
Bukan tanpa alasan pak Damar merestui hubungan Ella dengan Bima. Pada umumnya setiap orang tua menginginkan anak anaknya menemukan kebahagiaan lewat pasangan hidup. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Ella ketika menjadi istri Zico. Begitu juga dengan pak Damar, walau masih hitungan jam bertemu dengan Bima. Pak Damar bisa melihat Bima sebagai sosok pria yang baik dan bertanggung jawab.
Pak Damar bukannya menyetujui atau mendukung langkah Ella. Tapi pria itu juga menyebutkan jika Ella dan Bima tetap bersalah. Hanya saja pak Damar berpikir sekeras apapun dia marah. Tetap saja Ella dan Bima sudah sah menjadi suami istri. Pak Damar hanya berpesan kepada Ella supaya selalu melakukan hal yang terbaik dalam melaksanakan kewajibannya sebagai istri.
"Terima kasih banyak pak, ibu. Mohon maaf karena aku tidak datang ke hadapan bapak dan ibu untuk melamar Ella menjadi istriku," kata Bima sambil menunduk.
Kini Bima berada di rumah pribadinya. Dia langsung meluncur ke rumah ini setelah meeting dengan klien selesai setelah mendapat pesan dari Ella bahwa pak Damar dan Ibu Mawar mengetahui perihal pernikahan mereka.
"Semuanya sudah terjadi nak. Bapak memaafkan kalian. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan kepada kamu nak. Kamu mengetahui jelas bahwa kamu adalah yang kedua bagi putriku. Bapak hanya ingin kalian saling menghormati dan menghargai."
"Aku mengerti pak," jawab Bima. Dia mengerti maksud tersembunyi yang diutarakan mertuanya.
"Dan nanti ketika mengadakan resepsi pernikahan. Tanggal pernikahan sebaiknya dipalsukan saja," kata Ibu Mawar yamg sedari tadi diam. Dia sungguh menyesalkan langkah Ella dan Bima. Ibu Mawar tidak bisa membayangkan jika orang orang mengetahui jika Ella dan Bima menikah ketika status Ella masih istri Zico.
"Baik ibu," jawab Bima singkat.
Bima menjawab semua dengan jujur pertanyaan pak Damar dan Ibu Mawar menyangkut perasaannya terhadap Ella. Banyak pertanyaan yang diutarakan oleh kedua orang tua Ella. Sayangnya, mereka tidak bertanya tentang pekerjaan Bima. Bima juga tidak mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya karena takut dianggap menyombongkan diri. Sedangkan Pak Damar dan Ibu Mawar beranggapan jika Bima adalah pekerja kantoran biasa seperti Ella.
Hampir satu Minggu kedua orang tua Ella di kota itu dan menginap di rumah pribadi Bima. Hampir satu Minggu itu juga Bima menginap juga di rumahnya. Bima dan Pak Damar bisa cepat kompak dan terlihat nyambung di setiap pembicaraan.
Ibu Mawar juga memanjakan lidah putri dan menantunya dengan masakan andalannya. Sungguh Bima merasakan seperti berada di keluarga yang sesungguhnya. Ibu Mawar terlihat tulus memperlakukan dirinya dan Bima bisa merasakan hal itu. Sangat berbeda yang dirasakan jika berada di tengah tengah keluarga nya yang penuh kepura-puraan. Linna, sang ibu tiri yang pura pura menyayangi dirinya dan papa Yuda yang pura pura sibuk mengurus bisnis di luar rumah ternyata sibuk bersama para wanita wanita simpanannya.
__ADS_1
Bima sungguh merasakan kehangatan keluarga dari kedua orang tua Ella. Itulah sebabnya di meminta kedua mertuanya untuk tinggal di kota saja dan menempati rumah pribadinya. Bima juga berjanji akan memenuhi semua kebutuhan kedua mertuanya. Tapi pak Damar dan ibu Mawar menolak tegas permintaan Bima dengan alasan ternak dan lahan yang masih bisa mereka kelola di kampung. Ella juga tidak setuju dengan permintaan Bima itu. Bukan tidak ingin . membahagiakan kedua orangtuanya. Tapi menurut Ella terlalu cepat jika menerima semua kebaikan Bima padahal dirinya belum diperkenalkan kepada keluarga besar suaminya. Bagaimanapun Ella tidak ingin mendapat penilaian negatif dari keluarga Bima jika mengetahui pemberian Bima.
Hingga tiba waktu pak Damar dan ibu Mawar pulang ke kampungnya. Bima kembali menawarkan untuk mengantar kedua mertuanya. Tapi lagi lagi kedua mertuanya menolak. Pak Damar dan Ibu Mawar jelas mengetahui kesibukan menantunya. Satu Minggu tinggal bersama mereka bisa melihat Bima yang pulang hampir larut malam. Hal itu dikarenakan pekerjaan menumpuk yang dia tinggalkan selama bulan madu harus segera diselesaikan.
"Sayang, nanti aku tunggu di rumah papa ya. Ada supir yang akan menjemput kamu nanti. Aku ingin memperkenalkan kamu ke papa," kata Bima setelah mereka duduk berduaan di ruang tamu. Pak Damar dan Ibu Mawar baru saja berangkat. Kedua orang tua Ella itu tidak mengetahui jika mobil yang membawa mereka pulang ke kampung adalah salah satu koleksi mobil Bima beserta supir suruhannya.
"Kenapa tidak sama sama saja kita ke sana mas," tanya Ella heran.
"Aku masih ada kerjaan di kantor sayang. Kita ketemu di rumah papa. Dandan yang cantik nanti ya tapi jangan norak."
"Iya mas. Ini hari Sabtu. Bukan kantor kamu juga libur?.
"Iya. Tapi masih banyak kerjaan menumpuk karena aku tinggalkan saat kita bulan madu."
"Baiklah mas. Tapi ketika aku sampai di sana. Kamu juga sudah di sana ya. Aku malu jika duluan sampai nantinya," kata Ella manja dan menyandarkan kepalanya di dada Bima.
"Baiklah sayang. Di rumah papa ada kuda liar. Tidak mungkin aku membiarkan kamu duluan tiba di sana."
"Kuda liar?. Siapa yang memasukkan kuda liar ke rumah itu mas. Kenapa tidak dikembalikan saja ke kebun binatang?.
"Papaku yang memasukkan. Untuk mengembalikannya ke kebun binatang. Itu tugas kita berdua nantinya."
__ADS_1
"Baiklah mas. Aku tahu caranya mengikat tali ke leher kuda supaya bisa di tarik nantinya. Aku sudah terbiasa membuat seperti itu ke kambing ketika di kampung dulu."
"Oya?. Serius kamu sayang. Aku jadi tidak sabaran mengikat leher kuda liar itu. Bersamamu aku sangat yakin bisa mengeluarkan dari rumah."
Bima tersenyum geli melihat tanggapan polos Ella akan kuda liar yang dikatakan tadi.
"Sayang. By the way. Sudah satu Minggu kita libur loh."
"Libur satu Minggu?" tanya Ella heran.
"Iya. Libur olahraga ranjang," jawab Bima sambil memainkan tangannya di wajah Ella. Selama kedua orang tua Ella di rumah ini. Bima tidak menggarap istrinya. Bukan tidak ingin tapi Bima takut suara mereka saat bercinta akan kedengaran ke kamar mertuanya. Mereka sudah terbiasa bercinta dengan suara yang lepas. Dan sayangnya, kamar mereka belum kedap suara sehingga mereka libur olahraga ranjang selama satu Minggu ini.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?.
"Kan ada ibu dan bapak."
"Iya ya. Kalau begitu yuk. Aku akan memberikan double hari ini untuk kamu mas.
"Ah biasanya juga double. Lebih donk."
"Iya ya. Asalkan dengkul kamu tahan tidak apa apa."
__ADS_1
"Aku masih muda ya sayang. Jangan sembarangan kalau ngomong," jawab Bima tidak terima. Dia langsung mengangkat tubuh Ella menuju ranjang sambil tertawa. Ella semakin hari semakin membuat hidupnya berwarna.