Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 53


__ADS_3

Ella sengaja berlama lama berendam di kamar mandi. Rasa lapar yang biasanya sudah terasa di perutnya jam tujuh seperti ini tidak ada terasa sama sekali. Mungkin karena pikirannya bercabang Ella lebih suka berendam dan mencium aroma sabun. Dia juga mengatakan sudah makan ketika salah satu pelayan di rumah itu memanggil dirinya untuk makan malam. Ketidak beradaan Bima di rumah saat ini membuat Ella masih terasa terasing jika makan bersama dengan keluarga suaminya terutama bila ada Linna. Wanita itu selalu menunjukkan sikap yang tidak menyukainya.


Ella menikmati aroma sabun itu sambil memejamkan mata. Aroma itu seakan memberikan kenyamanan baginya untuk melupakan tanda tanya tentang wanita yang sekarang bersama Bima. Tapi tiba tiba Ella meremas dadanya berdenyut nyeri. Hatinya seakan memberi sinyal buruk tapi Ella tidak bisa menebak sinyal tersebut.


"Firasat apa ini," batin Ella dalam hati. Pikirannya langsung tertuju kepada Bima.


"Jangan sakiti aku lebih dalam lagi daripada Zico mas. Jika apa yang kamu lakukan selama ini hanya sandiwara. Maka lepaskan aku terlebih dahulu sebelum mengikat wanita lain dalam hatimu," batin Ella lagi. Ella merasa tidak sanggup jika Bima membawa wanita lain di rumah tangga mereka seperti yang dilakukan oleh Zico dulu. Ella pasti lebih hancur bercerai dengan Bima dibandingkan dengan Bima. Bagaimanapun mereka sudah lahir batin sebagai suami istri. Berbeda dengan pernikahannya dengan Zico yang hanya sebatas status.


Ella keluar dari kamar mandi setelah lebih setengah jam berendam. Sebelum mengenakan pakaiannya. Ella mengambil ponselnya dan memeriksa ponsel tersebut. Walau hatinya menduga duga Bima bersama mantannya. Ella tetap berharap ada pesan Bima di ponsel itu menjelaskan tentang video kebersamaannya dengan wanita itu.


Ella memanggil balik panggilan tak terjawab yang ada di ponselnya. Tapi nomor Bima tidak aktif lagi.


Ella cepat cepat mengenakan pakaiannya. Dia ingin turun segera ke bawah untuk bertanya langsung ke Kiki tentang wajah Margaretha. Jika wanita yang di video itu adalah Margaretha. Ella berencana mengambil sikap malam ini juga.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk putraku. Aku dan istrinya akan segera ke sana."


Ella menghentikan langkah di tangga paling dasar. Dia menyimak tetapi belum mengerti arti dari perkataan papa mertua yang sedang berbincang lewat telepon.


"Ada apa pa?" tanya Ella bingung. Seketika Papa Yuda berbalik menoleh ke Ella. Papa Yuda terlihat sangat kacau dan mengelus rahangnya sendiri.

__ADS_1


"Bima kecelakaan. Kita harus segera ke rumah sakit. Sekarang juga."


Ella merasakan tubuhnya seperti tidak bertulang. Jantungnya seperti melompat dari raganya. Ella merosot dan terduduk di lantai dengan pikiran kosong. Berita kecelakaan Bima seperti pukulan yang meremukkan tubuhnya sehingga terlihat tidak berdaya.


"Ayo nak, kita harus lihat keadaan suami kamu secepatnya," kata Papa Yuda. Sama seperti Ella Papa Yuda juga sangat merasakan hancur mendekat kecelakaan yang menimpa Bima.


Ella masih terduduk di tangga itu bahkan tidak mendengar ajakan papa Yuda. Ella tersentak ketika papa Yuda menyentuh bahu. Seketika itu juga tangisnya pecah. Papa Yuda terlihat menenangkan Ella.


"Ada apa?. Apa yang terjadi," tanya Linna yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia keluar dari kamar karena mendengar tangisan Ella.


"Diam. Masuklah ke kamar kamu. Aku dan Ella ada urusan ke luar," jawab papa Yuda datar. Papa Yuda membantu Ella berdiri kemudian menuntun Ella untuk segera ke luar dari rumah. Papa Yuda tidak memberitahukan tentang kecelakaan kepada Linna karena papa Yuda sudah mulai mencurigai gelagat Linna selama satu Minggu ini.


"Sabar nak. Bima sudah ditangani dokter," kata papa Yuda setelah membaca pesan di ponselnya. Orang kepercayaannya bergerak cepat ke rumah sakit setelah mengetahui Bima kecelakaan.


Ella hanya terdiam saja. Kesedihan itu terlalu kuat memasuki relung hatinya. Dia melupakan sakit hati tentang video kebersamaan Bima dengan wanita belia itu. Yang ada di pikirannya hanya ingin bertemu dengan Bima dan memastikan suaminya itu baik baik saja.


"Mas, semoga kamu baik baik saja," batin Ella dalam hati. Untaian kata terbaik terucap dari bibirnya untuk sang suami. Sedangkan papa Yuda sibuk memeriksa ponselnya karena banyaknya pesan yang masuk.


"Rahasiakan kecelakaan ini dari siapapun termasuk dari Linna," perintah papa Yuda. Saat ini dia berbicara dengan seseorang di telepon. Papa Yuda juga memerintahkan orang itu untuk menyelidiki hal hal yang menyebabkan Bima kecelakaan. Sangat jelas terlihat kesedihan di wajah pria tua. Bima adalah putra satu satunya dan sebagai penerus kerajaan bisnisnya. Jika terjadi sesuatu terhadap Bima entah bagaimana nasib perusahaannya kelak. Yuda juga tidak akan memberikan ampun jika kecelakaan itu adalah karena ulah seseorang. Meskipun itu Linna.

__ADS_1


Ella membuka pintu mobil dengan tidak sabar setelah mobil berhenti di parkiran rumah sakit itu. Papa Yuda juga melakukan hal yang sama. Dua manusia itu berjalan dengan tergesa menuju ruangan ICU sesuai isi pesan yang masuk ke ponsel papa Yuda.


Ella dan papa Yuda setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit itu.


"Tuan," sapa orang kepercayaan Yuda menyambut kedatangan mereka di depan ruangan ICU itu.


"Bagaimana keadaan Bima," tanya Yuda. Ella menatap pria berseragam hitam itu. Dia tidak sabaran menunggu jawaban.


"Masih ditangani pihak medis tuan."


Ella kembali terduduk di lantai rumah sakit. Melihat ruangan dimana Bima ditangani. Ella sudah menduga jika Bima mengalami luka parah. Ella terlihat sangat hancur dengan dengan apa yang dialami oleh Bima. Air matanya juga sudah berhamburan keluar dari matanya.


"Berdirilah nak," kata Papa Yuda pelan sambil menyodorkan tangannya supaya Ella berdiri. Ella menyambut tangan itu kemudian berdiri. Dengan menutup mulutnya. Ella mengeluarkan suara menangis yang hampir tidak terdengar. Sedangkan papa Yuda sudah sibuk berbicara dengan asistennya di telepon dan menjauh dari tempat Ella berdiri.


Setelah papa Yuda selesai berbicara dengan asistennya. Dia kembali ke tempat Ella berdiri. Papa Yuda menatap menantunya dengan kasihan. Sama seperti Ella, dia juga butuh seseorang untuk menguatkan hatinya.


Papa Yuda mengulurkan tangannya menjangkau tubuh Ella. Dia memeluk menantunya dengan perasaan sedih juga takut. Mereka sudah hampir setengah jam berdiri di depan ruangan ICU itu. Tapi tanda tanda dokter dan tenaga medis lainnya belum ada yang keluar dari ruangan itu.


"Kita harus tabah menerima kenyataan ini nak. Papa percaya. Bima bisa melewati ini semua. Dia pasti berkumpul bersama kita."

__ADS_1


Papa Yuda berbicara dengan nada penuh optimis untuk menguatkan hatinya sendiri. Dia sudah mendapat laporan tentang kronologi terjadinya kecelakaan yang menimpa Bima.


__ADS_2