
"Ella, kita sama sama pendatang di keluarga Bima. Aku rasa kamu cukup mengetahui apa yang aku maksud," kata Linna dengan pandangan ke sembarang arah.
"Langsung saja Tante. Tidak perlu membuat kata pembuka yang membingungkan."
"Kita bekerjasama saling melindungi rahasia masing-masing," kata Linna. Dari tadi malam Linna tidak bisa tidur. Linna sangat ketakutan jika pembicaraan dengan Alan didengar oleh Ella. Linna mempunyai firasat kuat akan hal itu.
"Maaf Tante. Aku tidak mempunya rahasia yang perlu aku lindungi. Dan aku juga tidak mengetahui rahasia Tante. Dan satu hal lagi Tante. Aku tidak pernah bersedia bekerja sama dengan orang orang yang mempunyai hati yang jahat. Jadi, aku rasa. Jika Tante merasa mempunyai rahasia yang perlu dilindungi itu artinya Tante termasuk orang jahat. Saran aku Tante. Bertobat saja dari pada menyesal tiada guna nantinya," kata Ella panjang lebar.
Linna bukannya menyimak perkataan Ella. Wanita itu justru semakin membenci Ella. Ella menatap Linna sambil tersenyum kemudahan beranjak dari duduknya. Dia merasa sangat puas karena sudah mengatakan hal itu kepada Linna.
"Aku naik taksi saja pak," kata Ella kepada supir yang sudah berdiri siap untuk mengantarkan Ella.
"Tapi Nyonya," kata supir itu ragu membiarkan Ella naik taksi. Dia sudah diberi tugas untuk mengantar jemput sang Nyonya muda.
Ella melangkahkan kakinya meninggalkan pekarangan rumah mewah itu. Ada hal yang harus dilakukannya pagi ini. Dan dia tidak ingin siapapun mengetahui rencananya.
"Nyonya, apa Nyonya tidak sedih jika saya dipecat karena tidak melakukan tugas?" kata sang supir yang sudah berjalan di belakang Ella. Ella berbalik dan menatap supir itu.
"Tolong Nyonya. Jangan biarkan saya kehilangan pekerjaan ini karena membiarkan Nyonya naik taksi pagi ini. Pak Yuda juga sudah memberikan perintah kepada saya beberapa saat yang lalu menjadi supir pribadi Nyonya," kata supir itu sambil menunduk hormat.
Ella merasa tidak tega jika sang supir itu dipecat. Papa Yuda dan Bima adalah sama sama pribadi yang konsisten atas apa yang keluar dari mulut mereka.
"Tenang saja pak. Babak boleh nongkrong dimana saja supaya tidak ketahuan jika bapak tidak mengantar aku pagi ini," kata Ella sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ke tangan sang supir. Sang supir itu spontan mundur dan menyembunyikan tangan ke belakang tubuhnya.
"Maaf Nyonya. Saya tidak pernah membenarkan tindakan menerima suap seperti ini," kata sang supir itu tegas dan nampaknya merasa tersinggung atas perlakuan Ella.
"Maaf pak," kata Ella tulus dan tidak enak hati. Ella dapat melihat jika sang supir itu benar benar tersinggung. Ella sebenarnya hanya ingin mengetes sang supir itu tentang kesetiaannya kepada papa Yuda. Melihat pak supir itu menolak uang pemberiannya. Ella sangat yakin jika sang supir itu adalah orang yang jujur dan mempunyai tingkat loyalitas yang tinggi.
"Tidak apa apa Nyonya. Sebentar, saya akan ambil mobil dulu."
Sang supir itu memundurkan langkahnya dan akhirnya berbalik menuju mobil. Sebagai orang kelas bawah sang supir itu sangat sadar tidak boleh menunjukkan sikap kesal atas perlakuan Nyonya mudanya.
__ADS_1
Ella masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang diliputi rasa bersalah.
"Sekali lagi, aku minta maaf ya pak," kata Ella lagi setelah mobil sudah menjauh dari pekarangan rumah Yuda.
"Iya Nyonya. Tidak apa-apa."
"Pak, kita ke jalan Xxxxx dulu ya!" kata Ella lagi. Sang supir hanya menganggukkan kepalanya.
Ella menarik nafas panjang. Pikirannya masih bercabang akan semua cobaan hidup yang menerpanya. Ella memberitahukan alamat lengkap kepada sang supir kemana tujuan mereka hari ini.
"Berhenti di sini saja pak."
"Tidak masuk ke dalam Nyonya?.
"Tidak perlu pak. Aku hanya sebentar. Tapi kalau aku tidak keluar dari rumah itu setelah satu jam. Tolong masuk ke dalam rumah itu ya pak."
"Loh, memangnya rumah ini milik siapa Nyonya?" tanya sang supir bingung. Kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan akan perkataan Ella.
"Rumah teman aku pak. Aku ke rumah ini untuk menyelesaikan sedikit masalah."
"Sudah ya pak. Aku masuk dulu. Ingat kata saya tadi pak. Susul aku ke rumah itu jika belum keluar dalam waktu satu jam. Aku masih takut mati pak."
"Nyonya, perlukah saya meminta bantuan orang orang kepercayaan tuan Yuda?" tanya supir itu khawatir. Ella seakan pamit kepadanya untuk pergi berperang.
"Tidak perlu pak. Tenang saja."
Ella menurunkan kedua kakinya dengan pasti dari dalam mobil. Dia menggeser gerbang hitam itu yang ternyata tidak terkunci. Setelah di depan pintu. Ella mengetuk itu dengan sangat kuat.
"Mau apa kamu kemari?" tanya wanita itu terkejut dan marah melihat Ella berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mana suami kamu?" tanya Ella.
__ADS_1
"Mas Zico keluar kota. Pergilah. Jangan mencoba merayu suamiku lagi," kata Karina hendak menutup pintu. Tapi Ella langsung menahan pintu itu dan mendorong tubuh Karina sehingga dirinya bisa masuk ke dalam rumah. Sementara sang supir sudah berdiri di depan gerbang melihat Ella yang nampak berbeda pagi ini. Wanita itu terlihat sangat berani dan sedikit bar bar.
"Mas Zico, mas Zico," teriak Ella kencang. Dia tidak percaya Zico keluar kota karena Ella melihat mobil milik Zico terparkir di garasi.
"Dasar wanita murahan. Mas Zico tidak di rumah. Jangan gila kamu di rumahku," kata Karina marah..
"Hei, kamu yang gila wanita murahan. Kamu kira aku percaya. Mobilnya ada di garasi. Panggil suamimu ke bawah. Aku ingin berbicara dengannya sekarang juga," kata Ella sudah mulai tersulut emosi karena Karina menyebut dirinya wanita murahan.
"Dia keluar kota bersama managernya. Kalau tidak percaya telepon sekarang."
Ella menatap tajam wanita yang selalu membuat dirinya naik darah itu. Ella dapat melihat jika kali Karina tidak berbohong.
"Jangan coba coba datang lagi ke rumah ini wanita murahan."
Ella menghentikan langkahnya di depan pintu mendengar perkataan Karina yang menyebut dirinya wanita murahan sampai dua kali dalam hitungan menit. Sungguh, kesabaran sudah mulai habis.
"Apa maksud perkataan kamu?" tanya Ella tenang tapi tangannya sudah terkepal.
"Kamu wanita murahan," kata Karina mengulang perkataannya.
"Lalu, kamu yang rela menjadi istri kedua di saat mas Zico masih memperistri aku disebut wanita apa. Wanita baik baik? atau wanita super baik," sindir Ella.
"Aku menjadi istri kedua karena kami saling mencintai. Dan kamu tidak pernah dicintai oleh suamiku," kata Karina merasa sangat bangga.
Ella tertawa remeh mendengar perkataan Karina. Dia masih ingat jika Zico mengajaknya untuk rujuk dan bersedia melepaskan Karina.
"Jangan terlalu percaya diri kamu Karina," kata Ella sinis. Kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Kamu yang jangan terlalu percaya diri. Ingat Ella. Kamu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Kamu lihat. Kamu kira setelah menikah dengan tuan Bima kamu bahagia. Lihat dirimu sekarang. Tidak bahagia dengan mas Zico justru nasibnya semakin menyedihkan. Kamu adalah pembawa sial di keluarga itu," kata Karina lagi membuat hati Ella kembali memanas. Karina sudah mengetahui bahwa Ella sudah menikah dengan Bima di saat dirinya bercerita kepada Linna beberapa hari yang lalu tentang kedatangan Bima menemani Ella ke rumah ini.
Saat itu Karina terkejut mendengar tanggal pernikahan Bima dan Ella yang disebutkan Linna. Karina masih mengingat jelas tanggal dimana dirinya menyaksikan Zico mengucap talak kepada Ella. Sungguh dia tidak menyangka jika Ella sudah menjadi nyonya dari pria tajir.
__ADS_1
Mendengar semua perkataan Karina barusan. Ella tidak berpikir panjang mendekat ke mantan madunya itu. Ella langsung menarik kerah piyama Karina dan memutarnya. Kini Karina berjinjit dan tangannya berusaha melepaskan cengkraman Ella di kerah piyamanya.
"Terimakasih Karina karena sudah mengingatkan aku akan perkataan kamu dulu. Maka hari ini aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Kamu akan memakan kotoran kamu sendiri hari ini," kata Ella marah sambil mendorong tubuh mantan madunya itu. Kesabarannya habis karena mendengar langsung dari mulut Karina yang mengatakan dirinya pembawa sial. Karina meronta melepaskan cengkraman itu tapi tenaganya ternyata tidak sebesar tenaga Ella yang dikuasai amarah tidak terkendali.