Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 73


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Zico hanya fokus menyetir tanpa memperdulikan Karina yang banyak berbicara. Hatinya seakan terbuka akan kebusukan hati Karina setelah mengetahui persengkokolan Karina dengan Linna untuk menjatuhkan Ella.


Zico menyetir sambil memikirkan hubungannya dengan Karina untuk ke depannya. Untuk menjalani rumah tangga seperti sebelumnya sangat sulit bagi Zico. Selama hampir dua bulan tinggal berdua dengan Karina. Semua sifat asli Karina terbuka. Selain pemalas dan gila uang ternyata Karina juga tukang ngutang di sekitar lingkungan rumahnya. Tiga hari yang lalu, Zico harus menanggung malu karena ulah Karina. Rumahnya di datangi oleh ibu ibu tetangganya untuk menagih utang berujung pertengkaran.


Hari ini batas kesabaran itu hilang dari hati Zico. Dia muak dengan sifat istrinya yang dulu dia banggakan.


"Mas Zico. Kamu langsung pulang saja," kata Karina setelah mobil berhenti di halaman rumah yang tanpa pagar. Karina takut, jika orang tuanya mengetahui alasan kedatangannya.


"Turunlah. Aku langsung pulang," jawab Zico dingin.


"Jangan coba coba selingkuh mas selama aku di rumah orang tuaku," ancam Karina setelah turun dari dalam mobil.


"Aku tidak akan selingkuh. Tapi aku akan mencari wanita yang baik seperti Ella untuk menjadi pendamping hidupku sampai tua," kata Zico membuat Karina kembali membuka pintu mobil.


"Apa maksud kamu mas?.


"Kamu tidak mengetahui apa maksudku. Aku akan menceraikan kamu. Aku muak dengan tingkah laku kamu selama ini."


"Tapi aku tidak mau berpisah dari kamu mas."


"Tutup pintunya. Jangan sampai tetanggamu mendengar kita ribut," kata Zico tajam. Ella akhirnya menurut dan menutup pintu mobil.


Zico melesat pergi dari tempat itu. Pesan di ponselnya mengarahkan Zico menuju tempat bertemu yang disebutkan si pengirim pesan.


***


Hari hari yang sangat melelahkan dilalui Ella tanpa mengeluh. Menjalani hamil muda dan masa ngidam juga merawat suami yang lumpuh. Satu bulan berlalu, Bima menjalani rawat jalan untuk pengobatan dirinya. Tapi tanda tanda kemajuan tidak terlihat.

__ADS_1


Mengabdikan dirinya secara total kepada sang suami dan calon janinnya, bisa mengurangi rasa bosan di hati Ella. Tapi tidak dengan hatinya. Ella selalu merasa khawatir dan tidak tenang. Setiap hari, Ella menginginkan mukjizat atas kesembuhan suaminya.


Bukan hanya Ella. Papa Yuda, mama Maya dan juga Nada. Mereka terus menyemangati Bima untuk terus-menerus berusaha untuk sembuh. Sedangkan Kiki, sejak terbukti tidak bersalah tidak bersedia lagi tinggal di rumah besar itu. Karena Mama Maya dan Nada kembali ke rumah itu atas bujukan papa Yuda dan Ella. Sedangkan papa Yuda memilih tinggal di apartemen karena tidak mungkin baginya tinggal satu atap dengan mantan istrinya.


"Ella, aku rasa ada baiknya kita menerima saran Zico untuk membawa Bima berobat kepada bapaknya," kata papa Yuda. Kini mereka berkumpul di ruang tamu.


"Terserah papa saja," kata Ella pasrah. Dia juga ingin Bima cepat sembuh bagaimanapun jalannya.


"Kenapa terserah papa?. Kamu istrinya Bima nak. Mengambil keputusan yang berkaitan dengan Bima adalah kamu."


Ella hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak menemukan kata kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang terpendam di hatinya. Mantan mertuanya belum mengetahui tentang perceraiannya dengan Zico.


"Apa kata terserah yang kamu katakan itu ada hubungannya dengan perceraian kamu dengan Zico," tebak papa Yuda.


"Benar pa. Mantan mertuaku itu adalah orang baik. Mereka pasti kaget mendengar perceraian kami. Kalau mas Bima berobat ke sana. Aku takut menimbulkan fitnah melihat kedekatan aku dengan mas Bima."


"Kalau begitu aku ikut strategi kalian pa. Bolehkah Nada ikut bersama kami ke sana?" tanya Ella. Nada dan mama Maya yang sedari tadi diam ikut senang ketika Ella ingin mengajak Nada. Mama Maya juga ingin mendampingi putranya selama pengobatan dan juga ingin mengenal besannya.


"Tidak. Nada akan ikut papa ke kantor. Papa ingin mengajarinya bisnis. Kamu boleh mengajak sahabatmu untuk menyamar menjadi adik Bima," jawab papa Yuda membuat Nada semakin senang.


"Benar pa?. Tapi bagaimana dengan kuliahku?" tanya Nada setengah mengeluh.


"Itulah sebabnya kamu tidak boleh ikut ke sana nak. Kamu harus fokus kuliah. Setelah jam kuliah usai. Kamu boleh ke kantor," kata papa Yuda sambil membelai rambut putrinya.


"Bagaimana dengan mama Maya pa," tanya Ella lagi.


"Mama mertua kamu boleh ikut ke sana," jawab Yuda masih membelai rambutnya Nada. Masih ada rasa malu di hatinya untuk mama Maya. Bahkan untuk menatap mama Maya, papa Yuda seakan tidak berani.

__ADS_1


Besok paginya, dua mobil sudah siap berangkat di depan rumah Yuda menuju ke kampung halaman Zico. Mobil khusus untuk membawa Bima, Ella, mama Maya dan juga Ester sahabat Ella untuk menyamar sebagai adiknya Bima di kampung halaman Zico. Mobil tersebut dikendarai oleh Zico sendiri. Sedangkan mobil satunya lagi untuk membawa tiga orang tenaga medis yang dibawa untuk berjaga jaga jika Bima membutuhkan perawatan medis di sana. Papa Yuda menyuruh Zico untuk keluar dari pekerjaannya dan menjanjikan pekerjaan yang baru untuknya di perusahaan Yuda. Sedangkan Ester hanya mengajukan cuti karena dia memang bekerja di perusahaan Yuda.


Gadis itu masih bingung dengan keberadaannya dan juga permintaan Ella untuk menemaninya.


"Ella, apa maksud semua ini?" bisik Ester. Selain bingung dia terkejut melihat kondisi Bima yang duduk di kursi roda.


"Kapan kapan aku akan cerita ester. Saat ini yang perlu kamu tahu bahwa aku dan mas Bima suami istri." Ester hanya bisa membulatkan matanya karena semakin bingung dengan apa yang barusan dia dengar.


"Jadi dengan pria itu. Bagaimana status kalian?" tanya Ester sambil menunjuk Zico yang sedang berbicara dengan papa Yuda.


"Mantan," jawab Ella singkat. Ester menggaruk kepalanya yang memang gatal setelah mendengar pengakuan Ella.


Ester masih ingin banyak bertanya, tapi suara papa Yuda yang menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam mobil membuat Ester mengurungkan untuk tidak bertanya.


"Hati hati menyetir mas," kata Ella kepada Zico setelah mobil bergerak meninggalkan pekarangan rumah papa Yuda. Pria itu hanya mengangguk kepalanya tapi matanya mengarah ke spion dan melihat Ester dari kaca tersebut.


Ternyata aksinya itu bisa dilihat oleh Ella dan Ester.


"Ingat Karina di rumah mas," kata Ella lagi membuat Zico gugup.


"Kami sudah bercerai Ella."


"Hah, bercerai?" tanya Ella terkejut. Zico lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia malu untuk menceritakan hal itu.


"Kenapa bercerai nak. Kalau masih bisa dipertahankan. Berusahalah saling memperbaiki diri," nasehat mama Maya yang duduk di sebelah Zico. Pertanyaan mama Maya mewakili pertanyaan Ella dan Ester.


"Tidak bisa dipertahankan lagi Tante," jawab Zico. Dia tidak ingin mengumbar kesalahan Karina. Satu Minggu pertama Karina di rumah orang tuanya. Zico harus menanggung malu karena hampir setiap hari didatangi oleh penagih utang. Karina tidak hanya meminjam uang kepada ibu ibu tetangganya. Karina juga meminjam uang kepada rentenir dengan bunga yang tinggi. Yang membuat Zico marah. Ternyata Karina membebankan utang itu atas nama Zico. Entah bagaimana caranya, Karina bisa mendapat tanda tangan Zico di kwitansi dan surat perjanjian hutang piutang tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah nak. Sekarang kamu fokus menyetir ya. Jika wanita itu tidak layak menjadi pendamping kamu. Maka percayalah, pasti ada wanita yang baik yang disediakan yang Kuasa untuk jodohmu," nasehat mama Maya sambil menepuk pundak Zico. Pria itu mengaminkan perkataan mama Maya di dalam hatinya.


__ADS_2