
Linna tidak bisa mengelak lagi. Bukti yang ada di ponsel milik Kiki. Cukup untuk menjelaskan bahwa dirinyalah dibalik kecelakaan Bima. Seperti orang ketakutan lainnya, Wajah Linna sudah pucat pasi. Telapak tangannya sudah basah karena ketakutan. Wajah angkuh yang sedari tadi dia tunjukkan tidak terlihat lagi.
"Mulai detik ini. Kamu bukan lagi istriku Linna," kata papa Yuda tanpa berpikir panjang. Keinginan menceraikan Linna sudah terpikir sejak beberapa hari yang lalu. Dan saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menamatkan riwayat Linna di dalam hidupnya.
"Papa, tolong maafkan aku. Aku mohon," pinta Linna memelas. Keinginan menguasai harta Yuda pupus sudah dan bahkan bui sudah menantinya. Kejadian hari ini seperti mimpi baginya. Ingin hati menyingkirkan Ella yang ada justru kejahatannya yang terbongkar.
"Bawa mereka berdua," kata papa Yuda polisi yang baru saja memasuki rumah. Yuda mengabaikan permintaan maaf dari Linna.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut ketika papa Yuda memerintahkan Linna dan juga Kiki.
"Papa, Aku tidak bersalah," isak Kiki tidak percaya bahwa dirinya juga akan digiring ke kantor polisi.
"Untuk saat ini. Papa tidak bisa menilai kamu tidak bersalah Kiki. Polisi bisa menyelidiki kamu bersalah atau tidak. Tapi untuk saat ini, kamu harus ikut ke kantor polisi. Papa tidak ingin ada penjahat di rumah ini apalagi kondisi putraku tidak berdaya. Jika kamu tidak bersalah kamu bisa kembali ke rumah ini," kata papa Yuda tegas.
"Aku putri papa. Kenapa papa tega sekali."
"Tindakan papa bukan masalah tega atau tidak. Tapi ini pembelajaran bagimu nak, supaya berhati hati dalam bertindak. Papa hanya heran. Selama ini kamu dan mama kamu tidak pernah akur. Tapi mengapa tentang amplop itu kalian bisa akur. Jika kamu tidak terbukti bersalah. Jangan mencari papa ke rumah ini. Mulai hari ini, papa akan tinggal di apartemen. Sedangkan Nada putriku dan Maya mantan istriku akan kembali ke rumah ini."
"Nada, siapa nada pa?"
"Gadis cantik ini adalah Nada putriku. Sini nak, duduk dekat Papa," kata papa Yuda menggerakkan tangannya menyuruh Nada duduk di sebelahnya. Gadis itu menurut tanpa membantah.
Linna semakin tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia meneliti wajah Nada dengan kebencian yang membara terhadap Maya.
Tanpa banyak bicara. Linna dan Kiki digiring keluar dari rumah itu. Yuda hanya menarik nafas panjang melihat kepergian dua wanita itu. Ada rasa sedih di hatinya melepas putrinya Kiki. Tapi papa Yuda terpaksa melakukan itu. Bukan tidak percaya kepada Kiki. Tapi bukti chat tidak akurat untuk mempercayai bahwa Kiki tidak bersalah.
"Dan kamu. Keberadaan kamu di rumah ini untuk melancarkan rencana Linna kan. Dan kamu siap siap diperiksa sebagai saksi. Dan bisa saja saksi berubah menjadi tersangka," kata papa Yuda tajam sambil menunjuk Karina. Karina yang tadinya tidak percaya dengan apa yang menimpa Linna kini terkejut dan ketakutan.
__ADS_1
"Dan kalian semua kembali bekerja," kata papa Yuda kepada pekerja itu. Para pekerja membubarkan diri dari ruangan itu. Lita, menatap Nada sebentar sebelum kembali ke dapur.
"Tu..tuan. Saya pamit," kata Karina terbata. Ingin sebenarnya, Karina secepatnya menghilang dari tempat itu. Dia menarik tangan Zico. Tapi Zico menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu. Tidak ingin berlama lama di tempat itu. Karina pun akhirnya keluar dari rumah Yuda dengan perasaan malu dan takut.
"Pak, Ella dan pak Bima. Sebelumnya saya minta maaf karena keberadaan saya dan Karina di rumah ini. Sungguh, saya tidak mengetahui Sebelumnya tujuan Karina mengajak saya ke rumah ini," kata Zico setelah terdiam beberapa saat. Sebenarnya situasi ini membuatnya ikut malu.
"Selagi keberadaanmu di rumahku tidak membuat kekacauan. Aku akan memaafkan kamu."
"Terima kasih pak." Papa Yuda hanya menganggukkan kepalanya.
"Ella, apa kamu tidak berniat membawa pak Bima berobat alternatif," tanya Zico. Ella seketika terkesiap mendengar pertanyaan Zico yang mengarahkan dirinya untuk membawa Bima berobat alternatif.
"Papa rasa kita bisa mencobanya nak. Tapi untuk menemukan orang yang mahir untuk mengobati yang lumpuh seperti ini sangat sulit." kata papa Yuda setuju dengan usulan Zico.
"Kalau kalian bersedia. Aku bisa mengenalkan kalian ke tukang pijit yang sangat bagus."
"Bapakku biasa mengobati pasien seperti pak Bima ini pak."
Ella seketika menatap Zico. Dia baru mengingat jika mantan bapak mertuanya adalah seorang yang dikenal di kampung mereka sebagai ahli pengobatan alternatif. Pasiennya datang dari berbagai daerah. Biasanya para pasien itu adalah pengobatan terakhir setelah pengobatan medis tidak berhasil lagi.
"Bagaimana Ella?" tanya papa Yuda. Dia sudah tertarik dengan apa yang dikatakan Zico.
"Dokter mengatakan jika kondisi mas Bima tidak permanen pa. Aku rasa lebih baik kita mengandalkan pengobatan medis terlebih dahulu," jawab Ella.
"Baiklah. Terima kasih Zico. Kalau Ella berubah pikiran. Kami akan secepatnya menghubungi kamu," kata papa Yuda.
Zico mengerti, pembicaraan mereka hanya sampai disini. Dia tidak ingin terlalu menyakinkan Ella. Karena dia juga sadar. Jika Bima berobat ke bapaknya, maka perceraian dirinya dengan Ella akan secepatnya terbongkar. Zico akhirnya pamit dari rumah itu.
__ADS_1
Di perjalanan, Zico membawa mobilnya sambil mengingat semua apa yang dia tahu satu hari ini. Pernikahan Ella dan kehamilan mantan istrinya. Sebenarnya Zico merasakan kasihan kepada Ella. Setelah memberikan neraka selama pernikahan mereka. Ella tidak juga bahagia walau sudah menikah dengan putra seorang pengusaha terkenal. Itulah sebabnya Zico menawarkan Bima untuk berobat alternatif. Dia ingin melihat Ella bahagia.
"Karina," panggil Zico setelah berdiri di depan pintu rumahnya sambil mengetuk pintu. Tidak berapa lama kemudian. Pintu terbuka dan menampilkan wajah Karina yang cemberut.
"Kenapa tidak pulang berbarengan. Kamu ingin memandangi wajah mantan istrimu itu kan?" semprot Karina setelah Zico melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Zico tidak menghiraukan perkataan Karina dan memilih duduk bersandar di sofa. Zico sangat kesal dengan perbuatan Karina yang terlalu nekat mencampuri urusan keluarga Bima. Semakin kesini. Zico menyadari jika Karina mempunyai sifat yang busuk.
"Jawab mas," bentak Karina yang berdiri si sebelah Zico.
"Karina. Berkemas lah. Aku ingin mengantar kamu ke rumah orang tua kamu. Aku rasa kamu perlu dididik supaya bisa menjadi wanita dan istri yang baik," kata Zico tenang.
"Apa maksudmu mas. Kamu ingin mengembalikan aku ke orang tuaku?.
"Iya. Kamu benar Karina. Aku rasa itu yang terbaik untuk hubungan kita sementara. Jika kamu sudah bisa menghargai suami. Kamu boleh kembali ke rumah ini."
"Tapi aku tidak mau mas. Apa kata tetangga tetangga papa mama jika melihat aku lama di rumah itu."
"Kalau kamu tidak mau aku antar baik baik. Maka aku akan menghubungi mertua supaya menjemput kamu," kata Zico tenang. Tangannya sudah bergerak lincah di atas ponsel untuk melakukan panggilan.
"Aku tidak mau mas," kata Ella sambil menyambar ponsel Zico. Ponsel itu kini sudah di tangannya. Zico tidak berusaha merebut ponsel itu kembali.
"Kalau begitu. Kamu mempunyai dua pilihan sekarang. Aku antar kamu ke rumah kamu atau aku menalak kamu sekarang juga."
"Keterlaluan kamu mas. Karena Ella kamu melakukan ini semua kepadamu. Ingat, Ella tidak pernah lagi kembali kepadamu."
"Aku melakukan ini bukan karena Ella. Aku sudah ikhlas Ella bersama yang lain. Tapi ini karena sifat jahat kamu. Sekarang tentukan pilihanmu. Aku tidak main main."
__ADS_1
"Aku memilih diantar ke rumah orang tuaku mas," kata Karina setelah menyadari jika Zico sudah marah besar.