Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 47


__ADS_3

Ella dan Bima hanya terdiam mendengar pembicaraan papa Yuda dan Linna. Bima merasa enggan jika masuk ke pembicaraan sang papa dan mama tiri. Hatinya membenarkan apa yang menjadi keputusan sang papa. Kiki memang adiknya. Dan dia juga berencana akan memberikan bagian adiknya itu. Tapi bukan sekarang tetapi setelah Linna tidak berdaya atau kalau bisa setelah Linna meninggal.


Walau Kiki saudara tirinya, Bima bisa merasakan jika Kiki menyayangi dirinya dengan tulus. Sifat Kiki dan Linna sangat jauh berbeda. Jika Linna sangat mendewakan uang, Kiki justru bergaya hidup sederhana.


"Bima, bawa istrimu baik ke atas. Beristirahatlah dulu. Nanti malam kita makan malam bersama."


"Baik pa, kami ke atas dulu," kata Bima sambil menyentuh tangan istrinya supaya berdiri. Ella berdiri dan pamit kepada papa Yuda. Ella juga pamit kepada Linna walau wanita itu baru saja menyakiti hatinyanya. Linna mengangguk sambil tersenyum manis.


Linna mengikuti pergerakan Bima dan Ella lewat ekor matanya. Dia berharap menemukan kejanggalan atas hubungan Bima dan Ella. Tetapi sampai Bima dan Ella tidak terlihat Linna tidak menemukan kejanggalan tersebut.


Bima terus menggenggam tangan Ella hingga tiba di kamarnya.


"Mas, aku tidak menyangka. Kedua kali aku menginjakkan kaki di kamar mu ini. Statusku berubah menjadi istri seorang Bima," kata Ella sambil mendaratkan bokongnya di bibir ranjang.


"Sama sayang. Aku justru tidak menyangka jika aku memperistri wanita yang masih istri orang tapi masih original."


"Ampun, ampun sayang," kata Bima sambil meringis karena perkataannya membuat Bima mendapat hadiah cubitan di pinggangnya.


"Janji sayang. Please. Lepaskan cubitannya."


"Aku tidak suka kamu mengingatkan statusku yang beberapa hari mempunyai dua suami mas," kata Ella kesal. Bima mencubit kedua pipi istrinya pelan setelah cubitan di pinggangnya terlepas.


"Iya. Iya sayang. Janji, Tidak aku ulangi lagi. Jangan cemberut gitu donk. Nanti cantiknya hilang."


"Baiklah. Sebaiknya kamu istirahat sebentar mas. Aku mau duduk di sana menikmati angin sore," kata Ella sambil menunjuk balkon. Bima mengangguk sambil membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia memang sangat lelah.


Sementara di ruang tamu. Linna kembali bersikap manis ke papa Yuda. Kini dia sudah duduk di samping papa Yuda dengan tangannya yang memijit punggung suaminya.


"Pa, boleh aku membantu Bima mempersiapkan resepsi pernikahannya?" tanya Linna.


"Tidak perlu ma. Biarkan pihak wedding Organizer yang bekerja. Bima saja hanya menyerahkan konsepnya kepada pihak Wedding organizer. Kita terima beres saja."


"Padahal aku ingin terlibat langsung untuk mempersiapkan resepsi itu pa. Bima adalah putra kita satu satunya. Aku merasa jadi mama yang buruk jika tidak memberikan yang terbaik bagi Bima.


Linna sengaja bermulut manis kepada papa Yuda. Sedikitpun tidak ada keinginan di hatinya untuk membantu Bima mempersiapkan resepsi pernikahan itu. Linna justru berharap resepsi itu tidak terjadi sama sekali.

__ADS_1


"Kalau bisa terima beres saja. Untuk apa kamu merepotkan diri," jawab papa Yuda ketus.


"Aku mau keluar dulu sebentar pa," kata Linna menyudahi pijatan di tubuh Yuda. Dia kesal mendengar perkataan Yuda yang bernada ketus.


"Pergilah," kata Yuda. Linna mengecup pipi suaminya kemudian melangkah menuju pintu utama.


"Linna sudah pergi?" tanya Yuda beberapa saat kemudian kepada salah satu art yang lewat dari ruang tamu.


"Sudah tuan."


Yuda beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar Lola dan langsung membuka pintu kamar itu. Sejak Linna beranjak dari ruang tamu. Yuda sudah mengirim pesan kepada Lola bahwa sebentar lagi dia akan ke kamar Lola.


"Om."


"Kemari," panggil Yuda kepada Lola sambil menepuk pahanya. Pria tua itu menunggu dengan tangan terulur tidak sabar menggapai tubuh Lola supaya cepat duduk di pangkuannya.


Lola berjalan sambil menunduk. Setelah jarak mereka hampir satu meter, Yuda menarik tangan Lola untuk duduk di pangkuannya. Lola terlihat masih canggung duduk di pangkuan papa Yuda.


"Ini kenapa?" tanya Yuda penuh perhatian sambil menunjuk wajah Ella yang terkena cakaran memanjang.


"Kuku kamu tidak panjang. Bagaimana bisa menggores sampai separah ini?.


"Aku baru saja potong kuku om. Tadinya panjang.


"Apa ini perbuatan Linna?. Lola menggelengkan kepalanya kemudian menunduk.


"Om, bagaimana kalau Tante Linna mengetahui kita. Aku takut," kata Lola sangat khawatir.


"Itu urusan aku. Sekarang, layani om ya. Om sudah mengunci pintunya," pinta papa Yuda. Papa Yuda mengetahui jelas ketakutan Lola. Itulah sebabnya dia meyakinkan Lola dengan memberitahu Lola jika pintu sudah dikunci.


"Bagaimana kalau Tante Linna datang ke kamar ini om. Ini masih sore. Apa tidak bisa nanti malam?" tanya Lola masih takut. Dia sangat sadar jika perbuatannya ini sangat berisiko. Tapi setelah mengetahui nikmatnya bercinta. Lola seakan enggan menolak ajakan Yuda yang sudah beberapa kali menyelinap masuk ke kamarnya pas tengah malam.


"Dia sudah pergi. Tenang saja. Nanti om kasih uang jajan yang banyak," jawab Yuda sambil mengendus leher Lola. Wanita itu terlihat kegelian tapi senang dengan perlakuan Yuda di tubuhnya.


Lola pasrah akan perbuatan Yuda di tubuhnya. Perbuatan terlarang penuh dosa itu pun terjadi.

__ADS_1


Pertarungan dua anak manusia yang berbeda umur itu terus berlanjut tanpa merasa takut akan dosa.


"Om, apa aku tidak sebaiknya mencari kontrakan?. Aku takut om jika Tante Linna mengetahui kita."


Lagi lagi Lola mengutarakan rasa takutnya. Mereka kini berbaring setelah menuntaskan permainan ranjang yang memakan waktu satu jam lebih.


"Tidak perlu Lola. Kamu tetap disini."


"Om, apa kita tidak sebaiknya menikah walau menikah siri. Aku takut kita terus terus melakukan dosa ini om."


"Nanti aku pikirkan Lola. Sekarang kita jalani saja seperti ini," kata papa Yuda mengelak. Menikah bukan salah satu prioritasnya saat ini. Dia memakai Lola murni untuk bersenang senang.


"Om, aku sudah menyerahkan hal berharga yang aku miliki kepada om. Apa om butuh waktu berpikir untuk menghalalkan aku. Aku rela dirahasiakan om. Asal kita tidak terus-menerus berbuat dosa," pinta Lola. Tapi perkataannya itu tidak mendapatkan tanggapan. Papa Yuda hanya memejamkan mata sebagai jawaban dari perkataan Lola.


Yuda tidak butuh waktu berpikir. Karena memang tidak ada niat sama sekali untuk menghalalkan Lola. Dia sudah terbiasa mencicipi perawan dengan bayaran fantastis. Dia juga sudah membayar Lola akan hal yang berharga yang disebutkan Lola tadi.


"Lola, kita sudah sepakat sebelumnya jika tidak ada pernikahan. Mengapa kamu menuntut pernikahan sekarang?.


"Tapi aku hanya takut dosa om."


"Benar begitu?. Lola menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu. Ini yang terakhir kita melakukan hal ini. Kamu bisa angkat kaki di rumahku," kata Yuda dingin. Lola terkejut mendengar perkataan Yuda. Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.


"Om, aku mohon. Jangan usir aku om," kata Lola sambil memegangi tubuh Yuda yang sudah duduk di ranjang.


"Apa aku memaksa kamu menyerahkan dirimu kepadaku. Kamu sendiri yang menyerahkan dirimu kepadaku Lola. Kamu butuh uang. Dan kamu sudah mendapatkan banyak dari aku. Apalagi yang kurang?" tanya Yuda dingin. Yuda sudah mengetahui latar belakang Lola yang sesungguhnya dari Lola sendiri.


"Tidak ada yang kurang om. Tapi jangan usir aku dari rumah ini," jawab Lola sambil terisak.


"Baiklah. Jangan menuntut pernikahan. Jika kamu tidak bersedia melayani aku lagi. Aku tidak memaksa," kata Yuda sambil memakai kembali pakaiannya. Lola juga ikut ikutan melakukan hal yang sama.


"Aku masih mau om."


Yuda menatap Lola dengan tatapan penuh selidik. Wanita yang sudah hampir tiga Minggu menjadi lawan mainnya di ranjang itu menunduk kepala sambil meremas ujung bajunya. Yuda tidak menyangka sebelumnya jika wanita itu masih perawan. Dan berani meminta untuk dinikahi. Dari sekian wanita yang menjadi lawan mainnya hanya Lola yang mengingatkan dirinya akan dosa.

__ADS_1


__ADS_2