
Zico memandangi bekal makanan itu tanpa berniat membukanya. Selera makan yang awalnya membuat perut ingin segera diisi telah buyar setelah perceraiannya dengan Ella. Dia tidak menyangka Ella menyerah mempertahankan rumah tangga mereka setelah bisa melewati dua tahun lebih pernikahan.
Sebenarnya, Sebelum hari ini. Zico sudah menyadari jika dirinya telah bersalah kepada Ella. Hanya saja, Zico tidak mempunyai celah untuk memperbaiki kesalahan itu karena sejak Karina menjadi istri keduanya, Ella berubah menjadi sosok yang ketus dan hilang kelembutannya. Sangat berbeda bila dibandingkan sebelum Karina di rumah ini. Ella melayaninya dengan baik. Bukan hanya melayani di meja makan. Ella juga tidak segan segan sampai menyemir sepatu Zico setiap pagi. Menyediakan baju kerjanya setiap pagi walau mereka berbeda kamar.
"Ella," desis Zico pelan. Hanya menyebut nama wanita itu hatinya sedikit merasa tenang. Tetapi setelah mengingat jika dirinya bukan suami Ella lagi. Pria itu memukul kepalanya sendiri.
"Bodoh. Bodoh," kata Zico pada dirinya sendiri. Dia benar-benar menyadari semua kebodohannya. Andaikan dia mengikat Ella dengan menikah resmi mungkin proses perceraian tidak semudah ini. Perlu butuh proses yang harus dilalui sebelum hakim mengetuk palu. Tapi ternyata justru kebodohan lah yang menyebabkan dirinya mudah bercerai dari Ella.
Zico kembali termenung. Mengingat perjalanan rumah tangga bersama Ella selama ini. Zico merasakan hatinya sangat sakit ketika mengingat semua perlakuan sinis dan bahkan terkadang membentak Ella.
"Ella. Maafkan aku," kata Zico lagi sambil menelungkupkan kepalanya ke meja makan. Di saat dirinya ingin memperbaiki semua kesalahannya, ternyata Ella memilih menjauh bahkan bercerai darinya.
Zico kemudian membuka lembar demi lembar buku yang diberikan Ella kepadanya. Jumlah uang yang diberikan kepada Ella setiap bulan ternyata tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Hal itu terlihat dari jatah bulanan yang dituliskan Ella di buku itu sangat berbeda dengan total jumlah pengeluaran setiap bulan. Dan Zico masih ingat betul jumlah uang yang diberikan setiap bulan kepada Ella.
"Kamu bukan benalu Ella. Maafkan aku," kata Zico lagi dengan terisak. Setelah melihat buku itu. Zico baru sadar jika Ella sebenarnya menanggung makannya sendiri di rumah ini. Pembicaraan tentang benalu di ruang makan itu terlintas di otaknya. Zico merasakan dadanya semakin sesak bagaimana Ella menahan air matanya supaya tidak jatuh kala itu.
Penyesalan karena mengabaikan Ella wanita mandiri dan tidak banyak mengeluh membuat Zico tidak malu untuk mengeluarkan air matanya. Zico menangis. Menangisi wanita yang tidak dianggapnya itu selama ini.
__ADS_1
"Sudahlah mas. Untuk apa ditangisi yang sudah pergi. Toh, dia sendiri yang meminta cerai kan?" kata Karina kesal melihat suaminya yang masih larut dalam penyesalannya. Dari tadi sejak Zico membawa bekal itu ke meja makan. Karina juga sudah duduk berhadapan dengan pria itu. Sebagai wanita walau dirinya sebagai istri kedua tetap saja Karina tidak menyukai sikap Zico penuh penyesalan seperti ini terhadap Ella.
Zico tidak menanggapi perkataan Karina. Dia lebih memilih terus membalik lembar demi lembar buku itu. Tapi hatinya juga marah mendekat perkataan Karina.
"Mas, kamu anggap apa aku disini. Kamu menikahi aku. Tapi setelah Ella pergi. Kamu seperti anak kecil menangisinya. Kamu kira aku tidak sakit hati melihat kamu seperti ini mas?" tanya Karina marah." teriak Karina marah. Wanita seakan tidak malu jika tetangga mengetahui dirinya berselisih dengan Zico.
"Masuklah ke kamar Ella. Aku butuh sendiri saat ini."
Brakk
"Aku bukan Ella. Sekali lagi kamu salah sebut nama. Awas kamu mas," kata Karina sambil menunjuk wajah Zico setelah mengebrak meja. Zico menatap jari telunjuk Karina yang tepat mengarah ke hidungnya. Amarahnya memuncak ketika Zico salah sebut nama.
Zico semakin menyadari perbedaan antara Ella dan Karina. Tidak terima ditunjuk seperti itu. Zico menghempaskan tangan Karina.
"Aku kira kamu akan menghiburku karena kehilangan Ella, Karina. Ternyata kamu justru menampakkan wajah asli mu setelah kamu menjadi istri satu satunya bagiku. Mengapa tidak waktu berpacaran dulu kamu tunjukkan aslimu Karina."
"Wajah asli apa maksud kamu mas. Kamu yang keterlaluan tidak menjaga perasaanku. Seakan akan aku tidak ada harganya bagimu. Hanya karena masakannya kamu ingin menahan Ella menjadi istri kamu?. Di luaran sana banyak masakan enak. Uang aja asal ada. Kamu pasti bisa menikmati makanan enak melebihi masakan Ella."
__ADS_1
"Diam lah. Ocehan kamu membuat aku semakin pening."
Zico semakin sedih karena Karina mengingatkan masakan Ella. Baginya bukan sekedar masakan membuat dirinya menyesal karena menyakiti Ella. Zico bisa melihat bagaimana Ella bertanggungjawab dan melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan Karina. Wanita itu tidak suka tentang apapun bagian dapur. Bukan hanya bagian dapur. Zico juga mengetahui jika Karina juga sangat jarang melakukan tugasnya di rumah sesuai dengan pembagian tugas sebelumnya.
Karina melayangkan tinjunya ke udara karena tidak mungkin baginya meninju pria itu. Karina beranjak dari meja makan tanpa makan malam terlebih dahulu.
Setelah sendiri di ruang makan itu. Zico mengambil piring dan nasi. Dia membuka bekal itu dan seketika tangisnya kembali pecah. Ella memasak makanan kesukaannya. Sayang, ini adalah terakhir baginya menikmati masakan Ella dan bahkan makanan kesukaannya itu.
"Bahkan di hari terakhir kita sebagai suami istri. Kamu masih memasak makanan kesukaan aku Ella," kata Zico sambil terisak. Biarlah kata Karina dia seperti anak kecil. Bagi Zico menangis karena kehilangan wanita terbaik seperti Ella tidak masalah baginya.
Zico memasukkan potongan daging ayam itu ke mulutnya. Rasanya yang pas dan enak di lidah membuat Zico bisa menghabiskan satu piring nasi sambil menangis. Bahkan tanpa sadar, air matanya yang menetes ke piring bercampur dengan nasi ikut masuk ke dalam mulutnya.
Zico memasuki daging yang tersisa itu ke dalam kulkas. Dia meyakini daging itu untuk Karina.
"Terbuat dari apa hatimu Ella. Aku dan Karina sangat menyakiti kamu. Tapi kamu masih saja bersedia memasakkan makanan ini untuk kami."
Zico berbicara sendiri dari tadi di ruang makan itu.
__ADS_1
"Aku memang tidak pantas untuk kamu Ella. Semoga kamu mendapatkan laki laki yang baik yang lebih segalanya dari aku," kata Zico lagi. Tapi setelah mengucapkan itu hatinya kembali tidak terima jika Ella bukan istrinya lagi.
Zico kembali merasakan ketakutan di hatinya. Bagaimana dia mempertanggungjawabkan perceraian ini kepada kedua orangtuanya. Ella adalah menantu pilihan dan menantu kesayangan bagi kedua orangtuanya. Zico semakin merasakan kepalanya berdenyut pening.