Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 40


__ADS_3

"Terima kasih mas," kata Ella. Mereka kini berada di halaman rumah Bima. Bima memutuskan untuk menginap di rumah papanya karena kedua orang tua Ella menginap di rumah pribadinya.


Bima akhirnya memutuskan membawa kedua mertuanya untuk menginap di rumah itu karena tidak ada pilihan lain. Rumah kontrakan yang disebut Ella tadi aslinya tidak ada. Ella harus terlebih dahulu mengalihkan perhatian orang tuanya sebelum masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Bima masuk ke rumah untuk menyembunyikan foto pernikahan mereka dan semua jejak yang menyangkut dirinya di rumah itu.


Ella juga langsung bisa menemukan jawaban dengan mengatakan jika rumah itu adalah fasilitas dari kantor, ketika kedua orangtuanya menanyakan berapa uang yang dia keluarkan untuk mengontrak rumah mewah itu.


"Tidak perlu berterimakasih sayang. Bukankah kita suami istri. Jadi seharusnya juga aku harus perduli kepada kedua mertuaku," jawab Bima sambil menjangkau kepala Ella kemudian mengelus rambut istrinya dengan lembut. Ella sudah langsung mengarahkan matanya ke arah pintu. Dia takut ibunya keluar dan melihat Bima yang mengelus rambutnya.


"Bapak dan ibu pasti sudah tidur. Yuk, duduk sebentar di sana!" ajak Bima sambil menarik tangan Ella menuju bangku panjang yang terbuat dari besi di halaman itu. Ella menurut.


"Malam ini tidur tanpa kamu entah bagaimana rasanya sayang," kata Bima setelah mereka duduk di bangku itu.


"Berlebihan kamu mas. Selama ini juga tidur sendiri."


"Tapi itu kan sebelum menikah dan belum merasakan nikmatnya enak enak."


Ella mencubit lengan suaminya karena perkataan mesumnya.


"Sakit sayang, lepas."


"Makanya kalau ngomong itu dijaga. Kalau orang tuaku mendengar bagaimana?"


"Kalau didengar bagus donk. Berarti pernikahan kita tidak rahasia lagi."


"Tapi keluargamu juga belum mengetahui pernikahan kita," kata Ella sendu. Awalnya dia tidak merasa apa apa ketika memutuskan menikah dengan Bima. Tapi setelah menjalani pernikahan ini hampir dua Minggu Ella takut jika dirinya ditolak atau tidak direstui oleh keluarga Bima. Terlepas dari mereka yang menikah diam-diam. Yang membuat Ella takut justru perbedaan status sosial diantara mereka berdua.


Bima adalah anak pengusaha yang sudah jelas kaya dan berpengaruh. Sedangkan dirinya hanya wanita biasa yang berasal dari keluarga sederhana.

__ADS_1


"Secepatnya, aku akan memperkenalkan kamu kepada keluargaku," jawab Bima.


"Apa mereka akan merestui kita mas. Aku hanya wanita miskin dan...."


"Aku yang menikah dengan kamu. Jadi jangan pikirkan hal apapun termasuk restu," jawab Bima sambil menggenggam tangan Ella. Sama seperti Ella. Bima juga mengkhawatirkan hal restu dari papanya. Tapi dia harus menyakinkan Ella.


"Mas. ih," kata Ella sambil menghempaskan tangan Bima dari dadanya. Pria itu terkekeh.


"Daripada kita memikirkan hal hal yang belum pasti. Lebih baik kita melakukan hal hal yang pasti," kata Bima sambil menurunkan tangannya ke arah perut Ella. Wajahnya juga sudah sangat dekat dengan wajah Ella.


"Ya ampun mas. Seperti tidak ada waktu saja untuk melakukan itu. Kalau ibuku keluar bagaimana?"


"Tidak akan keluar. Mereka sudah pasti sudah tidur karena lelah di perjalanan tadi," jawab Bima tidak perduli. Tangannya terus berpetualang mencari tempat favoritnya.


"Pilih mana. Tidak dapat jatah satu malam atau tidak dapat jatah satu minggu," kata Ella sambil menahan tangan Bima. Dia sungguh tidak dapat membayangkan jika ibu Mawar memergoki Bima yang menggerayangi tubuhnya.


"Ish. Tapi malam ini tidak mungkin mas," kata Ella kesal bercampur khawatir. Bima kembali tertawa.


"Aku juga tahu tempat dan waktu untuk meminta hak sayang."


Bima mencubit kedua pipi Ella dengan kedua tangannya. Ella yang cemberut membuat Bima tidak tahan untuk mencium wanita itu. Tapi tempat yang tidak memungkinkan membuat Bima mengurungkan niatnya itu.


"Aku pamit sekarang. Jika perlu besok tidak perlu bekerja. Temani bapak dan ibu. Atau bawa jalan jalan atau refreshing. Aku tidak bisa menemani kalian karena ada meeting penting besok," kata Bima.


Bima sangat mengerti apa yang dirasakan kedua mertuanya itu. Walau Bapak Damar dan Ibu mawar terlihat tegar menyaksikan sendiri putrinya ditalak, Bima bisa menangkap kesedihan yang dalam dan kecewa di wajah kedua orang tua itu.


"Terima kasih mas," kata Ella lagi sambil memeluk pinggang suaminya. Sungguh dia merasa bahagia karena Bima tidak hanya memperlakukan dirinya dengan baik tetapi juga memperhatikan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Aku pamit," kata Bima lagi sambil beranjak dari duduknya. Tapi tangan Ella yang menahan tangannya membuat Bima kembali duduk.


Cup


Ella menghadiahi pria itu dengan kecupan di pipinya. Bima yang gemas dengan perlakuan istrinya itu akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Hingga keduanya larut bertarung bibir dan tak satupun diantara mereka berniat melepaskan pertautan itu.


"Ella, apa apaan kalian?.


Bim dan Ella spontan melepaskan pertautan bibir itu. Apa yang ditakutkan oleh Ella akhirnya terjadi juga. Ibu Mawar sudah berdiri di pintu dengan wajah yang memerah karena marah melihat kelakuan sang putri.


"Masih hitungan jam kamu bercerai Ella. Tapi kamu sudah berbuat hal yang tidak wajar seperti ini. Bagaimana kalau bapak kamu yang melihat kelakuan kalian tadi. Bisa bisa bapakmu mati mendadak melihat kelakuan buruk putrinya," kata Ibu Mawar marah. Dia sebenarnya sudah tidur. Tapi karena kehausan. Ibu mawar berniat mengambil air putih ke dapur. Dia terkejut melihat pintu rumah yang terbuka. Dan ibu Mawar lebih terkejut lagi melihat Ella yang berciuman panas dengan Bima di halaman itu.


"Ibu, itu tidak seperti yang ibu lihat," kata Ella sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.


"Lampu di halaman ini cukup terang untuk menampakkan perbuatan kalian berdua Ella. Ibu jadi ragu. Jangan jangan Zico memutuskan berpoligami karena mengetahui kelakuan kamu yang seperti ini. Jujur, ibu kecewa Ella."


Ibu Mawar tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaannya. Dengan kepala sendiri dia melihat kelakuan sang putri yang baru saja bercerai dari suami pilihan mereka. Segala prasangka buruk telah memenuhi pikiran ibu Mawar. Tapi ibu Mawar masih menahan diri untuk tidak menumpahkan kemarahannya. Mengetahui nasib rumah tangga Ella dengan Zico yang tidak berbahagia dan melihat perbuatan Ella malam ini. Wanita tua itu merasa gagal mendidik Ella.


"Maafkan Ibu. Maaf atas kesalahan kami. Tapi satu hal yang ingin aku katakan. Aku sangat mencintai putri ibu," kata Bima serius.


"Tolong tinggalkan kami berdua nak Bima. Lagipula ini sudah terlarut malam untuk seorang pria pulang dari rumah seorang wanita meskipun Ella berstatus pacar kamu," kata ibu Mawar tegas. Ella menatap tak enak kepada Bima karena ibunya mengusir Bima dari rumahnya sendiri.


"Kalau begitu, aku pamit ibu," kata Bima lagi. Ibu Mawar hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Ibu."


"Sebaiknya kita tidur Ella. Jika ada yang kamu jelaskan. Sebaiknya besok saja," kata Ini Mawar ketus.

__ADS_1


__ADS_2