
Di dalam mobil mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun sehingga membuat glen merasa tidak enak. Apakah dara marah karena omongannya dengan bram barusan. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa telah lancang mencampuri urusan pribadinya dara.
"Glen kita jemput anak anakku bentar mau." Glen bernafas lega ternyata dara tidak marah padanya.
"Oke. Kamu gak marah sama aku." Tanya Glen ragu.
"Marah kenapa sih kamu aneh." Dara mengambil ponselnya untuk menelpon gurunya twins.
"Ya karena udah mencampuri urusan kamu sama arga. Aku jadi ngerasa gak enak aja karena udah lancang hehe." Glen cengengesan sehingga membuat dara tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Glen Glen. Malah aku makasih loh karena kamu udah buat mas arga mati kutu." Dara menatap Glen serius dan tak sengaja memegang lengannya Glen.
"Syukurlah kalau kamu gak marah aku jadi lega. Kamu umur berapa sih sekarang." Tanya Glen yang membuat dara bingung.
"Buat apa sih nanyain umur, yang jelas tuaan kamu lah di banding aku."
"Kalau tau tuaan aku. Manggilnya mas dong jangan glan Glen glan Glen terus." Ketus Glen yang membuat dara melongo ke arahnya dengan bingung.
"Kenapa sih kamu aneh deh. Bentar ya aku jawab telpon dulu." Dara menjawab telpon dari sekolahnya twins gurunya memberi tahu dara jika twins sedang menunggu jemputan mereka.
"Kita langsung kesekolah ya anak anak udah pada nungguin."
"Oke catinku gasken." Dara melotot ke arah Glen dan menepuk pelan tangannya karena kesal.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama karena tingkah Glen yang selalu bisa membuat dara tersenyum. Glen juga merasa bahagia karena bisa membuat dara tertawa lepas seperti ini. Begitu tiba di sekolahnya twins Glen membuka pintu mobil dan mempersilahkan twins masuk. Mereka hanya menuruti karena telah melihat mama mereka duduk di jok depan.
"Assalamu'alaikum mam." Bella dan brian bergantian menyalim dara dan menciumnya.
"Walaikumsalam sayang mama cup, cup." Dara membalas ciuman kedua anaknya dengan sayang.
"Sayang ini om Glen temennya mama. Ayo salim dulu sama om glennya." Bella dan brian bergantian menyalim Glen dengan sopan.
"Anak anak manis. Mau langsung aku anterin pulang apa mampir dulu ke cafe." Dara terlihat menimbang ucapan Glen.
"Kalian mau kemana dulu sayang."
"Pulang aja deh mam." Jawab Bella lesu dia sedikit kecewa ternyata bukan papanya yang menjemput. Dia sangat berharap akan di jemput oleh papanya namun harapannya sia sia.
Setibanya mereka di rumah. Bella segera turun dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun sehingga membuat brian merasa tidak enak dengan glen.
"Om maafin bella ya. Mungkin dia sedih karena papa gak menjemput kami." Glen berjongkok di hadapan brian dan mengelus lembut pucuk kepalanya.
"Iya sayang om mengerti kok. Yaudah kalau gitu om pamit dulu ya, ca_ emm maksudku dara aku balik dulu assalamu'alaikum." Dara menggeleng dan memutar malas bola matanya.
"Waalaikum salam hati hati mas." Teriak dara keceplosan.
"Kamu bilang apa barusan." Glen berbalik dan kembali bertanya sambil cengegesan.
__ADS_1
"Apa sih kamu. Sana pulang aku mau masuk kasian bella lagi manyun." Dara baru tersadar kalau ia keceplosan dan salah memanggil Glen dengan sebutan mas.
"Yaudah lah aku pulang dulu." Glen melambaikan tangannya ke arah dara sambil tersenyum manis.
Dara memasuki rumah dengan tergesa-gesa karena begitu khawatir dengan bella. Saat memasuki kamarnya bella dia tidak sengaja mendengar isakan tangis dari putrinya tersebut. Hatinya begitu terenyuh dan sakit mendengar tangisan putrinya, dara membuka pintu kamar bella secara perlahan.
Dilihatnya bella yang meringkuk sambil memeluk lututnya di ujung kamar. Dara segera memeluk putrinya dan menciumnya dengan sayang. Hatinya sakit melihat bella yang menangis sendirian seperti ini, hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya seperti itu.
"Sayang kamu kenapa nak." Dara membawa bella ke dalam pelukannya.
"Hiks hiks hiks mam papa kemana hiks bella kangen papa ma." Bella terisak dalam pelukan mamanya.
"Papa ada sayang, papa lagi di kantor." Bohong dara karena tidak ingin membuat putrinya semakin sedih.
"Ma jujur sama bella kemana papa beberapa hari ini. Aku sama kak brian kangen sama papa hiks hiks ma suruh papa pulang." Dara terdiam mendengar rengekan anaknya.
Namun dia juga sadar kalau dia tidak boleh egois walau bagaimanapun arga tetap papa biologis mereka. Karena tidak ingin di bilang egois dia mengesampingkan egonya dan menelpon arga atas permintaan anaknya.
Namun sudah beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi suaminya namun arga tak kunjung menjawab telpon darinya. Karena kesal dara pun memberi alasan lain kepada anaknya agar dia bisa memahami pekerjaan papa nya.
"Papa sibuk sayang nanti papa juga pulang. Mending sekarang kamu mandi dulu biar wangi ayuk mama temenin." Akhirnya dara sedikit lega karena bella mau mendengarkan omongannya.
#Bersambung
__ADS_1
^^^ ^^^