
Bima berhasil sembuh setelah hampir satu bulan berobat alternatif pada pak Cipto. Pria baik dan bijaksana itu selalu menekankan jika kesembuhan yang dialami oleh Bima bukanlah karena kehebatannya. Melainkan karena berkat Tuhan lewat tangannya. Bima dan Ella semakin mengagumi pak Cipto yang tidak pernah menyombongkan dirinya.
"Kamu adalah pasien bapak yang tergolong cepat sembuh Bima. Nanti sesudah di kota. Kamu sebaiknya memakai tongkat berkaki empat saja," kata pak Cipto ketika hendak memberangkatkan Bima dan rombongannya kembali berangkat ke kota. Selama satu Minggu ini Bima berlatih berjalan dengan menggunakan tongkat kaki alat bantu segi empat untuk berlatih berjalan.
"Terima kasih atas kebaikan dan kesembuhan ini pak. Sungguh, aku merasa berhutang Budi yang tidak bisa aku bayar dengan materi sebanyak apapun," jawab Bima. Dari hatinya yang paling dalam. Bima sangat berterima kasih kepada pak Cipto. Orang tua dari mantan suami dari istrinya.
"Kamu tidak perlu merasa berhutang Budi nak. Itu sudah kewajiban bapak untuk mengobati orang yang membutuhkan keahlian bapak untuk sembuh," jawab pak Cipto. Pria tua itu tidak merasa jika apa yang dilakukannya adalah hal besar. Berbeda dengan setiap pasien yang berhasil sembuh pasti merasa sangat berterimakasih dan berhutang Budi. Banyak dari pasiennya yang berhasil sembuh menyempatkan diri bersilaturahmi setiap hari raya. Itulah sebabnya keluarga pak Cipto disegani di kampung itu. Kebaikan, kerendahan hati dan juga keahliannya dalam mengobati terkenal di seluruh daerah di kabupaten itu.
Tidak hanya Bima dan Ella, kedua orang tua Ella dan juga mama Maya juga mengucapkan terimakasih yang tulus akan kebaikan pak Cipto. Mama Maya dan kedua orang tua Ella mengagumi kebesaran hati pak Cipto dan ibu Marni menerima kenyataan akan status Ella dan Zico saat ini.
"Terima kasih pak. Terima kasih karena menganggap Ella sebagai putri kalian," kata pak Damar sambil menepuk pundak pak Cipto. Ibu Mawar mengangguk kepalanya pertanda jika dirinya juga berterimakasih atas kasih sayang yang diberikan oleh mantan besannya itu kepada putrinya.
"Kami sangat menyayangi Ella dengan tulus. Tidak ada alasan kami untuk membencinya walau statusnya bukan lagi menantu kami. Dan seharusnya kami yang berterima kasih kepada kalian. Sebab kalian bersedia berbagi putri dengan kami," jawab ibu Marni.
Ella merasakan hatinya menghangat mendapat kasih sayang seperti ini. Ella merasa menjadi wanita yang paling beruntung di karuniai banyak orang tua yang menyayanginya dengan tulus. Mama Maya yang duduk di sampingnya mengelus punggung Ella dengan penuh kasih sayang. Ella tersenyum menatap bergantian para orang tua yang duduk bersamanya saat ini. Mama Maya, walau tidak mengungkapkan kasih sayang dengan lisan tapi Ella dapat merasakan dengan perhatiannya.
Acara yang bisa disebut sebagai perpisahan itu akhirnya harus berakhir juga. Mereka saling berpelukan sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Semoga, kedatangan kamu berikutnya membawa menantu bagi kami nak," kata ibu Marni kepada Zico. Diantara yang lainnya Zico yang paling terakhir memeluk kedua orangtuanya.
"Bawa dalam doa ya ibu, pak. Semoga aku bisa menemukan wanita yang baik dan tulus seperti keinginan kalian," kata Zico kemudian memeluk kembali mama Marni. Zico bisa merasakan jika Ibu Marni masih memendam kekecewaan kepadanya.
Pak Cipto hanya mengaminkan perkataan putranya. Bima yang masih mendengar pembinaan Zico dan kedua orangtuanya. Mendengar itu, Bima merasa perlu waktu untuk berbicara berdua dengan Zico di kota nantinya.
Bima dituntun oleh Zico untuk masuk ke dalam mobil. Tangan Zico berhenti membuka mobil ketika mendengar suara mobil masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Papa," kata Bima setelah melihat papa Yuda turun dari mobil. Tidak lama kemudian dua lainnya juga keluar dari dalam mobil dengan membawa parcel buah dan juga hadiah yang lain untuk pak Cipto. Ternyata papa Yuda juga ingin berterima kasih langsung kepada pak Cipto atas kesembuhan putranya.
"Pak Cipto. Terimakasih banyak. Terimalah hadiah yang tidak seberapa ini sebagai ucapan terima kasihku," kata papa Yuda sambil berjabatan tangan dengan pak Cipto. Mereka seperti dua sahabat yang tidak lama bertemu. Mereka tidak canggung karena sudah berkenalan lewat Video call.
"Tidak ada penolakan pak Cipto. Harus diterima," paksa pak Yuda tak terbantahkan. Akhirnya pak Cipto menerima cek itu setelah terbersit di benaknya akan penggunaan uang tersebut.
Papa Yuda tersenyum. Dia sangat senang karena pemberiannya diterima oleh pak Cipto.
"Maya, sebaiknya kamu ikut mobilku saja. Biarkan mereka yang muda saja naik mobil itu," ajak pak Yuda Ketika mama Maya hendak baik ke mobil tepat di samping supir yang tidak lain adalah Zico sendiri. Bima dan Ella sudah duduk di bangku kedua sedangkan Ester duduk di bangku paling belakang.
__ADS_1
"Terima kasih Yuda. Kami berlima sudah seperti satu paket. Yang namanya satu paket tidak bisa satupun terpisah dari yang lainnya," tolak Maya halus. Dia tidak ingin berdekatan dengan Bima dalam satu mobil walau tidak berdua.
Tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri atas penolakan mantan istrinya, Yuda akhirnya hanya mengangguk kepalanya dan masuk ke dalam mobilnya.
Zico melambaikan tangannya diikuti yang lainnya juga melambaikan tangan sebelum mobil keluar dari halaman rumahnya. Zico harus menahan air matanya agar tidak meluncur bebas ketika mobil semakin bergerak menjauh dari halaman rumah orangtuanya. Tidak bisa dipungkiri jika Zico kepulangan ke kota kali ini sangat berbeda dengan waktu sebelumnya. Ada rasa nyeri di hatinya yang tidak bisa dijelaskan karena apa.
"Kenapa mama menolak satu mobil dengan papa?" tanya Bima kepada mama Maya memecah kesunyian yang sempat tercipta di dalam mobil itu.
"Karena mama tidak mau," jawab mama Maya acuh. Membahas Yuda adalah hal yang tidak disukainya. Mendengar nama Yuda akan mengingatkan dirinya akan sakit hati yang ditorehkan oleh Yuda.
"Papa dan Linna sudah bercerai. Papa sepertinya sangat menyesali perbuatannya. Jika papa mengajak rujuk. Apa mama bersedia mempertimbangkannya?" tanya Bima hati hati. Tidak ada maksud apapun dengan pertanyaannya.
"Tidak ada kata rujuk untuk pengkhianat seperti papa kamu," jawab mama Maya tegas membuat Bima tidak bisa untuk mengatakan apapun lagi.
"Kalian berdua. Bima dan Zico. Ingat perkataan mama ini. Wanita mampu bertahan dengan suaminya dalam kondisi apapun. Tapi tidak dengan pengkhianatan. Wanita mampu berbagi apapun tapi tidak dengan berbagi suami. Jika kalian melihat ada wanita di luar sana mampu bertahan dengan pengkhianatan dan berbagi suami tapi tidak dengan wanita yang ada di dalam mobil ini," kata mama Maya lagi membuat Bima dan Zico mengangguk tanpa bisa mengucapkan satu katapun. Ella membenarkan perkataan mertuanya di dalam hatinya.
Sedangkan Zico sudah berkelana dengan pikirannya yang memaksa mengingat semua kenangan masa lalunya bersama dengan Ella. Dalam hatinya, Zico berjanji akan menjadi pria setia jika kelak menemukan pendamping hidup.
__ADS_1
"Kalian berdua, kenapa diam. Apa kalian tidak berniat meyakinkan kami para wanita ini. Dan kamu juga mas Zico. Seharusnya bisa meyakinkan Ester untuk menjadi pria yang lebih baik nantinya," goda Ella sambil menoleh ke belakang. Karena perkataannya itu dia mendapatkan kecupan di punggung tangannya oleh Bima. Sejak masuk ke dalam tangan mereka saling bertautan.
"Apaan sih. Gak ngerti," kata Ester sambil memalingkan wajah melihat jalanan.