Suami Rahasia

Suami Rahasia
Episode 61


__ADS_3

Hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Tidak terasa satu bulan berlalu Bima masih tetap betah di alam mimpinya. Belum ada perubahan hanya luka di bagian tubuhnya yang sudah mengering dan hampir sembuh. Dan kasus kecelakaan itu juga belum menemukan titik terang. Pihak kepolisian sudah berupaya keras mencari titik terang tersebut. Tapi tidak ada satu bukti yang mengarahkan jika mobil Bima di sabotase. Hal itu membuat Linna merasa di atas angin.


Ella, jangan ditanya lagi. Hatinya sangat hancur melihat kondisi Bima yang tidak ada perubahan. Wajah Ella tidak secerah dulu lagi. Bibirnya juga sudah jarang menyunggingkan senyum. Bima yang terbaring lemah di tempat tidur. Ella juga merasakan hidupnya tidak bergairah. Sepanjang waktu, pikirannya hanya terfokus kepada suaminya. Mengucap doa di setiap nafasnya berharap Bima cepat sadar.


Tapi doanya belum terkabul. Ella harus lebih bersabar lagi menunggu keajaiban itu tiba. Sedangkan papa Yuda terus berusaha keras untuk kesembuhan Bima. Di hari tuanya. Pria itu harus menghadapi kenyataan hidup yang berat. Putra satu satunya berada diantara hidup dan mati. Yuda menerima kenyataan hidup ini sebagai karma dari perbuatannya dulu. Tapi tidak menerima jika Bima secepatnya berpulang kepada penciptaNya. Yuda terus meminta dokter yang menangani Bima untuk melakukan pengobatan yang terbaik untuk sang putra.


Mertua dan menantu itu saling mendukung dan saling menguatkan. Terkadang Yuda sangat kasihan melihat Ella yang semakin hari terlihat makin kurus. Hari harinya memang selalu di rumah sakit. Tubuhnya tidak lelah. Satu bulan memfokuskan diri menjaga Bima di rumah sakit membuat pola hidup Ella berubah. Pola makan dan pola tidur tidak teratur seperti sebelum Bima kecelakaan.


"Ella," panggil papa Yuda sambil menepuk pundak mertuanya yang tidur menelungkup di sisi tempat tidur Bima. Papa Yuda baru saja tiba di rumah sakit. Papa Yuda mengulang kembali menyebut nama menantunya. Ella terbangun dan mengucek matanya.


"Papa, selamat pagi," jawab Ella. Dia berdiri dan menjauh dari tempat tidur Bima.


"Sepertinya kamu kelelahan nak. Beristirahatlah di rumah. Papa akan menyuruh orang berjaga di luar ruangan ini," kata papa Yuda sambil menatap menantunya. Setiap melihat Ella, rasa kasihan selalu timbul di hatinya. Melihat perjuangan dan kesabaran Ella menjaga Bima. Yuda sangat yakin jika Ella mencintai putranya dengan tulus.


"Tidak pa. Aku akan tetap disini menjaga mas Bima sampai sadar dari koma," jawab Ella. Dia tidak ingin kecolongan jika meninggalkan Bima sendirian. Terjadi sesuatu pada suaminya itu.


Yuda hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban menantunya. Ini bukan pertama kalinya dia menyuruh supaya Ella beristirahat di rumah atau mereka bergantian menjaga Bima. Tapi Ella dengan keras kepala tidak mau meninggalkan Bima walau Yuda sendiri yang menawarkan diri untuk menjaga Bima.


"Baiklah nak. Tapi setidaknya kamu juga menjaga kesehatan nak. Makin hari kamu kelihatan kurus. Apa tanggapan Bima nanti melihat istrinya kurus seperti ini," kata Yuda. Ella hanya tersenyum mendengar perkataan papa mertuanya.

__ADS_1


"Sarapan lah nak. Papa membawa itu untuk kamu," tunjuk Yuda ke meja sofa.


"Terima kasih pa," jawab Ella sambil masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Hanya beberapa menit. Ella sudah keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa.


Ella membuka penutup wadah sarapan pagi tersebut. Aroma makanan yang masuk ke dalam hidungnya membuat perut Ella bergejolak. Ella menutup mulutnya dan beranjak menuju kamar mandi. Ella memuntahkan air putih yang diminumnya sebelum membuka penutup wadah sarapan pagi.


"Ella, kamu sakit nak?" tanya papa Yuda khawatir melihat wajah lemas menantunya.


"Tidak pa. Hanya masuk angin," jawab Ella pelan. Dia kembali menuju sofa. Beberapa hari terakhir ini, Ella memang merasakan tubuhnya gampang lelah.


"Sebaiknya kamu menemui dokter nak. Wajahmu terlihat pucat," kata Yuda semakin khawatir. Yuda memberanikan diri mendekat dan duduk di sebelah Ella. Papa Yuda menempelkan punggung tangan ke kening Ella. Ella agak risih dan spontan bergerak bergeser menjauh.


"Maaf nak. Papa hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Tidak ada maksud lain. Habiskan sarapannya. Papa akan membuat janji dengan dokter untuk memeriksa kesehatanmu pagi ini juga."


Setengah jam kemudian. Papa Yuda kembali masuk ke ruangan Bima. Dia terkejut ketika melihat sarapan itu tidak berkurang sedikitpun sedangkan Ella terkulai lemas di sofa.


"Ella, Ella," panggil papa Yuda panik. Papa Yuda menekan tombol yang ada di ruangan itu untuk memanggil perawat.


"Tolong dibaringkan di sofa dulu suster," kata papa Yuda setelah suster masuk keruangan itu. Papa Yuda sangat sungkan membantu Ella berbaring mengingat bagaimana tadi menantunya itu menjauh ketika dirinya tadi meletakkan punggung tangannya di kening Ella. Suster melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Yuda. Awalnya suster mengira jika dirinya dipanggil karena ada perkembangan yang terjadi terhadap Bima.

__ADS_1


"Panggilkan dokter suster," perintah papa Yuda lagi. Dia menatap Yuda dan Ella bergantian. Dia menyesalkan sikap keras kepala Ella dalam hati yang bersikeras menjaga Bima sendirian.


"Tolong periksa menantuku dokter," perintah Yuda tidak sabaran setelah melihat dokter sudah berjalan dari arah pintu. Dokter itu hanya tersenyum dan mendekat ke sofa.


"Ibu ini hanya kelelahan. Tapi selain itu. Hal biasa yang dialami oleh ibu yang hamil muda."


Ella terkejut mendengar perkataan sang Dokter. Dia mengulang kata hamil di dalam hatinya.


"Aku hamil dokter?" tanya Ella lemah dan tidak percaya.


"Untuk lebih pastinya bisa di tes urine dengan menggunakan test pack atau langsung periksa ke dokter spesialis kandungan Bu," jawab dokter itu. Sang dokter adalah hanya Dokter umum. Tapi dokter itu sangat yakin jika gejala yang dialami oleh Ella adalah kondisi seorang ibu yang hamil muda.


Sedangkan Yuda langsung menyunggingkan senyum lebar dan langsung mendekat ke tempat tidur.


"Bima, bangunlah nak. Apa kamu tidak mendengar kata dokter jika istrimu hamil?" tanya papa Yuda sambil menatap lekat wajah putrinya. Tidak dipungkiri jika kehamilan Ella ini membuat hatinya bahagia. Tapi melihat Bima masih seperti ini. Kebahagian itu rasanya tidak lengkap.


Ella mengelus perut ratanya dengan lemas. Kehamilan adalah hal yang membahagiakan bagi seorang wanita tidak terkecuali dengan dirinya. Tapi menjalani kehamilan dengan suami yang koma Ella merasakan hatinya berdenyut nyeri.


"Kita ke ruangan dokter spesialis kandungan sekarang," kata papa Yuda setelah menyuruh dokter umum itu membuat janji dengan dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Papa, bisakah papa menunggu di luar?" kata Ella ketika mereka hendak memasuki ruangan dokter kandungan. Ella merasa malu jika papa mertuanya yang menemani dirinya periksa kandungan.


"Baiklah nak. Aku mengerti," kata Yuda yang langsung paham akan permintaan Ella untuk menunggu di luar.


__ADS_2