Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 51


__ADS_3

Satu Minggu berlalu. Ella dan Bima tinggal di rumah papa Yuda. Hubungan Bima dan Ella juga terlihat semakin mesra. Papa Yuda merasa bahagia melihat putranya berbahagia. Tapi tidak dengan Linna. Wanita itu semakin membenci Bima dan Ella tanpa alasan. Hatinya sudah dibutakan oleh harta yang belum menjadi miliknya. Dia terus berusaha mencari celah untuk menghancurkan Bima dan Ella.


Bima tidak perduli dengan dengan rasa tidak suka yang ditunjukkan oleh Linna. Dia hanya ingin semua aset dan kepemilikan perusahaan berpindah ke atas namanya. Bukan karena rakus. Selain karena itu haknya. Bima juga ingin semua aset itu supaya aman.


Terkadang Bima ingin cepat cepat mengusir Linna dari rumah itu. Tapi Bima masih menghargai papa Yuda karena Linna masih sah istri papanya. Selain itu. Bima juga tidak mempunyai bukti atas kejahatan yang diperbuat oleh Linna. Andaikan dia punya bukti. Bima tidak akan segan segan menyeret wanita itu ke jeruji besi.


"Bima, bisa besok luangkan waktu kamu. Kita bertemu dengan pengacara papa besok pagi untuk mengurus semua aset atas nama papa ke namamu," kata papa Yuda. Pagi ini keluarga itu sedang sarapan bersama.


"Baik pa," jawab Bima singkat. Linna semakin gusar mendengar perkataan suaminya.


"Dan kamu Kiki. Jangan berkecil hati karena belum mendapatkan apa apa dari papa saat ini. Papa juga memikirkan kamu."


"Baik papa. Lagi pula aku sangat yakin jika kak Bima tidak akan membuat aku terlantar nantinya jika semua aset dan Perusahaan berganti kepemilikan menjadi atas nama kak Bima. Iya kan kak."


"Itu pasti Kiki. Yang terpenting sekarang kamu fokus ke studi kamu dulu ya. Jangan pikir yang lain dulu," kata Bima. Kiki mengangguk senang. Sedangkan Linna memaki Kiki dalam hati karena kebodohan putrinya itu. Tapi dia memilih diam karena satu Minggu ini dia selalu kalah telak jika berbicara Dey semua anggota keluarganya termasuk Ella.


"Dan kamu Ella. Apa kamu masih terus bekerja. Aku rasa kamu di rumah saja. Mengurus suami kamu sendiri. Tapi itu hanya saran nak," kata Papa Yuda ke Ella.


Ella menoleh ke Bima. Untuk berhenti bekerja tidak pernah terpikirkan olehnya. Tapi jika Bima meminta dirinya berhenti bekerja Ella juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.


"Biarkan dia bekerja pa. Tapi kalau dia hamil. Tidak ada bantahan. Dia harus tetap di rumah. Ella akan sangat bosan kalau harus berdiam di rumah."


Bima akhirnya menjawab pertanyaan papanya yang ditujukan kepada Ella. Bima masih mengingat dengan jelas ketika Ella tidak bekerja satu hari setelah mendapat buku nikah palsunya dengan Zico. Saat itu, Ella sangat merasa bosan.


"Terserah kalian berdua saja nak. Tapi ada baiknya jika Ella kamu pindahkan saja ke kantor pusat. Jadi kalian bisa berduaan terus," saran papa Yuda. Bima mengangguk setuju.


"Aku rasa ide papa ide yang sangat bagus sayang," kata Bima sambil menyentuh lengan istrinya.


"Terserah kamu mas. Tapi hari ini sebaiknya aku ke kantorku dulu," jawab Ella tidak kuasa menolak ide dari mertuanya. Hatinya sebenarnya sedih meninggalkan teman teman kantornya yang sekarang. Mereka sudah akrab dan tidak pernah ada perselisihan.


"Baiklah sayang. Aku rasa sudah waktunya kita berangkat. Aku akan mengantar kamu," kata Bima sambil meraih selembar tissue. Bima mengelap ujung bibirnya kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ella melakukan hal yang sama. Ella mengulurkan tangannya kepada papa mertua dan Linna sebelum meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


"Ini hari terakhir kamu bekerja di kantor itu. Aku akan menghubungi pak Andi untuk memudahkan kepindahan kamu," kata Bima setelah mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Kalau pak Andi curiga bagaimana mas?.


"Iya tidak apa apa. Kita suami istri sah. Tentang Zico kamu tidak perlu takut. Dia tidak mempunyai bukti kalau kalian pernah menikah," jawab Bima santai.


"Bisakah kita menyembunyikan pernikahan kita sampai resepsi pernikahan itu tiba mas. Aku tidak ingin dicap wanita murahan. Zico juga tidak akan tinggal diam jika mengetahui kita menikah sebelum kami bercerai," pinta Ella memohon.


"Bagaimana kalau Zico menyebarkan tentang pernyataan kita di kampung halamanku mas. Aku yakin kedua orangtuaku pasti tidak tahan menerima cacian akibat kelakuanku," kata Ella lagi untuk meyakinkan Bima menyembunyikan pernikahan mereka.


"Baiklah sayang. Kalau begitu kepindahan kamu ke kantor pusat akan melalui proses sebagaimana mestinya. Beberapa hari ini. Puas puaskan lah bersama teman teman kantormu," kata Bima setelah merasa masuk akal apa alasan Ella untuk masih tetap menyembunyikan pernikahan mereka.


"Terima kasih mas," jawab Ella manja dan memeluk tubuh Bima yang menyetir.


***


Sore hari setelah Ella melangkahkan kakinya keluar dari kantor. Ella terkejut melihat Zico yang sudah berdiri di samping mobil di parkiran. Ella ingin menghindar dengan masuk kembali ke dalam gedung kantor. Tapi Zico yang melihat Ella yang sudah keluar tidak membuang kesempatan itu. Zico berlari mendekat ke Ella dan langsung menangkap tangan mantan istrinya itu.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi mas. Diantara kita tidak ada apa apa lagi."


"Aku tahu. Tapi aku mohon sekali ini saja. Apa kamu ingin melihat kita tontonan disini?" tanya Zico. Ella mengedarkan pandangan. Dan benar saja. Rekan rekannya terlihat memperhatikan mereka berdua.


"Baiklah di kafe seberang," jawab Ella akhirnya. Mereka melangkah bersama menuju kafe seberang kantor Ella. Ella sengaja menjaga jarak dari Zico ketika mereka berjalan dan bahkan ketika mereka menyeberang. Mereka bagaikan dua orang asing yang tidak saling kenal padahal berjalan bersama.


"Apa yang kamu bicarakan mas. Aku tidak punya waktu banyak," kata Ella dingin.


"Sebelumnya aku minta maaf Ella atas semua kesalahan yang aku perbuat yang menyakiti hatimu. Sungguh aku menyesal sekarang," kata Zico. Penyesalan jelas terlihat di wajahnya.


"Sudahlah mas. Jangan diungkit lagi. Yang berlalu biarlah berlalu."


"Ella, aku mohon. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Aku sudah menyakiti kamu begitu dalam. Aku tidak ingin melihat kamu tersakiti oleh pria lain."

__ADS_1


Ella mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Zico.


"Maksud kamu apa mas?" tanya Ella bingung.


"Sebelum kemari. Aku tadi menemani atasanku bertemu klien di sebuah restoran. Aku melihat pria yang datang bersama kamu ketika perceraian kita."


"Terus?.


"Kamu lihat video yang baru saja aku kirim ke nomor kamu," kata Zico. Ella cepat cepat merogoh ponselnya dari dalam tas dan langsung membuka kunci ponsel itu.


Ella membuka pesan video yang dikatakan Zico tadi.


"Dia ternyata bukan pria baik baik Ella. Jika dia kekasihmu tidak mungkin dia bermesraan dengan wanita lain seperti itu. Kembalilah kepada aku Ella. Aku berjanji akan membahagiakan kamu," kata Zico lagi.


Ella menarik nafas panjangnya. Dia menyembunyikan perasaannya yang yang tidak baik baik saja saat ini di hadapan Zico. Di video tadi Ella melihat suaminya sedang mengusap kepala seorang wanita belia sambil tersenyum. Di depan mereka ada juga seorang wanita tua yang tersenyum melihat interaksi Bima dan wanita itu.


"Aku tidak apa apa melihat Kekasihku seperti ini mas. Melihat kamu saja berhubungan suami istri di depan mataku. Aku bisa santai apalagi kalau hanya melihat hal seperti ini. Mereka tidak melakukan hal di luar batas. Jadi untuk apa aku harus cemburu atau sakit hati. Bisa saja wanita biru saudara sepupunya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk berpikiran negatif. Sampai kapan aku tidak kembali lagi kepadamu mas. Apalagi jika berumahtangga berpoligami," tolak Ella mentah mentah.


"Aku akan menceraikan Karina demi kamu Ella. Kita awali hubungan kita dengan berdua saja," bujuk Zico tidak menyerah. Ella tertawa mendengar perkataan mantan suaminya.


"Semudah itu kamu mempermainkan pernikahan mas. Tidak ada alasan kita untuk kembali. Kamu hanya memberikan kenangan pahit bagiku. Aku adalah wanita terbodoh jika aku kembali kepadamu mas. Jadi berhenti berharap," jawab Ella tegas.


"Tapi aku tidak akan berhenti berharap kamu kembali kepadaku Ella. Aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk mendapatkan kamu."


"Terserah kamu mas. Tapi mau berubah menjadi apapun kamu. Aku tidak akan pernah kembali lagi kepadamu. Titik," kata Ella tegas. Dia langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Zico sendirian.


Zico masih tertunduk lesu di bangkunya. Rencananya untuk membujuk Ella kembali ternyata tidak mudah. Tadi, ketika melihat pria yang diduganya kekasih Ella bersama dengan wanita itu di restoran. Zico mengira jika dengan mengambil video pria itu akan mempermudah rencananya. Ternyata apa yang di pikirannya tidak segampang yang di hadapi saat ini.


Zico melayangkan pandangannya ke arah luar kafe. Dia bisa melihat Ella yang sedang masuk ke dalam mobil. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Sepanjang pernikahan mereka. Ella bisa dihitung jari duduk di mobil kebanggaannya.


Tidak ingin pulang cepat ke rumah karena malas menghadapi istrinya Karina. Akhirnya Zico memesan minuman dan makanan. Dia sangat yakin jika pulang cepat ke rumah pun. Tidak ada gunanya. Tidak ada makanan yang terhidang sebagaimana dulu Ella masih istrinya.

__ADS_1


Cukup lama Zico duduk menyendiri di Kafe itu. Ternyata setelah bercerai dengan Ella, hidupnya tidak langsung bahagia sebagaimana dulu perkiraannya. Yang ada Zico merasa hidupnya seperti berantakan. Karina yang dibanggakan selama ini di hadapan Ella ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Sebelum memutuskan hidup berumah tangga dengan Karina. Zico mengira jika Karina bisa menjadi istri yang bisa memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai istri. Tapi perkiraannya salah. Karina ternyata tidak bisa memasak dan tidak berusaha untuk pintar memasak.


__ADS_2