
"Nyonya Ella. Aku ditugaskan tuan Bima untuk menjemput Anda."
Ella menghentikan langkahnya mendengar suara pak supir yang biasa mengantar jemput Ella selama satu Minggu ini jika Bima sibuk.
"Baiklah. Terima kasih pak," jawab Ella sopan dan langsung membuka pintu mobil. Sang supir juga masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu mobil bagian belakang.
Ella duduk tenang di bangku penumpang. Tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Dia kembali membuka video yang dikirimkan Zico. Ella berusaha tidak langsung mencurigai apa yang diperbuat suaminya itu. Tapi cerita tentang mantan Bima yang masih muda membuat Ella curiga jika wanita yang ada di video itu adalah Margaretha.
Ella kembali bersedih. Dia menyandarkan kepalanya dan tidak terasa setetes air mata menetes dari kelopak matanya. Ingatan tentang tawaran Bima ketika mengajaknya menikah.
"Aku bodoh. Bodoh. Tidak seharusnya aku terbawa perasaan dengan kata kata manisnya. Mana ada pria jatuh cinta hanya baru beberapa kali bertemu. Mas Bima menikahi aku hanya untuk mencapai tujuannya. Dan terbukti Tante Linna tidak berkutik lagi untuk memaksa mas Bima menikahi wanita pilihannya. Baiklah mas Bima. Aku menganggap pernikahan kita berdasarkan tujuan semula. Aku berharap benih kamu tidak pernah tumbuh di rahimku," batin Ella dalam hati sambil menyeka air matanya.
Ella berjanji dalam hati, akan menjalani pernikahan ini seperti tujuan mereka semula. Menikah karena tujuan tertentu. Dan kini Ella sudah terlepas dari Zico. Ella sadar perceraian dengan Zico karena bantuan Bima yang menyelidiki status pernikahan dengan Zico. Dan Ella juga berjanji akan membantu Bima mencapai tujuannya.
Ella kembali menyeka air matanya. Dia tidak menyangka jika kisah hidup selalu berada di pernikahan dengan pria yang tidak mencintainya dengan tulus.
"Nyonya Ella. Maaf. Dari tadi ponsel Nyonya berdering," kata sang supir. Ella tersentak. Karena melamun dia tidak mendengar suara ponselnya yang berdering.
Ella membuka resleting tas dan mengambil ponselnya. Dia membuka ponselnya dan melihat tiga panggilan tidak terjawab. Dan ketiga panggilan tidak terjawab itu dari Bima.
Ella tersenyum sinis. Dia membuka pesan Bima yang menyatakan dirinya tidak bisa menjemput Ella karena ada urusan penting.
Ella tidak membalas pesan itu. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia berencana akan membalas pesan itu setelah tiba di rumah dan bertanya ke Kiki tentang wanita belia itu. Jauh di lubuk hatinya. Ella berharap jika wanita belia itu bukan wanita yang akan mengancam rumah tangganya.
"Kita sudah sampai Nyonya," kata sang supir menyadarkan Ella dari lamunannya. Setelah mengucapkan terimakasih Ella turun dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Dia tidak sabaran untuk bertemu dengan Kiki.
__ADS_1
"Sore pa, sore Tante," sapa Ella kepada papa Yuda dan Linna yang sedang duduk berdua di ruang tamu.
"Sore nak Ella. Mana Bima. Dia tidak menjemputmu?" tanya papa Yuda.
"Tidak pa. Mas Bima ada urusan katanya. Jadi tidak bisa menjemput aku," jawab Ella sambil tersenyum.
"Ya sudah. Bima memang sangat sibuk hari ini. Agenda dengan pengacara yang aku sebutkan tadi pagi. Dimajukan jadi tadi siang. Kami menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk berdiskusi. Mungkin Bima masih di kantor karena pekerjaannya tertunda karena diskusi kami tadi," kata papa Yuda.
"Jadi, semua aset atas nama papa sudah pindah nama ke Bima pa?" tanya Linna terkejut.
"Sudah," jawab Papa Yuda singkat. Karena memang begitu adanya. Aset miliknya semua sudah berganti atas nama Bima dan hanya tinggal menunggu sertifikat baru atas kepemilikan aset tersebut.
Linna menunduk menyembunyikan wajah marahnya. Dia sudah berencana malam ini untuk membujuk suaminya untuk memberikan satu aset kepada Kiki putri kandungnya. Tapi Linna kembali kalah cepat. Tapi untuk protes juga Linna tidak berani lagi. Papa Yuda kalau sudah memutuskan sesuatu maka keputusan itu mutlak tidak bisa diganggu gugat.
"Rumah ini juga pa?" tanya Linna lesu.
"Jadi kalau rumah ini sudah atas nama Bima. Kita tinggal dimana pa?" tanya Linna lagi dan berusaha menekan rasa amarah yang memenuhi hatinya.
"Pertanyaan yang aneh. Tinggal di sinilah. Jadi mau tinggal dimana lagi?.
"Kamu tidak ada rencana membelikan aku rumah dan Kiki. Apakah aku harus hidup menumpang di rumah anak tiri ku. Bagaimana kalau Ella tidak menyukai aku dan membujuk Bima mengusirku. Aku harus tinggal dimana?" tanya Linna. Rasa marah yang ditekannya tadi tidak bisa lagi disembunyikan ketika mendengar perkataan papa Yuda yang terkesan cuek.
"Bima tidak akan mengusir kamu jika kamu tidak berbuat macam macam. Jadi jangan berprasangka buruk kepada putraku. Aku rasa Ella juga bukan wanita jahat yang tidak menyukai kamu tanpa alasan. Jika dia tidak menyukai kamu. Aku rasa itu karena sikap kamu yang tidak menyukai kehadiran di rumah ini sebagai istri Bima," jawab papa Yuda juga marah. Setelah mengucapkan itu papa Yuda juga beranjak dari duduknya dan menyuruh Ella untuk segera naik ke lantai dua.
Setelah di kamar Ella menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Terkadang melihat keluarga Bima. Ella tidak habis pikir. Harta melimpah tapi kedamaian tidak ada. Setiap berkumpul pasti berujung pertengkaran walaupun itu pertengkaran kecil.
__ADS_1
Mendengar ponselnya berdering. Ella duduk dan meraih tasnya yang juga tergeletak di atas ranjang. Ella menggeser ikon hijau di ponselnya pertanda menerima panggilan video dari Bima.
"Lagi dimana mas?" tanya Ella malas. Latar belakang Bima sama seperti di video yang dikirimkan Zico kepadanya.
"Di restoran. Kamu sudah lama sampai?" tanya Bima sambil tersenyum. Ella hanya mengangguk.
"Berarti kamu tidak makan malam di rumah kan mas?" tanya Ella lagi.
"Iya ini sedang makan. Tidak apa apa kan?" jawab Bima sambil mengganti kamera depan menjadi kamera belakang. Bima menunjukkan beberapa makanan yang belum tersentuh di atas meja.
"Tidak apa apa mas. Silahkan menikmati. Sama siapa di sana?" tanya Ella karena penasaran. Dia ingin Bima jujur tentang siapa yang menjadi temannya di restoran tersebut. Bima tidak menyorot yang menjadi temannya di restoran itu. Bima belum menjawab pertanyaan Ella tapi panggilan sudah berakhir.
Ella semakin curiga. Apalagi sejak tadi Bima berbicara dengan dirinya tidak ada embel-embel sayang seperti biasanya.
yaElla menghubungkan cerita papa Yuda tadi dengan tujuan awal mereka menikah. Ella sangat yakin jika saat ini Bima sedang merayakan kebahagiaan yang sudah menjadi pemilik aset papa Yuda dengan Margaretha sang mantan pacar suaminya.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan aku mas. Tanpa kamu jawab aku sudah mengetahui dengan siapa kamu di restoran itu."
Ella mengirimkan pesan kepada Bima beserta video yang dikirimkan Zico kepadanya. Ella merasa siap berpisah kembali jika Bima kembali kepada mantannya. Bagi Ella lebih cepat masalah ini diselesaikan daripada didiamkan yang akan membuang waktu saja seperti pernikahannya dengan Zico. Ella juga tidak berniat untuk melanjutkan rencana mereka yang mengadakan resepsi. Bagi Ella resepsi itu tidak perlu digelar jika nantinya juga berpisah.
Setelah mengirimkan pesan itu. Ella masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Sementara di tempat Bima berada. Bima mengacak rambutnya setelah membaca pesan.
"Aku pulang sekarang. Ada urusan mendesak. Kalian habiskan makanannya," kata Bima panik setelah berkali-kali menghubungi Ella tapi tidak kunjung dijawab.
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban lawan bicaranya. Bima setengah berlari keluar dari restoran itu.