap yang dia pasang.


"Kenapa mas kamu kayak stres begitu."


"Gimana gak stres karin, gara gara kemarin dara jadi gak bicara sama sekali sama aku."


"Udah lah mas cewek memang begitu. Nanti juga baikan sendiri."


"Tau ah pusing aku."


"Dari pada pusing mendingan kita happy aja yuk." Ajak Karina berbisik di telinganya Arga.


"Karin tolong ya kamu keluar dulu deh."


"Mas kamu gitu ih." Karena kesal di usir oleh Arga, dia keluar dari sana dengan muka kesal.


Arga tidak memperdulikan Karina yang kesal karena dirinya, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah dara. Dia harus menjelaskan apa ke istrinya semua adalah kesalahannya Arga sangat menyesal telah menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


"Heuh jadi dugaan ku benar mas." Dara mematikan Vidionya.


Walaupun hatinya sedang tidak baik baik saja namun dara tidak ingin terpuruk dan berlarut dalam kesedihan. Dia harus mengumpulkan semua buktinya terlebih dulu sebelum melabrak mereka.


Tangannya sudah sangat gatal ingin menjambak si pelakor Karina, Namun masih dia tahan. Dara sudah belajar dari pengalaman orang orang di sekitarnya, akan ada waktunya membalas perbuatan mereka.


Tapi yang namanya air mata tetap saja keluar tanpa permisi, walau sekuat apapun dia menahannya tapi tetap saja dia tidak kuat membendungnya.


Pikirannya melayang entah kemana mana, apakah suaminya telah tidur ataupun menikah dengan perempuan itu. Jika Arga sudah pernah tidur pasti mereka telah menikah siri di belakangnya, karena Arga tidak akan mungkin berani menyentuh perempuan lain jika belum dia halalkan.


Hati dara begitu sakit bagaikan tercabik-cabik mengingatkan semua itu, dia tidak sanggup. Apakah nasip pernikahannya akan berakhir dengan jalan seperti ini.


"Hiks hiks ya Allah tolong hamba ya Allah hiks hiks rasanya sakit sekali di khianati seperti ini." Keluhnya.


Namun lagi-lagi dia teringat bayangan kedua malaikat kecilnya, hatinya semakin pilu bila mereka harus menanggung semua kepedihan ini.


Dia pun menghapus sisa air matanya, kedua anaknya adalah motivasi terbesar dalam hidupnya.


"Aku harus kuat hiks, aku gak boleh kalah dan lemah. Demi kebahagiaan kedua anakku." Ucapnya memotivasinya dirinya sendiri.


Dara memilih untuk mencuci mukanya terlebih dulu sebelum ada karyawan yang melihat dirinya baru saja habis menangis.


Setelah mencuci muka kini wajahnya terlihat fresh kembali, dia pin tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin. Dara kembali memoleskan make up natural di wajahnya, walaupun hatinya sedang kacau namun dia tidak ingin bila wajahnya juga akan terlihat kacau.


*


*


*


"Mas makan siang bareng yuk." Karina mengajak Arga untuk makan siang berdua.


"Kamu ini gimana sih Karin, kamu gak ngerti juga sama status kita saat di kantor." Arga menyentak tangan karina yang menggandeng lengannya.


"Mas aku juga istrinya kamu, kalau gak disini terus dimana aku bisa berduaan sama kamu hah. Kamu aja selalu di rumahnya mbak dara kan." Karina marah karena Arga menolak ajarannya.


"Kamu masih ingat Kan sama perjanjian awal kita. Ingat baik baik Karin." Arga meninggalkan Karina sendirian di ruangannya.


"Ihh awas kamu mas." Karina semakin berang karena ditinggalkan Arga.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2