
Setelah selesai dengan segala persiapan dan fitting baju pengantin, kini Alena akan melangsungkan pernikahan nya bersama same di sebuah hotel yang telah di pilih oleh orangtuanya same. Same melakukan ijab kabul tanpa adanya Alena, karena ini termasuk dari permintaan Alena. Walaupun ini pernikahan settingan menurut mereka, hadirnya orangtuanya adalah suatu hal yang sangat di harapkan olehnya. Tapi mustahil, jangankan hadir tau pun tidak orang tuanya Alena.
Dadanya begitu sesak mengingat nasipnya yang selalu di pertaruhkan, hatinya kecilnya juga menginginkan sebuah kebahagiaan yang nyata. Entah kapan baru dia bisa merasakan nya, namun dia hanya terus bisa berharap dan berharap semoga kelak akan ada kebahagiaan yang telah menantinya.
Alena menatap dirinya di cermin, kini dia bagaikan seorang pengantin yang sangat bahagia dengan balutan gaun pernikahan yang indah, tapi tidak dengan hatinya yang gundah akan rasa gelisah yang terus menghantuinya.
Dirinya semakin merasa tidak berguna saat ini, pernikahan pertamanya dengan Vicky juga membawa luka bagi kedua orangtuanya. Dan sekarang pernikahan keduanya juga membawa derita bagi dirinya sendiri juga bagi kedua orangtuanya jika mereka sampai tau.
Dia sendiri tidak tau harus apa sekarang, yang pasti hidupnya tidak akan tenang bila dia belum meminta maaf kepada mama dan juga papanya. Mengingat kata mama, air matanya menetes tanpa permisi dadanya sesak hatinya bagaikan tersayat sayat.
"Hiks aku memang anak yang tidak berguna, ya tuhan haruskah aku tiada. Aku sendiri enggan untuk menjalani hari hariku." Gumam alena meratapi nasipnya.
Ceklek. . . Dia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.
"Sayang, apa kamu sudah siap nak." Tanya mama same, dia pun mengangguk.
Mama Anita adalah mamanya same, dia seorang ibu yang baik juga penyayang. Sudah lama dia sangat menginginkan seorang menantu, namun baru sekarang dia mendapatkannya.
"Jangan gugup, tarik nafas pelan pelan dan hembuskan perlahan." Ujar mama Anita.
Alena hanya mengangguk mengiyakan, dia pun di bawa keluar oleh mama Anita. Namun belum sempat untuk turun seorang ibu-ibu yang sebaya dengannya menghampiri mereka.
"Jeng ngapain kesini." Tanya Anita saat melihat sahabatnya yang menghampiri mereka ke lantai atas.
"Biar saya temani ya." Ujar sahabat Anita.
Deg. . Alena sangat familiar dengan suara tersebut, hatinya bergetar dan matanya terasa panas karena mendengar suara yang sangat dia rindukan selama ini. Dia pun berbalik dan merembes sudah air matanya yang sedari tadi dia tahan, namun dia tidak berani bersikap lebih selain hanya berdiri dan menatap ke arah wanita paruh baya tersebut.
Deg. . .Wanita paruh baya tersebut juga sama kagetnya seperti Alena. Tanpa menunggu lama dia segera memeluk anaknya yang selama ini begitu dia rindukan.
"Elen hiks hiks mama kangen nak, hiks kemana aja kamu selama ini." Tanya mama Devi sedih.
Alena tidak menyangka akan respon mamanya yang berbanding terbalik dengan pikirannya. Dia pun segera membalas pelukan mamanya, karena memang dia begitu sangat rindu pada mamanya.
Anita yang melihat menantu dan sahabatnya berpelukan jadi bingung, dan dia juga sempat mendengar panggilan mama.
"Tunggu tunggu, mama. Maksudnya apa Dev." Tanya Anita butuh penjelasan.
"Nit, dia putriku." Jelas Devi sambil membelai pipi Alena.
"Apa, jadi Alena bukan yatim piatu." Tanya Anita heran dan sekaligus kaget dengan pernyataan sahabatnya.
Alena juga kaget mendengar pertanyaan dari Anita, pasti ini ulahnya same.
__ADS_1
"Yatim piatu, enggak lah nit dia putriku dan aku mama yang melahirkan nya." Jelas Devi mamanya Alena.
"Kurang ajar kamu same." Gumam Anita kesal.
Setelah selesai menjelaskan sedikit tentang Alena, kini mereka kembali merias Alena agar tidak terlihat habis menangis dengan mata sembabnya. Dan mereka membawanya menemui same dan para tamu undangan, semua mata tertuju kepada Alena tak terkecuali same.
"Cantik." Ucapnya dalam hati.
Alena terlihat sangat sumringah saat ini, tidak seperti tadi pagi saat para MUA masih meriasnya, dia terlihat sangat murung dan sedih.
Alena berdiri di samping same dan mereka di suruh saling menukar cincin, setelah itu bergantian Alena yang mencium tangan same, dan di balas dengan same yang mencium kening Alena. Terlihat Sangat real tanpa settingan walau kenyataan aslinya berbanding terbalik dengan kejadian hari ini.
"Cantik juga kamu ternyata." Puji same.
"Baru tau kamu, kemana aja." Ledek Alena.
"jalan jalan." Jawab same ngasal.
Dia pun memutar bola matanya malas.
*
*
*
"Pa maksudku apa suruh kita berkumpul begini." Tanya same bingung.
"Kebohongan apa yang kamu sembunyikan dari kami same." Tanya papa sake dengan suara beratnya.
"Kebohongan, same gak ngerti pa." Jawabnya berlagak tidak melakukan kesalahan apapun.
"Apa kamu mengenali mereka." Tanya papa same menunjuk ke arah papa Alena dan mamanya.
Namun same hanya menggeleng, dan kemudian menelisik sesuatu yang menurutnya tidak asing dari wajah mereka. Namun dia masih belum menemukan jawabannya.
" Sebenarnya mereka siapa sih pa." Tanya same yang membuat Alena semakin gugup dan berkeringat dingin. Kalau aja di ruangan ini sudah tidak ada orang lain, mungkin sudah Alena bogem si same.
"Same papa serius." Bentak papanya yang membuat same terkejut.
"Sudah pa, biar mama yang bicara." Ujarnya Anita menenangkan suaminya.
"Same, mereka adalah kedua orangtuanya Alena istri kamu. Untung kami bersahabat jika tidak mungkin kami masih akan tertipu dengan lelucon kalian."
__ADS_1
"Apa tujuan kamu sebenarnya nak, ayo bicara sama mama. Jangan sampai kami sendiri yang akan turun tangan untuk mencari tau segalanya." Ucapnya lembut namun terlihat mengerikan di matanya same.
Alena hanya bisa menunduk dan meremas kedua jarinya, dia tidak berani mengangkat wajahnya.
"JAWAB SAME." Tukas papa same Dangan marah.
Dia terlonjak kaget mendengar suara papanya yang terlihat sangat emosi.
"Em sebe_ sebenarnya ini semua salahnya aku pa." Jawab same pasrah.
Karena jika sudah begini papanya pasti akan segera tau, dan akibatnya akan fatal jika dia tidak mengakuinya.
"Jelaskan semuanya." Ucap papanya.
Same pun menjelaskan semuanya dari pertama sampai akhir, tapi dia tetap menjaga nama baiknya Alena. Karena dia yakin jika kedua orangtuanya Alena pasti tidak tau dengan kelakuan anaknya.
Plak. . . Tamparan keras melayang di pipinya same, papanya begitu murka dengan perilaku anaknya.
"Apa pernah papa mengajarkan kamu hal yang memalukan seperti ini same, apa pernah." Tanya papanya dengan marah.
Same menggeleng dengan wajah yang menunduk.
"Hiks mama kecewa nak, kenapa kamu tega. Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini, kamu adalah putra kami satu satunya semua apa yang kami miliki, juga akan menjadi milik kamu." Ucap mamanya sedih.
Alena juga meneteskan air matanya, akibat kesepakatan konyol mereka berdua ternyata membuat banyak hati yang kecewa dan sakit.
Dia tidak bisa membayangkan jika orang tuanya sampai tau dengan kelakuannya selama ini.
Alena bersujud di kaki orang tuanya, dan dia menangis karena merasa sangat bersalah.
"Ma, pa, maafkan aku hiks hiks aku selama ini telah membangkang pada kalian. Maafin aku ma, pa." Ujar Alena dengan sedih.
Devi yang tidak tega melihat anaknya, membantu Alena untuk berdiri dan kemudian memeluknya. Mereka berpelukan dan saling menumpahkan rasa sesak yang selama ini di pendam. Papa Alena juga memeluk anaknya dengan sayang, dia bersyukur akhirnya Alena tidak salah memilih mertua.
"Nak same, tolong jaga Alena. Jangan sakiti dia lagi." Ujar mama Devi penuh harap.
Same memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mama Devi.
"Tolong ya, jaga putri kami jangan sakiti dia." Ujarnya lagi.
Same tidak punya pilihan lain selain hanya mengangguk. Mereka akhirnya menemukan jalan untuk permasalahan anak anaknya, dan same juga Alena tidak bisa berbuat apa apa selain diam dan mendengarkan.
Alena juga tidak sedikitpun menoleh ke arah Same, dia juga tidak berharap lebih selain menunggu instruksi selanjutnya dari same.
__ADS_1
#Bersambung