
Di kantor pusat cakrawala group terjadi kebingungan massal di semua karyawan. Mereka tiba tiba mendapatkan makan siang gratis dari pimpinan tertinggi perusahaan itu yaitu papa Yuda. Pria itu merayakan kebahagiaan dengan mentraktir semua karyawan atas kehamilan Ella. Tentu saja Papa Yuda tidak memberitahukan alasan mentraktir karyawan karena kehamilan Ella. Pernikahan Bima dan Ella masih rahasia. Rencana resepsi resepsi pernikahan yang jatuh satu bulan ke depan terpaksa dibatalkan.
Papa Yuda menyunggingkan senyum melihat wajah para karyawan yang terlihat senang menikmati makan siang itu. Sudah lama rasanya dirinya tidak berbuat baik kepada karyawannya. Dulu sebelum bercerai dari Maya. Papa Yuda rutin mentraktir para karyawannya. Tetapi setelah Linna di kehidupan semua sifat baik dari dirinya seakan ikut lenyap seperti Maya yang menghilang dari hidupnya.
Papa Yuda mengusap wajahnya kasar. Momen mentraktir makan siang ini mengingatkan dirinya kembali kepada Maya.
Tidak ingin para karyawannya melihat kegelisahan yang terpancar di wajahnya. Papa Yuda berbalik dan masuk ke dalam ruangan.
"Apa kamu belum mendapat informasi tentang mantan istriku?" tanya papa Yuda yang sedang berbicara lewat telepon.
"Kami menemukan titik terang tuan. Seseorang melihat ciri ciri seperti mantan istri tuan di bandara lebih kurang satu bulan yang lalu," jawab lawan bicara papa Yuda dari seberang.
"Apa titik terang hanya sampai disitu?" tanya papa Yuda merasa tidak sabar untuk lebih mengetahui informasi lain tentang mantan istrinya.
"Maaf tuan. Hanya itu."
"Tambah personil mu. Ingat, jika kamu berhasil menemukan mantan istriku. Aku akan memberikan bonus yang besar kepada kamu dan para anggota kamu."
Yuda menarik nafas lega setelah mengakhiri pembicaraan itu. Setelah bertahun tahun. Ini pertama kalinya dia mendapatkan titik terang tentang mantan istrinya. Tidak dapat dipungkiri jika berita itu adalah hal yang membahagiakan kepadanya.
"Aku akan berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jika aku bisa melihat wajahmu Maya," batin papa Yuda sedih. Matanya tergenang oleh air mata yang siap meluncur jika mata itu berkedip. Ingatan tentang masa masa sulit di awal pernikahannya dengan Maya terlintas di pikirannya. Bukan hanya masa sulit itu. Pengkhianatan karena perselingkuhan hingga kata kata talak yang terucap dari mulutnya untuk Maya terpampang jelas di pikirannya.
Selama ini, papa Yuda sudah menyadari kesalahannya. Itulah sebabnya dia menjadi petualang wanita sebagai pembalasan dendam kepada Linna. Untuk meminta maaf atau bersujud kepada Maya tidak bisa karena Maya hilang bagaikan di telan bumi.
__ADS_1
"Maya, sebentar lagi kita akan mempunyai cucu. Maafkan aku yang memisahkan dirimu dengan putra kita," batin papa Yuda lagi. Ketika mengingat Bima. Akhirnya air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya meluncur juga.
Rasa bersalah melihat pertumbuhan Bima dari remaja hingga sekarang membuat papa Yuda menangis sesenggukan. Tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua menjadikan Bima tidak begitu dekat dengan dirinya selama ini. Di usia remaja Bima tumbuh menjadi anak yang sering memberontak. Bukan memberontak kepada dirinya tetapi bergabung dengan kelompok tawuran yang ada di sekolahnya.
Saat itu, papa Yuda tidak memperdulikan perkembangan karena sibuk mengembangkan perusahaannya.
Ingatan itu terus berputar putar di kepala Yuda membuat papa Yuda seperti tersadar dari alam mimpi. Selama ini ternyata dirinya tidak hanya menyakiti mantan istrinya. Ada Bima yang paling tersakiti karena keegoisannya.
Papa Yuda juga sadar. Di usia yang sudah melewati setengah abad seperti ini harusnya dirinya sudah bersantai menikmati jerih payahnya selama ini. Tapi itu tidak terjadi karena keegoisannya dulu. Dia tidak bahagia. Kebahagian yang awalnya dia kira ada bersama Linna ternyata hanya kebahagiaan semu belaka. Linna tidak tulus mencintainya. Yang membuat papa Yuda sangat bersedih karena kondisi Bima yang sangat memprihatinkan.
Di situasi seperti ini dirinya butuh sosok pendamping yang bisa menghibur dan memahami. Hal yang tidak didapatkan dari Linna. Justru papa Yuda mengetahui kenyataan yang menyakitkan tentang tujuan Linna menikah dengan dirinya.
Menyesal?. Tentu saja papa Yuda sangat menyesal. Ingin menceraikan Linna tapi belum menemukan bukti kuat untuk membuat wanita itu tidak berkutik.
Sementara itu di rumah sakit, Ella sudah bersiap siap untuk menjumpai wanita yang diduga oleh Ella adalah kekasih suaminya. Dia sudah menghubungi papa mertuanya untuk mengirimkan orang kepercayaannya untuk menjaga Bima.
Ella mendekat ke ranjang suaminya dan mencium kening suaminya itu dengan cukup lama.
"Aku akan membawanya nanti kesini jika dia bisa membuat kamu secepatnya sadar. Aku percaya cinta akan mampu membuat kamu bangkit dari musibah ini," bisik Ella tepat di telinga suaminya. Ketika perawat yang bertugas menjaga Bima sudah tiba di ruangan itu Ella menjauh dari tempat tidur suaminya.
Baru saja kakinya hendak mencapai pintu. Dering ponsel dari dalam tasnya menghentikan langkah Ella. Dia merogoh ponsel itu yang ternyata ponsel Bima lah yang berdering. Ketika Ella hendak menjawab panggilan itu dering ponsel tersebut berhenti.
"Bahkan dia tidak sabaran untuk bertemu denganmu," batin Ella tersenyum pilu. Nomor telepon yang menghubungi ponsel Bima tidak menggunakan foto profil membuat Ella menduga jika penelepon itu adalah kekasih atau mantan kekasih suaminya.
__ADS_1
"Kak, aku dan mama di rumah sakit Sari Pelita di ruangan Melati lantai dua. Jika kakak punya waktu. Tolong datanglah kemari. Aku membutuhkanmu kak."
Ella gemetaran membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponsel Bima. Pesan itu disertai dengan emoticon menangis. Dan yang membuat Ella terbelalak nomor ponsel itu tidak bernama tapi menggunakan foto profil yang mirip dengan wanita yang ditabraknya tadi pagi.
Ella cepat cepat melangkahkan kakinya menuju lift. Hanya hitungan menit di dalam lift tapi Ella merasa seperti sudah satu jam. Setelah keluar dari lift, Ella menyusuri koridor rumah sakit di lantai dua itu untuk mencari ruangan melati sesuai dengan yang ada di pesan tadi.
Ella tidak berminat lagi untuk mengambil ponsel Bima yang terus berdering setelah keluar dari lift. Yang terpenting baginya sekarang adalah bertemu dengan wanita yang membutuhkan suaminya. Dia masih mengingat dengan janji makan siang yang menjadi alasan dirinya keluar meninggalkan Bima sebentar.
Entah mengapa hatinya lebih tergerak untuk segera bertemu dengan wanita yang membutuhkan suaminya itu.
Ella sudah berdiri di depan ruangan melati. Seorang perawat menegurnya untuk tidak
masuk ke dalam ruangan itu karena belum saatnya jam besuk pasien.
"Aku keluarga pasien suster. Lihatlah ini kalau tidak percaya," kata Ella sambil menunjukkan ponsel suaminya yang berisi pesan menyuruh untuk datang ke ruangan itu. Sang suster mengangguk dan mempersilahkan Ella untuk masuk.
"Maaf," kata Ella setelah membuka pintu ruangan itu. Terlihat olehnya seorang ibu yang sedang berbaring di tempat tidur dan seorang wanita muda yang duduk di dekat tempat tidur tersebut.
"Kamu?, mbak. Aku sudah bilang tidak perlu mengganti makanan tadi. Aku sudah ikhlas," kata wanita itu setelah melihat Ella sudah berdiri di depan pintu.
"Boleh aku masuk mbak?" tanya Ella sopan. Wanita terlihat ragu tapi seperti tidak enak menolak permintaan Ella.
"Boleh," jawab wanita itu singkat.
__ADS_1
"Apakah mbak mengenal Bima?" tanya Ella tanpa basa basi. Ibu yang berbaring di tempat tidur itu terlihat terkejut juga dengan wanita muda itu.
"Tidak. Kami tidak mengenalnya," jawab wanita muda itu cepat.