
Bima memejamkan matanya menikmati pijatan demi pijatan di tubuhnya. Bukan seperti pengobatan sebelumnya yang tidak terasa di tubuh Zico. Kali ini, jari jari pak Cipto yang bergerak memijit punggung hingga ke pinggang terasa sangat sakit terkadang Bima menggeliatkan badannya karena tidak tahan dengan rasa sakit itu.
Pak Cipto tersenyum dibalik punggung milik Bima. Respon yang diberikan oleh Bima sebagai pertanda jika kesehatan Bima semakin membaik.
"Sa...sakit," kata Bima merintih karena tidak tahan dengan pijatan pak Cipto yang tidak biasa seperti pengobatan sebelumnya. Mendengar rintihan Bima, bukannya menghentikan tangannya atau memelankan pijatannya. Pak Cipto justru semakin menekan kuat jari jarinya di tubuh Bima.
"Sa.. sakit pak," kata Bima lagi. Ella yang ikut menemani suaminya ikut meringis melihat Bima merintih kesakitan itu. Sejak mengetahui kebenaran akan status Ella. Pak Cipto menyuruh Ella untuk selalu menemani Bima setiap berobat kepadanya.
"Pak, mas Bima kesakitan itu," kata Ella akhirnya. Zico yang ikut juga di tempat itu menyenggol tubuh Ella supaya tidak banyak berkomentar.
"Pak Bima kesakitan karena kesehatannya semakin membaik," kata Zico memberitahu.
"Pak, berhenti dulu. Sakit."
Ella merasakan hatinya sangat senang tidak terkira mendengar perkataan Bima yang lumayan panjang.
"Tanyakan, kenapa Bapak semakin menekan kakimu ini," kata pak Cipto untuk memancing Bima berbicara lebih banyak lagi. Saat ini pak Cipto sedang memijit bagian pangkal paha sampai pergelangan kaki.
"Kenapa pak?" tanya Bima lancar tanpa terbata. Ella menutup mulutnya mendengar Bima yang semakin lancar berkata kata.
"Aku akan mematahkan kaki ini jika kamu berani menyakiti Ella putriku suatu saat nanti," kata pak Cipto serius. Dia dan istrinya sangat tulus menyayangi Ella. Ella sudah disakiti oleh Zico putra mereka. Pak Cipto tidak ingin Ella tersakiti kembali oleh siapapun termasuk Bima.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan celah sekecil apapun untuk membuat Ella pergi dariku," kata Bima sangat meyakinkan dan menatap Ella penuh cinta.
Ella merasakan hatinya sangat bahagia. Perkembangan kesehatan Bima dan kasih sayang yang sangat tulus dari mantan mertuanya sanggup melupakan rasa mual yang tidak mengenal waktu yang masih sering dialaminya.
"Aku percaya kepadamu anak muda. Semangati lah dirimu sendiri untuk cepat sembuh. Ella sangat membutuhkan dirimu di masa kehamilan seperti ini," kata pak Cipto.
"Sudah pak. Jangan banyak bicara. Percepat saja pengobatan pak Bima kali ini. Ella sepertinya tidak sabaran ingin bercerita berduaan dengan suaminya," kata Zico bercanda. Ella melotot ke arah Zico karena merasa malu.
Benar saja apa yang dikatakan Zico. Setelah pulang dari rumah pak Cipto. Ella langsung membawa Bima masuk ke kamar. Mereka hanya berbinar sebentar di ruang tamu bersama kedua orang tua Ella, mama Maya dan Ester. Sedangkan Zico tetap tinggal di rumah orangtuanya. Tidak ada alasan baginya lagi untuk ikut ke rumah orang tua Ella. Perceraian mereka bukan rahasia lagi untuk kedua orangtuanya.
"Mas, aku sangat senang kamu bisa berbicara lagi," kata Ella sambil memegang tangan Bima. Bima sedang berpindah dari kursi roda ke ranjang.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mengenang hatimu sayang," kata Bima setelah duduk dan bersandar ke kepala ranjang.
"Akhirnya bisa mas. Aku yakin beberapa hari lagi kamu bisa berdiri," kata Ella senang sambil naik ke ranjang. Bima mengulurkan tangannya membelai wajah Ella yang kini duduk hampir tidak berjarak dengan Bima.
"Maafkan aku. Aku menjadi pria yang tidak berguna bagimu sayang."
Raut wajah Bima berubah sendu. Mengingat bagaimana Ella berjuang menjaga dirinya di rumah sakit dengan istirahat yang tidak teratur. Menjalani hamil muda tanpa kasih sayang suami ditambah dengan tingkah Linna yang selalu menjengkelkan.
"Jangan berkata begitu mas. Apa yang kita alami sekarang ini. Anggap saja sebagai ujian bagi kita. Jangan menilai dirimu tidak berguna. Bagiku, bagaimanapun keadaanmu. Kamu adalah cinta sejatiku. Ayah dari janin kita," kata Ella sambil menatap mata suaminya. Tangan Bima bergerak membelai perutnya istrinya ya v sudah mulai sedikit membuncit.
__ADS_1
Cukup lama, Bima membelai perut Ella dengan doa yang terucap dalam hati. Bima berjanji di dalam hatinya akan menjadi suami yang setia, baik dan ayah yang bertanggung jawab bagi anak anaknya kelak.
"Apa kamu membawa ponselku kemari?" tanya Bima. Ella mengangguk.
"Apa kamu perlu ponsel sekarang?" tanya Ella. Bima juga mengangguk.
"Sebaiknya kita tidur dulu. Besok main ponselnya. Besok subuh kita harus cepat bangun untuk latihan berjalan." Bima kembali mengangguk menurut apa yang dikatakan oleh istrinya. Apa yang dikatakan oleh istrinya adalah perintah pak Cipto yang harus latihan berjalan di pagi hari di ruangan terbuka. Niatnya untuk bertanya ke eyang Gugel tentang banyak hal menyangkut istri yang mengidam sepertinya harus ditunda terlebih dahulu.
Bima kembali berusaha untuk melorotkan tubuhnya supaya bisa berbaring. Lagi lagi Bima berhasil membuat senyum terukir di bibir istrinya. Perkembangan kesehatan Bima sangat mengalami kemajuan di dua hari terakhir ini.
"Hai kaki suamiku. Besok pagi kalian berdua harus bisa melangkah ya," kata Ella berbicara kepada kedua kaki Bima. Ella mengelus kaki suaminya itu. Bima tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Bima meletakkan tangannya di kepala Ella dan membeli rambut hitam itu.
Jari jemari indah dan halus milik Ella yang masih betah mengelus kaki suaminya ternyata membuat sesuatu yang selamanya ini tidur panjang kini terbangun. Bima yang merasakan sensasi luar biasa itu justru menatap istrinya penuh damba.
"Ada apa mas?" tanya Ella. Dia sungguh tidak mengetahui jika suaminya sudah menginginkan hal lain selain sentuhan di kakinya.
"Sepertinya kaki pendekku yang duluan bisa berdiri dibandingkan kedua kakiku," jawab Bima sambil tersenyum.
"Kaki pendek?" tanya Ella sambil mengikuti pergerakan Bima kearah bawah perutnya. Ella seketika tertawa terbahak-bahak.
"Kamu menginginkannya?" tanya Ella. Bima menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sembuh total dulu mas. Baru memikirkan kebutuhan kaki pendek kamu itu," kata Ella sambil terkekeh.
Bima juga ikut terkekeh mendengar perkataan istrinya. Ella memberikan pengertian kepada suaminya untuk menunda dulu untuk kebutuhan batin mereka berdua. Bukannya Ella tidak menginginkan atau tidak ingin melayani suaminya. Ella takut melakukannya tanpa konsultasi terlebih dahulu mengingat Bima belum sembuh total. Selain itu Ella ingin, Bima menjadikan penundaan itu sebagai tantangan untuk lebih semangat sembuh.