
Bima tidak henti hentinya tersenyum. Bima dan Ella saat ini sedang di mobil. Mereka baru saja konsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Bima merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Melihat janinnya lewat USG dan mengetahui perkembangan janinnya yang sangat baik merupakan hal yang paling berharga bagi dirinya. Kebahagiannya semakin lengkap setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani dirinya jika perkembangan kesehatan Bima sangat baik bahkan tidak butuh waktu lama untuk bisa sembuh total.
Bima terus menggenggam tangan Ella yang duduk di sampingnya. Nada yang duduk di samping supir juga tersenyum melihat kakaknya itu. Nada tidak menyangka jika Bima ternyata sangat bucin kepada Ella.
"Mas, malu ada Nada," bisik Ella. Tangan Bima terus menggenggam tangan Ella dan sesekali menciumnya.
"Santai saja mbak. Anggap saja dunia ini milik kalian berdua. Abaikan aku dan pak supir."
Ella semakin malu. Dia tidak menyangka bisikannya sampai didengar oleh Nada.
"Terima kasih adikku yang manis. Kamu sangat pengertian membuat kakak makin sayang padamu," jawab Bima sambil menggerakkan tangannya menjangkau kepala Nada dan mengacak rambutnya.
"Sama sama kak. Fokus saja berpacaran di belakang. Jangan sampai menganggu ketenangan aku dan pak supir."
Nada merapikan rambutnya yang sudah terlihat acak-acakan. Melihat interaksi Bima dan Nada membuat pak supir dan Ella tersenyum.
Bima dan Ella terkekeh mendengar perkataan adiknya. Benar saja. Mereka seperti dua insan yang baru merasakan cinta.
Sesampai di rumah. Bima kembali mengembangkan senyumnya melihat kedua orangtuanya terlihat akur sedang berbicara di ruang tamu.
Papa, mama."
Papa Yuda dan mama Maya serentak menoleh ke Bima dan Ella yang berjalan menuju ruang tamu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya papa Yuda.
__ADS_1
"Semuanya baik baik saja pa."
Ella dan Bima duduk berdampingan di sofa. Sedangkan Nada duduk di samping papa Yuda. Sekilas mereka terlihat keluarga utuh yang sangat berbahagia. Apalagi dengan tangan papa Yuda yang bertengger di bahu Nada. Papa Yuda memang sangat menyayangi Nada melebihi rasa sayangnya kepada Bima dan Kiki.
Mengingat bagaimana Nada tumbuh tanpa dirinya membuat papa Yuda selalu merasa bersalah setiap melihat Nada. Hanya Papa Yuda yang tahu bagaimana dirinya meratapi penyesalannya jika sendirian.
"Kalian membicarakan apa tadi?" tanya Bima lagi.
"Tentang resepsi pernikahan kalian nak. Papamu ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian secepatnya."
"Iya nak. Papa rasa kita tidak perlu menunda waktu lagi untuk mengadakan resepsi pernikahan kalian. Papa ingin kamu memperkenalkan Ella sebagai istrimu ke semua relasi kita."
Bima menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Dirinya juga sudah merencanakan hal itu. Sebab tidak ada lagi rintangan atau hal yang perlu dijaga jika pernikahan mereka diketahui oleh umum.
"Selain resep pernikahan, ada juga hal lain yang ingin papa bicarakan," kata Papa Yuda pelan. Mendengar perkataan itu semua mata memandang papa Yuda dengan penasaran.
"Hal apa pa?" tanya Nada setelah sekian menit mereka terdiam.
"Bima, semua aset dan perusahaan sudah menjadi atas milikmu." Papa Yuda terdiam lagi.
"Papa menyesal telah memberikan semuanya kepada aku?" selidik Bima yang melihat papa Yuda menarik nafas panjang.
"Tidak, tidak menyesal nak. Hanya saja papa mengharapkan kerelaan hatimu untuk memberikan sedikit saja kepada Nada. Tidak adil bagi Nada jika dia tidak mendapatkan apapun padahal kalian terlahir dari ibu mama yang sama."
"Papa tidak perlu khawatir. Itu hal mudah bagiku. Bagaimana dengan Kiki?. Dia juga putri papa?.
__ADS_1
"Kalau tentang Kiki. Papa butuh pendapat mama kamu untuk itu."
Bima memandang papa dan mamanya bergantian.
"Mengapa harus meminta pendapatku. Aku bukan siapa siapa lagi bagimu. Putrimu itu masih punya mama. Harusnya kamu meminta pendapat kepada dia," jawab mama Maya.
"Maya, aku butuh pendapat kamu karena aku sangat sadar. Apa yang aku miliki dan capai selama ini berkat modal dari kamu. Dan asal kamu tahu saja. Linna tidak mendapatkan harta Gono gini dari perceraian kami."
Ingin rasanya mama Maya tertawa kencang mendengar perkataan mantan suaminya. Lebih tepatnya menertawakan Linna yang ternyata tidak mendapatkan apa apa dari hasil merampas papa Yuda darinya.
"Bima, untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya kamu juga memberikan hak dari putri papa kamu itu. Kiki tidak bersalah atas kehadirannya di dunia ini."
Mama Maya akhirnya mengatakan hal itu. Mama Maya sangat sadar. Bahwa Kiki juga berhak mendapatkan harga warisan dari mantan suaminya. Mama Maya tidak ingin ada dendam dalam diri Kiki untuk kedua anaknya. Mama Maya juga menasehati Nada untuk bisa menerima Kiki sebagai adik tirinya.
Papa Yuda menatap mama Maya dengan mata yang berkaca-kaca. Hati wanita itu benar benar baik.
"Terimakasih Maya karena memikirkan Kiki," kata papa Yuda dengan suara yang sudah terdengar serak. Ingin rasanya dia langsung menghubungi Kiki untuk segera bergabung dengan mereka sekarang juga. Meluapkan rasa senangnya, Papa Yuda memeluk Nada dengan erat.
"Masih ada hal lain yang ingin aku bicarakan lagi," kata papa Yuda lagi.
Suasana ruang tamu itu hening seketika. Tidak ada satu orang pun yang bertanya apa yang hendak dibicarakan oleh Yuda.
"Di depan anak anak dan menantu kita. Maya, aku mohon rujuk lah denganku," kata Papa Yuda membuat Bima dan yang lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika papa Yuda berani mengajak mama Maya untuk rujuk setelah penderitaan yang diciptakan untuk wanita baik itu.
"Maaf Yuda. Kisah kita sudah tutup buku. Simpanlah kata katamu untuk Linna," jawab Mama Maya tegas.
__ADS_1