Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 62


__ADS_3

Ella merasakan jantungnya berdebar ketika perawat membantu Ella berbaring di tempat tidur dan mempersiapkan dirinya hendak diperiksa oleh dokter. Ada rasa malu dan risih yang menyergap masuk ke dalam hatinya ketika orang lain selain suaminya melihat area perutnya.


Ella hanya bisa menatap monitor itu tanpa mengerti. Telinganya tidak mencerna dengan baik ketika dokter menerapkan hasil tangkapan USG itu karena kondisinya yang kurang baik. Ella hanya mengetahui dengan pasti jika dia sudah positif hamil dan usia kandungannya enam minggu.


Ella dibantu oleh suster turun dari tempat tidur setelah pemeriksaan itu selesai. Kini dia duduk berhadapan dengan dokter. Kondisinya yang lemas membuat Ella tidak betah di ruangan Dokter itu. Rasanya dia ingin berbaring saja. Seharusnya di saat seperti ini ada seorang suami yang menemaninya periksa kehamilan. Tapi itu semua tidak terjadi. Jangankan menemani. Bima masih saja menjadi beban pikiran terberat bagi Ella.


Ella keluar dari ruang dokter itu setelah menerima selembar kertas berisi resep yang harus ditebusnya. Keadaan papa mertuanya yang kaya raya, seharusnya mereka bisa hanya menjentikkan jari maka kebutuhan dan keperluan mereka tersedia. Tapi setelah mengetahui bagaimana orang orang kepercayaan Papa Yuda yaitu Alan dan Linna yang masih dicurigai membuat papa Yuda mengisyaratkan kepada Ella untuk lebih berhati hati.


"Bagaimana nak?. Positif?" tanya papa Yuda setelah Ella keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan. Ella menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan kepala sang menantu. Papa Yuda langsung mengucapkan kata syukur berkali kali. Terlihat di wajahnya penuh dengan kebahagiaan.


"Mari nak, aku antar kamu ke ruangan suamimu," ajak papa Yuda sambil mempersilahkan Ella berjalan terlebih dahulu.


"Aku masih harus menebus ini pa," kata Ella sambil menunjukkan kertas resep.


"Biar Papa saja yang menebus," jawab papa Yuda.


"Jangan terlalu sungkan kepada papa nak. Anggap papa ini papa kandung kamu. Keadaan Bima seperti ini. Maka Papa lah yang bertanggungjawab menjaga kamu, apalagi kamu mengandung cucu papa," kata Papa Yuda tulus.


"Terima kasih pa. Tapi tidak perlu repot. Kalau hanya menebus obat ini. Aku masih bisa," tolak Ella halus. Ella masih sungkan menerima perhatian papa mertuanya walau jelas terlihat tulus. Sepak terjang sang papa mertua sebagai penjelajah wanita membuat Ella terkadang risih berdekatan dengan papa mertuanya.

__ADS_1


"Naiklah ke atas. Biar papa menebus resep dokter itu," kata Yuda akhirnya. Papa Yuda mengambil kertas resep itu dari tangan Ella dan meninggalkan Ella di tempat itu. Papa Yuda melakukan hal itu karena dirinya dapat melihat sikap Ella yang sungkan kepadanya.


Ella berjalan menuju lift. Keadaan tubuh yang kurang sehat membuat dirinya menabrak seorang wanita. Beruntung Ella dan wanita itu tidak terjatuh. Tapi tidak dengan kantong plastik yang berisi makanan yang dibawa wanita itu. Kantong plastik dan segala isinya kini sudah berserakan di lantai.


"Maaf," kata Ella lesu. Ingin rasanya Ella ikut berjongkok dengan wanita itu memungut makanan yang berserakan itu. Tapi melihat lantai yang sudah basah akibat minuman yang tertumpah Ella takut terpeleset. Akhirnya Ella hanya memanggil petugas kebersihan yang kebetulan bekerja tidak jauh dari mereka. Menghadapi situasi seperti ini. Rasa mual yang sedari tadi ditahan sedikit terabaikan.


Wanita itu hanya menatap Ella sekilas tanpa menjawab permintaan maaf dari Ella. Di wajahnya terlukis rasa kesal. Ella merasa bersalah karena kecerobohannya membuat wanita itu kehilangan makanan. Tapi untuk membelikan atau mengganti makanan itu Ella saat ini tidak membawa dompet.


"Ada apa nak?" tanya papa Yuda yang tiba tiba sudah berdiri di sebelah Ella. Di tangannya juga sudah ada obat yang baru saja di tebus. Yuda tidak perlu antri seperti orang lain untuk mendapatkan obat itu. Kekuatan uang sungguh nyata untuk mempermudah segala urusan.


"Papa sudah disini?" tanya Ella heran. Yuda hanya tersenyum. Yuda menoleh ke arah wanita yang berjongkok yang masih sibuk memungut makanan yang berceceran itu. Sedangkan petugas kebersihan yang dipanggil Ella tadi terlihat sedang mengeringkan tumpahan minuman.


"Maaf nak. Untuk apa kamu memungut makanan itu. Itu tidak layak lagi dimakan," kata Yuda yang merasa kasihan melihat wanita itu.


"Sekali lagi maafkan aku mbak. Aku benar-benar tidak sengaja," kata Ella semakin bersalah. Kata kata wanita itu seperti menyindir dirinya yang tidak membantu padahal wanita itu kehilangan makanannya karena kecerobohannya.


Wanita itu berdiri dan menatap Ella.


"Tidak apa apa Mbak. Lain kali hati hati. Jangan karena kecerobohan anda. Orang lain menjadi rugi," kata wanita itu terkesan ketus.

__ADS_1


"Begini saja nak. Biarkan aku yang mengganti kerugian kamu. Sebutkan nomor rekening kamu. Sekarang juga aku akan mengganti sepuluh kali lipat dari kerugian mu itu," kata Yuda sambil menatap wanita itu dingin. Perkataan wanita itu ditujukan kepada Ella tapi papa Yuda yang tersinggung.


Wanita itu menoleh ke papa Yuda. Raut wajah wanita itu terlihat terkejut melihat papa Yuda.


"Sepuluh kali lipat pak?" bagaimana kalau aku meminta makanan yang sudah tidak bisa dimakan ini dikembalikan saja ke bentuk semula tanpa membeli yang baru. Apa bapak bisa?" tanya wanita itu sedikit angkuh dan remeh. Melihat keberanian wanita itu Ella menjadi takut papa mertuanya terpancing amarah.


"Tentu saja tidak bisa nak," jawab papa Yuda sambil tersenyum. Keberanian wanita muda itu kini terlihat lucu dan menggemaskan bagi Yuda.


"Kalau tidak bisa. Jangan terlalu mendewakan harta yang bapak punya supaya terlihat hebat. Aku akan mengakui bapak hebat jika bisa mengembalikan makanan ini ke bentuk semula dan layak dimakan," jawab wanita itu semakin berani dan mengangkat kantong plastik itu tepat di wajah papa Yuda.


"Mbak, tolong jangan diperpanjang. Aku akan mengganti kerugian kamu. Tapi tunggu sebentar ya. Aku ke atas dulu mengambil dompet," kata Ella akhirnya. Ella berharap wanita itu bersedia menerima jalan damai yang ditawarkan. Melihat cara wanita itu menyindir dan menjawab setiap perkataan papa Yuda. Ella mengira jika wanita itu tersinggung dengan materi pengganti yang ditawarkan oleh papa Yuda yang sangat besar.


Sedangkan papa Yuda masih berdiri mematung. Papa Yuda tertegun dengan kata kata yang keluar dari mulut wanita itu.


"Tidak perlu mbak. Nampaknya mbak lagi kurang sehat. Aku bisa membelinya kembali," jawab wanita itu lembut. Ella semakin heran dengan sikap wanita itu yang bisa berubah dari kesal, berani dan kini lembut.


Wanita itu berlalu dan menuju tempat sampah. Ella dan Yuda masih bisa melihat wanita membuang makanan itu hingga berjalan semakin menjauh dan tidak terlihat lagi.


"Ayo pak," ajak Ella membuat Papa Yuda tersentak.

__ADS_1


"Oiya nak," jawab Yuda sedikit tergagap. Dia mengikuti langkah menantunya menuju lift.


Di dalam lift. Ella masih terbayang dengan wajah wanita tadi. Dia seperti pernah melihat wanita itu tapi Ella lupa entah dimana.


__ADS_2