Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 42


__ADS_3

Ella menyadari dirinya sudah mengambil langkah terlalu jauh sebelum bercerai dari Zico. Menyadari hal itu akhirnya Ella berniat menceritakan semua penderitaan yang dialaminya selama berumah tangga dengan Zico.


"Maafkan aku ibu. Aku memang telah bersalah tapi semuanya itu ada dasarnya," kata Ella sambil menggenggam tangan ibunya. Sesuai perkataan ibunya tadi malam. Ella akhirnya akan bercerita semuanya pagi ini.


Bahkan Ella akhirnya memutuskan tidak bekerja supaya ibunya tidak terbebani dengan prasangka buruk akan dirinya.


"Kalau kamu bersalah menyangkut pernikahan kamu dengan Zico. Maka tempat kamu minta maaf hari ini salah nak."


Ella akhirnya menceritakan semua penderitaannya kepada sang ibu. Sejak menyandang istri Zico sampai akhirnya berniat bercerai. Zico yang tidak pernah menganggapnya dan harus merahasiakan pernikahan mereka. Zico yang selalu bersikap sinis dan seakan tidak sudi melihatnya. Hingga permintaan menikah kembali. Ella yang tidak bersedia hidup dimadu akhirnya mendapatkan dua tamparan di pipi kiri dan kanan. Ancaman ancaman Zico jika Ella berani membocorkan pernikahan kedua itu kepada kedua mertuanya. Kala itu. Zico mengancam akan membunuh dirinya jika berani buka suara. Ella juga menunjukkan bukti dari tamparan Zico yang tersimpan di ponselnya. Hingga Ella merasakan hidup berpoligami yang ternyata hidup seperti di neraka.


"Kurang ajar si Zico itu. Mengapa kamu tidak menceritakannya tadi malam. Ibu kebetulan bawa cabe yang banyak. Kita oleskan sama sama ke anunya itu," kata Ibu Mawar setelah mendengar secara rinci penderitaan yang ditorehkan Zico kepada putrinya. Ibu Mawar tidak dapat menahan amarahnya ketika Ella menceritakan bahwa Zico dan Karina tidak segan bercinta di sembarang rumah.


Ibu mawar dan pak Damar memang membawa oleh-oleh yang banyak dari kampung berupa bumbu dapur yabg ditanam di belakang rumahnya. Sungguh, jika dia mengetahui penderitaan Ella lebih awal. Dia pasti akan memberikan pelajaran kepada mantan mantunya itu.


Ibu mana yang tidak marah mendengar putrinya di sia siakan bahkan disakiti. Jika Zico tidak menginginkan pernikahan dengan Ella. Mengapa dia dulu bersedia dijodohkan dan dinikahkan. Tidak ada pemaksaan dalam perjodohan itu. Dia dan suaminya dan juga kedua orangtuanya Zico hanya ingin mempunyai menantu yang baik.


"Ibu tidak cerita bawa cabe. Terus cabe yang ibu bawa itu mana ibu. Kok, tidak kelihatan?" tanya Ella untuk mengalihkan kemarahan ibunya. Sejak tadi malam dia merasa tidak melihat cabe yang dimaksudkan ibunya.


"Ya ampun nak. Sepertinya cabe itu ketinggalan di meja teras rumah Zico. Ibu tadi malam meletakkannya di sana."


"Ya sudah ibu. Tentang cabe ataupun tentang aku tidak perlu dipikirkan. Ibu dan bapak fokus saja untuk menjaga kesehatan."


"Kami tidak berminat bercerita tentang Bima?" tanya ibu Mawar penuh selidik.


"Sejauh mana hubungan kalian. Apa dia pria beristri, duda atau masih lajang?" tanya ibu Mawar lagi.

__ADS_1


"Statusnya masih lajang bu. Sebelum kami bersama," jawab Ella.


"Syukurlah kalau begitu. Bima sudah terlihat seperti pria berumur. Ibu merasa lega jika kamu berhubung dengan pria lajang atau duda."


"Bu, ada yang ingin aku ceritakan kepada ibu. Tapi jangan marah nanti kalau sudah mendengar ceritaku ya!"


"Cerita apa dulu. Kalau ceritamu selayaknya membuat ibu marah. Ibu ya harus marah. Tapi kalau tidak. Ibu tidak marah."


Ella meremas tangannya. Dia ingin menceritakan tentang pernikahannya dengan Bima kepada sang ibu. Ibunya adalah tempat bercerita bagi Ella selama ini. Tapi menyadari dirinya salah. Ella merasa ragu untuk menceritakan tentang Bima.


"Ini tentang aku dan mas Bima ibu," kata Ella akhirnya. Dia tidak ingin lagi menyembunyikan hal rahasia itu. Biarlah ibu Mawar hari ini marah kepadanya. Tapi hari esok dan selanjutnya dia bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa dibayangi rasa bersalah kepada kedua orangtuanya.


"Apa kalian ingin cepat cepat menikah. Aku rasa tidak perlu terburu buru. Apalagi kamu baru bercerai."


"Tapi kami sudah menikah ibu."


Ibu Mawar hampir meloncat dari tempat duduknya mendengar perkataan Ella karena terkejut. Ella menundukkan kepalanya karena tidak tahan dengan tatapan ibu Mawar yang seakan mencari kebenaran di wajah Ella atas perkataannya itu.


"Apa maksud kamu nak. Katakan sekali lagi!.


Ella langsung bersimpuh di hadapan ibu Mawar sambil menangis.


"Maafkan aku ibu. Aku memang salah. Tapi itu aku lakukan karena aku ingin secepatnya berpisah dari mas Zico."


Ibu Mawar masih terdiam. Mulutnya seakan terkunci tidak bisa berkomentar atas apa yang dilakukan oleh putrinya.

__ADS_1


"Bangun nak."


Ella menoleh ke arah suara pak Damar yang baru keluar dari kamar. Jarak ruang tamu dengan kamar yang ditempati oleh Pak Damar dan istrinya membuat pak Damar bisa mendengar apa yang diceritakan oleh Ella kepada ibunya. Di kamar, Pak Damar berusaha keras mengontrol emosinya supaya jantung tidak kambuh. Sama seperti Ibu Mawar, pria tua itu juga sangat marah mengetahui perlakuan asli Zico kepada Ella.


"Sejak kapan Bapak bangun?" tanya Ella khawatir. Dia sudah menunggu momen yang tepat untuk menceritakan penderitaan kepada ibunya setelah mengetahui bapaknya sudah tidur.


"Jangan khawatir. Bapak tidak apa apa. Bapak mendengar semua cerita kamu mulai dari awal," jawab bapak Damar tenang sambil mengulurkan tangannya supaya dibantu duduk.


"Pak."


"Andaikan hanya dengan sabar dihargai dengan materi. Aku rasa kamu sudah kaya nak bisa bertahan sampai lebih dari dua tahun," canda Pak Damar. Tapi Ibu Mawar tidak tertawa sama sekali. Ella justru langsung berpikir menghubungkan kesabarannya dengan apa yang dimilikinya saat ini.


"Apakah mas Bima adalah buah dari kesabaran aku selama ini. Jika iya. Biarkan kami berbahagia sampai kakek nenek," batin Ella dalam hati.


"Kapan kalian menikah?" tanya pak Damar tenang seakan pernikahan Ella dan Bima bukan merupakan kesalahan.


"Sepuluh hari yang lalu pak."


"Apa kamu berbahagia dan mencintainya?" tanya Pak Damar tenang. Ella bertanya tanya dalam hati akan sikap tenang yang ditunjukkan oleh bapaknya. Menurut Ella, seharusnya pak Damar harus marah karena salah jalan yang ditempuhnya. Selain itu juga Ella bertanya tanya tentang perasaan bila bersama dengan Bima.


"Apa aku bahagia. Apa aku sudah mencintainya," batin Ella lagi dalam hatinya. Terlalu cepat jika dirinya menyimpulkan jika dia sudah ada rasa cinta kepada sang suami.


"Iya pak. Aku bahagia," jawab Ella asal tapi itulah yang dialaminya jika bersama Bima. Dia tidak ingin kedua orangtuanya kembali bersedih jika dia memberikan jawaban yang lain.


"Bapak sudah pernah salah memilih menantu. Mulai hari ini. Kejarlah kebahagiaan kamu nak. Langkahmu memang salah karena menikah dengan Bima di saat kamu masih istri Zico. Tapi jika kamu mengatakan berbahagia. Bapak bisa apa?.

__ADS_1


__ADS_2