Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 74


__ADS_3

Kedatangan rombongan Zico di rumah orangtuanya disambut baik pasangan suami istri lansia itu. Ibu Marni dan pak Cipto sangat senang akan kedatangan Ella dan Zico walau kedatangan mereka bukan khusus untuk berkunjung. Ibu Marni dan pak Cipto tidak terkejut melihat kedatangan rombongan itu. Sebelumnya Zico sudah mengabari kedua orangtuanya atas kedatangan mereka dan tujuan yang sesungguhnya.


Ibu Marni langsung memeluk Ella. Menantu kesayangan pilihan mereka sendiri untuk menjadi pendamping Zico. Entah bagaimana nantinya jika mereka mengetahui yang sesungguhnya. Zico hanya dapat memalingkan wajahnya melihat pemandangan itu. Sedangkan mama Maya mempunyai penilaian sendiri melihat perlakuan mama Marni kepada menantunya. Dia sangat yakin jika Ella adalah wanita yang sangat baik sehingga ibu Marni menyayangi menantunya dengan tulus.


Zico memperkenalkan satu persatu rombongannya. Dia mengatakan jika Bima adalah atasannya. Sikap baik dan ramah ibu Marni dan pak Cipto sedikit membuat Ella tidak enak hati mengingat dirinya bukan menantu lagi di rumah itu.


"Kita langsung makan siang," kata pak Cipto setelah Zico memperkenalkan rombongannya dan sedikit basa basi. Ella kembali merasa canggung. Tapi anggukan kepala Bima membuat Ella berjalan tanpa mendorong kursi roda suaminya karena Zico langsung mengambil alih tugas tersebut.


Di meja makan, Ella kembali bingung. Biasanya setiap pulang ke rumah ini. Dia dan Zico pasti duduk bersebelahan. Seakan mengerti apa yang ada di hati Ella. Zico menarik kursi di sebelah kursi roda Bima. Zico mempersilahkan Ella duduk di sebelah Bima kemudian Zico duduk di sebelah Ella. Ella duduk diapit oleh suami dan mantan istrinya.


Menyadari apa yang dilakukan Zico supaya kedua mantan mertuanya tidak mencurigai akan perceraian mereka. Ella juga akhirnya beranjak dari duduknya.


"Untuk saat ini, biarkan aku yang melayani ini dan bapak," kata Ella sambil makanan untuk ibu Marni. Kemudian mengambil makanan untuk pak Cipto. Ketika Zico dan kedua orangtuanya berbicara serius dia mengambil makanan untuk Bima terlebih dahulu setelah mengambil makanan untuk mama Mama Maya. Kemudian dengan cepat Ella kembali mengambil makanan untuk Zico.


"Kamu memang menantu yang baik nak," puji pak Cipto setelah semua kebagian makanan. Ella hanya tersenyum kaku kemudian menundukkan kepalanya mendapat pujian itu.


"Apa makanannya kurang enak nak?" tanya ibu Marni yang melihat Ella kurang berselera untuk makan.


"Enak kok Bu," jawab Ella dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Dia berusaha menghabiskan makanan itu tanpa menimbulkan kecurigaan dari kedua mantan mertuanya. Sebenarnya masakan itu adalah masakan kesukaan Ella yang selalu dimasak ibu Marni jika Ella dan Zico berkunjung ke rumah itu. Tapi saat ini sangat beda. Ella tidak menyukai makanan itu. Mungkin itu bawaan dari janinnya. Dan Ella tidak ingin kedua mantan mertuanya mengetahui kehamilannya. Ella tidak ingin kedua orang tua yang baik itu berharap banyak padahal janin yang dikandungnya bukan cucu mereka.


Ella menarik nafas lega ketika kegiatan di meja makan itu berakhir. Bapak Cipto keluar dari rumah menuju ke garasi yang disulap menjadi tempat praktek pengobatannya. Pak Cipto tidak dapat langsung menangani Bima karena masih ada pasien yang masih banyak antri.

__ADS_1


"Pak, tidak bisakah atasanku diistimewakan hanya sekali ini saja. Kami sudah melakukan perjalanan Berjam jam. Dan atasanku terlihat tidak nyaman. Sedangkan kami berencana menginap di rumah Ella," kata Zico setelah dirinya masuk ke ruangan mirip kamar tempat bapaknya mengobati. Pasien yang baru saja diobati oleh pak Cipto sudah keluar.


"Kenapa kalian tidak menginap di sini saja. Disini ada kamar kosong."


"Sepertinya lebih nyaman kalau kami menginap di sana pak. Aku takut atasanku kurang nyaman karena para pasien bapak yang sangat banyak itu," jawab Zico beralasan. Dia juga harus ikut menginap di rumah mantan mertuanya supaya kedua orangtuanya tidak curiga.


"Baiklah, bapak akan mengobatinya di ruang tamu saja. Tidak enak sama pasien yang antri kalau melihat atasanmu yang langsung mendapat penanganan."


Ella menarik nafas lega melihat pak Cipto masuk ke ruang tamu itu. Dari tadi dia sangat mencemaskan keadaan suaminya yang terus duduk di kursi roda.


Ella hanya bisa menatap dan tidak percaya atas semua perlakuan Zico yang sangat baik menurutnya. Pria itu kini membantu Bima untuk turun dari kursi rodanya. Dengan hati hati, Zico membantu Bima duduk di atas karpet yang sudah dibentangkan di ruang tamu itu.


"Di Minggu pertama ini. Nak Bima harus dipijit sekali dalam tiga hari," kata pak Cipto setelah memijit punggung, pinggang hingga ke ujung jari kaki Bima.


"Apakah pengobatan ini lama pak?" tanya mama Maya.


"Tidak. Biasanya aku hanya mengobati pasien paling lama dua bulan. Jika tidak ada perkembangan. Aku tidak akan memberi harapan palsu. Aku akan menyarankan untuk berobat kepada yang lebih ahli," jawab pak Cipto jujur.


"Tapi aku percaya, di tangan bapak. Putraku akan sembuh," kata mama Maya optimis. Ella menganggukkan kepalanya pertanda jika dirinya juga berharap seperti itu.


"Semoga yang Kuasa mendengar perkataan ibu," jawab pak Cipto.

__ADS_1


Zico kembali membantu Bima masuk ke dalam mobil. Jarak dari rumah orangtuanya ke rumah orang tua Ella tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja mereka harus baik mobil menuju ke sana. Tiga hari lagi, Bima harus kembali ke rumah ini untuk diobati.


"Mas Zico terima kasih," kata Ella setelah mereka duduk semua di dalam mobil. Zico hanya menganggukkan kepalanya sambil menjalankan mobilnya.


Dering ponsel milik Zico memecah kesunyian di mobil itu setelah semua orang terdiam. Zico merogoh ponsel itu.


"Ada apa?" jawab Zico dingin kepada lawan bicaranya di telepon itu.


"Mas, aku tidak mau bercerai darimu. Aku ingin rujuk. Sekarang aku di depan rumah kita. Kenapa kamu mengganti gembok gerbang?" kata Karina dari seberang.


"Karina, keputusan aku sudah bulat.Tidak ada rujuk. Aku akan memulai hidupku tanpa dirimu."


"Tapi aku tidak mau mas. Aku akan menunggu kamu di sini sampai pulang."


"Silahkan menungguku sampai kamu lumutan. Satu bulan ini aku tidak pulang. Aku di rumah orang tuaku."


"Kalau begitu aku akan menyusul kamu ke situ mas," jawab Karina membuat Zico merasa mendapat masalah.


"Silahkan kamu datang ke sini. Maka kamu akan berhadapan dengan pengawal pak Bima," jawab Zico jujur. Selain tenaga medis yang standby dari kejauhan menjaga Bima. Papa Yuda juga memberikan pengawal yang menjaga Bima dari kejauhan.


Setelah mengucapkan kata kata itu. Zico menutup panggilan itu. Tidak ada yang berani untuk bertanya ingin tahu. Dari wajah Zico terlihat sangat marah karena keberanian Karina.

__ADS_1


__ADS_2