Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 50


__ADS_3

Bagi sebagian orang, hari Minggu biasanya digunakan untuk hari bersantai. Tapi tidak bagi Linna. Wanita itu terus mondar mandir di kamarnya. Mulai dari tadi malam berpikir bagaimana caranya menguasai harta suaminya tapi sampai saat ini masih belum menemui cara. Semua buntu. Cara satu satunya yang terbersit di pikirannya sudah dilakukannya. Tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.


Tadi malam, Linna sudah berusaha memperdayai Yuda dengan memberikan obat tidur ke minuman suaminya itu dengan bantuan salah satu art kepercayaannya. Berharap Yuda tidur pulas dan dirinya akan menggeledah kamar untuk mencari sesuatu yang bisa membuat dirinya mendapatkan secuil harta. Tapi usahanya gagal. Air putih yang diberikan kepada Yuda habis tidak tersisa tapi sampai larut malam dirinya di kamar Yuda mencoba bermanja-manja tetapi reaksi obat tidur itu tidak membuahkan hasil.


Linna kembali menelan kecewa, ketika dirinya ingin tidur di kamar suaminya. Yuda menjawab dengan dingin jika dirinya ingin tidur sendiri. Kalau Yuda sudah bersikap dingin, Linna tidak bisa lagi berbuat apa apa selain menurut.


"Sial, sial. Kenapa sih gagal terus. Si Bima juga tidak sebodoh yang aku kira," gerutu Linna kesal. Linna tentu saja kesal karena istri Bima seorang wanita yang pemberani. Sebelumnya dia menginginkan Bima menikahi Lola supaya dirinya bisa menyetir Lola. Mengarahkan setiap tindakan Lola yang bertujuan untuk menguasai harta suaminya yang sudah pasti diwariskan kepada Bima.


Semua rencana itu sudah terkonsep sempurna. Tapi ternyata Bima bisa membaca rencananya. Bima mengambil langkah langsung menikahi wanita yang bukan pilihannya. Yang membuat Linna semakin kesal, karena Yuda langsung merestui tanpa berniat menyelidiki latar belakang Ella.


"Masuk," perintah Linna ketika mendengar suara pintu yang diketuk.


"Ini sarapannya Nyonya," kata pelayan itu sopan dan meletakkan baki itu di atas meja.


"Mereka sudah selesai sarapan?" tanya Linna lagi.


"Sudah Nyonya."


Linna mengarahkan matanya ke jam dinding. Sudah jam sembilan. Pantas saja yang lainnya sudah sarapan. Dia saja yang terlambat sarapan karena sibuk memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat harta Yuda jatuh ke tangannya.


"Apa kamu lupa memasukkan apa yang aku perintahkan ke dalam minuman Yuda?" tanya Linna pelan. Dia takut pertanyaannya di dengar orang lain dari luar kamar.


"Sudah Nyonya. Serius," jawab pelayan itu. Pelayan yang bernama Lita itu memang sudah memasukkan obat tidur ke minuman Yuda. Hanya saja dia lupa untuk memberikan air minum yang berisi obat tidur itu. Lita meletakkan air putih itu sebentar di meja makan karena harus mengelap tangannya yang basah. Teriakan Linna yang meminta Lita cepat membuat Lita lupa dan kembali mengisi gelas baru dengan air putih kemudian memberikan kepada Yuda yang saat itu duduk berdua dengan Linna di ruang tamu.


"Tapi kenapa tidak ada reaksinya?" tanya Linna bingung. Lita menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia juga tidak mengerti mengapa obat tidur itu tidak bereaksi.


"Bagaimana pencarian kamu tentang Maya," tanya Linna lagi. Lita bukan hanya sebagai pelayan di rumah Yuda. Lita juga adalah teman Linna untuk membantu Linna mencapai semua tujuannya.


Lita menghembuskan nafasnya kasar. Banyak pekerjaan yang dibebankan Linna kepadanya membuat wanita berumur empat puluhan itu terkadang menjadi pikun seperti tugas yang diberikan Linna tadi malam.


"Aku sudah mengerahkan beberapa mata mata untuk mencari keberadaan Maya Nyonya. Tapi satupun tidak ada yang memberikan kabar yang baik. Jejak terakhir Maya adalah rumah sakit jiwa," jawab Lita seperti menyesal karena tidak berhasil menemukan keberadaan Maya.

__ADS_1


"Kerahkan lagi orang yang benar-benar ahli di bidang pencarian orang hilang Lita."


"Tapi kalau kita mempekerjakan tenaga profesional. Maka kita juga harus membayar dengan harga yang tinggi Nyonya."


"Aku tidak perduli. Nanti aku akan mentransfer sejumlah uang ke rekening kamu. Dan aku ingin laporan yang memuaskan," kata Linna.


"Baik Nyonya. Rencana kita untuk tuan muda Bima. Bagaimana Nyonya?"


"Tidak ada rencana untuk Bima. Aku hanya ingin keberadaan Maya secepatnya," kata Linna. Kali ini dia tidak ingin memberitahu rencananya kepada Bima termasuk pelayan kepercayaannya. Dia ingin menjalankan rencananya sendiri untuk Bima dan Ella.


"Baiklah Nyonya. Aku akan bekerja maksimal. Jika Nyonya mempunyai rencana kepada tuan muda dan istrinya. Aku siap membantu anda," jawab Lita sambil menundukkan kepalanya.


"Pasti Lita. Sekarang keluarlah. Oya, siapa saja di ruang tamu?" tanya Linna.


"Nyonya muda Ella bersama dengan Kiki," jawab lagi. Linna beranjak dari duduknya dan mendahului langkah Lita keluar dari kamar. Lita bingung karena Linna tidak langsung menyantap sarapannya. Tapi Lita akhirnya tidak ambil pusing dengan Linna. Terserah Linna sarapan atau tidak yang terpenting bagi Lita, dia sudah melaksanakan tugasnya.


"Selamat pagi menantuku, selamat pagi putriku," sapa Linna sangat manis ketika dirinya sudah ada di ruang tamu. Lita yang mendengar sapaan Nyonya besar sangat manis tersenyum sinis dan terus melangkah ke dapur. Dalam hati, Lita memuji akting Linna yang terlihat tulus.


"Selamat pagi Tante."


Ella dan Kiki menjawab sapaan Linna. Sapaan yang menganggu pembicaraan kakak dan ipar itu yang langsung nyambung bagai dua orang sahabat yang sedang bercerita. Kiki memang awalnya kaget mengetahui jika Ella adalah istri dari kakaknya. Kiki juga jelas mengingat pertemuan pertamanya dengan Ella. Tapi Kiki tidak mempermasalahkan pernikahan Bima dan Ella yang diam diam. Kiki justru terlihat senang mempunyai kakak ipar seperti Ella. Dari sejak awak bertemu. Kiki sudah menilai jika Ella adalah orang yang baik.


"Bicara apa tadi?" tanya Linna sok akrab dan langsung duduk di sebelah Kiki.


"Mama kepo deh. Ini pembicaraan anak muda. Mama sudah terlalu tua mengetahui pembicaraan kami berdua."


Linna menatap kesal putrinya itu. Kiki selalu saja membuatnya naik pitam jika terlibat pembicaraan seperti ini.


"Sesekali mama bisa tahu donk sayang. Biar mama berasa muda," jawab Linna tenang dan tersenyum.


"Papa dan kakakmu kemana?" tanya Linna lagi.

__ADS_1


"Papa dan kak Bima sedang di ruang kerja papa ma. Entah apa yang mereka bicarakan padahal hari ini hari libur," jawab Kiki.


"Oya Ella. Kamu dan Bima berapa lama pacaran. Kok langsung bisa menikah mendadak gitu. Padahal baru dua bulan loh, Bima putus dari Margaretha wanita yang sangat dicintai oleh Bima. Jangan jangan, Bima menikahi kamu sebagai pelampiasan karena Margaretha meninggalkan dirinya. Atau selama ini, kamu adalah selingkuhan Bima dan Margaretha mengetahuinya."


Linna sengaja memantik api cemburu di hati Ella dan membuat wanita itu marah karena menyebutnya sebagai pelampiasan. Linna sangat yakin setelah mendengar ini akan ada pertengkaran di rumah tangga Bima dan Ella nantinya.


"Selama ini, aku menduga dan mencurigai jika Margaretha hanya menginginkan harta kami. Ternyata aku salah. Margaretha meninggalkan Bima karena berselingkuh dengan kamu. Kasihan Margaretha."


Linna kembali pura pura sedih seakan dirinya merasa kasihan kepada Margaretha padahal dirinya yang membuat Margaretha pergi dari Bima.


Ella hanya menatap Linna datar tanpa berniat mengomentari perkataan Linna. Karena sejujurnya juga Ella tidak tahu berkata apa atas perkataan Linna. Jika pertanyaan Linna tentang berapa lama mereka pacaran. Ella juga tidak mau menjawab karena mereka tidak pernah berpacaran. Jika dirinya juga menjawab dengan berbohong mengatakan tiga bulan atau lebih itu tandanya dia akan membenarkan perselingkuhan yang disebutkan Linna. Jika dirinya juga menjawab tidak pernah berpacaran maka dirinya juga akan membenarkan perkataan Linna yang menyebutkan dirinya sebagai pelampiasan. Ella memilih diam daripada menjawab tapi salah yang bisa dimanfaatkan Linna nantinya.


"Mama, tahu gak sih. Perkataan mama itu membuat mbak Ella tidak nyaman. Mama tahunya ganggu aja," kata Kiki kesal. Dia bisa melihat Ella yang tidak nyaman dengan perkataan mamanya.


"Hei anak kecil. Mama hanya ingin tahu. Apa itu salah?.


"Bukan hanya salah tapi salah besar ma. Untuk apa mama menyebut nama Margaretha di rumah ini. Bukankah mama sangat senang sebelumnya mereka putus karena mama sangat yakin jika mantan kak Bima itu hanya menginginkan harta. Dan keberadaan Lola di rumah ini juga untuk membebaskan kak Bima dari Margaretha. Jadi mama jangan terlalu ikut campur tentang rumah tangga kak Bima dan mbak Ella. Mau pelampiasan kek, perselingkuhan kek. Itu urusan mereka. Bukan urusan mama," kata Kiki berani.


"Bukan ikut campur Kiki. Tapi mama hanya ingin tahu saja."


"Kalau sekedar ingin tahu tidak seperti itu ma. Walau aku masih kecil. Tapi dari cara mama berbicara. Aku tahu mama sepertinya tidak menyukai mbak Ella."


"Jangan sembarang kamu Kiki. Tahu apa kamu?"


Ella hanya menjadi pendengar yang baik diantara pembicaraan mama dan anak itu. Tapi hatinya menghangat mendapat pembelaan dari Kiki. Sedangkan Linna mati matian menahan amarahnya supaya tidak terlepas dan hilang kontrol kepada putri kandungnya itu.


"Ayo mbak, kita ke taman saja menikmati udara segar," ajak Kiki sambil berdiri. Dia tidak mau mendengar perkataan perkataan mamanya yang menyakiti Ella nantinya. Mantan Bima yang bernama Margaretha itu memang tidak pernah menyakiti Kiki. Tapi melihat perbandingan sikap antara Ella dan Margaretha. Kiki lebih menyukai Ella sebagai kakak iparnya.


"Oiya. Ayo," kata Ella juga sambil berdiri. Dia tersenyum kepada Linna sebagai pertanda pamit. Hari ini, dia tidak perlu menjawab perkataan kuda liar itu dengan lisannya sendiri. Cukup Kiki yang menjawab mewakili isi hatinya.


"Semuanya menyebalkan," gerutu Linna kesal. Kiki yang terlahir dari rahimnya bahkan tidak mendukung dirinya. Lagi lagi Linna merapatkan giginya karena tidak berhasil membuat Ella kesal atau marah. Sebelumnya, dia berharap Ella akan marah atau merajuk kepada Bima. Dan perlahan-lahan setelah ini dia akan merecoki rumah tangga Bima dan Ella dengan membuat keduanya selalu salah paham supaya tidak ada kecocokan di rumah tangga tersebut. Tetapi baru saja dia menjalankan rencananya, putrinya sendiri yang langsung menjadi lawan.

__ADS_1


__ADS_2