
Linna merasa tertampar mendengar perkataan Ella. Bahkan perkataan Ella lebih menyakitkan dibandingkan tamparan tangan. Perkataan itu sangat tepat mengenai dirinya dan sialnya Ella mengatakan itu di hadapan Yuda yang merupakan mangsanya.
Linna menunduk sambil merapatkan giginya. Rasa benci akan Ella semakin berkobar di hatinya. Niatnya untuk menjatuhkan Ella ternyata justru dia yang terjatuh ke ingatan masa lampau. Tanpa sadar dia sendiri yang membuka aibnya di depan suaminya Yuda. Tapi bukan Linna namanya kalau tidak bisa berkelit. Wanita licik itu licin bagai belut. Terkadang sudah tertangkap tapi bisa lepas kembali.
Bima tersenyum puas mendengar perkataan istrinya terhadap Linna. Bima langsung menatap papanya sesudah perkataan Ella terdengar di ruangan itu. Yuda bersikap biasa dan tidak begitu berusaha memahami perkataan menantunya.
"Setiap orang tua yang ingin yang terbaik untuk anak anaknya. Termasuk aku yang menginginkan hal terbaik untuk putraku Bima. Tetapi jika semua yang aku katakan tadi tidak benar. Mama justru senang karena Bima memperistri wanita seperti kamu Ella. Bima sudah pernah gagal dengan wanita yang pernah dianggapnya wanita baik. Ternyata wanita itu hanya mengincar hartanya. Itulah sebabnya, aku sangat selektif memilih jodoh untuk Bima. Tapi dia memilih kamu."
Linna akhirnya melicinkan dirinya untuk terlepas dari tuduhan Ella. Tentu saja dia akan mencari solusi lain untuk mencapai tujuannya. Jika menjatuhkan Ella tidak bisa maka Linna akan menyanjung wanita itu untuk memuluskan rencananya.
"Terima kasih ma, karena menyayangi aku begitu dalam. Segala kebaikan dan tindakan mama terhadap aku pasti aku balas," kata Bima sambil tersenyum.
Linna menganggukkan kepalanya dan tersenyum sangat manis mendengar perkataan Bima. Linna merasa jika perkataan tadi dipercaya oleh Bima dan yang lainnya. Dia tidak tahu jika perkataan Bima mempunyai arti yang sangat dalam. Segala tindakan kejahatan Linna akan dibalas setimpal jika waktunya telah tiba.
"Kamu memang putra terbaikku Bima," jawab Linna. Bima lagi lagi tersenyum. Bima kembali menoleh ke papanya yang bersandar tanpa berniat ikut ke pembicaraan Bima dan Linna.
"Apa kami sudah boleh naik ke atas pa," tanya Bima sopan. Pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran membuka Bima lelah dan ingin beristirahat sebentar.
"Sebentar nak. Papa ingin bertanya. Apa kalian tidak berencana untuk bulan madu. Papa tidak sabaran untuk mempunyai cucu."
__ADS_1
Bima tertawa mendengar permintaan papanya. Sedangkan Ella menunduk tersipu malu. Linna kembali mengepalkan tangannya karena tidak senang dengan pertanyaan suaminya. Jika boleh meminta Linna sebenarnya ingin Bima tidak mempunyai keturunan.
"Sebelumnya untuk berbulan madu ke negara yang bersuhu dingin tentu saja ada keinginan pa. Tapi itu setelah pekerjaan di kantor terselesaikan. Kami sudah berbulan madu minggu lalu selama satu Minggu. Aku rasa sebentar lagi kita akan mendengar kabar bahagia," jawab Bima. Seketika mata pria itu berbinar. Bima adalah putra satu satunya bagi Yuda. Dia berharap Bima segera mempunyai anak laki laki yang banyak untuk meneruskan garis keturunannya.
"Semoga saja Ella cepat hamil," kata Papa Yuda senang.
Linna kembali gelisah. Dalam hati dia melafalkan doa doa supaya Ella tidak hamil.
"Pa, jika Bima mewarisi semua hartamu. Kiki dapat apa pa?.
Akhirnya pertanyaan itu tidak bisa ditahan lagi. Kiki adalah putri kandungnya. Menurut Linna, pembagian harta antara Bima dan Kiki harus bagi rata. Tetapi selama ini. Yuda selalu menegaskan bahwa di keluarganya turun temurun hanya anak laki laki lah yang berhak mewarisi seluruh harta. Tapi yang Linna lihat tidak seperti itu kenyataannya. Adik adik Yuda yang perempuan justru mendapat warisan dari kedua mertuanya.
"Tidak begitu juga pa. Seharusnya papa juga memberikannya dia perusahaan walau perusahaannya terkecil yang papa punya. Dia juga darah daging kamu."
"Linna, andaikan perusahaan aku adalah warisan dari kakeknya Bima. Aku akan menyanggupi permintaan kamu itu. Tapi perusahaan aku adalah perusahaan yang aku bangun sendiri dengan bantuan modal dari Maya mama kandung Bima. Itu sebabnya hanya Bima yang berhak mewarisi semua harta dan perusahaan aku," jawab Yuda sudah mulai terpancing amarah. Dia sudah berkali kali mengatakan hal itu kepada Linna. Tapi wanita itu seperti lupa ingatan seakan akan tidak pernah mendengar penjelasan Yuda akan keputusannya.
"Tapi tanpa kerja kerasmu. Modal Maya tidak mungkin bisa berkembang menjadi perusahaan besar pa. Aku dan Kiki berhak juga mendapat bagian dari harta kamu."
"Apa hidup mewah dan jatah fantastis yang aku berikan kepadamu kurang?. Jika kamu wanita yang bijak. Kamu pasti sudah mempunyai banyak tabungan. Tapi karena kamu wanita yang memuja hidup foya foya. Seberapa banyak pun yang aku berikan kepadamu selalu kurang."
__ADS_1
Yuda akhirnya marah juga. Ingatannya melayang di awal pernikahan dengan Maya dimana dirinya hanya seorang manager kebun di perkebunan kelapa sawit di daerah pedalaman. Menjadi manager yang penuh tekanan kerja dari atasan. Hidup terpisah dari sang istri yang saat itu sedang mengandung Bima. Hanya bisa mengunjungi Maya sekali dalam dua bulan.
Maya tidak tega melihat Yuda yang hidup di pedalaman dengan fasilitas yang terbatas. Maya akhirnya menjual semua perhiasan dan warisan dari orangtuanya. Berbekal dari penjualan perhiasan dan rumah warisan. Yuda dan Maya membeli tanah 100 hektar yang sudah ditanami sawit. Hingga dari 100 hektar menjadi ribuan hektar. Perkebunan itu berkembang pesat hingga akhirnya mereka mempunyai pabrik pengolahan kelapa sawit.
Perkembangan perkebunan kelapa sawit Yuda tidak sampai disitu. Perkebunan itu kini sudah tersebar di beberapa pulau besar di negeri ini.
Seiring dengan waktu, Yuda melebarkan sayap membangun perusahaan di bidang lain. Kantor pusat yang dulunya berada di kota kabupaten berpindah ke kota ibukota provinsi.
Yuda tidak lagi hidup terpisah dengan istri dan anaknya. Dia memantau perkebunan dari kantor pusat dengan menempatkan tenaga tenaga ahli di setiap perkebunannya.
Tapi kebahagiaannya karena berkumpul dengan anak istrinya tidak berlangsung lama. Yuda tergoda dengan sekretarisnya sendiri yang tidak lain dari Linna. Beberapa tahun dirinya bisa menyembunyikan pernikahan sirinya dengan Linna. Tapi yang namanya bangkai pasti akan tercium juga. Maya mengetahui perselingkuhan Yuda. Maya shock, Maya tidak bisa menerima dirinya diselingkuhi apalagi saat itu dirinya mengandung anak kedua.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kiki pa," jawab Linna pelan untuk menyembunyikan rasa marahnya.
"Aku sudah memberikan banyak penderitaan kepada Maya. Akan tidak adil jika aku juga mewariskan perusahaannya kepada anak hasil selingkuhan aku. Bisa dikatakan aku hanya pekerja di perusahaan. Pemilik sebenarnya adalah Maya."
Linna terkejut mendengar penuturan suaminya. Pantas saja selama ini usahanya untuk memindahkan nama pemilik perusahaan atas namanya tidak pernah berhasil. Linna merasa kecolongan. Dia melirik Bima sekilas. Ada penyesalan di hatinya ketika pernah merawat Bima ketika sakit. Harusnya saat itu dia membunuh putra dari suaminya itu.
"Ayo ma, keluarkan lagi kekesalan dan kemarahan kamu. Biar papa tahu siapa sebenarnya kamu. Tanpa bersusah payah aku membongkarnya," batin Bima dalam hati. Melihat cara Linna mempengaruhi papa Yuda untuk menginginkan hartanya mengatasnamakan Kiki. Bima sebenarnya merasakan senang di hatinya. Selama ini, Linna bisa berpura pura menjadi wanita baik di hadapan papanya. Dengan pembicaraan hari ini. Bima berharap papanya bisa membuka mata akan keserakahan Linna.
__ADS_1