Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 37


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Bima kepada Ella.


"Sudah mas," jawab Ella singkat sambil menunjuk bekal di tangannya. Mereka akan pergi ke rumah Zico saat ini. Dan bekal itu adalah masakan terakhir dari Ella untuk Zico. Dia sudah meminta ijin untuk membawa bekal itu kepada Bima. Bima mengijinkan dan ternyata hal itu menambah nilai plus bagi Bima akan Ella. Bima mengagumi istrinya dalam hati tenang sebuah kewajiban seorang istri. Sebenarnya Bima tidak rela, tapi mengingat ini masakan terakhir untuk Zico dari Ella akhirnya Bima mengijinkan dengan terpaksa.


Sepanjang perjalanan sepasang suami istri itu tidak mengeluarkan suara. Mereka berdua sibuk berkelana dengan pikiran masih. Ella yang terus memikirkannya kemungkinan terburuk jika kedua orangtuanya mengetahui perpisahannya dengan Zico. Sedangkan Bima fokus menyetir dan memikirkan cara-cara terakhir jika Zico tidak bersedia menceraikan Ella malam ini.


"Kenapa diam sayang?" tanya Bima akhirnya.


"Aku memikirkan kedua orangtuaku dan kedua orangtuanya Zico. Mereka pasti sangat kecewa nantinya," jawab Ella setelah setelah menarik nafas panjang.


"Semua pasti baik baik saja sayang. Zico bukan jodohmu. Akulah jodohmu yang sesungguhnya," jawab Bima. Tangannya kirinya terulur menggapai tangan kanan Ella. Bima menggenggam tangan itu sangat erat untuk memberikan semangat kepada istrinya.


"Terima kasih mas," kata Ella sambil menatap suaminya. Disaat bersamaan Bima juga menoleh ke Ella sehingga tatapan mereka bertemu. Bima kembali fokus menatap jalanan setelah mendengar bunyi klakson kendaraan lain. Sedangkan Ella menarik tangannya dari genggaman Bima. Dia tidak ingin genggaman tangan Bima ditangannya membuat suaminya terganggu menyetir.


"Nanti di depan belok kiri yang mas," kata Ella mengarahkan jalan menuju rumah Zico.


"Siap sayangku," jawab Bima tanpa menoleh. Ella menyunggingkan senyum mendengar jawaban dari suaminya. Bersama Bima, Ella merasakan arti sebuah pernikahan yang sesungguhnya. Sedangkan bersama Zico. Ella hanya merasakan kehampaan.


"Kita masuk gang lagi mas. Di depan sana," kata Ella lagi setelah mobil Bima sudah berbelok ke kiri sesuai arahan Ella.


"Oke sayang."


Mobil Bima akhirnya berbelok memasuki gang yang dimaksudkan oleh Ella.


"Rumah Zico yang pagar hitam mas," tunjuk Ella lagi. Bima mengangguk. Hanya beberapa detik kemudian mobil Bima sudah berhenti di depan rumah Zico.


Ella kembali menarik nafas panjang. Perasaannya campur aduk saat ini. Tidak ada perasaan takut berpisah dari Zico. Tapi Ella juga tidak bisa mengartikan perasaan apa yang hingga di hatinya saat ini. Sedangkan Bima memperhatikan rumah sederhana berlantai dua itu. Dia menggelengkan kepalanya mengingat suami Ella yang berani berpoligami padahal hidup sederhana dan rumah masih kredit.


"Mari kita turun sayang," ajak Bima sambil menyentuh lengan Ella.


"Kamu sedih membayangkan berpisah dengannya," tanya Bima lagi ketik melihat Ella agak berat untuk turun dari mobil.


"Tidak mas. Justru perceraian ini yang aku inginkan sejak mas Zico meminta ijin menikah kembali. Yuk, turun," ajak Ella akhirnya sambil membuka pintu mobil. Bima tersenyum dan juga membuka pintu mobil. Bima sengaja membiarkan Ella berjalan lebih dulu ke halaman rumah.


Beberapa saat kemudian. Zico berjalan cepat menuju pintu dengan senang. Dia sangat yakin jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Ella. Membayangkan makan malam dengan masakan Ella membuat perutnya semakin keroncongan. Dua jam yang lalu Ella sudah mengirim pesan kepadanya bahwa Ella akan pulang dan mengatakan akan membawa makanan.


Mendengar suara Ella yang memanggil dirinya membuat Zico setengah berlari dari tangga dasar menuju pintu. Dia membuka pintu dan tersenyum melihat Ella beserta wadah yang ada di tangan Ella. Tangannya terulur menerima bekal makanan itu. Zico semakin yakin jika Ella pergi dari rumah karena tidak tahan melihat dirinya dan Karina bermesraan di sembarang tempat di rumah itu. Dia berjanji dalam hati untuk menjaga perasaan Ella di hari hari berikutnya.


Tetapi pria yang berjalan menuju mereka membuat Zico mengernyitkan keningnya. Dia seperti pernah berjumpa dengan pria itu tapi Zico belum bisa mengingat kapan dan dimana dia bertemu pria itu.


"Siapa dia Ella," tanya Zico tidak senang. Ella berbalik menoleh ke Bima yang semakin mendekat ke pintu.

__ADS_1


"Masuk dulu mas. Nanti aku kenalkan dengannya," kata Ella sambil mendorong pelan tubuh Zico. Zico merasakan darahnya mengalir deras merasakan sentuhan Ella. Setelah sekian lama. Mereka baru bersentuhan fisik seperti ini. Aroma tubuh Ella yang lembut memanjakan indera penciumannya. Zico akhirnya berbalik menuju ruang tamu. Sedangkan Ella harus menghentikan langkahnya karena terpaksa.


"Kenapa kamu menyentuhnya?" kata Bima pelan hampir tidak terdengar sambil menahan tangan Ella supaya tidak melangkah mengikuti langkah Zico. Bima merasa tidak senang hanya karena Ella mendorong tubuh Zico.


"Sorry sayang. Aku refleks tadi. Ini yang terakhir. Please," jawab Ella juga pelan. Dia menangkupkan kedua tangannya di dadanya karena melihat tatapan tajam suaminya. Matanya langsung mengarah ke ruang tamu melihat Zico yang sudah duduk di sana memperhatikan interaksi dirinya dan Bima.


Bima tersenyum mendengarnya kata sayang itu. Dia merasa menjadi pemenang karena Ella memanggilnya dengan sayang di rumah Zico walaupun Ella menyebutnya dengan pelan. Bima menarik tangan Ella menuju ruang tamu. Zico yang duduk di sana merasakan darahnya mendidih melihat pegangan tangan Bima di pergelangan tangan Ella.


Zico merapatkan giginya karena tidak terima dengan perlakuan Bima terhadap istri pertamanya. Tapi Zico berusaha menahan amarahnya itu supaya Ella tidak semakin menjauh dari dirinya.


"Kenapa kamu memegang tangan istriku?" tanya Zico marah dan langsung berdiri. Akhirnya dia tidak bisa lagi menahan amarahnya karena genggaman tangan Bima masih di tangan Ella.


"Karena aku Abangnya. Apa aku salah memegang tangan adik tercintaku?" jawab Bima tenang dan tidak terpengaruh dengan amarah yang ditunjukkan oleh Zico.


Ella spontan tertawa mendengar perkataan Bima. Bima tidak terpancing sama sekali dengan amarah Zico. Bahkan dengan tenang dia membantu Ella duduk di sofa dan kemudian Bima juga duduk di sebelah Ella. Posisi mereka duduk berhadapan dengan Zico. Zico belum juga mengingat Bima. Zico tidak begitu memperhatikan Bima kemarin pagi ketika bertemu dengan pria itu di depan kantor Ella.


Sebenarnya ketika Bima datang menganggu pembicaraannya dengan Ella kemarin. Zico ternyata fokus memperhatikan wajah Ella dan penampilan barunya. Tidak munafik, Zico juga menyukai semua yang ada dalam diri Ella saat ini. Zico hanya takut jika ada pria lain yang melirik istrinya kemudian meninggalkan dirinya. Dia tidak sadar jika Ella bukan hanya sekedar dilirik lagi. Tapi istrinya itu sudah menjadi istri dari pria lain yang jauh memperlakukan Ella dengan baik dibandingkan dengan dirinya.


"Kenapa tertawa. Apa aku salah menyebut kamu sebagai adik tercintaku?" tanya Bima sambil menoleh ke Ella. Ella menggelengkan kepalanya.


"Tidak sa.. eh mas," jawab Ella hampir keceplosan. Dia juga menoleh ke Bima ketika mengatakan itu.


"Apa kamu lupa status kamu Ella. Kamu istriku tapi kamu duduk berdekatan dengan dia," bentak Zico marah.


"Tidak lupa mas. Dia Abang aku. Aku rasa tidak masalah jika hanya duduk berdekatan seperti ini," kata Ella tenang. Bima mengelus lengan Ella mendengar jawaban istrinya itu.


"Bahkan sebelum kemari kami berolahraga. Aku rasa tidak masalah adik manis. Tetap saja duduk disini," kata Bima sambil memegang tangan Ella. Ella kembali tertawa. Dia mengerti arti akan olahraga raga yang dimaksudkan suaminya. Satu harian menghabiskan waktu bersama mereka bercinta tiga kali bagaikan makan obat.


"Jelaskan Ella. Maksud dari perkataan dia yang menyebutkan dia sebagai Abang kamu," kata Zico marah. Sungguh dia tidak tahan melihat interaksi Ella dan Bima yang terlihat mesra.


Menjelaskan?. Apa yang harus aku jelaskan. Kamu sudah mendengar sendiri bahwa aku adik tercintanya."


"Tapi yang aku lihat ada hal yang lain yang kalian sembunyikan."


Zico bisa melihat jika hubungan Ella dan Bima lebih dari sekedar hubungan Abang adik. Walaupun seandainya mereka sepupu. Zico bisa melihat jika Bima menatap Ella dengan penuh cinta.


"Terserah kamu mau berkata apa mas. Yang jelas aku juga butuh penjelasan dengan ini," kata Ella sambil meletakkan dengan kasar kertas fotocopy buku palsu pernikahan mereka.


Zico mengulurkan tangannya sambil menatap Ella yang juga menatapnya dengan tajam. Zico membaca kertas tersebut dan seketika itu juga rona wajahnya berubah. Zico mengusap wajahnya kasar karena merasa dirinya kecolongan.


"Darimana kamu dapat ini?" tanya Zico bingung bercampur rasa takut. Ini adalah fotocopy buku palsu yang dia simpan. Jika fotocopynya ada sama Ella berarti asli juga ada sama Ella. Memikirkan keberadaan buku nikah palsu itu. Zico menjadi gelisah dan keringat bercucuran dari keningnya. Zico sadar jika perbuatannya itu bisa dikenakan pasal.

__ADS_1


"Tidak penting kamu tahu darimana aku dapat itu. Yang jelas kamu pembohong, penipu Zico. Kamu pria brengsek yang pernah aku kenal. Sekarang ceraikan aku mas. Tega teganya kamu membohongi kedua orang tua kita dengan pernikahan palsu ini. Kalau seandainya kamu tidak ingin menikahi aku dulu kenapa harus menerima perjodohan itu dan sampai memalsukan buku nikah seperti ini. Talak aku sekarang mas," kata Ella juga marah. Bima mengelus lengan wanita itu untuk meredam kemarahannya.


"Ella."


"Aku sudah mengetahui jika buku nikah itu palsu. Jadi ceraikan aku sekarang Zico," teriak Ella lagi.


"Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu sampai kapanpun. Kamu akan tetap istriku. Kamu yang akan melahirkan anak untuk aku kelak. Maafkan aku Ella. Aku akan berubah dan memperlakukan kamu dengan baik dan menjaga perasaan kamu. Aku bisa mendaftarkan pernikahan kita secepatnya jika itu yang kamu inginkan."


Brakk. Bima menggebrak meja karena marah.


"Jangan sembarang kamu bicara. Setelah kamu memberikan penderitaan kepadanya. Kamu tidak ingin menceraikannya. Dimana otak kamu?.


Bima tidak bisa menahan untuk tidak berbicara mendengar semua perkataan Zico. Bima merasakan amarahnya meledak karena Zico mengatakan tidak akan menceraikan Ella sampai kapanpun. Dia yang menanam benih kehidupan di rahim Ella. Dan hanya anak anaknya yang akan dilahirkan oleh Ella kelak.


"Jangan ikut campur kamu. Kamu orang lain dalam hubungan kami walau kamu mengatakan Ella adalah adik tercintamu," jawab Zico tidak kalah sengit. Aura permusuhan sudah jelas terlihat di wajah kedua suami Ella itu.


"Apapun yang berkaitan dengan hidup Ella. Itu berhubungan dengan aku. Jadi ceraikan dia sekarang. Kalau tidak kamu bisa kami dilaporkan ke polisi karena pemalsuan buku nikah."


"Laporkan saja. Besok aku bisa mendaftar pernikahan kami supaya buku nikah palsu itu tidak berlaku lagi," tantang Zico berani. Dia tidak tahu melawan Bima sama dengan menggali kuburan sendiri.


"Brengsek kamu," kata Bima sambil berdiri hendak menonjok wajah Zico. Tapi Ella cepat menarik tangan Bima supaya duduk kembali. Ella tidak ingin ada perkelahian secara fisik. Itu berbahaya untuk statusnya yang mempunyai dua suami. Lagi lagi Zico terbakar cemburu melihat hal itu. Dia memalingkan wajahnya karena marah melihat Ella yang begitu perduli kepada Bima.


"Mas Zico, jangan seperti ini. Kamu sudah punya Karina. Tolong lepaskan aku. Kamu sangat mencintainya. Jangan sakiti dia dengan menahan aku tetap jadi istrimu," kata Ella melunak. Dia berusaha mempengaruhi Zico dengan mengingatkan Zico akan cintanya terhadap Karina.


Tapi ternyata justru itu yang membuat Zico semakin merasa bersalah terhadap Ella. Dia mengingat dengan jelas bagaimana dia memperlakukan Ella dan Karina yang sangat jauh berbeda. Hatinya berdenyut nyeri mengingat Ella yang terkadang dia lihat menangis diam diam selama pernikahan mereka dan selama kehadiran Karina di rumah ini.


"Ella, maafkan aku. Kita awali dari awal. Aku akan menerima kamu apa adanya jika sudah terlanjur mengkhianati pernikahan kita."


Ella tertawa mendengar permintaan maaf suami pertamanya. Permintaan maaf yang sudah sangat terlambat dan tidak mungkin termaafkan. Walaupun hatinya memaafkan Zico tapi tidak mungkin baginya menerima permintaan Zico untuk mengawali dari awal. Dia juga sudah melangkah terlalu jauh dengan menikah dengan Bima. Bima semakin menatap Zico dengan tajam. Tangannya sudah sangat gatal untuk mendarat di wajah Zico. Tapi Bima berusaha menghargai Ella istrinya dengan tidak mengandalkan kemarahan.


"Tidak ada lagi kesempatan bagi kita untuk mengawali dari awal mas. Semuanya sudah berubah dan kamu yang mengawali perubahan itu. Aku tidak ingin lagi menjadi istri kamu. Kedatangan aku kemari untuk yang terakhir kalinya dan mengingatkan kamu jika uang aku juga sudah masuk untuk memperbaiki rumah ini sebanyak 30 juta rupiah. Aku harap secepatnya kamu membayarnya," kata Ella kembali tenang.


Ella sengaja mengingatkan uangnya yang terpakai untuk memperbaiki rumah dengan menambah lantai dua rumah itu. Dia tidak menyangka sebelumnya jika keinginan Zico untuk menambah lantai dua karena sudah berencana berpoligami. Ternyata Zico membuat areanya sendiri bersama istri baru di lantai dua. Dan area Ella di lantai satu. Karena setelah perbaikan rumah itu selesai. Zico langsung memaksa Ella untuk mengijinkan berpoligami. Selain itu Ella juga ingin mengingatkan Zico bahwa dirinya bukan sekedar benalu di rumah ini. Banyak uang pribadi masuk ke pengeluaran rumah tangga tanpa sepengetahuan Zico.


"Tapi aku tetap pada pendirian aku Ella. Aku tidak akan menceraikan kamu."


"Ceraikan dia mas. Apa yang kamu tunggu. Wanita murahan ini sudah membawa pria hidung belang ke rumah. Seharusnya kamu cepat cepat menceraikan dia."


Karina berkata sambil berjalan ke arah sofa. Dia mendengar pembinaan Ella dan Zico sejak kakinya menginjak tangga teratas. Dia tidak menyadari siapa yang duduk di samping Ella.


"Tu..tuan Bima," cicit Karina pelan setelah Bima menoleh dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2