Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 59


__ADS_3

Ella benar benar dikuasai amarah tidak terkendali. Kini dia sudah menyeret Karina menuju kamar mandi yang berada di dapur. Dia tidak memperdulikan rintihan kesakitan yang terdengar dari mulut mantan madunya. Amarahnya benar benar meledak.


Beberapa bulan menahan diri untuk tidak membalas hinaan Karina selama berada di atap yang sama kini Ella seperti bukan dirinya sendiri. Tanpa ampun dan entah kekuatan dari mana Ella berhasil menyeret mantan madunya hingga masuk ke dalam kamar mandi.


Ella memegang kedua tangan Karina dan meletakkan dua tangan itu di belakang tubuh lawannya. Tangan kirinya memegang kedua tangan Karina yang tidak berdaya lagi karena kelelahan meronta. Sebelumnya juga Ella sudah memukul kedua lengan Karina sehingga tangannya tidak mampu untuk melawan lagi.


"Cabut kata katamu yang mengatakan aku pembawa sial," kata Ella yang kini berdiri di belakang tubuh Karina yang sudah berjongkok menghadap closet duduk.


"Lepas aku brengsek. Aku bisa melaporkan kamu ke polisi atas penganiayaan ini," kata Karina dengan suara yang tersengal.


"Jadi, tidak mau mencabut kata katamu itu?" tanya Ella. Kini tangan kanannya sudah berada di rambut Karina dan menarik rambut tersebut sehingga Karina menengadah.


Karina bukannya menyesali perkataannya justru semakin kuat meronta berusaha melepaskan diri.


Melihat tidak ada niat baik dari lawannya akhirnya Ella mendorong kepala Karina masuk ke dalam closet duduk tersebut.


"Lepas, lepas," kata Karina sambil berusaha mengeluarkan kepalanya dari closet menjijikkan itu. Ella justru semakin menekan kuat kepala Karina. Emosi membutakan mata hati Ella sehingga dia meluapkan semua kemarahannya hari ini. Dia sudah memberi kesempatan kepada Karina untuk mencabut perkataannya. Tapi wanita itu bukan hanya keras kepala tapi juga bodoh. Dia memilih kepalanya terbenam di closet kotor itu daripada mencabut perkataannya.


Bodoh, tentu saja Karina bodoh. Sebagai wanita yang masuk ke dalam rumah tangga Ella dan Zico seharusnya dia sadar bahwa dia sudah menyakiti Ella sangat dalam. Tetapi Karina tidak pernah menyadarinya. Selain bangga menjadi wanita kedua, Karina tidak henti hentinya mengusik kehidupan Ella.


Ella mengeluarkan kepala Karina dari closet itu dengan menarik rambut Karina kasar sehingga Karina kembali mendongak menatap langit langit kamar mandi. Di sekitar wajahnya terlihat basah oleh air closet. Karina terlihat jijik dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Minta ampun lah Karina," perintah Ella tanpa melepaskan tangannya dari tangan dan rambut milik Karina.


"Tidak akan. Aku akan melaporkan kamu ke polisi," jawab Karina keras kepala. Ella tertawa terbahak-bahak. Dia melepaskan tangannya dari rambut Karina. Kemudian tangannya meraba kancing piyama Karina dengan posisi Ella masih di belakang tubuh Karina. Hingga akhirnya Ella berhasil melepaskan piyama Karina dan melepaskan penyangga dadanya. Tubuh Karina bagian atas kini tidak ada penutup. Ketika tangan Ella hendak berusaha menurunkan celana Karina. Karina berhasil menggigit lengan Ella. Spontan Ella menarik tangan kanannya tanpa melepaskan tangan kirinya dari kedua tangan Karina. Ella membalas sakit di lengannya dengan memukul kedua lengan dan kedua paha Karina.

__ADS_1


Ella kembali memasukkan kepala Karina ke dalam closet itu. Tapi tidak lama seperti pertama tadi. Kemudian Ella mengguyur tubuh Karina dengan air pakai ember yang ada di kamar mandi.


"Kamu tidak akan bisa melaporkan aku ke polisi. Karena kamu tidak punya bukti. Tapi jika kamu cukup bernyali silahkan!. Ada videomu di ponselku. Kamu ingin melihat?" tanya Ella tersenyum. Ella mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi ada di saku celananya. Ella memutar video Karina dan Zico tanpa sehelai benang pun dan beradegan suami istri ketika mereka melakukan di ruang tamu.


"Sialan kamu Ella bajingan," teriak Karina tanpa bisa berbuat banyak. Tangan dan kakinya terasa sakit untuk digerakkan akibat pukulan Ella di lengan dan kedua pahanya.


"Karina. Biarkan aku mengejar kebahagiaanku. Jangan ganggu aku lagi," kata Ella sambil menyadarkan tubuh ke dinding kamar mandi itu. Karina menatap Ella dengan sangat sinis.


"Setelah apa yang kamu lakukan ini. Tidak akan."


"Baiklah. Kalau begitu. Asal kamu tahu. Bukti pukulan aku di lengan dan paha tidak akan bisa untuk menjebloskan aku ke penjara. Tahu kenapa. Kalau tidak tahu. Mikir," kata Ella sambil kembali mengguyur tubuh Karina dengan air yang banyak. Setelah puas mengguyur tubuh Karina. Ella keluar dari kamar mandi itu dengan membawa piyama basah milik Karina. Dia tersenyum sambil mencampakkan piyama itu di halaman rumah milik mantan suaminya.


Karina merangkak keluar dari kamar mandi. Sakit di lengan dan pahanya sudah berangsur bilang. Tapi dia tidak bisa membalas perbuatan Ella karena tubuh bagian atasnya tanpa kain penutup.


"Kita ke rumahku terlebih dahulu pak," kata Ella tanpa memperdulikan wajah bingung sang supir. Kini Ella sudah duduk manis di mobil dengan pakaian yang sedikit basah.


Ella hanya singgah sebentar di rumah pribadi milik Bima. Dia hanya mengganti pakaiannya.


Ella tiba di rumah sakit sebelum papa mertuanya pulang.


"Selamat pagi pa," sapa Ella setelah berada di ruangan khusus dimana Bima sudah dipindahkan dari ruangan ICU.


"Pagi nak," jawab Papa Yuda lesu.


"Papa, sudah sarapan?"

__ADS_1


"Sudah," jawab Papa Yuda singkat. Pikirannya masih terus memikirkan kondisi putra satu satunya.


"Papa, bolehkah kita berbicara sebentar?" tanya Ella sambil menunduk.


"Bicaralah nak. Apa yang hendak kamu katakan?"


"Pa, ini menyangkut kecelakaan mas Bima. Apa papa tidak mencurigai seseorang yang melakukan tindakan sengaja mencelakakan mas Bima?" tanya Ella hati hati. Dia tidak bisa menahan keinginan hatinya untuk mengungkapkan kecurigaan terhadap Linna. Selain itu dia ingin memperingatkan papa mertuanya akan Linna dan Alan.


Ella sangat yakin jika dibalik kecelakaan ini Linna adalah pelaku utamanya. Melihat ambisi Linna akan harta, Ella takut jika sasaran berikutnya adalah papa Yuda.


Yuda menatap wajah menantunya sebentar kemudian menarik nafas panjang. Saat seperti ini, jujur Yuda ingin berbagi kesedihan dengan keluarganya.


"Papa mencurigai seseorang nak. Tapi papa tidak mempunyai bukti untuk itu," jawab Yuda.


"Apakah aku mengenal orang yang papa curigai itu?" tanya Ella lagi. Ella hanya ingin meyakinkan hatinya bahwa orang yang dicurigai oleh Yuda adalah orang yang sama yang dia curigai.


"Kamu mengenalnya nak," jawab papa Yuda. Ella mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara antara Linna dan Alan kepada papa Yuda.


Yuda menggelengkan kepalanya mendengar rekaman suara itu. Dia sangat kecewa kepada Alan sang asisten yang mengabaikan peringatannya untuk tidak membocorkan kecelakaan Bima kepada Linna.


"Terimakasih Ella. Untung kamu merekam ini. Papa jadi bisa berhati hati kepada Alan."


"Bagaimana dengan Tante Linna pa."


"Apa menurutmu. Papa harus berhati hati kepada wanita itu."

__ADS_1


"Iya pa. Kita harus berhati hati," jawab Ella.


__ADS_2