
Zico membaringkan tubuhnya di atas selimut yang dia bentangkan sebagai alas tidurnya. Zico memilih beristirahat sebentar sebelum mencari keberadaan Karina. Sebelum memejamkan matanya Zico merenungi nasibnya. Nasibnya sungguh berbanding terbalik dengan yang dialami oleh Ella. Ella merajut kebahagiaannya bersama suaminya sedangkan Zico harus berusaha ikhlas kehilangan harta bendanya.
Ternyata rasa marah yang bersarang di hatinya menyebabkan matanya tidak bisa terpejam. Zico bangun dari tidurnya dan duduk di atas selimut itu. Zico mengacak rambutnya sendiri dan beranjak dari duduknya.
Setelah melihat jam dinding, Zico berjalan menuju kamar mandi. Melihat rumahnya yang sudah kosong membuat Zico tidak sabar untuk segera menemui Karina. Hari ini, Zico ingin menuntaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Karina.
Zico memulai pencariannya ke rumah orang tua Karina. Dengan mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat kencang akhirnya Zico memarkirkan mobilnya di halaman rumah milik orang tua Karina.
Zico mengucapkan salam dan langsung menerobos masuk ke rumah orang tua Karina. Karina yang duduk santai di ruang tamu tidak terkejut melihat kedatangan Zico. Wanita itu bahkan memamerkan senyum manisnya.
"Karina, apa maksud dari semua ini?" tanya Zico dengan wajah memerah. Mengingat rumahnya yang sudah kosong tanpa perabot, ingin rasanya Zico menampar wanita yang pernah sangat dibanggakannya itu.
"Datang datang kok langsung marah marah sih mas. Duduk dulu. Aku ambilkan air dingin supaya hatimu adem," jawab Karina tenang dan beranjak dari duduknya.
Tapi tangan Zico bagaikan kilat langsung mendorong tubuh Karina sehingga terduduk kembali di sofa.
"Kembalikan semua barang barang yang sudah kamu curi dari rumah. Kalau tidak aku akan membuat laporan pengaduan ke kantor polisi," ancam Zico tidak main-main.
"Aku tidak mencuri barang-barang dari rumah. Aku hanya berencana untuk mengganti semua perabotan yang ada di rumah kita. Aku melihat kamu belum move on dari Ella. Jika perlu, sebaiknya kita pindah rumah saja," jawab Karina tenang.
__ADS_1
"Kita?. Jangan mimpi kamu Karina. Diantara kita tidak ada urusan lagi selain perabot yang kamu curi dari rumahku. Kamu bukan lagi istriku."
Karina merasakan hatinya memanas mendengar perkataan Zico.
"Kita sudah sepakat untuk rujuk mas. Apa kamu sudah lupa ingatan?.
"Iya. Aku sudah lupa ingatan tapi khusus lupa ingatan hanya kepadamu saja. Sekarang kamu bisa memilih. Mengembalikan semua perabotan atau dilaporkan kepada polisi."
Zico masih berusaha untuk menahan amarahnya supaya tidak berbuat kasar kepada Karina.
"Mas, tenangkan dirimu. Ingat awal pertama kali kita bertemu dan memutuskan berpacaran. Semua rintangan dan batasan kita lewati demi hidup dalam sebuah pernikahan. Aku bahkan rela menerima statusmu yang sudah beristri. Dan kamu juga tahu bagaimana hatiku sangat mencintaimu. Kita saling mencintai. Tapi, mengapa setelah Ella pergi, cintamu seakan hilang ditiup angin."
"Aku muak untuk mengingat semua tentang kamu. Karena aku tahu. Semua tentang dirimu adalah dosa bagiku. Aku beri kamu waktu dua hari untuk mengembalikan semua perabot yang kamu curi. Kalau tidak. Aku pastikan kamu mendekam di penjara."
Zico melangkahkan kakinya menuju pintu. Zico merasa jika urusannya sudah selesai dengan Karina. Di hatinya kini merasa lega. Karena sudah menceraikan Karina dan tidak ada lagi alasan Karina untuk meminta dirinya untuk bersama lagi.
Prang
Zico menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang. Di ruang tamu bukan hanya Karina lagi di sana. Wanita yang berumur sekitar lima puluhan sedang menatap Zico dengan tenang tajam.
__ADS_1
"Dasar pria tidak bertanggung jawab. Pernikahan kalian belum satu tahun tapi sudah bercerai. Kalau kamu menceraikan putriku maka kamu juga harus memberikan harta Gono gini."
"Gono gini?. Maaf Bu. Putrimu hanya duduk manis di rumah dan menerima jatah bulanan. Tidak ada harta bersama yang kami peroleh selama menikah. Jadi gono gini apa yang harus aku bagi. Kalau mau rumah, silahkan ambil. Tapi ingat, cicilannya masih 12 tahun lagi," kata Zico kemudian terkekeh. Semakin kesini, Zico dapat menilai jika Karina dan ibunya adalah wanita matre. Karina dan ibunya masih sanggup menatap Zico dengan sinis.
"Ternyata rumah kamu masih kredit. Ternyata pria miskin tapi sok mau punya istri dua. Pergilah, Karina pasti bisa mendapatkan pria kaya bukan seperti kamu." Ibunya Karina mengibaskan tangannya dan memandang remeh mantan menantunya.
Baru saja Zico berbalik hendak melangkah menuju pintu lagi lagi langkahnya terhenti. Seorang wanita bertubuh gempal sudah berdiri di ambang pintu.
"Karina, aku buru buru. Aku kemari hanya memberitahukan jika semua uang perabot kamu itu tidak cukup untuk melunasi hutang hutangmu. Aku kemari untuk menagih sisa hutang tersebut."
Zico mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke Ella. Ternyata semua perabot sebagai pembayar hutang dari Karina.
"Kamu yang menampung perabot hasil curian Karina. Kamu tahu, aku adalah pemilik perabotan itu. Aku ingin semua perabotan milikku semuanya kembali. Jika tidak, kalian berdua aku laporkan. Karina sebagai pencuri dan kamu adalah penadah. Perkataan kamu sudah aku rekam. Sekarang kamu boleh memilih."
Wanita itu terlihat ketakutan. Entah karena mengetahui hukum untuk penadah membuat wanita itu langsung menganggukkan kepalanya. Karina juga terlihat menggigit bibir bawahnya karena takut.
"Karina. Kamu sudah mendengar sendiri. Aku tidak mau menerima perabot itu. Aku tidak mau disebut penadah. Kamu, ambil barang itu dan kembalikan ke rumah bapak ini. Kita sudah membuat perjanjian sebelumnya. Jika hari ini adalah pembayaran terakhir atas hutang Hutani kamu. Dan kamu juga pasti mengingat konsekuensi jika tidak membayar hari ini."
Karina menelan ludahnya kasar. Perjanjiannya dengan ibu itu adalah bersedia menjadi pembantu di rumah si ibu tanpa di gaji selama dua tahun.
__ADS_1