
Ella menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok setelah mendengar pembicaraan dua manusia dari ruang tamu. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah ini setelah memikirkan resiko yang mungkin akan dihadapinya. Hampir satu Minggu di rumah besar Yuda. Ella tidak mengenali suara yang menjadi lawan bicara Linna. Tapi dari pembicaraan itu Ella dapat mengetahui jika laki laki itu adalah asisten papa mertuanya.
Ella sengaja betah berdiri di balik tembok itu. Ella menajamkan pendengarannya. Dari pembicaraan itu Ella dapat menyimpulkan jika lawan bicara Linna adalah sekutunya. Ella merapatkan giginya marah. Dia sangat membenci pengkhianatan. Walau yang dilakukan pria itu adalah mengkhianati atasannya yaitu Yuda. Ella tetap tidak terima. Ella menegakkan tubuhnya dan menahan nafas ketika menyadari jika langkah pria itu hendak melewati tembok dekat dirinya bersandar.
Ella mengikuti langkah Alan setelah pria itu keluar dari pintu utama. Ella penasaran akan wajah pengkhianat yang bekerja sama dengan Linna yang mengkhianati papa mertuanya. Ella kembali bersembunyi di balik pilar di teras rumah itu.
Ella terkejut melihat wajah Alan dengan jelas ketika membuka pintu mobil. Ella masih ingat dengan jelas wajah itu. Pria yang bertemu dengan dirinya dan Ester ketika mereka berada di kafe beberapa minggu lalu. Ella juga mengingat jika pria itu juga mengatakan dirinya seorang manager di cakrawala group kala itu. Ella kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Alan meninggalkan pekarangan rumah Yuda.
Ella kembali menghentikan langkah ketika mendengar suara Linna berbicara di telepon.
"Tenang saja Karina. Dia tidak akan bahagia selamanya. Terima kasih atas informasi yang kamu berikan beberapa hari yang lalu."
Ella merasakan darahnya berdesir mendengar perkataan Linna apalagi menyebut nama Karina. Pikirannya sudah dipenuhi tentang nama Karina.
"Apakah Karina yang disebutkan Tante Linna barusan adalah Karina mantan maduku?" tanya Ella dalam hati. Ella melangkahkan kakinya menuju ruang tamu setelah mendengar perkataan terakhir Linna di telepon itu.
"Selamat malam Tante," sapa Ella sopan.
"Selamat malam Ella," balas Linna sambil tersenyum. Suara Ella yang serak jelas pertanda jika wanita itu baru saja menangis. Linna juga memperhatikan wajah Ella yang masih sembab.
"Mana papa mertua kamu. Bukankah kalian tadi keluar bersama?" tanya Linna basa basi. Sebenarnya tanpa bertanya dia sudah mengetahuinya. Tapi bagi Linna mengingatkan kesedihan Ella adalah hal menyenangkan baginya.
"Aku rasa Tante mengetahui tanpa bertanya. Bukankah Tante mempunyai mata dan telinga yang banyak di luaran sana. Jadi untuk apa lagi bertanya?" tanya Ella balik. Ella sengaja mendudukkan tubuhnya di sofa itu. Ella merasa perlu berbicara banyak dengan Linna malam ini. Keputusannya untuk pulang ke rumah ini dibandingkan pulang ke rumah pribadi Bima sangat tepat. Malam ini, Ella mengetahui dan mendengar jika ternyata Linna bekerjasama dengan orang orang yang bekerja pada Yuda untuk menghancurkan Bima. Begitulah Ella menyimpulkan apa yang didengarnya malam ini walau tidak secara terang terangan Linna menunjukkan hal itu.
"Sayangnya Tante tidak mengetahui hal apapun Ella. Jangan sampai Tante mengetahui jika kamu ada bermain dengan suamiku papa mertua kamu sendiri," kata Linna sambil memandang Ella remeh. Dia sengaja membuat Ella marah supaya tidak tahan di rumah ini. Linna sangat yakin bahwa Ella tidak akan tahan di rumah ini jika dia bersikap seperti ini. Apalagi Bima juga masih di rumah sakit. Linna menginginkan Ella keluar secepatnya dari rumah ini.
Ella mengepalkan tangannya marah. Berbicara dengan Linna selalu membuat darahnya mendidih. Ella juga berusaha tidak terpancing atas perkataan Linna yang tidak berdasar itu.
"Maaf ya Tante. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi pelakor. Aku adalah wanita terhormat yang diperistri oleh pria lajang yang tidak terikat dengan wanita lain. Aku bukan wanita seperti Tante yang merebut papa dari mama Maya. Mama kandung suamiku," jawab Ella tenang. Dia menghitung dalam hati untuk mendengar perkataan Linna setelah mendengar apa yang dia katakan. Tepat di angka tiga. Ella menghentikan hitungannya karena Linna sudah mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Sok suci kamu Ella. Kamu adalah wanita yang lebih rendah daripada pelakor. Di negara ini sangat jarang ada wanita menikah dengan pria lain selagi masih terikat pernikahan dengan suaminya sendiri. Hanya kamu orangnya," kata Linna marah sambil menunjuk wajah Ella.
Dapat. Perkataan ini yang diinginkan oleh Ella yang sengaja memancing amarah Linna. Dia sudah dapat menyimpulkan jika Karina yang disebutkan oleh Linna tadi adalah Karina mantan madunya.
"Apa yang kamu tahu tentang aku, Tante Linna?" tantang Ella lagi sambil membusungkan dadanya.
"Aku mengetahui banyak hal tentang kamu."
"Kalau begitu, katakan apa saja yang kamu ketahui tentang aku," kata Ella tenang. Dia duduk dengan kaki kanannya yang menindih kaki kirinya.
"Kamu adalah wanita gila harta yang rela meninggalkan suaminya demi Bima." Linna berkata marah sambil menunjuk wajah Ella. Sungguh, dia tidak menyukai cara Ella berbicara dan duduk tenang seperti wajah yang tidak menunjukkan rasa sedih.
"Siapa yang bilang?" tanya Ella lagi. Nadanya tenang tapi sanggup menyulut emosi di hati Linna.
"Dari Karina."
"Ternyata dua pelakor telah berkomplot. Tapi sayangnya itu tidak berpengaruh kepadaku. Tante Linna. Aku tidak akan biarkan kamu tenang jika kecelakaan suamiku adalah bagian dari rencana kamu. Mulai malam ini. Aku resmi mengibarkan bendera perang kepadamu. Ibarat pepatah jika kamu menjual maka aku akan membelinya. Ingat itu Tante Linna yang tidak terhormat," kata Ella sambil berdiri dari duduknya. Dia menatap tajam Linna terlebih dahulu sebelum berlalu dari ruang tamu.
Ella menuju bagian belakang rumah itu. Dapur itu terasa sunyi karena memang sudah hampir jam sebelas. Para pelayan di rumah itu sudah beristirahat di kamar masing masing. Ella mendekati salah satu kamar pelayan dan mengetuk pintu kamar itu. Ella langsung masuk ke dalam kamar itu setelah pintu terbuka.
Pelayan itu terlihat segan ketika Ella masuk ke kamarnya.
"Maaf, aku menganggu tidur kamu mbak," kata Ella. Pelayan itu tersenyum gugup.
"Tidak menganggu kok Nyonya. Tadi juga saya baca novel online. Belum tidur," jawab pelayan itu jujur supaya Ella tidak merasa bersalah.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?.
"Tiga tahun Nyonya."
__ADS_1
"Boleh aku bertanya?" tanya Ella. Pelayan itu mengangguk.
"Apa kamu mengenal ini?" tanya Ella sambil menunjukkan foto Karina di ponselnya.
"Kenal Nyonya. Ini kan Karina yang pernah bekerja di sini," jawab pelayan itu heran.
"Kerja sebagai apa?" tanya Ella lagi.
"Sama seperti saya Nyonya. Pelayan," jawab pelayan itu.
"Siapa namamu. Maaf baru bertanya saat ini?" tanya Ella lagi. Dia merasa tidak enak karena tidak mengetahui nama pelayan itu padahal dirinya sudah satu Minggu tinggal di rumah ini.
"Mona nyonya."
"Mengapa Karina berhenti bekerja di ini Mona?.
"Kalau hal itu, saya tidak mengetahui dengan jelas Nyonya. Tapi jika Nyonya ingin tahu tanya ibu Lita saja. Kepala pelayan."
"Baiklah Mona. Terima kasih ya," kata Ella. Dia keluar dari kamar itu dan terkejut kerena Linna sudah berdiri di depan pintu itu.
"Kenapa kamu keluar dari kamar pelayan?" tanya Linna penuh selidik. Tadi, setelah melihat Ella menuju belakang bagian rumah. Linna sengaja mengikutinya.
"Aku memerintahkan Mona untuk membersikan kamarku besok pagi," jawab Ella sambil tersenyum.
"Aku tidak percaya. Pasti kamu merencanakan sesuatu kan?" tanya Linna tidak percaya.
"Benar begitu Mona?" tanya Linna sambil memandang arah kamar yang terbuka.
"Kalau tidak percaya. Ya sudah. Pembohong dan orang jahat memang sangat sulit untuk percaya mengingat mereka sering berbohong dan berbuat jahat."
__ADS_1