
Ella menatap dua wanita itu bergantian. Ella dapat menangkap ketakutan dari gerakan tubuh dua wanita berbeda usia itu. Wanita yang lebih muda itu langsung duduk membelakangi Ella sedangkan wanita yang berbaring itu menutup mulut dengan tangan kanannya.
Ella masih bertahan berdiri di belakang wanita muda itu. Dia tidak percaya dengan perkataan wanita itu yang tidak mengenal Bima suaminya. Ella ingin berbicara tetapi dia sulit menemukan kata kata untuk membuktikan jika dua wanita itu dan Bima saling mengenal. Ella tidak mau bertindak gegabah. Dia belum mengetahui dengan pasti bagaimana hubungan dua wanita ini dengan suaminya. Ella masih mencari kata kata yang tepat di dalam hatinya supaya dua wanita ini tidak tersinggung nantinya.
"Tolong tinggalkan kami mbak. Mama aku ingin istirahat," kata wanita muda itu mengusir Ella dengan halus.
"Maaf, jika kedatanganku di tempat ini mengganggu kalian berdua. Tapi sungguh tidak ada niat jahat atas kedatanganku ini," kata Ella untuk menyakinkan dua wanita itu supaya mengakui mengenal Bima.
"Mbak, tolong. keluarlah. Kami tidak mengenal nama yang kamu sebutkan itu," kata wanita itu setengah membentak. Sedangkan wanita yang berbaring itu menatap Ella dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Baiklah kalau begitu," jawab Ella. Di tangannya sudah ada ponsel milik Bima. Ella menekan tanda panggil ke nomor yang mengirim pesan yang membutuhkan suaminya. Ketika di ponsel yang dipegang oleh Ella bertanda berdering maka terdengar juga suara ponsel berdering di tangan wanita muda itu. Ella menekan tanda merah di ponsel itu dan otomatis juga ponsel milik wanita muda itu berhenti berdering.
"Apa maksudmu?" tanya wanita muda itu berteriak tapi suara jelas terdengar bergetar ketakutan. Wanita yang berbaring itu juga sudah bergerak gelisah.
"Aku tidak bermaksud apa apa. Kedatanganku ke kamar ini karena aku membaca pesan ini di ponsel milik suamiku," kata Ella sambil menunjukkan pesan.
Wanita muda menatap Ella tidak percaya. Ketakutan yang tadi terlihat perlahan-lahan menghilang.
"Boleh aku menebak namamu?" tanya wanita muda itu. Ella mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan wanita muda itu.
"Biarkan dia menyebutkan namanya nak," kata wanita yang berbaring itu lemah.
"Kalau Bima adalah suamimu. Tolong sebutkan namamu dan tanggal pernikahan kalian," kata wanita berbaring itu lagi.
Ella semakin bingung dengan dua wanita itu. Tapi akhirnya dia menyebutkan nama dan tanggal pernikahannya dengan Bima.
"Mbak Ella," kata wanita muda itu langsung menghambur ke pelukan Ella. Ella bertambah bingung. Dugaan semula jika wanita muda ini adalah kekasih Bima seakan lenyap dari pikirannya. Tidak mungkin seseorang bersedia memeluk wanita yang menjadi istri kekasihnya. Begitulah pemikiran Ella setelah wanita itu memeluk dirinya tapi untuk membalas pelukan wanita itu Ella masih enggan.
"Aku Nada mbak. Adiknya kak Bima. Dan ini mama," kata wanita itu membuat Ella semakin bingung. Ella tidak pernah mendengar tentang mama kandung Bima. Yang dia tahu hanya kedua orang tua kandung dari suaminya bercerai karena wanita ketiga.
__ADS_1
"Maaf. Aku belum mengerti," kata Ella jujur setelah Nada melepaskan pelukannya.
"Mbak belum mengerti berarti kak Bima belum bercerita tentang kami. Dimana kakakku sekarang mbak. Aku ingin minta penjelasannya. Kami sudah satu bulan menunggu kedatangan membawa mbak ke rumah. Sampai mama sakit karena memikirkan putra kesayangannya yang tidak bisa kami hubungi satu bulan terakhir ini," kata Nada sudah mulai terlihat cerewetnya. Dia membuka ponselnya dan menunjukkan foto foto kebersamaan dengan Bima juga Maya.
"Jadi mama ini adalah mama Maya?" tanya Ella masih tidak percaya sambil mendekat ke tempat tidur. Mama Maya terlihat tersenyum dan membentangkan tangannya. Ella semakin bergerak dan memeluk wanita itu. Ella tidak dapat menahan air matanya untuk tidak mengalir dari kelopak matanya. Dia tidak menyangka jika dia bertemu dengan mama mertuanya dengan kondisi keadaan sakit seperti ini.
"Menantuku," kata Maya juga sambil menangis. Wanita tua itu juga mengelus wajah Ella dengan penuh kasih sayang.
Ella juga semakin menangis. Dia merasa kasihan melihat mama mertuanya yang sedang sakit dan harus mendengar keadaan Bima sebentar lagi. Bagaimanapun Ella tidak bisa menyembunyikan keadaan Bima yang sesungguhnya.
"Terakhir kami bertemu di restoran makan malam bersama dengan kak Bima mbak. Setelah itu kami tidak berkomunikasi lagi. Oya, kakakku ternyata suami yang baik ya mbak. Sampai ponselnya juga harus di pantau istrinya," kata Nada polos dan tanpa canggung. Tapi justru perkataan polos itu membuat Ella seperti kehilangan kata kata untuk memberitahukan kondisi Bima.
"Nak Ella, tolong rahasiakan pertemuan kita dari papa mertuamu juga dari istrinya."
Berbeda dari Nada yang sudah terlihat cerewet. Mama Maya justru terlihat khawatir. Ella langsung paham akan maksud kata kata mama mertuanya.
"Inikah alasan kalian mengingkari tidak mengenal mas Bima tadi?" tanya Ella. Mama Maya mengangguk. Selama ini, Mama Maya sangat sadar dan mengetahui dengan jelas jika dirinya selalu dicari oleh Linna.
Ella akhirnya mengesampingkan rasa ingin tahu tentang kehidupan mama Maya selama ini. Banyak pertanyaan yang sudah terkumpul di pikirannya termasuk pertemuan pertama dengan Nada tadi pagi. Sangat jelas jika Nada tidak terkejut sama sekali ketika melihat papa Yuda. Itu artinya Nada tidak mengenal papa Yuda.
"Hal penting apa nak?" tanya mama Maya mulai tidak enak.
"Apa mama mempunyai riwayat penyakit jantung?" tanya Ella ingin tahu. Mempunyai papa yang mempunyai penyakit jantung membuat Ella berhati hati untuk menyampaikan kondisi Bima.
"Tidak nak. Mama dirawat karena banyak pikiran yang memikirkan suamimu. Biasanya setiap hari dia selalu menghubungi mama. Tapi satu bulan ini. Jangankan menghubungi, nomor nya justru tidak aktif."
"Mama, sebenarnya mas Bima juga dirawat di rumah sakit ini juga," kata Ella pelan. Mama Maya dan Nada terlihat sangat terkejut.
"Sakit apa kak Bima, mbak?" tanya Nada sambil mengguncang bahu Ella dengan air mata yang sudah mengalir dari kelopak matanya. Mama Maya juga sudah menangis seakan sudah mengetahui bahwa Bima sakit parah.
__ADS_1
Melihat dua wanita itu menangis, Ella juga ikutan menangis. Kekuatan hilang untuk memberitahukan keadaan Bima yang sedang koma.
"Mama harus melihatnya nak. Pastikan Yuda dan istrinya tidak ada ketika mama dan Nada menjenguk Bima," kata mama Maya. Kerinduan kepada putra kesayangannya semakin menjadi jadi setelah mengetahui Bima sedang sakit.
"Baik ma," kata Ella sambil mengetikkan pesan kepada papa Yuda menanyakan keberadaan papa mertuanya itu.
"Kita ke ruangan mas Bima sekarang. Papa Yuda masih di kantor. Nanti malam baru bisa menjenguk mas Bima," kata Ella setelah mendapat balasan pesan dari papa mertuanya.
"Mbak, papa Yuda pria yang tadi pagi bersama mbak itu ya?" tanya Nada. Ella hanya mengangguk. Dari pertanyaan Nada sangat jelas jika Nada belum mengenal papa Yuda.
"Kita ke ruangan Bima dulu. Nanti kita bisa bercerita banyak," kata mama Maya tidak sabaran. Ella keluar dari ruangan itu untuk minta ijin kepada perawat yang berjaga untuk membawa mama Maya ke ruangan suaminya.
Tiga wanita itu menyusuri koridor rumah sakit dengan mama Maya yang duduk di kursi roda. Mama Maya dan Nada dapat merasakan degup jantung mereka yang berdetak kencang ketika Ella membuka pintu ruangan Bima.
"Nak, bangun nak," kata mama Maya yang sudah berdiri di tempat tidur Bima. Dia mengira jika Bima tidur.
"Mama, sebenarnya mas Bima saat ini tidak tidur melainkan koma," kata Ella akhirnya. Dia tidak dapat lagi menyembunyikan kenyataan yang menyakitkan itu.
"Koma," tanya mama Maya dan Nada hampir bersamaan. Ella hanya dapat mengangguk.
Suara tangisan tiga wanita terdengar memenuhi kamar perawatan Bima.
"Bangun nak. Bangunlah putra kesayanganku. Jangan biarkan mama lebih menderita lagi," mama Maya terus menangisi putra kesayangannya itu. Setelah penderitaan bertahun tahun kini dirinya kembali menderita dengan kondisi putranya.
"Apa kamu tidak ingin melihat mama bahagia nak. Jika kamu ingin melihat mama tertawa bahagia. Maka bangunlah nak."
Mama Maya terus berbicara sambil menangis berharap putranya terbangun dari tidurnya yang panjang itu.
"Mas Bima," pekik Ella ketika melihat air mata juga mengalir dari kelopak mata suaminya. Mama Maya dan Nada juga langsung menoleh ke wajah Bima.
__ADS_1
"Bangunlah nak. Bangunlah putra kesayanganku," kata mama Maya seperti membujuk anak kecil sambil membelai kepala putranya. Mata yang satu bulan tertutup itu kini perlahan lahan terbuka.