
"Siapa wanita itu Ella. Apa kamu mengenalnya?" tanya Pak Cipto setelah Zico melangkah cepat menuju gerbang.
"Kenal pak. Itu temanmu mas Zico."
Ella tidak dapat untuk berbohong akan pertanyaan pak Cipto. Benar, Ella mengenal Karina tapi untuk mengatakan yang sebenarnya Ella pasti tidak sanggup.
Pak Cipto memandang wajah Ella sesaat. Ada yang mengganjal di hatinya ketika mendengar jawaban Ella dan tindakan Zico yang seperti menutupi sesuatu. Apalagi melihat Zico justru menjauh dari gerbang dibandingkan mengajak wanita itu bergabung dengan mereka.
"Susul suamimu. Tidak bagus bagi Zico berbicara berduaan dengan wanita lain," kata pak Cipto membuat Ella langsung menoleh ke Bima dan mama Maya.
Ella berdiri dari duduknya setelah melihat Bima tersenyum. Senyum itu seperti ijin baginya untuk menuruti perkataannya mantan bapak mertuanya.
Ella berdiri tidak jauh dari Zico dan Karina. Dia bisa mendengar semua pembicaraan antara Karina dan Zico. Sungguh, Ella sangat terharu dengan pengorbanan Zico untuk kebahagiaan dan kesembuhan suaminya. Ella sampai menitikkan air mata karena mendapat ketulusan hati Zico.
Tapi sisi lain dari hatinya juga bersedih. Membayangkan Zico kembali bersama dengan Karina. Hatinya seakan tidak rela. Bukan karena ada rasa lain di hatinya terhadap Zico. Hanya saja menyadari Zico yang banyak berubah. Ella merasa Zico juga berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Karina.
Sampai kapan perceraian ini akan menjadi rahasia. Jika masih terus dirahasiakan maka yang tersakiti adalah pak Cipto dan ibu Marni. Kedua orang tua itu akan terkejut sekaligus kecewa dengan perceraian ini. Ella menyadari dirinya terlalu egois saat ini. Demi kesembuhan Bima. Dirinya rela memainkan sandiwara yang pasti akan membuat kedua mantan mertuanya marah.
"Mas Zico, jangan terlalu banyak berkorban untuk aku dan mas Bima. Sebaiknya kita jujur kepada bapak dan ibu tentang perceraian kita. Saat ini kita masih bisa menyembunyikannya. Tapi besok besok kita tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak ingin bapak dan ibu berharap banyak akan hubungan kita jika kita terlalu lama menyembunyikan perceraian ini," kata Ella setelah mendekat ke Zico dan Karina.
Karina masih bisa memandang sinis kepada Ella. Status sosial Ella yang sudah menjadi istri seorang Bima seakan tidak berpengaruh kepada Karina. Karina masih saja memandang Ella seperti saingannya.
"Ella, sebenarnya aku juga ingin secepatnya berbicara jujur kepada kedua orang tuaku tentang perceraian kita. Tapi rasa bersalahku kepadamu membuat aku bertanggung jawab kepada suamimu. Aku pernah memfitnah dia bersama wanita lain yang ternyata adik kandungnya sendiri. Aku akan memberi tahukan perceraian ini setelah pengobatan pak Bima selesai dan sembuh," kata Zico tanpa menatap Ella. Karina kembali tersenyum. Dia merasa pintar karena bisa memanfaatkan situasi ini untuk kembali bersama dengan Zico.
__ADS_1
"Mas Zico. Bisakah mulai saat ini aku menganggap kamu sebagai kakakku?" kata Ella. Ella merasa beruntung saat ini karena sikap Zico yang jauh lebih dewasa dan baik jika dibandingkan ketika mereka suami istri.
Mendengarkan pertanyaan Ella, spontan Zico langsung menoleh ke Ella. Sebagai mantan suami istri yang tidak pernah bersentuhan seharusnya hubungan mereka tidak kaku. Tidak ada kenangan manis yang bisa dikenang.
"Apa kamu mau mengganggap aku pria jahat ini sebagai kakakmu. Aku hanya memberikan kenangan pahit kepadamu ketika kita bersama."
"Semua ada hikmahnya mas. Aku justru bersyukur karena kamu memberikan kenangan pahit kepadaku dulu. Aku bisa menjalani pernikahanku saat ini tanpa mengingat kenangan manis di pernikahan sebelumnya. Melupakan kenangan pahit akan lebih mudah daripada melupakan kenangan manis."
Zico menatap wanita tulus yang berjarak beberapa meter dari dirinya. Dia semakin mengagumi sikap Ella yang dewasa karena tidak dendam kepadanya. Zico merasakan dirinya sangat kerdil menginginkan semua perlakuannya dulu kepada Ella.
"Aku akan merasa sangat bangga jika kamu bersedia menganggap aku sebagai kakakmu Ella. Dan aku bangga mempunyai seorang adik seperti kamu," kata Zico sambil tersenyum.
"Adik. Kakak. Dasar wanita seribu alasan. Bilang saja itu trik kamu untuk mempunyai dua suami kan. Dasar rakus," kata Karina sinis.
"Karina. Jaga ucapan kamu. Melihat sikap kamu seperti ini sepertinya kita tidak perlu rujuk," kata Zico marah karena melihat Karina belum berubah.
"Kalau begitu. Pulanglah. Jangan memancing aku untuk marah. Dan satu lagi. Tolong perbaiki sikap kamu. Bersikaplah dewasa sedikit."
"Aku tidak akan pulang mas. Aku akan pulang bersama kamu. Dan aku mau kamu memperkenalkan aku kepada kedua orang tua kamu. Terserah kamu memperkenalkan aku sebagai istri kedua atau madu dari dia. Aku bersedia bekerja sama untuk menutup mulut tentang perceraian kalian," kata Karina tenang membuat Zico membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang didengar dari mulut Karina.
"Karina, jangan gila kamu. Aku sudah menyetujui keinginan kamu untuk rujuk. Mengapa kamu banyak permintaan sekarang."
"Karena aku ingin mengenal dan dikenal oleh keluarga kamu mas. Apa itu salah?.
__ADS_1
"Tidak salah tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Tolong jangan mengacau situasi ini Karina," kata Zico memohon berharap Karina pergi secepatnya dari kampung itu.
"Karina. Apa kamu yakin jika dikenalkan akan diterima menjadi menantu?. Sebaiknya kamu menurut apa yang dikatakan oleh mas Zico. Lihat di ujung sana. Orang orang itulah orang kepercayaan papa mertuaku. Jika kamu bersikeras mengacaukan pengobatan mas Bima. Maka mereka akan menyeret kamu dari kampung ini," kata Ella. Melihat keras kepala Karina. Ella tidak tahan untuk diam melihat perdebatan Karina dan Zico yang akan berpengaruh ke pengobatan suaminya.
Sejujurnya Ella tidak percaya tentang menutup mulut yang dikatakan Karina tadi. Karina nekat menjadi istri kedua maka Ella juga sangat yakin jika Karina akan nekat juga mengacaukan pengobatan suaminya.
"Maaf Ella. Aku tidak butuh pendapat kamu. Aku hanya ingin melihat sikap jantan suamiku yang dulu berani berpoligami," jawab Karina remeh. Dia sengaja menantang Zico. Wanita itu sama sekali tidak belajar dari pengalaman menghadapi suaminya. Sikapnya masih jelas menunjukkan sikap yang tidak menghargai suami.
"Baiklah Karina. Aku akan memperkenalkan kamu kepada kedua orang tuaku," kata Zico akhirnya. Karina tersenyum lebar dan merasa menang.
"Mas, kamu memperkenalkan dia sebagai istri kedua mas?. Tolong jaga perasaan suamiku mas. Aku tidak ingin kamu menyebut diriku sebagai istrimu," kata Ella gusar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan suaminya jika Zico menyebut dirinya sebagai istri walau hanya pura pura.
"Tidak. Aku akan memperkenalkan wanita ular ini sebagai pembantu di rumahku. Kedatangannya kemari untuk membantu bersih bersih rumah bapak dan ibu," kata Zico dengan gigi yang rapat karena menahan marah.
"Sayangnya, bapak sudah mendengar semua pembicaraan Kalian," kata pak Cipto dengan mata penuh kilatan amarah. Dia menatap Zico, Ella dan Karina secara bergantian.
"Pak."
"Bapak."
Zico dan Ella merasakan detak jantung mereka lebih cepat dari biasanya.
"Kamu, aku tidak Sudi mempunyai menantu seperti kamu. Pergi dari hadapanku sekarang juga," kata pak Cipto sambil menunjuk Karina. Pembicaraan yang dia dengar cukup bisa menilai jika wanita itu bukan wanita yang baik.
__ADS_1
Suara pak Cipto yang keras dan menakutkan ternyata bisa membuat nyali Karina menciut. Dia pergi dari tempat itu tanpa pamit.
Pak Cipto mengatur nafasnya setelah melihat Karina semakin menjauh dari mereka. Dia berbalik badan dan meninggalkan Ella dan Zico di tempat itu. Langkahnya gontai tanpa semangat mengetahui kebenaran jika Ella dan Zico bukan suami istri lagi.