Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 67


__ADS_3

Ella terkejut mendengar perkataan adik iparnya. Seperti dugaannya semula jika kecelakaan Bima adalah unsur kesengajaan dan Ella sangat yakin jika Linna adalah di balik kecelakaan suaminya. Tidak ingin membuang waktu yang banyak, Ella langsung menunjukkan foto Linna yang ada di ponselnya.


"Apakah wanita ini yang kamu lihat?" tanya Ella dengan hati yang mulai marah. Ella sudah memikirkan cara untuk membuat Linna tidak berkutik lagi jika wanita licik itu benar benar dalang dibalik kecelakaan suaminya.


"Bukan, wanita yang aku lihat itu masih muda mbak," jawab Nada setelah melihat foto itu. Ella menggeser layar di ponselnya dan menunjukkan foto Karina. Ketika Nada mengatakan jika bukan Linna yang dilihat. Pikiran Ella langsung tertuju kepada Karina. Bukan tanpa alasan Ella langsung mencurigai Karina.


Karina adalah orang yang membocorkan pernikahan pertamanya dengan Zico. Tidak tertutup kemungkinan jika Linna dan Karina bekerja sama untuk mencelakakan Bima. Karena Ella jelas mengetahui jika Linna dan Karina beda tipis. Sama sama menghalalkan cara untuk mendapatkan uang tanpa bekerja. Dan juga sama sama bersedia menjadi istri wanita kedua bagi pria beristri.


"Bukan juga mbak. Wanita itu bahkan lebih muda dari wanita ini," kata Nada lagi.


"Coba perhatikan lagi dek," kata Ella membuat Nada langsung mendongak menatap Ella. Panggilan adik dari kakak iparnya sungguh dapat membuat hati Nada seperti mempunyai kakak kandung perempuan. Sungguh Nada sangat menyukai sikap kakak iparnya yang seperti ini. Perkataan Bima yang selalu memuji Ella ketika mereka terakhir bertemu dibenarkan Nada dalam hatinya. Saat itu, Bima bercerita jika Ella adalah sosok wanita pemberani tapi mempunyai hati yang baik dan tulus.


"Iya mbak ku yang cantik. Bukan itu orangnya. Aku masih jelas ingat wajahnya walau jarak tempat ku berdiri ke sebarang jalan lumayan jauh," kata Nada menyakinkan Ella bahwa bukan dua wanita itu yang dia lihat waktu itu.


Ella menyimpan ponselnya itu ke dalam tas dengan berbagai pertanyaan di hatinya. Ada dua alternatif atas wanita yang Nada lihat di seberang jalan yang memberikan amplop ke tiga pria saat itu. Alternatif pertama jika wanita itu benar benar tidak terlibat dengan kecelakaan yang menimpa Bima. Dan alternatif kedua jika wanita itu adalah dalang dibalik kecelakaan Bima.


Tapi entah mengapa, Ella justru sangat yakin jika alternatif kedua lah yang benar. Ella berpikir bisa saja Linna membayar orang lain untuk melancarkan rencananya.

__ADS_1


"Nak Ella, kami akan keluar dari rumah sakit ini sore ini juga. Setelah kami keluar, hubungi papa mertuamu tentang perkembangan Bima," kata mama Maya. Mama Maya sebenarnya masih ingin berlama lama bersama Bima di ruangan itu. Tapi mengingat dirinya yang masih bersembunyi dari mantan suami dan istrinya. Mama Maya memilih untuk keluar dari rumah sakit walau kesehatannya belum pulih benar. Selain itu mama Maya memikirkan keadaan Bima.


Mama Maya sadar, posisinya saat ini tidak bisa untuk membantu Bima. Sedangkan Yuda memiliki segalanya untuk membuat Bima mendapatkan pengobatan yang lebih baik lagi. Satu sikap wanita yang tidak egois. Dia lebih mementingkan kesehatan putranya daripada berlama lama bersama Bima tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi mama belum sembuh benar, Biarlah mama dirawat di rumah sakit ini satu atau dua hari lagi. Jika mama takut keberadaan kalian diketahui papa Yuda. Aku pasti tutup mulut untuk itu," kata Ella yang mengkhawatirkan kesehatan Mama mertuanya. Mama Maya masih terlihat lemas. Ella tidak tega melihat mama mertuanya pulang ke rumah dalam keadaan sakit tersebut.


"Kita pindah rumah sakit saja ma," kata Nada. Ella setuju dengan pendapat Nada. Bima yang tidak berdaya di tempat tidur itu juga terlihat menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia juga setuju dengan perkataan Nada.


Ella kembali memanggil perawat yang tadi menjaga Bima. Dia mengurus administrasi mama Maya supaya bisa keluar dari rumah sakit itu sore ini.


Di jam yang sama, papa Yuda memarkirkan mobilnya di halaman panti asuhan tempat Lola berada.


Papa Yuda duduk di ruang tamu dan memperhatikan keadaan rumah itu. Petugas panti yang hampir seumuran dengan papa Yuda menyuruh pria itu untuk menunggu Ella di ruang tamu itu. Panti asuhan yang dikatakan Lola lebih layak dikatakan seperti rumah keluarga yang sederhana. Panti itu terlalu sempit untuk ukuran panti asuhan yang menampung hampir seratus orang anak dari berbagai usia.


"Om," panggil Lola setelah wanita muda itu berdiri di hadapannya. Papa Yuda menggerakkan tangannya menyuruh Lola duduk. Sikap yang diperlihatkan papa Yuda tidak sehangat ketika dirinya meminta Lola melayani keinginannya.


"Kedatanganku kemari untuk menyelesaikan apa yang pernah terjadi di antara kita. Jangan pernah mengirimi om pesan pesan rayuan itu lagi. Sungguh, om terganggu dengan pesan pesan yang kamu kirimkan itu," kata Yuda tanpa basa basi. Lola menatap Yuda sebentar kemudian menunduk. Walau kata kata yang keluar dari mulut Yuda tidak kasar tetap saja Lola merasakan hatinya sangat sakit.

__ADS_1


"Baiklah om. Mulai saat ini aku menyerah. Tapi apakah om tidak berniat bertanya apa alasan aku bersedia menjual diri kepada om?" tanya Lola masih menundukkan kepalanya. Lola merasa memang tidak punya harga diri lagi. Setidaknya kedatangan Yuda ke panti ini bisa membantunya sekali ini saja.


"Apa alasan kamu?" tanya Yuda penasaran.


"Sebelumnya. Aku minta maaf om karena berani masuk ke dalam keluarga om. Aku melakukan itu semua karena pihak panti membutuhkan uang yang banyak untuk perbaikan panti membuat bangunan bertingkat. Kalau om tidak boleh bertanya pada bunda," kata Lola jujur. Lola terpaksa mengatakan alasan sesungguh mengapa dirinya bersedia menjadi wanita murahan. Sebagai anak yang tertua di panti itu, Lola merasa bertanggungjawab untuk membantu wanita yang dia panggil sebagai bunda selama ini. Kesulitan mencari kerja yang hanya berijazah Sekolah Menengah Umum membuat Lola mencari jalan pintas.


"Baiklah, panggil penanggung jawab panti ini kemari," kata Yuda. Yuda bisa melihat kejujuran Lola kali ini. Perkataan Lola sangat sesuai dengan keadaan panti itu.


"Baik om, tapi tolong rahasiakan bagaimana aku mendapat uang selama ini," kata Lola mulai merasa takut. Wanita yang dia panggil sebagai bunda tidak pernah mengajarkan dirinya untuk menjadi wanita gampangan.


Yuda menatap wanita muda itu dengan datar. Kemudian menganggukkan kepalanya sebagai pertanda jika dia setuju dengan permintaan Lola.


Baru saja Lola beranjak dari duduknya. Yuda mendapatkan panggilan telepon dari orang orang suruhannya.


"Tuan, mantan istri anda saat ini berada di halaman rumah sakit Sari Pelita," lapor orang suruhan Yuda membuat jantung pria tua itu berdetak kencang.


"Lola, lain kali aku akan datang kemari lagi. Aku harus pergi sekarang juga," kata Yuda tanpa menutup teleponnya.

__ADS_1


"Awasi mantan istriku dan ikuti. Beri aku informasi selanjutnya secepat mungkin," perintah Yuda sambil setengah berlari keluar dari panti itu.


__ADS_2