Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 36


__ADS_3

Ella membuka matanya perlahan dan langsung melihat jam dinding. Ella terkejut. Ternyata jarum jam sudah menunjukan angka sembilan. Ella menyibakkan selimutnya dengan kasar. Ella kembali terkejut. Ternyata tubuhnya tanpa sehelai benang. Ella kemudian tersenyum. Mengingat kegiatan panasnya bersama Bima tadi malam. Suaminya itu seperti mempunyai tenaga ekstra untuk menggempur dirinya. Entah berapa kali mereka melakukannya tadi malam. Yang pasti Ella masih mengingat ketika hendak tidur dia melihat sudah jam dua tiga lewat.


Ella menurunkan kakinya dari ranjang. Matanya menangkap benda tipis yang terletak di atas meja kecil dekat ranjangnya. Benda yang tidak lain dari ATM itu yang memicu perdebatan tadi malam. Ella tidak ingin libur kerja hari ini. Tapi Bima melarang dan menyuruh Ella berdiam di rumah satu hari ini. Bima tidak ingin Zico menjumpai Ella di kantor dan melakukan hal yang tidak tidak. Bima memberikan ATM beserta pin sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami atas diri Ella.


Ella tidak langsung menerima ATM itu. Dan bersikeras untuk bekerja hari ini. Perdebatan itu berlangsung hampir setengah jam dan tidak menemui titik temu. Akhirnya perdebatan itu diakhiri dengan bibir Bima yang mendarat lembut di bibir Ella. Hingga akhirnya pertemuan bibir itu berlanjut dengan pertemuan bagian inti tubuh mereka. Ella hanyut dalam kenikmatan. Hingga ronde pertama selesai mereka melanjutkan ronde berikutnya setelah menghabiskan jajanan yang dibawa Ella.


Ella tersenyum mengingat kegiatan manis tadi malam. Bima sangat memperlakukan dengan manis dan selalu menyebut namanya di tengah tengah kenikmatan yang mereka rasakan. Sungguh dia tidak menyangka bahwa sampai detik ini bahwa dirinya menjadi istri dari Bima anak pengusaha terkenal. Yang membuat Ella bahagia. Bima selalu mengucapkan kata cinta setelah mereka selesai bercinta.


Ella akhir beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Perutnya yang sudah keroncongan mendesak dirinya untuk segera ke dapur. Ella keluar dari kamar setelah memakai kaos yang hampir menutupi celana hotpants yang dikenakannya.


Ella berhenti sebentar di depan pintu kamarnya. Dari kamar sebelah dia mendengar suara Bima yabg seperti sedang berbicara. Tanpa mengetuk pintu Ella langsung membuka pintu kamar tersebut. Dia melihat Bima duduk di belakang meja kerjanya dengan ponselnya di tangannya. Bima sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


Ella mendekat dan langsung memberanikan diri duduk di pangkuan suaminya. Bima terkejut tetapi langsung tersenyum dengan ulah sang istri. Bima juga tidak menolaknya. Bima tetap fokus berbicara di telepon dan tangan kirinya sudah memegang bahu Ella supaya tubuh Ella merapat ke dadanya. Bima menyukai sikap manja istrinya seperti ini.


Ella hendak beranjak dari pangkuan Bima ketika menyadari jika Bima ternyata berbicara dengan seseorang tentang bisnis. Ella tidak ingin Bima terganggu konsentrasinya dengan dirinya yang duduk di pangkuan suaminya itu. Tetapi Bima cepat menangkap tangan Ella dan mendudukkan Ella kembali di pahanya. Ella pun akhirnya mengalungkan tangannya di leher Bima. Bima masih terus terdengar berbicara dengan lawan bicaranya.


Ella menyentuh wajah Bima dengan jari jari lentiknya. Aroma maskulin dari tubuh Bima membuat Ella ingin mengecup bibir yang sedang bergerak itu. Ketika Bima terlihat hanya mendengarkan lawan bicaranya. Ella memberanikan diri mengecup bibir sang suami. Ternyata Bima membalasnya tanpa mengalihkan ponselnya dari kupingnya. Ciuman lembut itu pun berlangsung selama lawan bicara di seberang berbicara.


"Auhw. Sakit sayang," teriak Ella ketika tangan Bima memasuki hotpants dan memainkan aset berharganya. Ella keceplosan menyebut Bima dengan sebutan sayang. Selama beberapa hari bersama dan Bima sering memanggil dengan sebutan sayang. Ella pun sebenarnya ingin membalas dengan memanggil Bima dengan sebutan sayang. Tapi Ella tidak terlalu percaya diri untuk itu. Tapi ketika tadi dia merasakan sedikit sakit akibat remasan Bima di bagian inti tubuhnya. Ella tidak sadar mengucapkan kata sayang.


Ella menutup wajahnya karena malu. Dia malu karena keceplosan dan malu karena suaranya pasti terdengar oleh lawan bicara Bima.


"Oke, Besok kita bahas. Aku sedang ada kerjaan di luar kantor. Besok jam sembilan," kata Bima kemudian mengakhiri panggilan itu. Bima meletakkan ponselnya di atas meja. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum dan sambil menatap Ella yang masih betah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa ditutup?" tanya Bima. Dia sangat gemas dengan tingkah malu malu yang ditunjukkan oleh Ella.


"Malu bang, juga takut."


"Malu dan takut sama siapa?.


Ella melepaskan satu tangan dari wajahnya dan menunjuk dada Bima. Bima terkekeh dan mengulurkan tangannya untuk melepaskan tangan Ella yang masih menempel di wajahnya itu.


"Tetap panggil suami ini dengan sebutan itu sayang," kata Bima. Ella mengangguk kepalanya masih dengan senyum malu malu.


"Aku ingin mendengar sekarang juga," pinta Bima lagi.


"Baik sa..ya..ng," jawab Ella terbata.


"Kurang jelas. Sekali lagi," kata Bima sambil tersenyum jahil. Dia berniat mengerjai istri yang semakin terlihat cantik di matanya. Kecantikan Ella memang unik. Semakin diperhatikan Ella semakin terlihat cantik. Bima merasa beruntung mendapatkan istri seperti Ella.


"Baik sayang. Puas?" kata Ella sambil cemberut. Bukan karena permintaan Bima yang meminta Ella mengucapkan kata sayang membuat Ella cemberut. Ella cemberut karena mengingat kegiatan panas mereka tadi malam yang makin disadari Ella disengaja Bima untuk membuat dirinya lelah supaya terlambat bangun. Dan akhirnya perdebatan tadi malam Bima yang memenangkan. Ella akhirnya tidak jadi bekerja hari ini.

__ADS_1


Bima menyentuh bibir yang mengerucut itu dengan ujung jari telunjuknya. Tapi tangan kanannya sudah terulur kebelakang tubuh Ella dan mendorong tengkuk Ella mendekat ke bibirnya. Keduanya kembali berciuman lembut tapi hanya sebentar. Ciuman itu sudah berubah dengan ciuman panas dan dua manusia itu masing masing melepaskan penutup tubuh bagian atas mereka.


Ella masih ingat dengan rasa lapar di perutnya


Tapi rasa yang membuat tubuhnya menginginkan lebih membuat dia enggan melepaskan tautan bibir itu. Bima akhirnya mendudukkan Ella di atas meja tanpa melepaskan tautan bibir itu.


"Aku menginginkan kamu sayang," kata Bima meminta persetujuan istrinya. Ella mengangguk kan kepalanya karena dia juga menginginkan sentuhan Bima. Ketika Bima hendak melepaskan hotpants itu. Ella melihat segelas kopi susu dekat dia duduk. Ella mengambil gelas itu dan meminum isinya sampai habis.


"Kamu lapar sayang?" tanya Bima menghentikan tangannya. Ella mengangguk.


"Kita sarapan dulu kalau begitu. Aku juga belum sarapan."


Bima memang belum sarapan dari tadi karena sengaja menunggu Ella bangun supaya mereka sarapan bersama. Kopi susu itu sengaja dibuat oleh Bima untuk mengganjal perutnya. Bahkan kopi susu itu masih belum dicicipnya sama sekali.


"Kita awali dengan sarapan tubuh dulu sayang. Nanti kita lanjut dengan sarapan yang lain," jawab Ella sambil memainkan jari jari lentiknya di perut kotak kotak milik Bima. Bima tertawa mendengar keberanian istrinya. Tanpa menjawab Bima melanjutkan menarik hotpants itu hingga lepas dari tubuh Ella.


Ella hanya bisa meremas kepala Bima sambil menikmati rasa nikmat di tubuhnya. Bima sedang memainkan lidahnya di tempat kesukaannya itu. Demi apapun Ella tidak bisa menahan untuk tidak bersuara. Bima tidak tahan mendengar suara itu hingga akhirnya dia berdiri dan melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya.


"Kamu cantik dan membuat aku candu sayang."


Bima melebarkan paha istrinya. Tinggi meja yang sebatas pinggang pas untuk posisi mereka melakukan kegiatan panas itu. Bima sambil berdiri menghunus tubuh istrinya dengan urat besar itu. Suara keduanya terdengar bersahutan memenuhi ruangan itu. Bima mengerang panjang ketika keduanya mencapai akhir dari permainan.


"I love you sayang," bisik Bima sambil memeluk tubuh istrinya. Keringat yang masih menempel di tubuh keduanya tidak menghalangi dua manusia itu berpelukan.


"Itunya belum aku pakai sayang," kata Ella sambil menunjuk penyangga yang terletak di lantai.


"Tidak perlu. Toh nanti dibuka lagi," jawab Bima sambil mengenakan celana pendeknya. Dia juga tidak memakai segitiga pengaman di dalam. Bima mengulurkan tangannya menggendong Ella.


"Turunkan bang. Aku bisa sendiri," kata Ella sambil memukul lengan Bima dengan pelan.


"Diam lah sayang. Kalau kamu langsung berjalan. Bisa bisa hasil kerja keras kita tadi malam dan hari ini tidak membuahkan hasil."


Ella menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bima. Ella merasa wanita yang paling dihargai karena Bima mengharapkan anak dari pernikahan mereka.


Bima mendudukkan Ella di bangku. Kemudian dia bergerak cepat membuat sarapan mereka. Tangannya sangat lihai membuat dua gelas susu untuk mereka berdua. Kemudian Bima mengoleskan selai ke roti dan memberikan roti tersebut kepada Ella.


"Harusnya aku yang melayani kamu sayang," kata Ella setelah mengigit ujung rotinya. Bima tersenyum sambil menatap Ella.


"Dalam berumah tangga itu harus saling melayani sayang. Santai saja. Setelah ini kamu juga akan melayani aku lagi. Di ranjang tapi," kata Bima sambil terkekeh. Ella kembali cemberut dan mendorong kepala Bima yang condong ke wajahnya.


"Nanti malam."

__ADS_1


"Tidak. Dua jam lagi," jawab Bima cepat. Ella menatap suaminya dengan senyum manja. Bima mengedipkan matanya sebagai pertanda dia tidak main main dengan apa yang dikatakannya.


"Mau tidur," tanya Bima setelah mereka selesai sarapan. Ella menggelengkan kepalanya. Terbiasa bekerja di jam seperti ini membuat Ella merasa bosan.


"Temani aku bekerja."


Bima menarik tangan Ella menuju ruang tamu. Dia membantu Ella untuk duduk di sofa. Bima kemudian masuk ke ruang kerjanya untuk mengambil laptop dari sana.


"Apa yang bisa aku bantu bang," tanya Ella ketika mereka sudah duduk bersebelahan di sofa ruang tamu itu.


"Kamu cukup memandangi aku. Dan ingatkan aku akan tugas kamu dua jam lagi melayani aku."


Ella memukul lengan suaminya pelan mendengar perkataan suaminya. Dia mengira dengan memegang laptop. Bima lupa akan hal yang dimaksud melayani tadi.


Ella akhirnya memainkan ponselnya. Situasi ini sangat membosankan baginya. Terkadang dia bersandar di lengan Bima. Terkadang dia ikut melihat layar laptop. Tapi rasa bosan itu tetap setia bersamanya. Sedangkan Bima dia tidak terganggu sama sekali dengan berbagai pergerakan yang diakibatkan Ella di samping bahkan di tubuhnya. Pria itu sangat serius mengerjakan pekerjaannya.


Hal itu berlangsung hingga satu jam lebih. Ella semakin bosan. Membuka media sosial juga tidak membuat rasa bosan itu hilang. Akhirnya Ella meluruskan kakinya hendak berbaring. Dia meletakkan kepalanya di paha Bima. Kali ini, Bima hanya tersenyum melihat aksi istrinya. Tapi tidak mengurangi keseriusannya menatap layar laptop.


Ella mencari posisi yang nyaman. Dia menggerakkan kepalanya menghadap perut Bima.


"Kamu memang istri terbaik sayang. Tahu saja sudah waktunya melayani suamimu ini," kata Bima sambil membelai rambut Ella. Ella langsung menarik tangan Bima dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan suaminya itu. Benar saja. Saat ini adalah waktunya melayani Bima setelah terhitung dari mereka sarapan tadi.


"Kirain lupa," kata Ella sambil duduk. Bima tertawa kecil.


"Kita harus sering sering menaikkan imun untuk menghadapi pria Jiwa kotor itu."


"Pria jiwa kotor?. Siapa itu bang?"


"Masa kamu tidak tahu. Si Zico lah. Siapa lagi," jawab Bima tenang. Sore ini memang Ella dan Bima berencana untuk mendatangi rumah Zico. Mereka akan memaksa pria itu untuk menalak Ella sore nanti.


Ella tertawa mendengar kepanjangan nama Zico yang dipelesetkan oleh Bima.


"Pintar kamu sayang. Memberikan kepanjangan nama ke mas Zico," kata Ella sambil tertawa.


"Setelah Zico menalak kamu nanti. Kamu tidak boleh lagi memanggilnya dengan sebutan mas. Panggilan itu harus kepadaku. Panggilan Abang diganti."


"Kok gitu."


"Ya. Iyalah. Saat ini aku bisa terima kamu panggil Abang karena Zico masih suami kamu. Tapi setelah nanti. Kamu harus memanggil aku dengan sebutan mas."


"Baik masku sayang," jawab Ella sambil menatap wajah Bima. Bima tersenyum. Ella selalu bisa membuat hatinya senang.

__ADS_1


"Lanjut ke ronde kedua," bisik Bima. Satu tangannya menutup laptop. Ella pasrah akan sentuhan Bima di tubuhnya.


__ADS_2