Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 45


__ADS_3

Linna merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan suaminya Yuda dan Bima. Saat ini mereka sedang membahas tentang resepsi pernikahan yang harus secepatnya dilaksanakan menurut papa Yuda. Tapi Bima tetap pada pendiriannya jika resepsi itu harus dilakukan dua bulan lagi. Alasannya tentu saja hanya dirinya dan Ella yang mengetahui. Di lingkungan kerja Ella sudah mengetahui jika Zico adalah suami pertama Ella.


Papa Yuda menginginkan resepsi yang mewah dengan mengundang semua kolega bisnisnya. Bima menyanggupi permintaan papanya karena dia juga sebenarnya menginginkan resepsi pernikahan tersebut. Ella hanya mengangguk setuju atas pendapat papa mertuanya. Tapi ketika papa Yuda juga mengatakan akan mengadakan resepsi di kampung halaman orang tua Ella. Ella ikut ikutan gelisah walau tidak terlalu kentara.


Bukan Ella tidak menginginkan resepsi itu digelar di kampung halamannya. Tapi dirinya dan Zico satu kampung dan sudah pernah menggelar resepsi pernikahan. Ella merasa malu jika menggelar resepsi pernikahan sampai dua kali di tempat yang sama.


Bima bisa menangkap kegelisahan istrinya. Tidak ingin istrinya tidak nyaman akhirnya Bima menegaskan bahwa resepsi pernikahan hanya diadakan di kota mereka saja. Papa Yuda tidak bisa berbuat apa. Niatnya semula hanya ingin menghargai kedua orang Ella.


Linna juga duduk gelisah bagai cacing kepanasan. Ingin berbicara berdua tetapi dari tadi Bima tidak membiarkan Ella kemana mana. Hatinya sangat panas bagaikan terkena api. Baru saja dia mendapat laporan dari salah satu art kepercayaannya bahwa Lola pernah keluar dari kamar suaminya kini dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa Bima sudah menikah.


Linna merasa geram sendiri melihat pengantin baru itu. Tangan Bima yang menggenggam tangan Ella seakan pertanda jika sepasang suami istri adalah pasangan yang saling mencintai.


"Sesuai janji papa jika kamu sudah menikah maka papa juga akan segera pensiun dari perusahaan. Persiapkan dirimu untuk memikul tanggung jawab yang akan berada di pundak kamu nak," kata papa Yuda setelah mereka sepakat tentang resepsi pernikahan Bima dan Ella.


Inilah yang ditakutkan Linna selama ini. Linna semakin gelisah seperti duduk di atas kerikil tajam. Selama ini dia memutar otak untuk bisa menguasai semua aset milik Yuda. Tapi semua ide ide yang muncul di kepalanya bahkan sudah direalisasikan satupun tidak berhasil. Yuda terlalu pintar untuk dikelabui atau dibohongi. Linna sungguh merasa tidak puas dengan jatah bulanan yang tidak seberapa menurutnya jika dibandingkan dengan kekayaan Yuda.


Hingga suatu rencana melintas di kepalanya. Mencari jodoh bagi Bima setelah terlebih dahulu mengancam kekasih Bima untuk segera mundur. Dan Lola adalah wanita yang bisa diajak bekerjasama untuk melancarkan rencananya. Mereka sudah menyusun rencana demi rencana licik untuk mencapai tujuan bersama. Tapi sayangnya. Bima tidak tertarik dengan segala yang ada dalam diri Lola.

__ADS_1


Linna diam diam menatap Ella penuh kebencian. Baginya Ella bukanlah menantu atau seorang istri bagi putra sambungnya. Ella hanyalah sebagai penghalang yang menghambat semua tujuannya.


"Aku sendiri sudah siap papa. Kapanpun papa menyerahkan tanggung jawab itu kepadaku," jawab Bima sangat yakin. Yuda mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan putranya. Kepintarannya memimpin perusahaan tidak diragukan lagi. Dua tahun terakhir ini, Bima sudah menjadi pengambil keputusan di setiap masalah atau kebijakan di dalam perusahaan. Dan dua tahun terakhir ini perkembangan perusahaan juga cukup bagus.


"Bagus. Tidak sia sia papa mendidik kamu sejak remaja tentang dunia bisnis nak," kata papa Yuda tersenyum. Dia berencana akan mengumumkan pergantian kepemimpinan dan masa pensiunnya di resepsi pernikahan nanti.


"Apa itu tidak terlalu cepat pa?. Kita tidak mengetahui bagaimana nasib rumah tangga mereka nantinya. Aku kira sebaiknya papa pensiun setelah Bima mempunyai seorang putra," kata Lina berusaha menunda pengalihan semua aset termasuk perusahaan kepada Bima.


"Tidak ma. Aku rasa semakin cepat justru semakin bagus. Asal mama tahu saja. Sebenarnya papa ke kantor hanya numpang duduk dan tanda tangan saja. Yang menjalankan perusahaan sesungguhnya adalah Bima," kata papa Yuda bangga. Apa yang dikatakannya adalah hal benar. Selama dua tahun ini papa Yuda ke kantor kebanyakan bercinta dengan salah satu karyawannya di ruangannya yang tersedia tempat beristirahat.


"Tapi tetap saja papa. Kita harus lihat dulu bagaimana pengaruh istrinya terhadap Bima. Apakah membawa pengaruh positif atau pengaruh negatif," kata Linna lagi berusaha memprovokasi keputusan suaminya.


Bima dan Ella sama sama menatap ke Linna. Bima sudah mengepalkan tangannya hendak menjawab perkataan mama tirinya. Tapi genggaman Ella yang semakin kuat di tangannya membuat Bima mengurungkan niatnya untuk menjawab sang mama tiri.


Sama seperti Bima. Ella juga ingin menyuarakan isi hatinya mendengar perkataan Linna. Tapi melihat tempat yang tidak memungkinkan membuat Ella hanya memicingkan mata pertanda jika perkataan mama tiri Bima tidak berkenan di hatinya.


"Yang namanya istri pasti membawa pengaruh positif donk ma. Mereka saling mencintai. Ya pastilah saling mendukung."

__ADS_1


Bima tersenyum mendengar perkataan papanya.


"Pa, namanya di awal pernikahan. Ya pastilah menunjukkan hal hal yang manis saja. Tapi lama kelamaan pasti juga ada maksud tertentu mengapa dia bersedia menikah tanpa meminta restu terlebih dahulu kepada kita. Itu saja sudah termasuk membawa pengaruh negatif pada Bima. Secara tidak langsung dia sudah membuat Bima menjadi pribadi pembangkang. Pantas saja dijodohkan dengan putri pengusaha, Bima tidak mau ternyata sudah kena ulat bulu yang gatal."


Ella kembali mengeratkan genggaman di tangan Bima. Pria itu sudah tidak tahan mendengar ocehan mama tirinya.


"Jangan sembarangan berbicara mama. Aku sangat yakin Ella tidak seperti itu. Aku bisa melihat jika Ella adalah orang baik. Hargai sedikit perasaan orang kalau berbicara," kata papa Yuda marah. Dia sendiri tidak menyukai perkataan istrinya yang langsung mengatakan hal buruk tidak berdasar kepada Ella.


"Asal papa tahu. Gadis ini baru beberapa minggu datang ke rumah ini mengantarkan berkas kepada Bima. Tapi lihat sekarang. Bima sudah mengenalkannya sebagai istrinya kepada kita. Kalau tidak dia melebarkan pahanya dan berbuat hal rendah tidak mungkin Bima mau menikahi."


"Mama, tolong jaga bicaramu. Ella tidak seperti itu," bentak Bima marah.


"Iya, aku tahu. Kamu pasti dijebak dengan diberikan obat perangsang kan. Dan dia mengancam supaya kamu menikahinya. Pasti seperti itu kan Bima?.


Linna tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Dia meluapkan kekesalannya kepada Ella dengan berbagai tuduhan yang tentu saja menyakitkan hati Ella.


"Tante, semuanya yang dikatakan oleh Tante itu. Satupun tidak ada yang benar. Aku rasa, Tante bisa mengatakan hal itu semua karena Tante sudah mempraktekkan ke papa Yuda kan. Aku tahu Tante adalah istri kedua. Menurutku Hanya wanita yang mempunyai tujuan khusus bersedia menikah bahkan merebut pria beristri," kata Ella tenang. Tapi justru sikap tenang itu membuat Linna semakin merasakan gelisah. Perkataan Ella mampu membuat Linna terdiam menyembunyikan wajahnya yang terkejut karena keberanian Ella melawannya.

__ADS_1


__ADS_2