Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 55


__ADS_3

Jika kesedihan menyelimuti hati papa Yuda dan Ella tapi tidak dengan Linna. Wanita itu tetap mengetahui kecelakaan yang menimpa Bima walau Yuda sudah memperingatkan kepada orang orang kepercayaannya untuk menyembunyikan kecelakaan tersebut.


Wanita itu tersenyum di kamarnya sambil memutar gelas berisi alkohol. Linna memang pecandu alkohol dan perokok berat. Tentu saja itu tidak diketahui oleh Yuda. Gaya hidup yang seperti inilah menuntut dirinya harus mempunyai uang banyak. Keinginannya untuk memusnahkan Maya dari dunia ini juga salah satu penyebab Linna selalu kekurangan uang. Linna membayar beberapa orang lewat Lita untuk mencari keberadaan Maya selama ini.


Linna tertawa terbahak-bahak di kamar itu. Dia sudah merasa menang setelah mendengar kondisi Bima yang koma.


"Semoga koma selamanya, Aku bahkan tidak perlu mengotori tanganku untuk melenyapkan kamu putraku," desis Linna. Baginya kondisi Bima saat ini membuka peluang untuk dirinya lewat Kiki menjadi pewaris perusahaan. Linna meneguk alkohol itu kembali dengan senyum tersungging di bibirnya. Harta telah membutakan mata hatinya akan dosa dosa yang akan dipertanggungjawabkan kelak. Linna benar benar minim iman. Harta tidak dibawa mati. Tapi demi harta dirinya tidak lepas dari dosa.


Pada dasarnya manusia memang mempunyai sifat serakah. Tapi tidak semua manusia memelihara sifat itu. Banyak orang yang bekerja dan berusaha keras untuk mempunyai apa yang mereka inginkan daripada merampas milik orang lain. Tapi manusia seperti itu manusia yang takut akan Penciptanya. Sedangkan bagi Linna hal itu tidak berlaku. Dia mengidap penyakit serakah akut. Dan sifat serakah itulah yang mengantarkan Linna menjadi pelakor keji. Dia tidak hanya merebut Yuda dari Maya. Tapi Linna juga berusaha keras untuk melenyapkan Maya. Dan penyesalan Linna saat ini karena tidak melenyapkan Bima yang tinggal satu atap dengannya selama ini.


Linna meletakkan gelas itu di meja. Dia berjalan melenggang ke arah pintu kamar setelah membaca pesan di ponselnya.


"Ibu Linna. Selamat malam," sapa pria itu yang tidak lain adalah Alan asisten papa Yuda. Linna kini sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Hmmm."


"Kabar apa yang kamu bawa," tanya Linna. Caranya duduk dan bertanya jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah Nyonya besar di rumah itu.


"Sesuai dengan pesan yang sudah aku kirim Bu," jawab Alan.


"Tidak ada lagi yang kamu sembunyikan?" tanya Linna penasaran.


"Atau kamu tidak merasa enak membicarakannya disini. Kita bisa pindah ke tempat biasa," kata Linna lagi.


"Bukan, bukan sama sekali. Walau aku jahat tapi aku tidak tega sampai melenyapkan nyawa seseorang apalagi itu nyawa putraku sendiri," jawab Linna sambil pura pura prihatin atas apa yang menimpa Bima.


"Tapi asal ibu tahu. Kecelakaan ini akan diselidiki dan sudah diserahkan kepada pihak kepolisian."

__ADS_1


"Apa keberadaanmu di rumah ini melakukan penyelidikan awal kepadaku Alan. Kamu jangan macam macam kepada saya ya. Ingat, siapa yang membawa kamu bekerja di cakrawala group. Dari awalnya yang hanya membersihkan toilet kini kamu menjadi asisten suamiku. Aku harap kamu mengingat kebaikanku," ancam Linna terpancing emosi. Dia sangat tidak suka bila seseorang membantah perkataannya apalagi perkataan Alan seperti mengintimidasi dirinya.


Alan menatap Linna dengan raut wajah kecewa. Dia tidak menyangka jika Linna mengungkit masa lalunya. Dirinya memang hanya seorang cleaning service. Tapi cara Linna menyebut dirinya hanya sebagai petugas kebersihan toilet mempertegas statusnya kala itu. Bertekad ingin sukses. Alan akhirnya melanjutkan pendidikan dengan mengambil kuliah malam demi memperbaiki taraf hidupnya.


"Aku pasti mengingat semua kebaikanmu bu. Tapi jika menyangkut nyawa seseorang aku tidak bisa diam."


"Diam kamu. Aku sudah katakan jika bukan aku penyebabnya."


"Baiklah. Aku pamit," kata Alan sambil beranjak dari duduknya. Setelah sekian lama dan banyak tenaganya tercurah hanya untuk membantu Linna selama ini. Malam ini dirinya harus mendapatkan penghinaan. Alan merasa tersinggung.


Linna hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa menang karena bisa menggertak akan. Dia sungguh tidak menyadari jika ada seseorang berdiri di balik tembok yang menguping pembicaraan mereka.


****

__ADS_1


Kalau author minta vote. Di kasih gak ya. Tapi


Maaf sebelumnya. Babnya hanya sedikit. Tidak bisa fokus menulis karena anak demam.


__ADS_2