
Ella merasakan hatinya sedikit lega melihat Bima yang semakin membuka matanya. Sedangkan mama Maya terus membelai rambut putranya penuh kasih sayang. Hingga bola mata milik Bima terbuka sempurna. Mama Maya mengusap air mata itu dengan ujung jarinya.
"Syukurlah kamu sudah sadar nak," kata mama Maya setelah mencium wajah putranya. Sedangkan Ella dan Nada masih setia menangis melihat perkembangan kesehatan Bima. Tapi air mata yang keluar kali ini bukan lagi air mata kesedihan. Melainkan air mata kebahagiaan.
Ella bertindak cepat. Dia memencet tombol untuk memanggil dokter. Ella berpikir kondisi Bima yang baru sadar dari koma perlu penanganan dokter. Apalagi Ella dapat melihat Bima yang memegang kepalanya setelah tersadar. Ella juga dihantui dengan pemikirannya sendiri. Melihat Bima yang masih memijit keningnya sendiri. Ella takut suaminya itu mengalami amnesia dan tidak mengenal dirinya. Jangan sampai itu terjadi.
"Mas Bima, apa yang kamu merasa pusing. Sebentar lagi dokter akan datang," kata Ella sambil meraih tangan Bima. Ella menggantikan tangan Bima untuk memijit kepala suaminya. Bima terlihat menikmati pergerakan tangan Ella di keningnya. Tapi hingga dokter muncul di ruangan itu. Bima tidak menjawab pertanyaan Ella.
Setelah beberapa menit kemudian Bima sudah diperiksa oleh dokter. Cukup lama sang dokter memeriksa keadaan Bima. Dan ternyata kesabaran Ella masih harus diuji kembali. Kecelakaan yang menimpa Bima mengakibatkan pria itu lumpuh dan bisu.
"Apakah itu permanen dokter?" tanya Ella lesu. Kini mereka sudah di ruangan dokter. Mama Maya yang ikut ke ruangan sang dokter juga terlihat terpukul dengan apa yang menimpa putra kesayangannya.
"Tidak. Ini tidak bersifat permanen. Suami anda akan kembali sembuh jika rajin terapi. Anda sebagai istri diminta untuk memberikan dukungan penuh kepada suami anda."
Ella merasa sedikit lega mendengar perkataan sang dokter. Bagaimanapun keadaan Bima saat ini harus disyukuri karena sudah menunjukkan perkembangan.
Ella dan mama Maya keluar dari ruangan dokter itu dengan harapan Bima secepatnya sembuh. Mereka kembali ke ruangan rawat Bima. Ketika mereka kaki mereka mendarat di ruangan itu. Ella terharu melihat Nada yang berceloteh kepada kakaknya sedangkan Bima hanya menatap adiknya itu dengan wajah tidak bisa terbaca.
"Mas Bima, ada kabar penting yang ingin aku sampaikan," kata Ella setelah dirinya sudah berdiri di samping suaminya. Bima terlihat menggerakkan kepalanya ke arah Ella. Tangannya terulur menggapai wajah Ella. Ella membungkukkan badannya supaya tangan suaminya leluasa mengelus pipinya.
Seketika itu juga, tangis Ella kembali terdengar. Ella benar benar terharu. Setelah kecelakaan maut itu hampir merenggut nyawa suaminya. Bima masih mengenalinya.
__ADS_1
"Mas, aku hamil. Calon anakmu ada disini," kata Ella sambil meletakkan tangan Bima di perutnya. Ella tidak ingin menunda untuk memberitahukan kehamilannya kepada sang suami. Ella berharap dengan kehamilannya. Bima bersemangat untuk sembuh.
Ella menatap suaminya yang juga menatap dirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Ella dapat merasakan jika Bima juga senang dengan kehamilannya itu. Mama Maya yang duduk di kursi roda dekat Nada di seberang tempat tidur langsung meminta Nada untuk mendorongnya mendekat ke menantunya. Ella berjongkok memeluk wanita tua itu.
"Terima kasih nak. Pertemuan kita hari ini tidak hanya mengenal kamu. Tapi juga mendengar kabar baik akan calon cucuku yang sudah berkembang di rahimmu," kata mama Maya sambil mengelus pundak menantunya. Nada juga sudah berdiri dekat Ella dan memeluk kakak iparnya itu.
"Tinggal menghitung bulan. Aku akan menjadi Aunty."
Ella sangat terharu dengan kebahagiaannya hari ini. Ella kini merasa sudah memiliki teman berbagi. Cara mama Maya dan Nada mendengar kehamilannya membuat Ella merasa jika janin yang sedang dikandungnya adalah seperti malaikat yang akan menyempurnakan kebahagiaan mereka nantinya.
"Bima anakku. Kamu harus cepat sembuh. Jangan biarkan Ella menjalani kehamilannya sendirian. Kamu harus memperkenalkan suara sebagai bentuk kasih sayang kepada anakmu sejak dia di kandungan," kata mama Maya menyemangati putranya.
"Jangan betah sakit kak. Jangan sampai mbak Ella bosan merawat kamu dan mencari papa baru untuk keponakanku," kata Nada sambil menyentuh tangan kakaknya. Bima terlihat melotot. Nada terkekeh melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh kakaknya karena perkataannya. Ella merasa tidak enak hati mendengar candaan adik iparnya itu. Ella takut Bima menjadi terbebani dengan candaan itu apalagi Bima tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Hush, jangan berbicara seperti itu kepada kakakmu nak," kata mama Maya juga tidak suka mendengar candaan putrinya.
"Ya iyalah ma. Jadi pria itu jangan mau hanya berbaring di tempat tidur seperti ini. Wanita hamil muda itu pesonanya berlipat-lipat loh kak dibanding dengan wanita yang tidak hamil."
Nada masih saja berceloteh. Wajahnya yang yang cantik dan imut memang tidak menunjukkan wajah sedih. Tapi tidak dengan hatinya. Mendengar kondisi kakaknya saat ini walau hanya bersifat sementara. Nada merasakan hatinya sangat hancur. Terpisah karena situasi selama bertahun tahun tidak mengurangi ikatan batin di hatinya untuk sang kakak. Hatinya ikut hancur. Mungkin sama hancurnya dengan apa yang dirasakan oleh Ella dan mama Maya.
"Nak, kalau boleh tahu. Kapan Bima mengalami kecelakaan," tanya mama Maya. Ella menyebutkan tanggal dan jam ketika Bima kecelakaan saat itu.
__ADS_1
"Iya aku ingat ma. Saat itu kak Bima baru saja mendapat pesan kemudian terburu buru menyuruh kita pulang baik taksi saja," kata Nada setelah mendengar keterangan dari Ella.
"Maksudmu?" tanya Ella penasaran.
"Sebelum kecelakaan itu kami makan malam dengan kak Bima. Saat itu juga dia menceritakan tentang pernikahannya dengan kakak. Kak Bima berjanji dua hari setelah makan malam itu akan membawa mbak Ella ke rumah untuk diperkenalkan dengan kami."
Ella merasakan kepalanya mendadak pening. Ingatannya melayang ke video yang dikirimkan Zico kepadanya tentang Bima dan wanita muda dan seorang wanita tua yang ada di video tersebut. Ella menyimpulkan tanpa bertanya jika dua wanita yang ada di video itu adalah mama mertuanya dan adik iparnya.
Ella merasa bersalah. Dia mundur secara perlahan lahan dan mendaratkan tubuhnya di sofa. Jika karena video itu Bima berkendara tidak hati hati untuk menjelaskan kepadanya tentang video tersebut. Itu artinya penyebab Bima kecelakaan adalah dirinya sendiri.
Nada ikut menyusul duduk di sofa. Tapi dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ella saat ini.
"Mbak, apa kecelakaan yang menimpa kak Bima tidak dilaporkan ke polisi," tanya Nada.
"Di laporkan Nada. Polisi menemukan kendaraan mas Bima tidak layak berkendara karena kerusakan rem," jawab Ella pelan. Pening di kepalanya belum hilang.
"Kerusakan rem?" tanya Nada terkejut. Ella hanya menganggukkan kepalanya.
"Mbak, mungkinkah itu ulah seseorang?" tanya Nada seperti mencurigai sesuatu.
"Maksud kamu?,
__ADS_1
"Aku melihat seorang wanita memberikan amplop coklat kepada tiga pria di seberang jalan saat itu mbak," jawab Nada membuat Ella langsung menatap adik iparnya itu.