Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 71


__ADS_3

Mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Linna dan Ella. Zico sudah mengerti arti keberadaannya di rumah itu. Ternyata Karina mengajaknya ke rumah ini bertujuan untuk menjatuhkan Ella. Zico memang terkejut mendengar kenyataan bahwa Ella sudah menikah. Itu artinya tidak ada harapan baginya untuk rujuk dengan Ella. Ada rasa kecewa yang menyusup ke relung hatinya. Tapi mengingat perlakuannya di masa lalu. Zico memaklumi keputusan Ella untuk membuka lembaran baru bersama Bima.


Zico menatap Ella yang terlihat putus asa di samping kursi roda Bima. Kemudian menatap wajah manusia yang ada di ruangan itu satu persatu. Linna menunjukkan wajah seperti wanita yang sangat memperdulikan Bima. Yuda memasang wajah biasa saja. Sedangkan Karina memasak wajah senang. Mungkin karena sudah merasa menang mempermalukan Ella sebagai balas dendamnya atas perbuatan Ella yang mencelupkan wajahnya ke dalam closet.


"Aku dan Ella sudah bercerai," kata Zico lantang dengan tatapan tertuju kepada Ella. Ella merasa lega mendengarnya perkataan mantan suaminya. Linna yang tadinya menatap Bima pura pura sedih spontan menoleh ke arah Zico.


"Mereka memang bercerai. Tapi sebelum bercerai dengan mas Zico. Ella dan tuan Bima sudah menikah sebelumnya," kata Karina. Informasi pernikahan Ella dan Bima tentu saja ia dapat dari Linna. Linna tersenyum samar mendengar perkataan Karina yang masih saja bisa membuat Ella terpojok.


"Itu artinya janin yang dikandung Ella masih diragukan penanamnya siapa," kata Linna kembali memprovokasi.


"Tapi asal ibu tahu. Selama menikah dengan Ella. Aku tidak pernah menyentuhnya. Jadi bisa dipastikan jika ayah dari janin yang dia kandungnya adalah milik pak Bima," kata Zico tegas dan didengar oleh semua yang ada di ruangan itu.


Zico tidak ingin bersifat egois. Dia sudah menyadari jika benih benih cinta sudah tumbuh di hatinya untuk Ella. Tapi mengetahui jika Ella sudah menikah. Zico tidak ingin mengganggu kehidupan wanita yang baik itu. Cinta tidak harus memiliki. Zico mengutuk dirinya sendiri karena bodoh telah mengabaikan Ella selama ini. Mulai detik ini. Zico akan berusaha keras untuk membunuh benih benih cintanya untuk Ella.


Ella tentu saja bisa merasakan kelegaan hati. Bima mengucapkan terima kasih di dalam hati kepada Zico atas kejujuran itu.


Tapi hal lain terjadi di dalam diri Linna dan Karina. Dua wanita yang pantas dijuluki sebagai pelakor itu merasa sangat kesal karena tidak berhasil untuk menyingkirkan Ella dari rumah itu.


"Baiklah, aku percaya kepada Ella dan pria ini. Siapapun yang berani untuk meragukan calon cucuku maka akan berhadapan langsung dengan diriku sendiri. Untuk hari ini aku anggap ini sebagai pembicaraan biasa saja," kata Yuda yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan itu. Bagi Yuda, janin yang dikandung oleh Ella adalah cucunya kandung. Dan waktu akan bisa membuktikan hal itu. Yang terpenting bagi Yuda adalah kesembuhan total putranya.


"Kamu lebih percaya kepada orang yang baru kamu kenal dibandingkan dengan aku yang sudah bertahun tahun menjadi istrimu pa. Bisa aja mereka bersekongkol," kata Linna setengah berteriak.

__ADS_1


"Diam kamu. Justru karena sudah lama mengenal kamu makanya aku mengetahui semua niat busuk kamu termasuk rencana kamu yang tidak berhasil menjodohkan Bima dengan Lola," bentak papa Yuda marah.


Linna hampir melompat dari tempat duduknya mendengar bentakan papa Yuda. Niatnya untuk mempermalukan Ella di hadapan semua pekerja di rumah itu justru dirinya yang menanggung malu.


"Ada apa ribut ribut?" tanya Kiki yang berjalan menuruni tangga. Raut wajahnya langsung terkejut melihat kondisi kakaknya Bima. Selama ini dia mengetahui Bima kecelakaan tapi papa Yuda merahasiakan rumah sakit tempat Bima dirawat sehingga Kiki tidak bisa menjenguk sang kakak.


"Kak Bima, kenapa sampai bisa seperti ini?" tanya Kiki sedih yang sudah berdiri berjongkok di hadapan kakaknya.


"Mbak, kenapa menyembunyikan hal besar ini dari aku. Aku adiknya. Kenapa aku tidak bisa mengetahui keadaan kakakku yang sebenarnya?" tanya Kiki lagi kepada Ella. Tapi Ella hanya diam.


"Mbak Ella," bisik Nada kepada Ella yang masih berdiri di dekat Ella. Ella menoleh.


"Ada apa dek?" tanya Ella pelan.


Ella kembali terkejut mendengar bisikan adik iparnya.


"Apa kamu tidak salah lihat?" bisik Ella pelan. Nada menggelengkan kepalanya. Karena dia masih ingat dengan jelas wanita yang dilihatnya memberikan amplop kepada tiga pria di seberang jalan.


"Kiki," panggil Ella dengan dada yang mulai bergemuruh. Jika Kiki adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa suaminya maka Ella juga tidak tinggal diam. Selama ini Kiki bersikap baik kepadanya. Tapi yang namanya kejahatan siapa saja bisa melakukannya.


"Ada apa mbak?.

__ADS_1


"Kamu memberikan amplop kepada tiga pria di seberang restoran satu bulan yang lalu. Apa tujuan kamu memberikan amplop itu?" tanya Ella tanpa basa basi dengan perasaan marah. Tidak ada waktu baginya untuk merangkai kata kata untuk menjebak Kiki sebagaimana yang biasanya dilakukan para orang orang pintar untuk menyelidiki. Mengaku atau tidak mengaku. Ella sudah membulatkan tekadnya untuk melaporkan Kiki ke polisi hari ini juga.


"Amplop coklat?. Satu bulan yang lalu?" tanya Kiki pada dirinya sendiri untuk mengingat apa yang ditanyakan Ella kepadanya.


"Oia aku ingat mbak. Mama yang menyuruh aku ke tempat itu untuk memberikan amplop itu," jawab Kiki polos.


Linna bergerak gelisah bagaikan cacing kepanasan setelah mendengar jawaban putrinya akan pertanyaan Ella. Sejak Ella menyinggung tentang amplop coklat Linna sudah merasakan seperti berada di dalam neraka. Untuk menyuruh Kiki berbohong tentu saja tidak bisa. Apalagi dari tadi Kiki tidak menoleh kepadanya supaya bisa memberi kode untuk berbohong.


"Papa, amplop yang diberikan Kiki kepada ketiga pria itu ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpa mas Bima. Saat itu mas Bima sedang di restoran bertemu dengan Nada. Kita sudah mendengar jawaban Kiki. Itu artinya dalang kecelakaan yang menimpa mas Bima adalah Tante Linna," kata Ella gamblang. Kiki sangat terkejut mendengar perkataan Ella. Sungguh dia tidak menyangka kepolosannya dimanfaatkan sang mama untuk mencelakai sang kakak.


"Tidak, itu tidak benar. Aku tidak pernah menyuruh Kiki," kata Linna menyangkal perbuatannya. Kiki membulatkan matanya mendengar perkataan mama kandungnya itu. Dia tidak menyangka jika Linna sangat tega menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kejahatan yang sangat dalam.


Kiki akhirnya tidak dapat menahan tangis yang membuat dirinya berada di dalam situasi yang sangat berbahaya seperti ini. Apalagi melihat kemarahan yang terpancar dari sorot mata papa Yuda yang terus menatap dirinya kemudian menatap sang mama.


"Kalian berdua harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di hadapan polisi," kata papa Yuda marah sambil melakukan panggilan dengan ponselnya. Papa Yuda terdengar menyuruh seseorang itu untuk membuat laporan atas kecelakaan yang menimpa Bima.


"Papa, jangan laporkan aku pa. Aku mohon. Aku berani bersumpah jika pemberian amplop itu atas perintah mama." Kiki memohon di kaki papa Yuda supaya tidak dilaporkan. Tapi Yuda tidak bergeming. Jelas terlihat raut kecewa di wajahnya mengetahui putrinya ikut sebagai terduga di kecelakaan Bima.


"Aku punya buktinya pa. Kalau mama yang menyuruh aku," kata Kiki setelah mengingat jika ada chat antara dirinya dengan Linna terkait amplop itu.


Kiki mengambil ponselnya dengan tangan bergetar dari dalam saku celananya. Dia membuka ponsel itu dan langsung mencari chat. Kiki menghindar cepat ketika Linna berusaha merebut ponsel di tangannya.

__ADS_1


"Ini mbak. Lihat ini," kata Kiki menunjukkan kepada Ella karena jarak Ella dengan dirinya lebih dekat dibandingkan ke papa Yuda.


Ella ternyata pintar sebelum membaca chat itu dia terlebih mengirimkan screenshot chating itu ke ponselnya. Kemudian membaca chat itu dengan seksama.


__ADS_2