
Malam hari, Zico tiba di rumahnya setelah terlebih dahulu mengisi perutnya di warung yang tidak jauh dari rumahnya. Zico kembali berbaring di atas selimut sebagai alas tidurnya. Tubuhnya yang lelah tidak langsung membawa Zico ke alam mimpi. Pikirannya terus dihantui oleh masa depan tentang pendamping hidupnya kelak. Mengetahui sifat asli dari Karina, jujur Zico mengakui di dalam hatinya sangat takut jika nanti menemukan wanita seperti Karina yang bisa bermuka dua.
Malam yang dilalui Zico sangat jauh berbeda dengan malam yang dilalui oleh Ella dan Bima. Suami istri itu sedang bersandar di kepala ranjang dengan tangan yang saling bertautan.
Tidak hanya tangan yang saling bertautan. Piyama mereka juga sama bercorak Doraemon. Sebenarnya Bima tidak suka memakai piyama jika tidur apalagi bercorak kartun seperti itu. Tapi demi memenuhi keinginan Ella dan calon janinnya. Bima akhirnya bersedia memakai piyama tersebut. Melihat raut wajah istrinya yang sangat senang ketika melihat dirinya memakai piyama tersebut membuat Bima semakin berarti di hidup istri dan calon anaknya.
Suara tawa yang keluar dari mulut Bima bergema di kamar itu. Bima tertawa terpingkal ketika Ella menceritakan tentang realisasi dari perkataan Karina yang bersedia memakan kotorannya sendiri.
"Jadi kamu melakukannya sendiri?" tanya Bima takjub setelah Ella menyelesaikan ceritanya. Ella menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya aku tidak berniat untuk membuat Karina seperti itu. Tapi perkataan demi perkataannya membuat aku tidak bisa menahan diri," jawab Ella.
"Jangan menyalahkan dirimu sayang. Wanita seperti Karina perlu dikasih pelajaran supaya mulutnya bisa sopan."
"Sayang, bagaimana kalau Zico aku jadikan sebagai asisten pribadiku," tanya Bima lagi. Menjadikan Zico sebagai asisten pribadinya sudah terbersit sejak mereka tiba di kota ini kembali. Bima ingin membalas kebaikan Zico dengan menjadikannya asisten pribadi.
"Kalau mas Zico memenuhi kualifikasi untuk itu mengapa tidak. Tapi sebelum memutuskan menjadikan dia asisten pribadimu. Ada baiknya kamu terlebih dahulu memikirkan secara matang. Dia adalah mantanku. Aku takut status mantan itu berpengaruh ke rumah tangga kita mas."
"Maksud kamu berpengaruh bagaimana sayang?"
"Aku takut kamu cemburu jika sewaktu-waktu kami saling menyapa sayang," jawab Ella jujur.
"Aku pasti cemburu jika komunikasi kalian melewati batas. Tapi mengingat aku yang pertama bagimu, tidak ada alasan bagiku untuk mencemburui kalian nantinya."
__ADS_1
"Kalau seandainya bukan aku yang pertama bagimu?.
"Aku tidak akan mau melihat wajahnya."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa membayangkan apa yang kita lakukan, kalian sudah melakukan sebelumnya," jawab Bima sangat jujur. Tapi kejujurannya membuat Bima mendapatkan cubitan di kakinya.
"Dasar suami otak paha," kata Ella membuat Bima yang awalnya meringis kini sudah terkekeh.
"Tapi kamu cinta kan?" goda Bima sambil tersenyum. Ella menganggukkan kepalanya malu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Bima. Bima tertawa melihat tingkah istrinya yang menunjukkan sifat kepolosannya.
"Aku ingin mendengar dari mulut kamu sendiri sayang," goda Bima lagi.
"Aku lebih mencintaimu sayang. Ibu dari anak-anakku," balas Bima sambil meraih kepala Ella. Bima mendaratkan ciuman yang cukup lama di kening istrinya. Ella harus mengakui jika hatinya dan cintanya sudah milik Bima. Suami yang begitu menjunjung dan menghargai dirinya. Ada rasa berbeda yang tidak bisa digambarkan oleh Ella ketika saling menyatakan cinta seperti ini. Walau umurnya sudah dewasa tapi balasan Bima atas pernyataan cintanya bisa membuat jantungnya hampir melompat dari raganya.
"Terimakasih mas. Aku sungguh bahagia malam ini. Aku hanya bisa berdoa semoga cinta kita menyatu sampai menua dan hanya maut yang memisahkan." Bima mengangguk dan tersenyum.
Dua manusia itu saling bertatapan mesra. Bima kembali mencium kening Ella. Kemudian mencium kedua pipi istrinya.
"Kamu yang menjadi saksi ikrar cinta kedua orang tuamu ini nak," kata Bima setelah mencium perut istrinya. Tangannya masih bergerak mengelus perut itu.
"Apa dia sudah bisa mendengar?" tanya Ella iseng.
__ADS_1
"Bisa atau tidak yang pasti dia saksinya," jawab Bima.
"Jadi bagaimana. Apa kamu setuju jika Zico menjadi asisten pribadiku?" tanya Bima yang belum lupa akan topik pembicaraan mereka tadi.
"Boleh boleh saja mas. Tapi menurut aku ada baiknya mas Zico melewati serangkaian test untuk menjadi asisten pribadimu. Jangan asal angkat. Karena menjadi asisten pribadi seorang pimpinan perusahaan tidak segampang menjadi asisten seorang manajer," jawab Ella.
Bima tersenyum mendengar jawaban istrinya. Jawaban Ella terdengar bijaksana di telinganya. Bima semakin sangat yakin jika dirinya tidak salah memilih istri. Bagi Bima, seorang istri itu tidak hanya pandai di dapur dan di ranjang. Tapi istri itu juga harus bisa berperan sebagai penasehat untuk dirinya.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Ella seperti melihat gelagat lain di dalam diri suaminya.
"Kamu memenuhinya kualifikasi menjadi penasehat aku sayang."
Ella memalingkan wajahnya karena malu. Dia salah mengartikan senyuman suaminya. Tadi dia berpikir jika Bima sudah ingin menerkamnya malam ini.
"Pasti kamu berpikir yang macam macam kan?.
"Tidak," jawab Ella cepat. Wajahnya memerah ketahuan memikirkan hal lain.
Ella membaringkan tubuhnya begitu juga dengan Bima. Bima meraih tubuh istrinya dan memeluknya.
"Sebaiknya kita tidur sekarang. Besok kita harus ke dokter memeriksa kandungan kamu," kata Bima sambil mengelus rambut istrinya. Ella tidak menjawab. Ella memejamkan matanya.
Bima menarik nafas panjang. Melihat Ella seperti ini dia juga paham akan keinginan istrinya itu. Tapi kondisi tidak memungkinkan untuk memberikan nafkah batin untuk istrinya itu.
__ADS_1
"Bersabarlah sayang," bisik Bima setelah Ella terlelap.