
Tertidur dengan hati yang terluka memang tidak akan membuat kita nyaman. Apalagi dengan keadaan mata yang membengkak semakin membuat tidur kita jadi terusik. Namun alexsa tidak memperdulikan itu semua, walaupun terlihat biasa saja. Yang namanya sakit hati tetap sama dia rasakan.
Ingin menangis, tetap tidak ada gunanya karena ini semua adalah pilihannya sendiri. Tepat pukul 00:06 pagi dia terbangun, dan melihat vicky yang begitu nyenyak tertidur di sampingnya. Alexsa mengamati setiap wajahnya vicky yang selalu membuat dia jatuh cinta. Entah cinta seperti apa yang di miliki oleh alexsa untuk vicky, yang jelas di tengah asik memandang wajahnya vicky. Dia baru teringat dengan alena yang masih terkunci di dalam kamar mandi.
Alexsa segera bergegas keluar dan menuju dapur. Sesampainya disana dia langsung membuka pintu kamar mandi, dan mendapati alena yang sudah pucat dan pingsan di lantai.
"Ya ampun anak orang, aduh aku sampai lupa lagi bukain pintunya semalam." Gumam alexsa dengan sedikit khawatir.
Dia segera mengangkat alena dan membawa ke dalam kamarnya. Alexsa tidak ingin membuat keributan di pagi hari, soal vicky biar dia yang mengatasi nya.
"Makanya, jangan punya profesi jadi pelakor. Kenak kan sekarang." Cibir alexsa sedikit kesal karena mengingat statusnya alena yang sebagai istrinya vicky sekarang.
Terlihat Alena yang sudah menggerakkan sedikit badannya. Dan dengan perlahan dia membuka matanya, namun yang terlihat adalah istri pertama suaminya yang selalu membuatnya mendapatkan musibah. Alena perlahan bangun dan memegang kepalanya yang sedikit pusing karena terlalu lama berada di dalam kamar mandi semalaman.
Alexsa hanya berdiri dengan berkacak pinggang di depan Alena, dia bahkan enggan mengambilkan sedikit air putih untuk Alena.
"Bangun Jangan asik malas malasan kamu." Tegur alexsa.
Alena menatap dengan marah ke arah alexsa, ingin sekali dia menjambak rambutnya sekarang. Tapi kondisinya saat ini sama sekali tidak mendukung, apalagi tidurnya semalaman sama sekali tidak membuatnya nyaman. Tepatnya bukan tidur tapi pingsan😅 Alena tidak memperdulikan omelan alexsa, dia malah menarik selimut dan kembali untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Makanya jangan salah masuk kandang kalau enggak mau di buat jera." Bisik alexsa dengan nada mengancam.
Dia pun keluar dari sana dengan tersenyum sinis. Alexsa memilih ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Heuh alexsa tersenyum miring mengingat kata 'Suami' . Hidup satu atap dengan perempuan lain, yang dinamakan 'Madu' dia hanya bisa menggeleng kepala.
"Lagi ngapain hm. " Tegur vicky yang tiba-tiba sudah berada di samping alexsa.
"Masak emang kamu enggak liat. " Ketus alexsa.
"Ayolah lexsa. Jangan bersikap dingin terus begini, aku kangen kamu yang dulu."
"Alexsa yang dulu udah mati." Jawab alexsa dengan nada jutek.
Vicky menyugar rambutnya kebelakang. Memang menghadapi perempuan yang sedang marah, sangat melelahkan. Dia pun pergi dari sana dan menuju ke kamarnya Alena.
Dilihatnya Alena yang masih terbaring di atas tempat tidur. Vicky menghela nafas pelan, dia baru menyadari ternyata ada perempuan lain di rumahnya selain sangat istri. Ini lah alasannya kenapa alexsa tidak bisa seperti dulu lagi terhadapnya.
Dulu alexsa adalah perempuan yang manja, suka merengek, bahkan walaupun dia tidak memperdulikannya alexsa tetap membujuk dengan segala cara. Vicky sangat merasa bersalah bila mengingat bagaimana perjuangan alexsa untuk mendapatkan nya dulu.
"Aku memang laki-laki bodoh, tapi semua udah berlalu." Gumam vicky dengan menunduk.
Dia menutup pintu kamar Alena, dan kembali ke dapur untuk sarapan.
"Makasih ya udah mau melayani aku." Ucap vicky sunguh-sungguh.
__ADS_1
"Em. Udah tugas kali." Ketua alexsa.
"Maafkan aku lexsa. Aku janji bakal selesaiin semuanya, aku akan membuat kamu kembali seperti dulu lagi." Jawab vicky jujur dan menatap alexsa dengan penuh harap.
"Jangan cuma ngomong, buktiin dong." Kata alexsa.
Vicky tersenyum, ini adalah sebuah kode jika alexsa akan menunggu pembuktian darinya.
*
*
*
Dara dan nayla sedang membuatkan sarapan untuk kedua suami mereka. Nayla merasa nyaman memiliki adik ipar seperti dara, selain cantik dia juga sangat baik dan perhatian.
"Dek duduk aja gih, biar mbak aja yang ngerjain." Ucap nayla lembut.
"Enggak apa apa mbak. Selagi dara masih disini kita bisa kok ngerjain bareng bareng, malah dara makin senang. " Ucap dara girang.
Nayla tersenyum hangat. Bahagianya dia mempunyai keluarga yang sayang padanya.
"Tapi kasian nantik babynya capek. Istirahat aja ya biar mbak aja. "
Namun saat ingin kembali ke dapur, dia merasakan sakit di perutnya.
"Aduh. Aw ya Allah kenapa ini." Lirih dara dengan menggigit bibirnya karena menahan sakit.
Nayla yang melihat dara memegang perutnya seperti kesakitan pun jadi panik. Dia segera membantu dara untuk duduk.
"Ya Allah dek kenapa. Ayok duduk dulu sini. " Nayla memapah dara untuk duduk di sofa.
"Mbak perut dada sakit." Lirih dara pelan, badannya sampai berkeringat menahan sakit di perutnya.
"Tarik nafas pelan. Mbak panggilin bang bram dulu sama suami kamu ya." Dara mengangguk, dan Nayla segera memanggil kedua laki-laki tersebut dengan panik.
"Mas_ mas bram dara sakit mas. " Teriak Nayla dengan panik dan mencari cari keberadaan mereka.
Sontak bram dan juga arga yang sedang memakai baju langsung berlari ke arah Nayla.
"Kenapa mbak." Tanya arga panik.
"Sayang ada apa." Tanya bram tak kalah panik.
__ADS_1
"Em_ dara mas, katanya sakit di perut." Jelas Nayla.
Bram dan juga arga saling pandang, dan detik kemudian langsung menghampiri dara. Mereka segera membawa dara ke mobil dan dengan cepat melesat ke rumah sakit yang terdekat dengan rumahnya bram.
"Aduh mas sakit mas hiks sakit." Lirih dara dengan isak tangis.
"Sayang yang sabar ya, sebentar lagi dokter sampai." Arga mengelus pucuk kepalanya dara dengan sayang.
Bram terlihat gusar dan sangat panik, apalagi dara yang sedari tadi menangis karena merasakan sakit di perutnya.
Setelah dokter tiba, para suster langsung menutup pintu dan menyuruh mereka untuk menunggu di luar.
"Maaf Pak silahkan tunggu di luar. Biar dokter bisa menanganinya." Jelas suster dengan sopan.
"Iya dok." Mereka pasrah karena harus mengikuti prosedure rumah sakit.
Nayla berusaha menenangkan suaminya yang sedang kalut. Bram sangat menyayangi adiknya, makanya sekarang dia sangat gusar dan panik. Sedari tadi dia dan arga terus saja mondar-mandir gak jelas. Nayla sampai bingung melihatnya, apalagi suaminya Bram, dia terus saja menoceh tidak jelas.
"Mas, udah mas yang tenang. Insya Allah dara engga apa apa kita sama-sama berdoa aja ya." Bujuk Nayla.
"Sayang. Mas takut dara adeknya mas satu satunya." Jelas Bram dengan meneteskan air mata.
Nayla memeluk Bram, ternyata Bram adalah seorang kakak yang setia juga bertanggung jawab. Nayla bahagia bisa memiliki Bram dalam hidupnya.
"Liat arga mas, bukan hanya mas saja. Arga juga sama takutnya apalagi di dalam sana ada calon anak mereka. Harusnya mas bisa menguatkan Arga selalu suaminya dari dara." Ujar Nayla memberi pengertian.
Bram baru menyadari ternyata bukan hanya dia yang merasa khawatir, masih ada Arga suami adeknya yang lebih menghawatirkan isterinya. Bram menghampiri Arga dan menepuk bahunya dari belakang.
Arga menoleh dengan raut wajah yang terlihat gusar dan sangat khawatir.
"Sabar Arga, insya Allah dara akan baik baik saja." Ujar Bram.
"Iya bang." Hanya itu yang mampu di jawab Arga.
Sudah 30 menit lebih mereka menunggu di luar ruangan, Nayla terus saja menenangkan kedua laki-laki terpenting di dalam hidupnya dara. Apalagi Arga yang sudah sangat pucat menunggu di luar, bahkan dia sampai mengeluarkan air matanya.
Setelah 15 menit pintu ruangan terbuka, dan keluarlah dokter beserta perawat yang sedang mendorong brankar yang dara tiduri. Mereka membawa dara dengan tergesa-gesa menuju ruang operasi.
Arga melihat dengan mata melotot dan tak percaya, apa yang sudah terjadi dengan istrinya. Bram juga sama mereka semua mengejar brankar yang membawa dara, Arga melangkah dengan sangat cepat. Bahkan jantungnya yang sedari tadi terus berpacu dan hatinya merasa gundah.
Bram juga sama merasakan seperti yang Arga rasakan. Sedangkan Nayla hanya bisa terus berdoa untuk dara, dia juga sama khawatirnya dengan mereka.
**Kira kira apa terjadi dengan dara???
__ADS_1
#Bersambung**