Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 81


__ADS_3

"Masuk dulu Zico," kata Bima ketika Zico langsung pamit pulang setelah mereka sampai di rumah Bima.


"Baiklah pak," jawab Zico sambil mempersilahkan Bima dan Ella melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Sama seperti Zico, Ella juga menahan Ester untuk tidak langsung pulang.


"Sayang, aku ingin berbicara berdua dengan Zico," kata Bima setelah mereka sudah memasuki rumah dan berada di ruang tamu. Ella tersenyum dan dan mengelus lengan suaminya. Pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Zico dan Ester. Dari cara Ella memperlakukan suaminya, siapapun yang melihatnya pasti bisa melihat betapa besar cintanya kepada Bima.


Mama Maya langsung masuk ke kamarnya sedangkan Ella dan Ester menuju taman. Ella juga ingin berbicara berdua dengan sahabat baiknya itu.


"Duduk Zico," perintah Bima. Zico tersenyum.


"Terima kasih pak."


"Zico, sebelumnya aku minta maaf atas...." Bima terdiam sebentar mengingat awal pertemuannya dengan Ella.


"Minta maaf apa atas apa pak?" tanya Zico tidak mengerti arah tujuan lawan bicaranya.


"Aku minta maaf, karena secara tidak sengaja. Akulah penyebab kalian berpisah."


Bima kembali terdiam. Sebenarnya, Bima juga merasa bersalah menjadi perebut istri orang. Tapi mengetahui fakta jika Zico mempermainkan pernikahannya dengan Ella membuat Bima tidak ingin membawa Ella untuk kedua kalinya mengalami pernikahan yang sama.


Dan Bima menyadari jika pertemuan dan pernikahannya dengan Ella bukanlah kebetulan. Tapi itu adalah takdir untuk membawanya menjadi suami dari wanita baik dan tulus seperti Ella.


Zico pun tidak langsung menjawab permintaan maaf dari Bima. Zico menundukkan kepalanya. Perpisahan dengan Ella menurutnya bukan karena Bima. Zico menyadari kesalahannya yang tidak membahagiakan Ella.

__ADS_1


"Jangan minta maaf pak. Cara kalian memang salah. Menikah disaat Ella masih istriku. Tapi makin kesini, aku mengerti akan keputusan Ella. Di dunia ini tidak ada satu orangpun yang ingin menderita termasuk Ella. Dua tahun dia bersabar akan penderitaan yang aku ciptakan baginya. Sangat wajar, jika Ella memilih menyerah daripada bertahan," jawab Zico.


"Apa setelah perceraian kalian. Kamu menyadari kesalahanmu dan ingin memperbaikinya?.


"Awalnya seperti itu pak. Tapi Ella menolak diriku dengan tegas tanpa alasan. Ternyata alasan sesungguhnya karena kalian sudah menikah."


"Apa kamu sudah mulai merasa mencintai istriku?.


"Aku sudah mengubur rasa cinta yang terlambat itu pak. Aku sudah menyakitinya. Aku tidak ingin lagi dia menderita karena keegoisanku."


"Apa tujuan kamu membawa aku berobat ke pak Cipto."


"Karena aku ingin melihat Ella bahagia memiliki suami yang sehat bukan suami yang lumpuh. Apalagi mengetahui jika Ella sudah hamil. Aku hanya ingin Ella merasakan seperti wanita lainnya. Bahagia menjalani kehamilannya."


"Tidak. Sama sekali tidak ada maksud lain. Saat ini aku menyayangi Ella seperti adik kandungku sendiri."


"Terima kasih Zico. Aku tidak menyangka jika ternyata kamu sebaik ini," kata Bima tulus. Bima merasa lega mendengar semua jawaban Zico atas semua pertanyaannya. Zico tidak mendendam. Dan Bima merasa jika itu juga adalah berkat dalam rumah tangganya. Bima juga menyadari jika dirinya mempunyai hutang Budi akan mantan suami istrinya itu. Bima dapat melihat jika Zico jauh lebih berpikir dewasa saat ini dibandingkan pertama kalinya mereka bertemu.


Pembicaraan dua laki laki itupun berakhir. Kini Zico sudah berada di dalam mobil hendak pulang ke rumahnya. Pak Yuda memberikan libur tiga hari sebelum masuk bekerja di perusahaan miliknya.


Zico memusatkan perhatiannya ke jalanan. Rasa grogi menyerangnya sejak masuk ke dalam mobil. Di sampingnya, Ester duduk tenang. Atas saran Bima. Zico harus mengantar Ester pulang ke rumahnya. Baik Zico dan Ester tidak bisa menolak saran itu karena arah rumah mereka satu arah.


"Terima kasih," kata Ester setelah mobil berhenti tepat di alamat yang disebutkan oleh Ester sebelum naik ke mobil tadi.

__ADS_1


"Ester, tunggu sebentar," kata Zico membuat Ester menghentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu mobil.


"Boleh, minta nomor ponsel?" pinta Zico sambil menunjukkan ponselnya sendiri. Dia berharap Ester mengambil ponsel itu dan menuliskan nomornya di ponsel tersebut. Ternyata Ester tidak melakukan hal itu. Ester hanya memandangi ponsel itu kemudian membuka pintu mobil.


"Aku rasa setelah satu bulan ini kita bersama menemani pak Bima dan Ella. Aku rasa tidak diantara kita berdua tidak akan ada urusan lagi. Jadi untuk apa kita harus bertukar nomor ponsel," kata Ester sebelum turun dari dalam mobil.


"Mungkin tidak ada urusan lagi. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita berteman," jawab Zico.


"Maaf pak Zico. Aku tidak bisa memberikan nomor ponselku," kata Ester lagi.


Satu bulan bersama, Ester dapat merasakan ketertarikan Zico akan dirinya. Tapi bagi Ester menjalin hubungan khusus dengan mantan suami dari sahabatnya adalah sesuatu yang menggelikan dalam dirinya. Apalagi Ester sudah mengetahui dengan jelas perlakuan Zico kepada sahabatnya selama berumah tangga.


Hal wajar yang ada dalam pikiran Ester. Setiap wanita menginginkan yang terbaik dalam dirinya termasuk menyangkut pasangan. Ester sudah mengetahui sekilas tentang Zico dari Ella. Jejak Zico yang tidak baik membuat Ester langsung membatasi dirinya dari Zico. Apalagi saat ini, status Zico belum jelas. Ester tidak ingin berurusan dengan wanita yang menjadi istri kedua Zico nantinya.


Ester dapat melihat kekecewaan di wajah Zico. Tapi bagi Ester hal itu lebih baik daripada Zico berharap banyak akan dirinya. Tidak ingin berlama lama di mobil itu. Ester menurunkan kakinya dari mobil setelah sekali lagi mengucapkan terimakasih.


Zico mengendarai mobilnya kembali. Pikiran dipenuhi dengan tanda tanya akan masa depannya menyangkut wanita pendampingnya kelak. Penolakan Ester memberikan nomor ponselnya membuat Zico semakin menyadari kesalahannya di masa lalu dan menganggap penolakan itu adalah karma kecil bagi dirinya sendiri.


Zico tiba di depan rumahnya. Perjalanan yang melelahkan membuat Zico ingin cepat cepat merebahkan dirinya di atas ranjang. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Zico melangkah cepat menuju pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya Zico menyadari jika pintu rumahnya sudah rusak.


Zico mendorong pintu itu tidak sabaran sehingga terbuka dengan lebar. Zico semakin terkejut. Ruang tamu yang bisa terlihat dari pintu utama kini kosong tanpa perabot apapun. Sofa, lemari hias, televisi dan perabot lainnya tidak terlihat lagi.


Zico meletakkan tasnya begitu saja di lantai dan melangkah cepat menuju tangga. Lagi lagi Zico terkejut melihat isi kamarnya. Di kamar itu hanya tersisa satu lemari kain. Ranjang dan lemari yang satu lagi yang berisi kain Karin selama ini juga sudah tidak terlihat.

__ADS_1


"Kali ini aku tidak terima perbuatan kamu ini Karina," desis Zico marah dengan gigi yang rapat. Tanpa meminta penjelasan dari Karina. Zico sangat yakin jika ini adalah perbuatan dari Karina.


__ADS_2