Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 49


__ADS_3

Keceriaan yang dirasakan oleh Ella dan Bima sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh Zico. Pria itu merasakannya hidupnya tidak bersemangat padahal baru menerima gaji. Terbiasa setiap bulan memberitahu jatah bulanan kepada Ella ternyata dia merindukan momen itu saat ini.


Dia sudah menerima gaji semalam. Tapi sampai hari ini, Zico belum berniat membuka amplop gaji itu. Perusahaan tempat Zico bekerja memang masih menggaji karyawannya secara manual mulai dari asisten manager ke bawah.


Sedangkan Karina sudah merasakan tangannya gatal karena tidak sabaran menerima jatah bulanan dari Zico. Apalagi dirinya sudah menjadi istri satu satunya bagi Zico. Karina sudah membayangkan jatah bulanan yang dia dapatkan bulan ini dan bulan bulan selanjutnya pasti akan lebih besar.


"Mas, kamu belum gajian?. Sudah tanggal berapa ini," tanya Karina kesal. Menurut perhitungannya, seharusnya Zico sudah gajian empat hari yang lalu. Tapi sampai detik ini dirinya belum menerima amplop gaji yang sudah ditunggunya sejak satu Minggu yang lalu.


"Sudah. Baru semalam. Gajiannya memang telat bulan ini dibandingkan dengan bulan bulan sebelumnya," jawab Zico tidak bersemangat.


"Kalau sudah, mana jatahku mas. Jangan jangan kamu lupa sudah mantan suami Ella dan kamu memberikan kepadanya terlebih dahulu kan," kata Karina semakin kesal. Melihat Zico tidak bersemangat dan lesu setelah bercerai dari Ella. Karina merasa bahwa Zico berusaha merayu Ella dengan memberikan jatah bulanan seperti sebelumnya kepada Ella.


Zico menggelengkan kepalanya dan kesal mendengar perkataan Karina. Dia semakin menyadari jika Karina sering berkata dan menuduh tanpa bukti.


"Dasar wanita gila. Tunggu disini. Aku ambil amplopnya ke kamar," kata Zico sambil melangkah meninggalkan ruang tamu. Zico masuk ke kamar dan langsung mengambil amplop gaji yang masih utuh tersimpan di tas kerjanya.


Zico mengeluarkan beberapa lembar uang untuk jatah dalam satu bulan ini. Setelah memasukkan lembaran uang itu ke dalam dompetnya. Zico kembali keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Sedangkan Karina sudah tersenyum manis melihat Zico yang menuruni tangga dengan amplop di tangannya. Dalam hati, Karina sudah membuat beberapa daftar barang yang harus dibelinya bulan ini.


"Terima kasih mas," kata Karina senang setelah amplop itu berpindah ke tangannya. Tangannya meraba amplop dan Karina tersenyum senang melihat tebalnya amplop itu.


"Dan ini bukti pembayaran pengeluaran bulan lalu yang harus kamu bayarkan juga bulan ini," kata Zico sambil menyerahkan beberapa kertas bukti pembayaran yang diserahkan Ella kepadanya waktu itu. Karina menerima kertas bukti pembayaran itu.


"Pakai uang ini juga?" tanyanya dengan wajah yang tidak tersenyum lagi.


"Iya. Maksud kamu pakai uang yang mana lagi. Aturan jatah Ella sudah di amplop itu semua. Jadi pekerjaan Ella selama ini, kamu yang ambil alih termasuk membayar pengeluaran bulanan dan untuk biaya makan kita selama satu bulan ini," kata Zico datar. Menyebut nama Ella hatinya kembali berdenyut nyeri.


Karina beranjak dari duduknya dan berdiri. Dia melangkah meninggalkan Zico menuju kamar Ella sebelumnya.


Di dalam kamar itu, Karina menghitung semua jumlah uang itu. Kemudian menghitung jumlah pengeluaran bulanan berdasarkan kertas buku pembayaran itu. Sisanya tidak jauh beda dari jatah bulanannya bulan lalu.


Karina bingung, Karina akhirnya memisahkan uang jatahnya sendiri berdasarkan jumlah jatah bulan lalu. Kemudian kembali menghitung pengeluaran bulanan. Karina terkejut ketika menyadari jika sisa dari dari uang yang dianggapnya jatah Ella itu hanya tersisa lima ratus ribu dan itu yang akan menjadi biaya uang makan mereka berdua selama satu bulan ini.


Karina tidak mau rugi. Karina mengusap wajahnya kasar menyadari jika dirinya yang mengelola uang itu semua maka jatahnya akan berkurang. Karina memasukkan jatah bulanan yang disisipkannya tadi ke dalam kantong dasternya. Dia kembali keluar dari kamar dengan kertas bukti pembayaran dengan sejumlah uang di tangannya.

__ADS_1


"Mas, aku rasa. Lebih bagus jika kamu sendiri yang membayar pengeluaran bulanan ini. Aku tidak sanggup mengelolanya."


Karina meletakkan uang dan kertas bukti pembayaran itu di meja. Dia segera melangkah meninggalkan Zico di ruang tamu itu.


Zico mengambil lembaran uang itu dan menghitungnya. Tanpa bertanya dia sudah mengetahui alasan Karina menyerahkan uang itu kepadanya. Zico merapatkan giginya marah karena tingkah Karina itu. Zico pun akhirnya menyusul Karina masuk ke kamar mereka di lantai dua.


"Apa maksud dari semua ini Karina?" tanya Zico marah. Dia sudah menyimpan uang itu ke dalam saku celananya.


"Aku tidak pintar mengelola uang segitu untuk pembayaran pengeluaran bulanan kita mas. Apalagi jika ditambah dengan mengelola uang itu untuk biaya makan kita," jawab Karina tenang.


"Tidak pintar bagaimana maksud kamu. Uang yang aku berikan kepadamu hanya aku potong sedikit uang saku dan uang minyak untuk aku pribadi. Selebihnya itu aku serahkan sama kamu dan pasti akan cukup bahkan lebih."


"Cukup bagaimana maksud kamu mas. Aku sudah menyisihkan jatah untuk diriku sendiri berdasarkan jumlah bulan lalu. Dan selebihnya jika aku kurang dengan pengeluaran bulanan hanya tersisa lima ratus ribu. Bagaimana aku bisa membagi uang lima ratus ribu untuk biaya makan kita selama satu bulan ini mas," jawab Karina setengah berteriak.


"Tidak ada lagi istilah jatah bulanan berdasarkan bulan lalu. Semua yang aku berikan itu kepadamu untuk semua pengeluaran kita selama satu bulan ini."


"Hah, enak kamu ngomong mas. Jadi untuk aku pribadi apa?.


"Masih banyak sisanya itu. Uang makan kita selama satu bulan ini dari uang yang kamu sisihkan itu. Tidak apa apa jika aku membayar pengeluaran bulanan. Pintar pintar lah mengelola uang," kata Zico melunak.


"Dengar Karina. Jika kamu bersikeras uang itu untuk kamu pribadi. Jadi uang makan kita bagaimana?.


"Aku tidak mau tahu. Itu bukan tugasku memikirkannya. Itu tugas kamu mas. Tugasku melayani dirimu."


"Ini bukan berbicara tentang tugas Ella. Tapi ini menyangkut perut kita berdua selama satu bulan ini. Oke lah kamu bisa menggunakan uang yang kamu sisihkan itu makan di luar. Lalu aku bagaimana?" tanya Zico frustasi melihat keras kepalanya Karina.


"Ya usaha lebih keras lagi donk mas. Cari tambahan kerja di luar," jawab Karina cuek.


"Ternyata kamu wanita paling egois yang aku kenal Karina," gertak Zico marah. Tapi gertakannya tidak berpengaruh apa apa pada Karina. Wanita itu justru tenang duduk di depan meja rias dan mengambil cat pewarna kuku. Dengan santai Karina menyapukan cat pewarna kuku itu ke kuku kakinya.


"Kamu saja yang curang mas. Ketika Ella masih istrimu. Jatah untuk dia cukup untuk semua pengeluaran di rumah ini. Kenapa sekarang justru tidak cukup?. Jangan jangan benar kamu masih menyisihkan sebagian uang untuk jatah mantan istrimu itu."


"Itu karena ternyata Ella memakai uang pribadinya untuk pengeluaran rumah ini Ella. Ini lihat," kata Zico sambil mencampakkan buku pengeluaran yang baru diraihnya dari atas meja.


Buku itu tepat mengenai tangan Karina yang sedang memasukkan kuas cat pewarna kuku itu ke wadahnya. Wadah pewarna kuku itu terjatuh ke lantai dan isinya berceceran di lantai. Karina menatap Zico dengan tajam.

__ADS_1


"Aku tidak percaya mas. Apalagi melihat cara kamu kasar seperti ini kepadaku. Kamu pasti ingin merayu Ella dengan memberikan jatah juga bulan ini kan?"


"Diam kamu wanita kurang ajar. Aku tidak menyangka jika kamu ternyata sangat egois dan matreliastis. Mana uang yang kamu sisihkan itu. Tidak ada jatah bulanan kepada kamu kalau seperti ini sifat kamu Karina," kata Zico serius. Dia masih waras untuk tidak mati kelaparan atau meminjam lagi dari kantor sementara gajinya lumayan besar.


"Tidak mau mas. Ini milikku," jawab Karina sambil memegang saku dasternya. Zico tidak tinggal diam. Dia mendekat ke Karina dan langsung mendekap tubuh wanita itu. Bukan mendekap karena sayang tapi mendekap supaya dirinya bisa mengambil uang yang ada di saku daster milik Karina.


Karina berusaha mempertahankan uang itu. Dia memegang saku dasternya dengan erat berharap Zico tidak berhasil mengambilnya. Tapi ternyata tenaganya tidak sekuat tenaga Zico. Zico akhirnya berhasil mengambil uang itu.


"Kembalikan mas. Itu milikku," kata Karina dan masih berusaha meraih uang itu tapi Zico langsung memasukkan uang itu ke saku celananya.


"Ternyata benar ya Karina. Kamu bersedia menikah denganku karena jabatan aku sudah menjadi asisten manager kan?" tanya Zico sinis. Cinta yang pernah diagungkannya kepada Karina seakan lenyap mengetahui sifat asli istrinya itu.


"Itu tidak benar mas. Kamu yang bodoh. Kamu saja yang tidak berusaha membahagiakan istrimu sendiri," jawabnya kesal. Zico tertawa sinis mendengar perkataan Karina.


"Kamu benar Karina. Aku bodoh. Aku tidak berusaha membahagiakan istriku sendiri justru pernah membahagiakan wanita matre seperti kamu," jawab Zico lesu. Kata bahagia justru mengingatkan dirinya akan penderitaan yang dia torehkan kepada Ella selama menjadi istrinya.


"Apa kamu bilang matre?. Aku matre?. Lupa kamu mas. Siapa istrimu yang sesungguhnya?" tanya Karina marah. Dia tidak terima dikatakan matre karena dia merasa jika uang yang diterimanya dari Zico tidak sebanding dengan pelayanan tubuhnya.


"Memang kenyataannya seperti itu kan?" tanya Zico balik. Karina menatap Zico kesal. Dia menghempaskan tubuhnya kasar ke atas ranjang.


"Aku tidak menyangka kamu menilai aku serendah itu mas. Aku butuh uang untuk penampilan. Aku rasa sebagai istri seorang asisten manager. Tidak mungkin aku berpenampilan biasa saja. Aku juga ingin selalu tampik cantik untuk suamiku sendiri. Tapi kamu salah mengartikan niatku yang ingin membuat kamu bahagia."


Karina berbicara sangat lesu seolah-olah dirinya tersakiti dengan apa yang diperbuat Zico kepadanya hari ini.


"Aku tidak melarang kamu untuk belanja dan tampil cantik Karina. Tapi sesuaikan dulu dengan kebutuhan dasar kita di rumah. Mulai bulan ini kamu aku jatah segini," kata Zico sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus. Karina menerima uang itu dengan lesu. Dia menghitung uang itu yang hanya dua juta.


"Kok segini mas?" tanyanya terkejut. Uang dua juta itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya pribadinya selama satu bulan.


"Baiklah, sini uangnya semua. Aku akan mengelola uang itu seperti yang kamu," kata Karina lagi setelah menghitung dalam hati jika semua uang dia yang pegang. Sisanya pasti lebih dua juta.


"Itu kamu cukupkan untuk kebutuhan kamu satu bulan. Untuk yang lainnya biar aku yang kelola. Aku tidak mau kamu yang mengelola ujung-ujungnya nanti habis tak bersisa padahal masih pertengahan bulan. Lagi pula. Aku perlu menabung untuk mengganti uang Ella yang sudah masuk ketika merenovasi rumah ini."


"Aku tidak mau kalau hanya dua juta. Kalau begitu tambahin dua juta lagi," kata Karina lagi.


"Tidak. Kalau kamu tidak mau dua juta. Bulan depan sepeserpun tidak akan ada uang ke tanganmu," jawab Zico tegas.

__ADS_1


__ADS_2