
Hari ke sembilan Ella dan rombongannya berada di kampung halaman. Tepatnya hari Minggu. Hari ini Bima kembali dijadwalkan ditangani oleh pak Cipto. Sebenarnya hari Minggu adalah hari libur bagi pak Cipto berhenti dari rutinitasnya mengobati orang sakit. Tapi tidak hari ini. Demi atasan putranya yaitu Bima. Pak Cipto bersedia meluangkan waktu untuk mengobati Bima.
Tapi sepertinya hari ini tidak hanya perlakuan khususnya yang diberikan oleh pak Cipto kepada Bima. Pria tua itu yang terkenal baik dan ramah sudah menyiapkan sesuatu untuk Bima dan rombongannya. Setelah melakukan pemijatan di tubuh Bima. Pak Cipto mengajak Ella dan yang lainnya duduk di pekarangan rumah di bawah pohon mangga yang sangat rindang.
Bu Marni menggelar tikar karakter untuk tempat duduk mereka. Dua wanita yang merupakan tetangga pak Cipto terlihat sibuk melayani Ella dan lainnya.
"Ini makanan kesukaan Ella. Ibu sengaja membuatnya sebelum kalian kembali ke kota. Setelah pak Bima sembuh. Belum tentu Ella dan Zico pulang kampung dalam beberapa bulan ini," kata ibu Marni mengawali pembicaraan sebelum mereka makan siang.
"Maaf semuanya. Kalau kami berdua menjamu makan siang dengan kalian di tempat ini. Setiap pulang ke kampung. Zico senang bersantai di tempat ini. Dan bahkan sering menikmati makan siang di tempat ini," kata pak Cipto menimpali perkataan istrinya.
Zico tiba tiba batuk mendengar perkataan pak Cipto. Apa yang dikatakan oleh pak Cipto adalah hal benar. Zico melakukan itu semua untuk menghindar dari Ella. Hari ini, pak Cipto mengingatkan dirinya akan kesalahan masa lalu yang disadarinya setelah berpisah dari Ella.
"Sebaiknya kita langsung mengeksekusi makanan ini dengan segera. Kalian akan makan lebih banyak dari biasanya setelah merasakan tiupan angin segar pedesaan ini," kata Zico untuk mengalihkan pembicaraan.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Zico. Pergerakan angin yang melambai lewat dedaunan menambah selera makan Ella, mama Maya, Ester dan Bima bertambah. Mereka sampai menambah porsi makan dari biasanya.
Bima menyunggingkan senyum melihat Ella yang makan dengan lahap. Tapi baru saja piringnya tak bersisa makanan. Ella merasakan perutnya bergejolak ingin mengeluarkan semua apa yang dia makan barusan.
"Kamu kenapa nak?" tanya ibu Marni yang bisa melihat pergerakan Ella yang menahan untuk tidak muntah. Bima juga langsung menggerakkan lehernya untuk meneliti keadaan Ella.
"Aku mual Bu," jawab Ella tanpa berpikir panjang. Dia lupa jika mereka berada di kediaman mantan mertuanya.
"Kamu mual. Jangan jangan kamu hamil?" tanya ibu Marni dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
"Hamil?. Bukankah ibu hamil itu merasakan mual hanya di pagi hari saja?" kata Ella setelah tersadar dengan apa yang dikatakannya tadi membuat ibu Marni menebak dan ternyata memang dirinya hamil. Bukan tidak ingin membagi kebahagiaannya kepada sang mantan mertua. Tapi Ella tidak ingin melihat kedua mantan mertuanya kecewa dengan kenyataan tentang dirinya dan Zico.
"Ada sebagian ibu hamil yang mual sepanjang hari tidak hanya di pagi hari saja. Ibu saat mengandung suami kamu itu mulai satu bulan pertama hamil sampai enam bulan merasakan mual. Ini kesukaan ibu ketika mengandung suamimu," jawab ibu Marni sambil berdiri dan menjangkau buah mangga muda. Dia memetik buah mangga itu satu biji kemudian mencuci dengan air minum.
Mama Maya dan Bima saling berpandangan sedangkan Zico menundukkan kepalanya. Entah bagaimana dirinya memberitahukan tentang perceraian itu. Situasinya sangat rumit saat ini apalagi ada Bima dan mama Maya. Sebelum memutuskan membawa Bima berobat ke papanya. Zico dan papa Yuda sudah membuat rencana akan memberitahukan semua kepada kedua orangtuanya tentang rumah tangganya bersama Ella dan alasan perceraian itu.
Zico memejamkan matanya menyadari kerumitan itu akibat kesalahan sendiri. Andaikan Ella tidak hamil dan Bima bukan pasien pak Cipto. Zico bisa mengakui perceraian itu. Zico hanya berharap di dalam hatinya supaya perceraian Ella dan dirinya tidak terbongkar disaat Bima masih menjalani pengobatan.
"Mau mencobanya?" tanya ibu Marni sambil menyodorkan mangga muda itu.
"Maaf Bu. Gigiku akan ngilu bila menggigit mangga muda ini," tolak Ella halus. Sebenarnya sejak kedatangan mereka pertama kali ke rumah itu. Ella sudah merasakan ngiler ingin mencicipi buah mangga muda itu. Tapi Ella sengaja menahan keinginan yang kuat itu supaya kedua mantan mertuanya tidak mengetahui dirinya sedang hamil.
Zico menarik nafas lega mendengar jawaban Ella. Zico berharap jawaban itu bisa menyembunyikan kehamilan Ella saat ini. Sedangkan Bima memandang wajah istrinya tidak berkedip. Sebagai suami, Bima bisa melihat keinginan istrinya akan mangga muda itu. Dia sadar jika penolakan Ella akan mangga muda itu untuk menyembunyikan kehamilannya dan tentu saja demi kelancaran pengobatannya.
Beberapa jam yang lalu sebelum mereka ke rumah ini. Bima mendengar percakapan antara Ella dan Ibu Mawar. Ella memperingatkan kepada ibu Mawar untuk tidak memberitakan kehamilan kepada siapapun di kampung itu. Ella takut kehamilan itu terdengar kepada kedua mantan mertuanya yang membuat mereka bahagia tapi akhirnya harus kecewa atau marah karena mengetahui jika janin itu bukan cucu mereka.
Ella, Bima dan Zico berkutat dengan pikiran mereka sendiri untuk menyembunyikan kehamilan itu. Tapi ternyata apa yang ada di pikiran mereka tidak sejalan dengan kenyataan saat itu. Seseorang sudah memanggil nama Zico dari arah gerbang.
Semua mata langsung menoleh ke arah suara itu. Zico, Ella, mama Maya dan Bima sangat terkejut dengan kedatangan wanita iblis itu. Sedangkan kedua orang tua Zico dan Ester hanya bersikap biasa karena mereka belum mengenal wanita tersebut.
"Karina," gumam Ella pelan dan terlihat rasa takut di wajahnya.
Zico langsung berdiri dari duduknya dan setengah berlari menuju gerbang. Rasa marah dan takut jelas terlihat di wajahnya. Zico bahkan mengepalkan kedua telapak tangannya meluapkan rasa marah yang tidak mungkin dia lampiaskan saat ini.
__ADS_1
"Hai mas," sapa Karina dengan senyuman yang sangat manis tapi matanya melirik ke arah Ella dan yang lainnya.
"Untuk apa kamu kemari?" jawab Zico dengan kilatan marah yang jelas terlihat di kedua bola matanya. Zico keluar dari gerbang dan menarik tangan Karina menjauh dari gerbang tersebut.
"Bima dan Ella ternyata disini. Aku kira kamu berbohong dengan apa yang kamu katakan di telepon kemarin. Boleh aku masuk dulu mas?. Aku ingin memperkenalkan diri kepada kedua mertuaku," kata Karina tenang.
"Apa mau kamu Karina. Kita sudah bercerai," kata Zico pelan.
"Kita memang sudah bercerai mas. Tapi tidak tertutup kemungkinan kita untuk rujuk."
"Aku tidak bersedia lagi rujuk dengan kamu wanita sialan."
"Kalau begitu, aku akan masuk ke rumah kamu Bagaimanapun caranya. Aku akan membocorkan semua yang terjadi termasuk Poligami yang pernah terjadi diantara kita. Bisa kamu bayangkan jika kedua orang tua kamu mengetahui siapa sebenarnya Bima yang sedang diobati oleh bapak kamu. Aku sangat yakin, jika kamu sudah ditawari oleh pak Yuda bekerja di perusahaannya. Dan kamu dapat membayangkan jika terjadi kekacauan di sini. Papa Yuda pasti tidak akan jadi memperkerjakan kamu."
"Karina, tolong jangan lakukan itu. Aku hanya ingin melihat Ella bahagia dengan keluarganya."
"Kalau begitu, biarkan aku bahagia dengan kembali menjadi istrimu."
"Karina..."
"Pikirkan matang matang mas. Ella bisa saja disalahkan dengan perceraian kalian oleh kedua orang tua kamu. Dia sedang hamil muda kan. Wanita yang hamil muda itu tidak boleh stress. Bagaimana jadinya jika pengobatan pak Bima tidak dilanjutkan dan bahkan Ella mendapat cacian atas perceraian kalian," kata Karina tenang.
"Baiklah. Aku akan pikirkan tentang keinginan rujuk kamu itu. Tapi untuk saat ini. Pergilah dari kampung ini."
__ADS_1
"Aku mau jawabannya sekarang mas. Jika kamu bersedia rujuk denganku maka aku akan menunggu kamu pulang di rumah kita. Jika tidak aku akan tetap masuk ke rumah orang tua kamu," ancam Karina tidak main main.
"Baiklah. Kita rujuk," jawab Zico lesu seperti tidak berdaya. Dia terpaksa mengambil keputusan itu karena Zico tidak ingin pengorbanan kepada Bima dan Ella setengah setengah. Zico mengetahui sifat bapaknya. Pengobatan itu bisa dihentikan jika Karina berhasil mengeluarkan kata kata yang memojokkannya Ella dan Bima nantinya. Zico tidak ingin itu terjadi.