Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 48


__ADS_3

"Baiklah, tapi jangan pernah menuntut pernikahan," kata papa Yuda. Dia kembali duduk di tepi ranjang. Papa Yuda menggerakkan tangannya menyuruh Lola duduk di sebelahnya.


"Cukup segini?" tanya Yuda papa Yuda sambil menunjukkan ponselnya yang menampilkan deretan angka angka yang siap dikirim ke rekening Lola.


"Bolehkah ditambah sedikit lagi om."


Lola menggigit bibirnya. Merasa takut karena lancang meminta tambahan uang yang akan diberikan oleh papa Yuda untuknya. Sepuluh juta yang siap dikirim ke rekeningnya masih kurang untuk tambahan uang yang dia miliki sebelumnya.


"Sebutkan nominal yang kamu inginkan."


"Bolehkah 50 juta om," jawab Lola takut. Lola menundukkan kepalanya menyadari papa Yuda menoleh ke arahnya.


"Boleh, tapi ada syaratnya."


"Syarat apa om."


"Kamu jujur kepada om."


"Tentang apa om?. Papa Yuda menggeser tubuhnya hingga dia dan Lola duduk berhadapan.


"Apa yang kamu dan Linna rencanakan. Aku sangat yakin jika kalian merencanakan sesuatu."


Yuda memperhatikan wajah Lola dengan seksama. Awalnya, dia tidak berpikiran macam macam tentang perjodohan yang direncanakan oleh Linna untuk Bima dengan Lola. Tetapi setelah mengetahui latar belakang Lola yang sebenarnya. Yuda menjadi curiga.


"Aku tidak punya rencana apa apa om. Kalau tante Linna mempunyai rencana. Aku tidak mengetahui itu," jawab Lola agak takut dan gugup. Yuda tersenyum sinis.


"Apa tujuanmu menyerahkan tubuhmu kepadaku?. Apa Linna yang menyuruh?" tanya Yuda tajam. Lola menggelengkan kepalanya.


"Tujuanku murni demi uang om. Aku butuh uang saat ini," jawab Lola serius. Tapi Yuda tidak percaya begitu saja.


"Jujur," bentak Papa Yuda sambil mencengkram rahang Lola. Lola berusaha melepaskan cengkraman itu dengan suara tangis yang tertahan.

__ADS_1


"Aku sudah jujur om. Tante Linna hanya menawarkan hidup yang berkecukupan kepadaku jika menikah dengan Bima. Hanya itu yang aku tahu. Tentang menyerahkan tubuh kepada om. Itu karena aku tidak tahu berbuat apa lagi untuk mendapatkan uang. Aku terdesak saat itu om," kata Lola menjelaskan setelah Yuda melepaskan cengkraman di rahangnya.


"Baiklah untuk saat ini aku percaya. Tapi jika kamu terbukti mempunyai rencana yang buruk kepada keluargaku. Kamu akan tahu akibatnya," ancam Yuda kemudian menekan tanda kirim di ponselnya. Dia tidak mengabulkan permintaan Lola yang meminta 50 juta. Papa Yuda tetap mengirimkan uang yang 10 juta ke rekening Lola.


Papa Yuda akhirnya keluar dari kamar Lola setelah menyuruh Lola melihat situasi rumah. Tapi apes bagi papa Yuda. Disaat dirinya menutup pintu kamar Lola bersamaan dengan itu Bima dan Ella juga hendak keluar dari rumah lewat pintu samping rumah. Mereka berencana menikmati angin sore di taman samping rumah. Kamar Lola dekat pintu samping tersebut. Ella dan Bima bisa melihat Lola yang berdiri di pintu kamar sebelum pintu tertutup sempurna.


"Apa yang lakukan?" tanya Bima kesal. Dia merasa malu kepada Ella karena sama sama melihat papa Yuda keluar dari kamar Lola.


"Tidak ada nak. Papa hanya mencari Linna. Papa kira di kamar Lola ternyata tidak ada," jawab Papa Yuda beralasan. Dia tidak sadar bahwa bekas keganasan Lola tercetak sempurna di lehernya. Bima dan Ella sudah melihat bekas keganasan itu. Ella merasa malu bertatapan dengan papa mertuanya. Ella memilih memalingkan wajah dari berhadapan lurus dengan papa mertua.


Bima menunjukkan wajah kesalnya kepada papa Yuda. Dia menarik tangan Ella untuk segera berlalu dari tempat itu.


"Ella, inilah keluargaku. Keluarga tapi tidak ada kasih di dalamnya. Aku harap kamu tidak ilfill setelah mengetahui keadaan keluargaku," kata Bima sambil menunduk. Sungguh, dia malu melihat kelakuan papa Yuda yang mengotori rumah sendiri dengan berzina di dalamnya.


"Jangan berkecil hati karena itu mas. Apa yang dilakukan oleh papa Yuda adalah dosa. Tapi sebagai anak. Aku rasa, kamu bisa memperingatkan papa Yuda pelan pelan. Jangan langsung memusuhinya. Kita juga berdosa bila kita melihat orang tua kita jelas berbuat dosa tapi kita tidak berusaha melarang atau menghentikannya berbuat dosa. Itu tugas kamu sebagai anak mas."


Bima menoleh kepada Ella. Kata kata Ella tepat mengena di hatinya. Selama ini dia mengetahui jelas tentang kelakuan papa Yuda. Tapi dia tidak pernah berusaha untuk melarang.


"Sesuai dengan kata katamu sayang. Aku tidak akan meniru kelakuan buruk papaku. Tapi aku mohon. Bagaimanapun bobroknya keluargaku. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Apalagi dengan mama Linna. Dia lah sebenarnya yang aku maksud kuda liar yang ada di rumah ini."


"Baiklah mas. Aku akan bertahan di sisimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku benci dengan pengkhianatan dan juga pelakor. Jika dua hal itu ada di rumah tangga kita. Aku akan menyerah tidak perduli dengan tujuan awal kita menikah. Aku tidak perduli dengan harta dan perusahaan kamu yang diincar Tante Linna," jawab Ella tegas. Bima memeluk tubuh istrinya setelah mendengar perkataan Ella.


"Baiklah sayang. Mari kita saling mendukung. Dan belajarlah mencintai aku suamimu ini," kata Bima kemudian mengedipkan sebelah matanya.


"Emang kamu benar benar mencintai aku?" tanya Ella. Dia masih belum yakin akan cinta yang diucapkan oleh Bima selama ini.


"Apa kamu tidak dapat merasakan cintaku kepadamu?"


Ella tidak menjawab. Dia memilih mengedarkan pandangannya ke bunga bunga di taman itu. Ella menarik tangan Bima menuju sangkar raksasa berisi burung burung berwarna warni.


"Mas, burungnya cantik cantik," kata Ella takjub. Burung burung warna warni itu sungguh menyegarkan matanya. Bunga warna warni sudah terbiasa dia lihat. Tapi tidak dengan burung burung ini.

__ADS_1


"Ini namanya love birds. Bahasa Indonesianya burung cinta. Terus yang ini namanya sangkar nya."


"Ish, kalau ini aku tahu. Ada ada saja," kata Ella ketika Bima menunjukkan sangkar burung itu.


"Masih mau lihat burung yang lain?" tanya Bima. Ella menganggukkan kepalanya senang karena tidak jauh dari sangkar itu masih ada sangkar burung lainnya di sekitar taman.


Ella membiarkan Bima menggandeng tangannya sambil menikmati suasana taman itu. Taman yang sangat luas yang diperkirakan luasnya sampai satu hektar itu banyak ditumbuhi pohon pohon besar dan juga bunga bunga cantik, dan juga kolam ikan hias.


"Mas ini lebih cocok disebut dengan kebun binatang daripada taman," kata Ella sambil mengagumi semua yang ada di taman itu. Ternyata tidak hanya burung dan ikan yang menjadi peliharaan di taman itu. Ada juga hewan hewan lainnya yang kepemilikannya bebas tanpa ada ijin dari pemerintah. Mereka kini sudah duduk di atas motor supaya bisa menjelajahi seluruh taman


"Terserah kamu menyebut tempat ini dengan sebutan apa sayang. Apa kamu suka?.


"Sangat mas. Walau aku besar di kampung. Tapi aku merasa ini lebih indah dari pemandangan kampung," jawab Ella senang. Mereka semakin melaju ke ujung taman yang sudah terlihat tembok pembatas yang menjulang tinggi.


"Nah yang ini burung hantu," kata Bima menunjukkan burung hantu yang sengaja dibuat di paling ujung taman supaya suaranya tidak menganggu ke rumah pada malam hari.


"Iya. Kalau itu aku tahu mas," jawab Ella.


"Kalau yang ini kamu tahu burung apa?" tanya Bima sambil menarik tangan Ella yang tadinya melingkar di pinggangnya.


Tangan itu diletakan di bagian intinya.


"Aku tahu mas."


"Burung apa?.


"Burung nekad.


"Kok burung nekad sih sayang?"


"Burung yang nekad mengambil mahkotaku," jawab Ella kemungkinan tertawa terbahak-bahak. Bima juga ikut tertawa sambil menciumi tangan Ella.

__ADS_1


__ADS_2