Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 86


__ADS_3

Ella menatap kagum ruangan yang akan menjadi tempat bagi dirinya dan Bima menjamu para tamu undangan mereka. Ruangan yang dipenuhi oleh warna mewah silver dan gold. Dekorasi yang sangat indah yang akan membuat para pengagum keindahan berdecak kagum.


Meja dan Kursi yang dilapisi dengan kain warna putih berenda membuat ruangan itu semakin menonjolkan kemewahan nan elegan.


Ella tidak menyangka jika resepsi pernikahan ini ternyata sangat mewah dan diadakan di hotel yang terkenal di kota itu.


Ketika MC mengintruksikan mereka berdua untuk naik ke atas pelaminan, Ella tersadar dari lamunannya yang mengagumi semua yang ada di ruangan itu. Di sampingnya Bima memberikan tangannya untuk digandeng dengan wajah yang menampakkan kebahagiaan.


Bima berjalan dengan gagahnya sedangkan Ella berjalan dengan anggun. Semua para tamu memandang tidak berkedip kepada pasangan yang sangat serasi itu.


Setelah serangkaian acara akhirnya para tamu dipersilahkan untuk menikmati jamuan mewah. Para tamu itu terlihat puas akan rasa hidangan dan bibir mereka terdengar mengucapkan pujian atas semua rangkaian acara, hidangan bahkan gaun yang dikenakan oleh Ella.


Pak Yuda dan mama Maya juga terlihat menghampiri beberapa tamu untuk beramah tamah. Mantan suami istri itu tidak terlihat seperti mantan suami istri yang sebenarnya. Mereka sangat kompak untuk membuat resepsi pernikahan Bima jauh dari ketidaksempurnaan. Sedangkan Kiki dan Nada juga seperti kakak dan adik kandung. Mereka mengenakan warna dan model baju yang sama.


Di pelaminan, Ella juga menatap para tamunya yang rata rata para pengusaha dan pejabat.


"Apa kamu suka pestanya?" tanya Bima. Ella menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar.


"Sangat mas. Terima kasih," jawab Ella sambil menatap mata suaminya. Mereka saling menatap. Melihat cinta yang terpancar dari mata masing-masing. Bima seakan lupa tempat. Perlahan jarak wajah mereka semakin dekat tapi suara dari MC membuat wajahnya keduanya bersemu merah.


"Kamu sih mas, seperti tidak ada waktu saja," kata Ella untuk menutupi rasa malunya. Bima terkekeh. Dia merangkul pundak Ella dan mendekatkan pipinya ke pipi istrinya. Para tamunya juga bersorak. Mereka sempat melihat adegan yang tidak sempat terjadi itu.


"Kamu sangat cantik sayang. Aku sebenarnya tidak sabar...."


"Stop mas. Jangan dilanjutkan. Lihat sana," kata Ella yang sudah mengetahui arah perkataan suaminya. Dia menunjuk beberapa tamu yang sudah berjalan ke arah pelaminan.


Sementara Ella dan Bima menerima ucapan selamat dari para tamunya. Seseorang sedang duduk di bangku paling sudut ruangan itu. Dia lah, Zico. Melihat Ella dan Bima berbahagia seperti ini. Tidak dipungkiri jika dirinya juga ingin secepatnya mendapatkan wanita yang baik untuk menjadi istrinya.


"Kamu tidak ingin berfoto dengan mereka?.


Zico menatap pak Cipto dan menggelengkan kepalanya. Bima dan Ella juga mengundang oak Cipto dan istrinya ke pesta ini. Di pelaminan terlihat Ella dan Bima sedang berfoto dengan tamu undangan.


"Pak, apa bapak tidak ingin menjodohkan aku dengan wanita yang baik seperti dulu bapak menjodohkan aku dengan Ella?" tanya Zico kepada bapaknya yang sudah duduk di sampingnya.


"Maaf nak. Untuk pasangan hidupmu. Bapak tidak ingin lagi menjodohkan kamu dengan siapapun. Carilah sendiri jodoh," jawab pak Cipto pelan. Bukan tidak ingin dirinya, Zico mendapatkan pendamping yang baik. Tapi pak Cipto takut jika apa yang dilakukan oleh Zico kepada Ella akan terulang lagi.

__ADS_1


Zico hanya menarik nafas panjang. Matanya kembali menatap ke arah pelaminan. Wajah ceria dari pasangan itu membuat Zico tersenyum. Dan senyum itu semakin merekah ketika melihat Ester dan kedua orang tua Ella tidak jauh dari tempat duduknya sedangkan berbincang bincang.


"Aku ke sana dulu pak," pamit Zico kepada bapaknya.


"Mau kemana nak?"


"Mau tebar pesona ke wanita itu. Kali aja dia terpesona dan kita mengadakan pesta kemudian," jawab Zico sambil tertawa. Dia memukul pundak bapaknya pelan sebelum melangkah ke arah meja Ester.


"Boleh duduk disini?" tanya Zico meminta ijin kepada Ester dan kedua mantan mertuanya.


"Tidak ada yang melarang. Duduk saja," jawab Ester. Kedua orang tua Ella tersenyum melihat tingkah Zico setelah mendengar jawaban Ester. Pria itu menggaruk kepalanya sebelum duduk.


Tapi baru saja Zico duduk. Ester sudah bangkit dari duduknya. Wanita itu pamit kepada kedua orang tua Ella untuk ke pelaminan. Melihat hal itu, Zico juga kembali berdiri. Kedua orang tua Ella hanya tersenyum melihat tingkah mantan menantu mereka. Kedua orang tua itu paham jika Zico sudah menaruh hati kepada Ester.


"Kamu mau kemana?" tanya Ester ketus kepada Zico yang kini berjalan dibelakangnya.


"Mengikuti kamu kemana pun kamu pergi."


Ester memutar bolanya malas mendengar gombalan receh dari Zico. Dia meneruskan langkahnya.


"Apa kalian sudah jadian?" tanya Bima sebelum Zico dan Ester berlalu dari pelaminan.


"Sudah."


"Maksudnya."


Zico dan Ester menjawab berbeda. Ketika Ester sudah mengetahui maksud dari pertanyaan Bima, Ester hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu malu mengakui hubungan kalian Ester. Jika sudah saling cocok, sebaiknya kalian menghalalkan hubungan itu. Ingat umur," kata Bima lagi. Ester semakin kesal. Dia cemberut dan akhirnya berlalu dari pelaminan. Sedangkan Bima dan Zico tersenyum dan melakukan tos.


"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Ella bingung. Dia bisa menangkap kerja sama antara suami dan mantan suaminya.


"Ini bukan waktu dan tempat untuk membahas itu sayang. Dan kamu Zico. Cepat susul Ester. Yakinkan dia jika kamu sudah berubah."


"Oke pak. Terima kasih," jawab Zico senang.

__ADS_1


"Selamat berbahagia untuk kalian pak dan adikku yang cantik," kata Zico lagi sebelum berlalu dari pelaminan. Dia bahkan hendak mencubit pipi Ella tetapi tangannya langsung disingkirkan oleh Bima.


"Enak saja mau mencubit pipi istriku," gerutu Bima sambil mendorong Zico supaya cepat berlalu dari pelaminan.


"Apa maksud kamu?" tanya Ester kesal setelah Zico duduk di sampingnya. Pria itu tidak menjawab. Tapi dia menarik tangan Ester lembut dan mengajak wanita itu keluar dari ruangan itu.


"Maafkan jika hal tadi membuat kamu kesal. Tapi jika boleh jujur aku sebenarnya menyukaimu. Mungkin kamu sudah mendengar banyak tentang aku dari Ella...."


"Aku berjanji akan berubah. Ester, Berjalanlah bersamaku menyongsong masa depan yang baik untuk kita berdua," kata Zico setelah sempat berhenti berbicara tadi. Matanya menatap penuh harap kepada Ester.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk saat ini Zico. Kita jalani saja dulu sebagai teman. Kita belum saling mengenal lama."


"Apapun kemauan kamu akan akan ikuti Ester. Menerimaku sebagai teman juga sudah membuat aku senang."


Zico sepertinya harus sabar untuk mengambil hati Ester. Wanita itu tidak mudah untuk dirayu membuat Zico tidak boleh terburu buru jika ingin pendekatan berhasil. Bagi jika mereka berteman adalah awal dari hubungan mereka selanjutnya. Zico berjanji di dalam hatinya untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi demi meraih hati Ester.


"Ayo, masuk lagi," kata Zico. Ester tidak menjawab tapi langsung melangkah mendahului langkah Zico.


Menjelang malam pesta resepsi itu telah selesai. Bima dan Ella kini sudah di kamar. Seperti kamar pengantin pada umumnya. Kamar mereka juga dihiasi, ranjang bertaburkan bunga warna warni yang harum.


"Kamu lelah?" tanya Bima kepada Ella. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Dirinya benar benar kelelahan. Berjam jam tidak membaringkan tubuhnya satu harian ini membuat tubuhnya sangat lelah.


Bima menuntun istrinya ke kamar mandi setelah gaun pengantinnya terlepas dari tubuh Ella. Di kamar mandi, dengan telaten pria itu membersihkan tubuh istrinya. Sungguh, Ella merasa bahagia dengan perlakuan suaminya.


"Tidurlah sayang," kata Bima setelah mereka selesai makan malam.


"Mas, apa kamu tidak apa apa jika kita tidak...?


"Ssst. Kesehatanmu dan janin kita lebih penting," jawab Bima sambil membantu membaringkan tubuh istrinya. Bima ikut juga berbaring di samping istrinya. Dia mengelus kepala Ella penuh cinta hingga wanita itu tertidur. Bima mencium kening istrinya lumayan lama.


"Terima kasih sayang. Kamu adalah wanita pertama yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam ini."


Bima menatap wajah istrinya. Sungguh dia tidak pernah menyangka jika caranya berjodoh dengan Ella seperti ini. Pernikahan yang diawali dengan tujuan masing-masing. Tapi kini mereka sudah mempunyai tujuan yang sama. Membentuk keluarga harmonis untuk kebahagiaan bersama.


End

__ADS_1


Para pembacaku yang baik. Terima kasih masih setia hingga di episode terakhir ini. Maaf jika banyak kekurangan author di novel ini terutama karena tidak bisa up setiap hari. Author mengajak kalian untuk singgah di novel baru yang berjudul. Cinta, Berpihaklah Padaku. Sekali lagi, terima kasih dan Salam sehat.


__ADS_2