Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 44


__ADS_3

Ella menyunggingkan senyumnya melihat mobil sang suami yang keluar dari halaman rumah. Setelah beristirahat satu jam sesudah menyemburkan bibit bibit kehidupan di rahim Ella. Pria itu dengan terpaksa harus kembali ke kantornya. Ella masuk ke rumah. Dan seperti permintaan suaminya. Ella melakukan perawatan wajah dan rambut sebelum berangkat ke rumah sang mertua.


Butuh beberapa jam Ella melakukan perawatan itu sendiri. Ella berusaha tampil maksimal di awal pertemuan dengan papa mertua. Bagaimanapun Bima adalah calon pengusaha yang mewarisi perusahaan papa Yuda. Ella tidak ingin suaminya malu karena berpenampilan tidak layak sebagai istrinya.


Setelah berkali kali mencoba beberapa dress akhirnya Ella menjatuhkan pilihan dress berwarna hitam selutut. Dress tersebut terlihat serasi di tubuhnya yang sangat kontras dengan warna kulit putih mulusnya. Ella merias wajahnya dengan polesan tipis sesuai permintaan Bima yang tidak menginginkan dirinya berdandan norak.


Hingga tibalah saatnya sang supir yang dimaksudkan oleh Bima tiba didepan gerbang rumahnya. Sebelum keluar dari rumah. Ella kembali memastikan penampilannya layak atau tidak untuk bertemu dengan mertua.


"Silahkan masuk nyonya," kata sang supir membungkuk hormat setelah membuka pintu mobil di bangku penumpang.


"Terima kasih pak. Tapi lain kali. Jangan membuka pintu untuk aku pak. Aku jadinya tidak enak," jawab Ella sambil tersenyum kikuk. Ella sungguh merasa tidak enak hati diperlakukan seperti Nyonya besar.


"Ini tugas kami Nyonya. Dan seharusnya seperti itu," kata supir itu lagi. Ella tidak menjawab lagi perkataan sang supir. Ella lebih memilih masuk ke dalam mobil dan duduk tenang.


Ella merasakan jantungnya berdebar ketika baru saja mobil mewah yang membawanya tiba di halaman rumah Bima. Ella terlihat ragu untuk turun. Dia mengutuk dirinya dalam hati karena tidak datang bersama Bima ke rumah ini. Mungkin keraguan hatinya akan berkurang jika dia masuk ke dalam rumah beriringan dengan Bima.


"Silakan turun Nyonya."


Ella sedikit tersentak dengan suara sang supir yang membuka pintu untuknya. Ella mengirim pesan kepada suaminya terlebih dahulu sebelum turun dari mobil.


"Aku di ruang kerja papa sayang. Langsung saja masuk ke ruang kerja papa ya. Ada art yang menunjukkan ruangan papa nanti."


Ella melangkahkan kakinya menuju pintu utama setelah membaca balasan pesan Bima. Kakinya belum melewati pintu. Dia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak enak dipandang mata.


"Pak, pak. Sini pak," panggil Ella pada supir yang masih belum masuk ke dalam mobil.


"Ada apa nyonya?.


"Tolong, pisahkan mereka pak," kata Ella pada supir sambil menunjukkan ke rumah. Dua wanita berbeda umur sedang berduel dengan menarik rambut lawan.


"Aku tidak berani Nyonya," jawab supir itu takut.


Ella jadi dilema. Dia ingin melerai dua wanita itu tapi dia takut riasannya rusak atau jadi dirinya yang akan menjadi sasaran dua wanita berduel itu. Biasanya jika ada pertengkaran seperti ini. Yang melerai terkadang yang menjadi korban amukan dari orang yang bertengkar.

__ADS_1


Tapi melihat dari wanita yang kalah itu. Ella merasa kasihan karena sedari tadi dia bisa melihat beberapa tamparan mendarat di pipinya dan rambutnya yang dijambak.


"Nyonya. Biar saja," kata sang supir sambil menahan tangan Ella supaya berhenti berjalan.


"Tapi kasihan wanita muda itu pak."


Linna belum sadar bahwa tindakannya sudah ditonton oleh Ella dan pak supir.


"Kurang aja kau Lola. Ini balasan atas semua kebaikan yang aku berikan kepadamu?". kata Linna marah dan mendorong tubuh Lola dengan kasar. Lola meringis sambil memegang bokongnya yang kesakitan karena jatuh terduduk di lantai.


"Maaf Tante. Itu tidak benar Tante. Itu hanya fitnah dan tidak ada buktinya," jawab Lola menahan sakit. Rambutnya sudah berantakan karena sudah diacak dan dijambak oleh Linna.


"Berani kau main main dengan aku. Maka bersiaplah kau akan hancur."


"Jangan lagi," teriak Ella spontan dari depan pintu melihat tangan Linna terangkat hendak menampar Lola.


Linna spontan menoleh dan menurunkan tangannya. Linna memicingkan matanya melihat Ella yang masih jelas di ingatannya. Linna masih mengingat dengan jelas kedatangan Ella ke rumah ini beberapa minggu lalu ketika Ella mengantarkan berkas kepada Bima.


"Bukan urusanmu. Kamu kesini mau menjumpai Bima. Bima masih di kantor," kata Linna ketus dan masih marah karena kemarahannya tidak terlampiaskan.


Linna terkejut dan menoleh ke Lola. Wajah garang yang terlihat di wajahnya kini sudah memasang wajah datar. Sedangkan Lola masih sibuk merapikan rambut sambil meringis menahan sakit.


"Masuk ke kamarmu. Dan anggap kejadian ini tidak terjadi dan jangan pernah berani menceritakan kejadian ini kepada siapapun," kata Linna kepada Lola. Lola menurut dan masuk ke salah satu kamar di rumah itu. Ella menatap wanita itu dengan kasihan.


"Maaf Bu. Saya mau ke ruangan pak Yuda. Boleh saya tahu yang mana ruangan papa Yuda?" tanya Ella yang kini sudah berhadapan dengan Linna.


"Ada urusan apa?" tanya Linna ketus.


"Ada urusan pribadi Bu."


"Kami mau menggoda suamiku. Lihat penampilan kamu. Seharusnya jika hendak menjumpai suamiku. Tidak seharusnya kamu berpakaian seperti itu. Dan satu lagi. Kamu juga harus menganggap kejadian tadi tidak ada."


Linna mengamati penampilan Ella dari kepala sampai ke kaki. Tidak ingin berdebat dengan Linna. Ella akhirnya mengirim pesan kepada Bima supaya keluar menjemput dirinya.

__ADS_1


"Sayang."


Ella menoleh ke arah suara itu. Dia melihat Bima keluar dari salah satu ruangan diikuti dengan pak Yuda di belakangnya.


"Kita duduk di sofa saja nak," kata pak Yuda sambil terus melangkah. Ella membungkukkan badannya ketika pak Yuda semakin dekat ke arahnya.


"Selamat datang Ella," kata pak Yuda lagi sambil mengulurkan tangannya. Ella menyambut uluran tangan itu kemudian membawa punggung tangan papa mertuanya ke pipi. Papa Yuda tersenyum melihat sikap sopan Ella.


"Terima kasih pak."


"Silahkan duduk," kata Papa Yuda mempersilahkan Ella duduk. Bima memegang bahu Ella dari belakang dan mendorong tubuh istrinya itu untuk duduk di sofa berdekatan dengannya.


Setelah duduk, Ella mengulurkan tangannya kepada Linna. Linna menerima uluran tangan itu dengan senyum palsu.


"Papa sudah mendengar tentang pernikahan kalian Ella. Terima kasih karena bersedia menjadi menantu kami."


Ella menoleh ke Bima. Bima menganggukkan kepalanya pertanda apa yang dikatakan oleh papa Yuda adalah benar. Sebelum Ella datang, Bima sudah jujur kepada papa Yuda tentang pernikahannya dengan Ella. Itulah sebabnya Bima menyuruh Ella datang ke rumah ini dengan jemputan. Karena Bima sudah berencana memberitahu papanya sebelum Ella datang. Dia ingin melihat reaksi papa Yuda terlebih dahulu. Jika papa Yuda marah maka Bima tidak jadi memperkenalkan Ella. Bima tidak ingin Ella melihat penolakan atas dirinya jika papa Yuda tidak merestui hubungan mereka.


Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Papa Yuda memeluk Bima dan memberi selamat dan juga harapan akan hubungan Bima dengan Ella langgeng sampai tua. Papa Yuda juga menasehati Bima untuk tidak meniru dirinya yang menyakiti mama kandungnya. Bima dapat melihat penyesalan papanya yang kehilangan mama kandungnya.


Ella hanya tersenyum dan mengangguk mendengar kata Terima kasih dari papa mertua. Sedangkan Linna menampakan wajah terkejut dan tidak percaya jika Bima sudah menikah.


"Katakan kalau ini tidak benar Bima. Wanita ini masih calon istri belum istri kamu kan," kata Linna.


"Ella istriku ma. Bukan calon istri," tegas Bima membuat Linna mengepalkan tangannya. Dia mengira jika gerak geriknya tidak diperhatikan oleh Bima.


"Baiklah. Selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga aku dan papamu cepat mendapatkan cucu. Hanya saja aku kecewa kepada kamu Bima. Begini balasan atas kasih sayang yang aku berikan kepadamu. Kamu menikah tapi tidak melibatkan aku dalam pernikahan kamu. Kalau begini. Aku merasa tidak dihargai di rumah ini," kata Linna dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Kemarahannya yang belum tuntas kepada Lola Linna kembali merasakan darahnya seperti mendidih karena mengetahui pernikahan Bima. Apalagi papa Yuda terlihat bahagia dengan pernikahan ini. Linna tidak menyangka jika Bima bisa mengambil keputusan menikah sebelum ada restu dari Yuda dan dirinya.


"Sebelum resepsi pernikahan. Papa Minta kalian tinggal di rumah ini. Setelah resepsi. Kalian boleh tinggal di apartemen atau dimana kalian suka."


"Bagaimana sayang. Apa kamu setuju dengan permintaan papa?" tanya Bima. Bima sebenarnya setuju dengan permintaan papa Yuda. Karena Bima ingin secepatnya membuktikan jika Linna adalah manusia bermuka dua. Tapi Bima tidak mau mengambil keputusan sendiri.


"Terserah mas Bima saja. Bagaimana baiknya," jawab Ella.

__ADS_1


"Jangan begitu sayang. Kalau terserah aku. Untuk apa aku bertanya kepadamu. Jawaban iya atau tidak."


"Iya mas. Aku bersedia," jawab Ella mantap. Dia seketika mengingat tujuan awal mereka menikah. Ella juga berpikiran jika kuda liar yang dikatakan suaminya tadi adalah Linna.


__ADS_2