
Usia pernikahan belum ada genap satu bulan. Tapi cobaan berat sudah di depan mata menguji kesabaran Ella. Belum tuntas tentang siapa wanita yang di video itu. Kini Ella dihadapkan dengan musibah atas kecelakaan sang suami.
Ella dan papa Yuda masih setia menunggu para tenaga medis menangani Bima. Kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan jelas terlihat di wajah Ella dan papa Yuda.
Setelah hampir lebih satu jam menunggu akhirnya Ella dan papa Yuda diperbolehkan melihat keadaan Bima secara langsung.
Mertua dan menantu itu langsung memasuki ruangan ICU untuk melihat orang yang mereka sayangi. Sayangnya mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan itu. Mereka hanya bisa melihat keadaan Bima lewat sekat kaca sebagai pembatas dimana Bima saat ini terbaring lemah. Bukan hanya terbaring lemah. Saat ini Bima dinyatakan masih pingsan atau bisa jadi koma. Yang pasti pria itu masih betah memejamkan matanya setelah tindakan yang dilakukan dokter di sekujur tubuhnya. Keadaan masih sama ketika pria itu di bawa ke rumah sakit.
Ella menangis. Bima yang terbaring lemah di bed rumah sakit itu. Tapi Ella dapat merasakan dadanya sesak seperti di hantam batuan besar. Seakan akan di dapat merasakan luka yang ada di tubuh Bima. Melihat alat alat medis yang menempel di tubuh Bima ditambah dengan perban yang menempel di wajah suaminya membuat hati wanita itu sangat hancur. Lebih hancur ketika Zico berpoligami dan video kebersamaan Bima dengan wanita itu.
Ella menangis sesenggukan. Ingin rasanya dia memeluk tubuh sang suami yang tenang tapi jelas terlihat tidak baik baik saja. Sedangkan papa Yuda menatap putranya dengan raut tidak terbaca. Mungkin hatinya lebih hancur dibandingkan Ella.
"Mas jangan seperti ini mas. Bangun mas," kata Ella sambil meraba kaca penyekat ruangan itu. Suaranya terbata karena kata kata itu keluar bersamaan dengan isak tangis.
"Bima, Kamu harus bertahan nak. Mungkin kamu muak melihat tingkah papa selama ini tapi lihatlah istrimu yang sangat hancur melihat keadaanmu saat ini. Maafkan papa nak. Selama ini aku tidak memberikan kebahagiaan kepada kamu. Tapi jika kamu bertahan. Sesuai permintaanmu. Papa akan berubah. Papa hanya ingin, di akhir hayat papa. Kamu yang menurunkan aku ke liang lahat," batin papa Yuda sambil menatap lurus ke arah ruangan Bima berada.
Papa Yuda masih mengingat dengan jelas permintaan Bima Minggu lalu ketika mereka berada di ruang kerjanya. Bima meminta bahkan memohon kepadanya untuk berhemat bermain wanita.
Seketika Papa Yuda merinding. Di wajahnya jelas tergambar wajah ketakutan membayangkan jika permintaan Bima itu adalah permintaan terakhir. Papa Yuda menggelengkan kepalanya ketika bayangan itu semakin kuat.
"Selamat malam pak. Dengan keluarga pasien atas nama pak Bima?" tanya seorang suster yang sudah berdiri dekat Papa Yuda dan Ella. Papa Yuda hanya mengangguk sedangkan Ella masih memandangi suaminya dengan isak tangis yang sesenggukan.
"Maaf pak. Anda diminta dokter untuk ke ruangannya," kata suster itu lagi.
"Baiklah. Ella Papa mau ke ruangan dokter. Apa kamu ikut?" tanya papa Yuda pelan. Ella menggelengkan kepalanya. Dia masih ingin dan memastikan Bima secepatnya siuman.
"Baiklah. Tunggu di sini. Jangan kemana mana," kata papa Yuda. Lagi lagi Ella hanya menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya terasa kering setelah dua jam menangis.
Sebelum berjalan ke arah ruangan dokter. Papa Yuda memerintahkan orang kepercayaannya untuk berjaga di depan ruangan ICU itu. Menjaga Bima dan Ella. Entah mengapa hatinya mengatakan jika kecelakaan putranya adalah unsur kesengajaan dari orang orang yang ingin membuatnya hancur. Dan semakin merasa yakin dengan keyakinan hatinya terkait kecelakaan yang menimpa Bima. Hatinya selalu tertuju kepada Linna. Hanya wanita itu yang satu Minggu ini protes akan keputusan yang dibuat oleh Yuda tentang semua aset dan Perusahaannya.
"Silahkan duduk tuan," kata dokter itu sopan. Walaupun dia seorang dokter tapi sang dokter sang mengetahui dirinya berhadapan dengan siapa saat ini. Yuda adalah pengusaha terkenal di beberapa bidang.
__ADS_1
"Terimakasih dokter. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya keadaan putraku saat ini,"
"Jadi begini pak."
Papa Yuda tertunduk lesu mendengar penjelasan dokter. Ternyata saat ini Bima bukan pingsan melainkan koma. Pria tua berkali kali menggelengkan kepalanya setelah kemungkinan terbesar yang terjadi pada putranya. Menurut kata dokter melihat parahnya luka luka Bima.
"Itu masih kemungkinan pak. Yang berkehendak selalu yang di Atas," kata dokter itu untuk menguatkan hati Yuda.
"Berikan pengobatan terbaik untuk putraku dokter. Tentang biaya jangan takut. Jika butuh dokter spesialis dari luar negeri. Dari segi biaya aku pasti sanggup membayarnya," kata papa Yuda.
"Itu sudah pasti Pak," jawab dokter itu meyakinkan pak Yuda.
"Apapun aku pertaruhkan untuk kesembuhan putraku," kata Papa Yuda lagi. Dokter hanya mengangguk saja. Sudah terbiasa bagi seorang dokter mendengar perkataan seperti itu dari keluarga pasien.
Papa Yuda melangkahkan kakinya lesu keluar dari ruangan dokter. Penjelasan dokter seperti berita sedih yang hampir sama dengan berita duka.
"Pak," panggil seseorang yang sudah menunggu Yuda keluar dari ruangan dokter.
"Kita berbicara di tempat lain saja pak," kata asisten yang bernama Alan itu. Yuda melangkahkan kakinya menuju lorong yang agak sepi di rumah sakit itu.
"Katakan!" kata Yuda tegas.
"Setelah diselidiki. Kecelakaan yang menimpa tuan muda Bima murni kecelakaan karena kelalaian pak. Kondisi mobil ketika dikendarai tuan Bima dalam kondisi sangat baik."
"Apa maksud kamu kelalaian?" tanya Yuda penuh selidik.
"Diduga tuan Bima tidak mengenakan sabuk pengaman ketika berkendara. Hal itulah yang menyebabkan tuan muda tercampak keluar dari mobil saat kecelakaan itu," kata Alan.
"Baiklah, kamu boleh pergi. Satu hal lagi. Tolong perintah kan orang kepercayaannya untuk mengikuti Linna kemanapun dia pergi."
"Baik pak. Mulai malam ini perintah bapak pasti akan dilaksanakan," kata asisten itu seraya membungkuk hormat.
__ADS_1
Yuda kembali ke tempat dimana Ella berdiri. Mertua dan menantu itu kini berdiri bersebelahan dengan arah mata fokus ke Bima.
"Ella. Pulanglah nak. Kamu perlu istirahat," kat Yuda.
"Biarkan aku disini menjaga mas Bima pa. Aku akan menunggunya sampai siuman si sini."
Ella merasa tidak sabaran tapi setia menunggu Bima membuka matanya. Yuda menoleh ke arah menantunya.
"Semoga kamu sudah mengandung buah cinta kalian nak," batin Yuda.
"Kita gantian nak. Malam ini papa yang jaga. Besok, kamu yang jaga. Hanya kita berdua yang bergantian menjaga dia nak. Jadi menurutlah ke papa. Tapi kamu jangan pulang ke rumah. Pulanglah ke apartemen Bima."
Yuda berbicara dengan tatapan sedih. Walau asistennya melaporkan jika kecelakaan Bima adalah murni karena kelalaian. Yuda tidak percaya. Dia mengetahui dengan jelas jika Yuda berkendara sangat hati hati dan mengutamakan keselamatan.
"Kenapa harus ke apartemen pa?" tanya Ella bingung.
"Linna tidak menyukai kamu nak. Papa takut dia menyakiti kamu karena papa dan Bima tidak ada di rumah."
Di tengah rasa kesedihannya. Ella terharu mendengar perkataan papa mertuanya. Yuda terlihat mengkhawatirkannya. Tetapi rasa terharu hanya sekejap setelah mendengar kata Linna.
"Apa ini rencana si kuda liar itu. Aku akan menyelidikinya," batin Ella dalam hati. Ella akhirnya menceritakan tentang rumah pribadi milik Bima dan meminta ijin untuk menginap di sana daripada apartemen Bima yang belum pernah dikunjunginya. Yuda terkejut mendengar jika putranya itu mempunyai rumah pribadi sendiri.
"Baiklah. Siapa biasanya supir dari rumah yang datang ke sana."
"Pak Anton pak."
"Hubungi dia. Dia yang mengantar kamu ke sana."
"Aku tidak punya nomornya pa."
Yuda menghubungi nomor supir yang dikatakan oleh Ella.
__ADS_1
"Pulanglah nak. Pak Anton sebentar lagi sampai di parkiran."