Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 38


__ADS_3

Bima menatap tajam Karina karena menyebut dirinya adalah pria hidung belang yang dibawa Ella ke rumah itu. Kemudian Bima memicingkan matanya menatap Karina. Karina menyebut dirinya dengan sebutan tuan. Bima menduga jika wanita itu pernah bekerja di rumah papanya. Tidak mungkin wanita itu pernah bekerja di kantor atau perusahaan. Jika pernah pasti memanggilnya dengan sebutan bapak.


Tapi Bima tidak terlalu mempermasalahkan siapa sebenarnya Karina. Yang terpenting saat ini baginya adalah Zico secepatnya mengucapkan kata talak kepada Ella. Karena itulah tujuan mereka datang ke rumah ini.


Karina mendudukkan dirinya di sebelah Zico. Dia menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Bima. Dalam hati dia terus berpikir akan keberadaan Bima di rumah itu. Ella menggigit bibirnya ketika sebuah praduga hingga di kepalanya.


"Kita bisa win win solution Zico. Kamu mengucapkan kata talak untuk Ella dan kami tidak memperpanjang masalah pemalsuan buku nikah palsu itu," kata Bima juga berusaha melunak. Nada bicaranya terdengar seperti membujuk. Demi Ella. Bima rela bersikap seperti ini kepada Zico. Sedangkan Zico selain marah dia juga terkejut mendengar Bima menyebut namanya.


Bima berusaha berkata dengan kepala dingin dingin bernegosiasi. Beberapa menit berbicara dengan Zico. Bima menjiwai pria itu yang ternyata keras kepala dan egois.


"Diam lah. Aku tidak butuh pendapat kamu. Masalah ini antara aku dan istriku. Tidak ada yang boleh mencampuri," jawab Zico ketus dan masih keras kepala. Matanya juga menatap Bima dengan raut wajah tidak suka.


"Sudah mas, talak saja Ella sekarang. Urusan orang tuanya biar urusan Ella sendiri," bisik Karina sambil menyentuh lengan Zico.


"Diam Karina. Ini juga bukan urusan kamu. Jadi jangan ikut campur. Sebaiknya kamu ke kamar saja," kata Zico sambil merapatkan giginya. Karina langsung bersandar lemas dan penuh kecewa kepada Zico.


"Aku rasa saran wanita ini perlu juga kamu pertimbangkan Zico," kata Bima sambil menunjuk wajah Karina. Karina yang ditunjuk seperti itu merasa takut dan akhirnya menundukkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak akan menceraikan Ella," jawab Zico pasti dan tegas. Dia sudah menduga jika Bima adalah kekasih Ella. Dengan tidak menceraikan Ella. Zico berpikir jika Ella dan Bima pasti tidak akan bisa melanjutkan hubungan mereka. Tiba tiba pikiran licik itu hinggap di kepalanya.


"Mas Zico. Jangan egois seperti ini. Hari ini juga kamu harus menalak aku. Sejak kamu memutuskan berpoligami aku sudah memikirkan perpisahan ini. Sungguh, aku tidak sanggup mas. Sudah terlalu banyak penderitaan dan penghinaan yang kalian berikan untuk aku. Apa kamu belum puas menyakiti hatiku. Coba kamu ingat perbuatan kamu sejak kita menikah. Adakah kamu menganggap aku sedikit saja. Adakah kamu menghargai aku sedikit saja?. Jadi tolong lepaskan aku mas," kata Ella memohon. Zico menatap Ella yang masih menatapnya. Zico merasakan hatinya sakit melihat tatapan Ella yang memohon dilepaskan. Tapi niatnya untuk memulai pernikahan dan memperbaiki pernikahan mereka sudah bulat. Zico tidak ingin melepaskan Ella sampai kapanpun.


Uhuk. Uhuk


Empat pasang mata itu serentak menoleh ke arah pintu. Di depan pintu sudah terlihat kedua orang Ella pak damar dan ibu Mawar. Kedatangan kedua orang tua itu karena pesan Zico yang mengatakan jika Ella kabur dari rumah tadi malam. Pak Damar dan ibu Mawar langsung berencana dan berangkat tadi siang ke kota ini bermaksud mendamaikan putri dan menantunya.

__ADS_1


"Bapak, Ibu," kata Ella terkejut dan langsung beranjak dari duduknya. Dia langsung menghampiri Pak Damar yang terlihat sudah memegang dadanya. Bima tidak tinggal diam. Dia juga mengikuti langkah Ella. Bima langsung menuntun pak Damar untuk duduk di sofa. Ella sudah merasakan ketakutan. Dia sangat yakin jika kedua orangtuanya mendengar semua apa yang dia katakan tadi. Ibu Mawar juga terlihat panik melihat kondisi suaminya.


"Pak."


Zico mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pak Damar. Terlihat ketakutan di wajah Zico. Tapi pria tua itu menghempaskan tangan Zico. Pak damar masih memegang dadanya dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskan dari mulut. Melihat keadaan bapaknya Ella langsung berdiri beranjak ke dapur. Tidak lama kemudian Ella kembali ke ruang tamu dengan membawa satu gelas air hangat. Bima menerima gelas berisi air hangat itu dan membantu pak Damar untuk minum.


Beberapa menit. Perhatian Bima dan Ella fokus ke kesehatan pak Damar. Ella menatap Bima yang terlihat sangat menghargai kedua orangtuanya. Sedangkan Zico menunduk. Di sampingnya Karina sudah menegakkan kepalanya untuk menatap kedua orang tua Ella. Wanita itu sangat yakin jika akhir dari pernikahan Zico dan Ella adalah malam ini juga.


"Jelaskan siapa wanita itu Zico," kata pak Damar lemah sambil menunjuk Karina. Zico gelagapan. Pak Damar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Ella tentang hidup berpoligami tadi. Tapi dia ingin mendengar yang sejujurnya dari sang menantu kesayangan yang dianggap baik selama ini.


"Aku istri kedua mas Zico," jawab Karina angkuh dan kurang sopan. Zico merapatkan giginya karena Karina membocorkan status dirinya.


"Benar begitu Zico?" tanya pak Damar lagi. Zico semakin menunduk. Nyalinya menciut mendengar suara tegas mertuanya.


"Jawabanmu iya dan tidak."


Suara pak Damar terdengar lebih tegas lagi. Ella juga memeluk sang bapak berusaha menenangkan bapaknya. Zico tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya hanya anggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan mertuanya.


"Apa kesalahan putriku sehingga kamu memutuskan berumah tangga berpoligami," tanya Pak Damar lagi. Zico semakin tidak bisa membuka mulutnya karena dia jelas mengingat dan mengetahui jika Ella tidak pernah lalai melaksanakan kewajibannya. Kecuali kewajiban di ranjang karena dia yang pernah menolak untuk melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri di ranjang.


Zico kembali hanya menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sebagai pertanda jika Ella tidak mempunyai kesalahan sehingga memutuskan berpoligami. Di saat seperti ini, Zico baru sadar bahwa dirinya telah menyia-nyiakan wanita sebaik Ella bahkan hampir dua tahun ditambah empat bulan setelah dia menikah Karina.


Ibu Mawar menatap Zico tanpa ekspresi. Dia menatap putrinya. Ibu Mawar merasa kasihan melihat Ella. Sebagai wanita. Tentu dia bisa merasakan bagaimana sakitnya diduakan walau dia belum pernah mengalaminya. Selama ini mereka menganggap kehidupan putri dan menantunya baik baik saja dan berbahagia. Ternyata putrinya menderita.


"Apa kedua orang tua kamu mengetahui hal ini?" tanya pak Damar lagi. Dia ingin mengetahui sejauh mana keterlibatan besannya tentang pernikahan poligami Zico. Zico kembali menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ella, apa Zico meminta ijin kepadamu untuk menikah kembali?" tanya Pak Damar kepada Ella. Ella menganggukkan kepalanya.


"Aku menguji karena tidak ada pilihan pak. Dia memaksa aku untuk mengijinkan dirinya menikah lagi," jawab Ella jujur. Pak Damar menarik nafas panjang dan berusaha tenang supaya kesehatan jantung bisa stabil.


"Ceraikan putriku juga," kata pak Damar tegas dan lantang. Zico yang sedari tadi menunduk kini memberanikan diri menatap mertuanya. Melihat kedatangan mertuanya tadi. Zico seperti merasakan angin segar akan kelanjutan pernikahannya dengan Ella. Dan selama ini juga, kesehatan Pak Damar lah yang menjadi alasan Zico menunda menceraikan Ella. Kini mertuanya itu dengan tegas menyuruh dirinya untuk menalak Ella. Harapannya sirna seiring dengan yang berdenyut nyeri membayangkan berpisah dari Ella.


Bima tersenyum dalam hati. Dia memuji mertuanya yang sangat bijaksana menurutnya. Bima memijit pelan bahu mertuanya dengan pelan. Pak Damar belum menyadari akan keberadaan Bima. Sejak tiba di rumah ini dia fokus untuk menjaga kesehatannya sendiri supaya bisa tenang menyelesaikan masalah putri, yang sejak awal menginjakkan kaki di depan pintu rumah sudah langsung mengetahui permasalahan rumah tangga Zico dan Ella.


"Pak, maafkan aku. Aku ingin menebus semua kesalahanku kepada Ella."


"Tidak. Aku menyetujui kalian menikah karena berharap kamu bisa membahagiakan putriku. Tapi apa yang dia terima. Kamu memberikan hal yang sangat dibenci oleh wanita yaitu madu. Maka sekarang juga, kamu harus menalak putriku. Untuk selanjutnya biar Ella yang menggugat kamu di pengadilan."


"Ternyata kami hanya menikah siri pak. Dia telah memalsukan buku nikah pernikahan kami," adu Ella. Kedua orang Ella terlihat terkejut dan kecewa mengetahui hal itu.


"Aku rasa itu hal baik karena memang pernikahan kalian harus bubar. Jadi tidak perlu repot-repot membuang waktu, tenaga dan uang untuk perceraian kalian," jawab Pak Damar untuk menghibur hatinya sendiri. Mengetahui hal itu sebenarnya Pak damar sangat marah. Tapi dia mengucapkan itu untuk membuat Ella tidak bersedih.


"Ucapkan sekarang juga," perintah pak Damar lagi. Zico masih betah menutup mulutnya walau Karina sudah menyenggol tangannya. Sedangkan Bima terus menatap saingannya itu tidak sabaran mendengar kata talak.


"Talak sekarang juga," teriak pak Damar marah membuatnya semua yang ada di rumah itu terkejut. Suara Paka Damar menggelegar bagaikan petir di siang bolong. Ella kembali memeluk tubuh bapaknya. Sedangkan Ibu Mawar terlihat menenangkan suaminya. Ibu mawar sangat takut jika penyakit jantung pak Damar kambuh karena marah kepada Zico.


"Mas Zico. Terjadi apa apa dengan bapakku. Maka siap siap kamu mendapatkan balasan dari aku. Talak aku sekarang brengsek," kata Ella juga marah. Sungguh dia tidak bisa membayangkan karena keegoisan Zico membuat bapaknya semakin marah.


"Ella, mulai hari ini kamu bukan lagi istriku. Aku menalak kamu," kata Zico lesu.


"Sah," jawab Bima senang. Ella mengangguk sebagai pertanda dia menerima kata talak Zico.

__ADS_1


__ADS_2