Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 57


__ADS_3

"Berhenti Ella," teriak Linna ketika Ella sudah menginjakkan kakinya di tangga pertama. Ella menurut berhenti dan berbalik menatap Linna. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Bahkan cara Ella memandang Linna seakan menantang wanita itu.


"Apa lagi Tante."


"Ella, aku sudah mengetahui banyak tentang kamu. Jangan coba coba ingin bermain api denganku. Kamu bisa menunjukkan baktimu kepada Bima sebelum suamimu itu sadar dari koma."


"Apa maksudmu yang," tanya Ella tidak sabaran dengan mata memicing.


"Ternyata kamu bodoh Ella. Perlukah aku memberi tahukan kepadamu?. Coba tebak, apa yang akan dilakukan suamiku Yuda jika mengetahui kamu yang matre dan masih berstatus istri dari pria lain. Kamu pasti diusir secepatnya dari rumah ini. Sebelum itu terjadi. Berbaktilah kepada suamimu. Aku rasa sangat kecil kemungkinan Bima sadar dari komanya," kata Linna tenang. Dia sudah merasa di atas awan karena bisa membuat Ella marah. Linna bisa menangkap kemarahan itu dari sorot mata Ella.


"Jangan pernah mendoakan hal buruk kepada suamiku Tante," kata Ella marah. Kemarahan itu membuat Linna tertawa.


"Bukan mendoakan Ella. Tapi kenyataannya seperti itu sekarang kan. Aku akan berbaik hati untuk menyembunyikan status kamu yang mempunyai dua suami. Tapi jika kamu berani melawanku. Maka detik itu juga aku akan membocorkan rahasia kamu," ancam Linna.


"Sayangnya, apa yang tante katakan itu salah. Saat ini aku hanya istri dari mas Bima seorang," kata Ella tenang.


"Kamu yakin?. Aku bisa mendatangkan saksinya kemari. Karina dan suaminya bersedia menjadi saksi jika aku membutuhkan mereka suatu saat nanti."


Linna tertawa kencang melihat Ella berbalik dan menaiki tangga. Suara tertawa itu berubah dengan tatapan sinis memandangi tubuh Bella yang semakin menaiki tangga teratas.

__ADS_1


Ella membuka pintu kamarnya kasar. Hatinya kini tidak tenang seperti menghadapi Linna tadi. Jika apa yang dikatakan Linna benar, Zico dan Karina bersedia bersaksi palsu maka dirinya saat ini dalam situasi terancam. Bukan terancam karena tidak dapat menikmati harta Bima. Tapi Ella terancam diusir dan tidak bisa merawat suaminya.


Ella gelisah. Ella merasakan takut. Pernikahan dirinya dengan Zico yang hanya siri tidak hanya memudahkan dirinya berpisah dari Zico. Tapi pernikahan siri itu menyulitkan Ella saat kondisi Bima seperti ini. Dia tidak mempunyai bukti jika dirinya sudah bercerai dari Zico. Andaikan dirinya dan Zico menikahi resmi maka Ella akan mempunyai akte cerai sebagai bukti dari perceraian itu.


Ella tidak kuasa menahan tangisnya. Ella terduduk di lantai dekat ranjang dan menyandarkan tubuhnya ke ranjang itu. Cobaan hidup seakan enggan berlalu dari hidupnya. Baru saja dia lepas dari pernikahan palsu kini dia dihadapkan dengan suami yang terbaring koma. Belum lagi dengan ancaman Tante Linna.


"Bangunlah mas Bima. Kamu membawa aku kedalam permainan ini. Tapi kamu sendiri yang terbaring lemah. Bagaimana kalau Zico dan Karina bersaksi palsu. Hidupku pasti lebih hancur dari sebelumnya. Hanya kamu yang mengetahui situasi kita berdua. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku dari saksi palsu itu."


Ella berbicara sendiri menumpahkan apa yang di hatinya saat ini. Seakan akan Bima berbaring di atas ranjang itu. Ella naik ke atas ranjang dan mengambil guling. Ella memeluk guling itu erat seakan akan guling itu adalah seseorang yang mengerti keadaannya saat ini.


Ella semakin terisak. Saat ini dia butuh sandaran atas kesedihan karena kecelakaan Bima. Tapi bukan sandaran yang dia dapat melainkan ancaman dari keluarga suaminya sendiri.


Hampir satu jam, Ella menumpahkan tangisannya sambil berkutat dengan pikirannya sendiri bagaimana dirinya akan menghadapi Linna. Bagaimanapun Ella tidak akan membiarkan Linna untuk bertindak lebih jauh lagi terhadap Bima. Mendengar perkataan Linna tadi Ella dapat menangkap jika Linna sangat menginginkan Bima secepatnya berpulang ke Penciptanya.


Ella sangat sadar. Bahwa dirinyalah yang harus menjaga Bima dari Linna atau dari siapapun yang berniat jahat kepada suaminya. Setelah mengetahui bagaimana asisten papa mertuanya berkhianat. Ella tidak percaya kepada siapapun yang menjadi orang orang kepercayaan keluarga suaminya.


Di luar kamar Ella. Linna menempelkan kupingku ke pintu kamar. Linna tersenyum penuh kemenangan mendengar suara Ella yang terisak. Linna berlalu dari depan pintu itu setelah tidak mendengar suara apapun lagi.


Besok paginya, Ella tergesa menuruni tangga. Rasa takut dan curiga yang memenuhi pikirannya membuat Ella tidak sarapan di rumah itu. Jujur, Ella takut jika Linna bertindak di luar pemikiran orang normal. Linna hanya memikirkan harta. Dan Ella menyadari jika kedatangan di keluarga Yuda adalah salah satu penghalang bagi Linna untuk mencapai tujuannya. Ella takut Linna meracuni dirinya. Dia belum mengenal dan belum menjiwai karakter para pelayan di rumah itu. Ella sangat yakin jika di antara pelayan itu adalah kepercayaan Linna.

__ADS_1


"Tidak sarapan dulu Ella?" tanya Linna ketika Ella sudah tiba di ruang makan. Tujuannya ke ruang makan itu untuk menjumpai Mona sang pelayan. Tapi ternyata waktunya tidak tepat. Linna sudah duduk santai di ruangan itu seolah-olah menunggu Ella untuk sarapan bersama.


"Tidak Tante. Aku buru buru ke kantor," jawab Ella sopan. Linna menyapanya dengan sopan maka Ella juga berbuat hal yang sama.


"Duduklah Ella. Tante ingin berbicara dengan kamu," perintah Linna sambil menggerakkan jarinya menunjuk bangku. Ella pun duduk di bangku tersebut.


"Berbicara apa Tante," tanya Ella sambil menatap bola mata Linna. Linna memalingkan wajahnya karena tidak sanggup bertatapan dengan Ella.


Linna terdiam kemudian mencoba memandang wajah Ella yang masih menatapnya. Linna tersenyum menutupi kegugupannya. Baru kali ini ada seseorang berani menatap tepat di bola matanya. Bibirnya tersenyum tapi tangannya terkepal di bawah meja. Sungguh, dia tidak menyukai Ella yang masih berani kepadanya padahal tadi malam sudah sangat jelas dirinya mengancam Ella.


"Katakan Tante. Apa yang hendak kamu katakan," tanya Ella tanya melepaskan pandangannya dari wajah Linna.


"Ella. Aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu."


"Menawarkan apa Tante. To the points aja," desak Ella.


"Aku ingin bekerja sama dengan kamu."


"Bekerja sama untuk apa?" tanya Ella tenang. Dia sudah bisa menebak kemana arah perkataan itu. Linna terlihat gugup dan ragu untuk mengatakan kerja sama yang dia maksud.

__ADS_1


__ADS_2