
Pranggg
Suara peralatan dapur yang terjatuh dilantai membuat penghuni rumah terkejut. Pemilik rumah yabg sedang bersantai di sofa sambil menonton acara televisi kesukaannya langsung menuju dapur dengan raut wajah marah. Wanita bertubuh gempal itu mengepalkan tangannya dan menatap tajam pembantunya. Suara gaduh seperti ini bukan yang pertama sejak Karina menjadi pembantu di rumah sang rentenir untuk membayar utang utangnya.
"Kalau kamu tidak bisa bekerja yang benar, sebaiknya kamu segera melunasi utang utangmu Karina. Sekali lagi kamu memecahkan melakukan seperti ini, jangan harap aku masih berbaik hati kepadamu," ancam sang rentenir tidak main main.
Sang rentenir sudah berbaik hati uangnya dibayar dengan tenaga. Tapi dasar pemalas, Karina justru tidak tahu berterima kasih.
Karina menunduk tetapi mengerucutkan bibirnya. Apa yang dikatakan oleh sang rentenir bagaikan tidak masuk ke hatinya. Di pikirannya bagaimana bisa secepatnya terlepas dari pekerjaan pembantu ini.
Menyadari berbicara dengan Karina seperti berbicara pada patung, sang rentenir akhirnya membalikkan badan meninggalkan Karina di dapur. Dia juga sebenarnya pening sejak Karina menjadi pembantu di rumahnya. Setiap hari ada saja peralatan dapur yang pecah.
Karina berlari menuju pintu ketika mendengar suara motor. Senyum tersungging di bibirnya ketika melihat sang rentenir pergi dari rumah dengan membawa motor.
Karina mempercepat langkahnya menuju kamar utama tempat suami si rentenir sedang tidur siang.
Karina membuka pintu kamar itu dengan tidak ragu.
"Pak Erik," panggil Karina setelah pintu kamar itu terbuka. Ternyata pak Erik juga sudah terbangun karena mendengar suara motor istrinya.
"Ada apa Karina?" tanya pak Erik. Dia terkejut melihat keberanian Karina membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk. Pak Erik semakin terkejut lagi melihat Karina melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Karina sudah tidak tahu rasa malu lagi. Karina memasang wajah menggoda dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Pak Erik, mau aku pijit?.
Belum mendapatkan jawaban dari orang yang ditanya. Karina sudah mendaratkan tangannya di kaki pak Erik. Spontan pak Erik menarik kakinya karena risih.
__ADS_1
"Tidak. Tidak Karina. Terima kasih. Keluarlah dari kamarku," tolak pak Erik.
Bukannya menurut, Karina malah memamerkan senyum manisnya. Dalam hati dia tersenyum dan berpikir jika pak Erik hanya jual jual mahal saja. Di pikirannya, tidak mungkin pak Erik menolak wanita muda seperti dirinya yang cantik juga bohay dibandingkan dengan istrinya yang bertubuh gempal.
Karina semakin berani merapatkan dirinya kepada pak Erik. Lama tidak dibelai dan juga demi uang membuat Karina menempuh jalan nekat seperti ini. Karina mengulurkan tangannya membelai dada pak Erik yang hanya menggunakan kaos tanpa lengan.
"Singkirkan tanganmu Karina," kata pak Erik sambil menghempaskan tangan Karina.
"Kalau bapak takut kita bermain disini. Kita bisa bermain di luar pak." Karina tidak menyerah. Harga diri tidak penting lagi baginya. Lebih tepatnya Karina tidak mempunyai harga diri lagi.
"Kurang ajar." Satu hal yang tidak disangka oleh Karina kini terjadi. Dia terjatuh di lantai karena didorong pak Erik dengan kuat.
"Jangan berpikir semua laki-laki itu murahan. Berani beraninya kamu menggoda aku, Karina," kata pak Erika sambil menyeret Karina kasar hingga ke pintu depan rumah.
"Mas, Karina kenapa diseret seperti itu?" tanya sang rentenir yang juga sudah muncul di halaman rumah tapi masih di atas motornya.
"Dia berusaha menggoda aku sayang." Sang rentenir melongo mendengar perkataan suaminya.
"Bohong. Aku tidak menggodanya."
Pak Erik kembali marah mendengar Karina yang menyangkal perbuatannya. Dia hendak melayangkan tangannya hendak menampar Karina tapi suara istrinya berhasil menghentikan tangan pak Erik. Tapi tidak dengan orang orang yang kebetulan lewat dari depan rumah pak Erik. Mereka tertarik dengan suara keributan dari mulut Karina yang terus menyangkal perbuatannya itu.
Sang rentenir memijit pelipisnya karena malu. Entah darimana datangnya orang orang sudah banyak berkerumun di halaman rumahnya. Entah siapa yang menggoda dan digoda tetap saja kejadian ini adalah aib keluarganya. Ternyata menjadi Karina pembantu untuk melunasi utang utang mendatangkan aib bagi keluarganya. Menyadari hal itu kemarahan menyelimuti hati sang rentenir.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Ditolong bukannya berterima kasih malah menggoda suamiku."
Sang rentenir menarik tangan Karina kasar supaya wanita itu berdiri. Dua tamparan mendarat di pipi yang mulus. Sang rentenir terpaksa menampar Karina Karina dari tadi wanita itu menyalahkan suaminya terus. Sang rentenir mempercayai ucapan suaminya karena bersedia bersumpah atas nama Tuhan.
__ADS_1
"Karina, aku lebih percaya kepada suamiku daripada kepadamu. Aku sungguh menyesal karena pernah meminjamkan duit kepadamu. Jika cara ini kamu mengira utangmu akan lunas. Kamu salah besar. Aku tidak akan memutihkan utangmu. Ternyata kamu penggoda Karina. Wanita murahan," kata sang rentenir kemudian meludahi wajah Karina.
"Suami kamu tidak sebaik yang kamu kira. Aku tidak menggodanya. Dia yang berusaha memperkosa aku tapi aku tidak mau. Aku akan menempuh jalur hukum atas pelecehan ini." Ternyata Karina masih mempunyai stok kata untuk tetap menyangkal perbuatannya. Dia tidak sadar jika perkataannya adalah kehancuran baginya.
"Segera hubungi anggota mu mas. Suruh anggota kamu untuk segera membuat pengaduan ke kantor polisi. Kasus pencemaran nama baik."
Pak Erik langsung masuk ke dalam rumah melaksanakan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Wanita murahan."
"Penggoda."
"Tidak tahu malu. Sudah dibantu tapi banyak tingkah."
"Dengar dengar dia pernah menikah dan menjadi istri kedua dari pria beristri. Tapi sudah cerai."
"Kalau begitu, dia pelakor dong."
"Berarti benar. Dia yang menggoda pak Erik. Dasar wanita tidak benar."
Karina merasakan telinganya bising mendengar perkataan demi perkataan orang orang yang menghalangi jalannya untuk kabur dari tempat itu.
Malam harinya, Karina dijemput paksa dari rumah sang rentenir atas pencemaran nama baik yang dilakukannya. Karina berontak tidak mau naik ke atas mobil polisi.
"Bu, aku minta maaf. Benar. Aku yang menggoda pak Erik. Tolong jangan penjarakan aku Bu." Akhirnya Karina mengakui perbuatannya daripada mendekam di penjara.
"Hukum tetap berjalan Karina. Andaikan dari tadi kamu jujur. Aku dan suamiku tidak perlu membuang uang untuk mengadukan kamu. Jalani hukuman dengan ikhlas. Anggap ini pembelajaran bagimu supaya tidak berbuat jahat lagi. Setelah keluar dari penjara jangan lupa membayar utang kamu."
__ADS_1
Karina dinaikkan dengan paksa ke dalam mobil setelah sang rentenir menyelesaikan perkataannya. Karina terus berontak dan meminta maaf. Tapi untuk saat ini, hal itu tidak ada artinya bagi dirinya.