Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 60


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah hampir satu Minggu, Bima terbaring lemah di tempat tidur. Pihak rumah sakit juga sudah memberikan pengobatan terbaik. Tapi upaya itu belum membuahkan hasil yang menyenangkan untuk papa Yuda. Pria tua itu semakin hari semakin terlihat kurus. Otaknya terus berpikir akan fakta yang baru saja diketahuinya.


Ternyata kecelakaan yang menimpa Bima bukan karena kelalaian semata. Bima memang tidak mengenakan sabuk pengaman ketika berkendara. Yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi ternyata karena kondisi kendaraan yang tidak layak dikendarai. Pihak kepolisian menemukan fakta jika mobil yang dikendarai oleh Bima sudah mengalami kerusakan rem.


Dan fakta itu membuat Yuda sangat yakin jika bahwa kerusakan rem itu adalah unsur kesengajaan. Yang membuat Yuda tidak tenang. Dugaannya itu tidak mempunyai bukti yang kuat. Tapi Papa Yuda menyerahkan penyelidikan itu kepada pihak yang berwajib. Papa Yuda juga agak ragu kepada semua orang orang kepercayaannya setelah mengetahui jika Alan sang asisten mengecewakan dirinya.


Seperti perkataan Ella yang meminta papa Yuda berhari hati kepada Linna. Pria tua itu kini semakin membatasi dirinya terhadap Linna. Papa Yuda juga memerintahkan seseorang untuk selalu mengikuti Linna. Bahkan papa Yuda juga tidak pernah lagi makan di rumah besarnya.


"Pa, sarapan dulu," kata Linna ketika Yuda sudah keluar dari kamarnya. Yuda hanya tersenyum. Yuda masih berusaha menyembunyikan kecurigaannya kepada Linna supaya wanita itu lengah.


"Nanti saja. Papa sarapan di kantor saja," kata Yuda.


"Pa, mama mau menjenguk Bima. Di rumah sakit mana dia dirawat?" tanya Linna. Yuda memang sudah memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpa Bima kepada Linna. Bagi Yuda tidak ada lagi gunanya menyembunyikan hal itu karena Linna juga sudah mengetahuinya dari Alan. Yang membuat Yuda semakin jijik kepada isterinya. Linna bisa berpura pura baru mengetahui kecelakaan itu dari mulutnya.


"Tidak perlu membuang waktumu untuk menjenguk Bima, Linna. Ada Ella istrinya yang merawat Bima di sana," jawab Yuda. Linna memalingkan wajahnya karena kesal dan Yuda bisa melihat hal itu.


"Panggilkan Lola," perintah papa Yuda sambil mendaratkan tubuhnya sofa. Linna segera menyanggupi perintah suaminya.


Papa Yuda menyandarkan tubuhnya ke sofa. Keputusan yang dipikirkannya selama satu Minggu ini. Hari ini harus direalisasikan. Yuda sudah mengambil keputusan untuk merubah dirinya sendiri menjadi manusia yang lebih baik dengan menjauhkan dirinya dari zina. Selama satu Minggu ini, Yuda tidak pernah lagi menyentuh tubuh wanita manapun. Pikirannya fokus untuk kesempatan putra satu satunya. Hal itulah yang menyebabkan tidak ada lagi alasan keberadaan Lola di rumah ini.


"Duduk," perintah papa Yuda tegas kepada dua wanita yang sudah berdiri di hadapannya.


Dua wanita itu duduk. Linna duduk di sebelah suaminya sedangkan Lola duduk di hadapan Yuda terhalang meja.


Lola menundukkan kepalanya. Beberapa kali bersentuhan fisik dengan Yuda. Wanita itu merasakan perasaan lain di hatinya. Yuda adalah pria pertama yang menyentuhnya. Dan sebagai yang pertama. Yuda sudah berhasil bersemayam di hatinya yang paling dalam.


"Lola, mulai hari ini. Aku tidak mengijinkan kamu lagi tinggal di rumah ini. Aku harap keputusan ini bisa kamu terima dengan lapang dada," kata Yuda tenang namun tegas. Di sebelahnya Linna tersenyum. Bagi Linna keberadaan Lola tidak ada gunanya lagi di rumah ini. Bima sedang berbaring koma. Dan mustahil mereka menjalan rencana semula yang ingin menjebak Bima.

__ADS_1


"Om, ijinkan aku tinggal disini om," jawab Lola tidak tahu malu dan terkesan memohon. Hatinya sangat sakit diusir oleh pria yang selama ini memberikan materi kepada dirinya. Lola sudah berharap banyak atas hubungannya dengan Yuda. Bahkan wanita itu sudah memikirkan berbagai rencana untuk membuat Yuda bersedia menikahinya.


"Maaf Lola, keputusan om sudah bulat. Ini sedikit uang saku dari om," kata Yuda sambil menyodorkan amplop besar berisi uang kepada Lola. Linna mengambil amplop itu dari tangan Yuda kemudian melemparkan kepada Lola.


"Pergilah Lola. Bima tidak akan mengubah keputusannya karena sudah menikahi Ella," kata Linna. Lola tidak menjawab. Wanita itu masih menunduk dan memperhatikan amplop yang ada di pangkuannya. Tidak ada niatnya untuk merusak rumah tangga Ella dan Bima. Yang dia inginkan hanya berada di rumah ini dan berharap suatu hari nanti Yuda menikahinya.


"Sebelum aku pergi, bolehkah kita berbicara berdua om?" tanya Lola pelan dan memberanikan diri menatap wajah pria tua itu.


"Hei Lola. Jangan lancang kamu. Siapa dirimu sehingga suamiku harus berbicara berdua denganmu?" tanya Linna marah. Lola semakin menundukkan kepalanya.


"Boleh Lola. Linna, tolong tinggalkan kami berdua di sini," kata papa Yuda.


"Tidak akan pa. Kamu suamiku. Aku berhak melarang wanita ini untuk berbicara dengan kamu. Dan kamu Lola, apa yang hendak kamu bicarakan. Bicara sekarang juga," kata Linna sambil menatap tajam ke Lola. Papa Yuda hanya menggelengkan kepalanya melihat kemarahan Linna.


"Om, tolong pertimbangkan perasaanku. Jujur aku sudah mulai mencintai om. Bagaimana kalau aku hamil om?"


Sama seperti Linna, Yuda juga tidak menyangka jika Lola berani berkata seperti itu apalagi di depan istrinya.


"Lola, dasar wanita gatal. Berani kamu menganggu suamiku di rumah ini dan di hadapanku sendiri. Dasar pelakor laknat," kata Linna geram dan beranjak dari duduknya untuk menyerang Lola. Tapi Yuda secepat kilat menarik tubuh Linna dan mendudukkan istrinya itu kembali.


"Lepas pa. Kamu juga brengsek. Sudah tua bukannya berubah tapi masih doyan bermain wanita."


"Diam kamu Linna. Jangan memancing aku marah. Jangan sampai aku mengucapkan kata talak kepadamu hari ini," kata Yuda sambil terus menahan tubuh Linna supaya kembali duduk. Mendengar kata talak Linna terdiam dan menurut. Tapi tidak kepada Lola. Segala kata kata kotor kina keluar dari mulutnya untuk Lola.


"Dasar tidak tahu diri kamu ya Lola j*Lang. Aku yang membawa kamu ke rumah ini. Tapi berani beraninya kamu menusuk aku dari belakang. Pelakor kurang ajar."


"Kita sama sama pelakor Tante. Kamu pelakor dari istri pertama om Yuda. Sedangkan aku pelakor dari kamu. Ini karma untuk kamu Tante," jawab Lola tenang. Kini wanita itu tidak menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Linna semakin marah. Bukannya meminta maaf Lola bahkan berani mengungkit masa lalunya.


"Lola, awas kamu. Berani kamu mengatai aku pelakor. Aku bukan pelakor. Kami menikah karena saling mencintai. Bukan seperti kamu yang menyerahkan dirimu kepada suamiku tanpa ikatan sah. Pergi kamu sekarang juga brengsek," kata Linna sambil melempar Lola dengan bantal sofa. Papa Yuda sudah merasakan kepalanya pening mendengar pertengkaran dua wanita akibat dirinya sendiri.


"Aku akan pergi dari rumah ini. Tapi tidak dari kehidupan om Yuda. Aku mencintainya dengan tulus karena om Yuda yang menyentuhku pertama kali," jawab Lola tenang.


"Dasar wanita tidak tahu malu. Bukannya minta maaf tapi makin berani. Pelakor, pergi kau sekarang juga."


"Tante Lola. Kamu mengatai aku pelakor silahkan. Tapi setidaknya aku menjadi pelakor dari wanita yang berhati jahat seperti kamu. Sedangkan kamu adalah pelakor dari wanita yang baik dan tulus yaitu istri pertama om Yuda."


"Om Yuda, aku pergi sekarang seperti permintaan om sendiri. Jika om ingin mengetahui lebih dalam alasan aku dijodohkan oleh Tante Linna kepada mas Bima. Om boleh mencari aku di panti asuhan," kata Lola sambil berdiri. Dia meninggalkan suami istri itu. Lola mengemasi barang-barang terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah itu. Air matanya bercucuran hingga tiba di kamar.


Di ruang tamu, Yuda perlahan melepaskan tangannya dari pundak Linna. Hatinya berdenyut nyeri ketika mendengar perkataan Lola tenang istri pertamanya yang baik dan tulus. Apa yang dikatakan oleh Lola memang benar adanya. Dirinya yang rela melepaskan berlian demi kerikil tajam.


"Jelaskan pa. Apa maksud semua ini. Mengapa kamu tega menyakiti hati ku sedalam ini," kata Linna sambil terisak. Tangisannya tidak pura pura. Linna benar benar merasakan hatinya hancur mendengar perselingkuhan yang diungkapkan oleh selingkuhan suaminya sendiri. Yang paling menyakitkan, dirinya yang membawa Lola ke rumah ini dengan tujuan tertentu.


"Apa kamu sakit hati?" tanya Yuda pelan.


"Apa Papa tidak dapat merasakan hancur hatiku saat ini?" tanya Linna kesal sambil mengusap air mata di pipinya. Dari tadi dia berharap Yuda memeluk dan menenangkan dirinya. Tapi justru pertanyaan yang didapatkannya.


"Begitulah yang dirasakan oleh Maya ketika mengetahui perselingkuhan kita Linna. Aku rasa ini karma untuk kamu. Selama ini memang aku sudah berdosa dan sering berzina. Alasanku mengusir Lola supaya aku tidak larut lagi dalam dosa itu. Tapi ketika Lola mengingatkan aku akan orang yang pertama menyentuh dirinya aku jadi berubah pikiran. Aku berencana menikahinya."


Jedar


Linna semakin merasakan hatinya seperti ditimpa reruntuhan bangunan. Hatinya sangat sesak dan nafasnya hampir melayang mendengar pengakuan Yuda.


"Begini kah yang dirasakan oleh Maya dulu," tanya Linna dalam hati. Semua kenangan kenangan perselingkuhan dan tangisan Maya berputar putar di pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2