Suami Rahasia

Suami Rahasia
Bab 84


__ADS_3

Hari terus berganti. Kesehatan Bima juga sudah sehat sempurna. Sesuai dengan permintaan papa Yuda. Bima juga sudah memberikan apa yang menjadi hak dari Nada dan Kiki sebagai adik kandungnya. Sebagai anak tertua. Bima sangat sadar bahwa dirinya harus bisa bersikap bijaksana untuk menjadi seorang kakak dari dua adik yang berbeda ibu kandung.


Kiki yang tidak menyangka jika dirinya mendapat warisan dari papa Yuda sangat terharu. Awalnya dia berpikir jika dirinya akan sendirian setelah kejahatan mamanya Linna terbongkar. Tapi kenyataan yang dia dapat sekarang berbanding terbalik dengan pemikiran. Selain mendapatkan harta warisan. Bima juga meminta Kiki untuk tetap tinggal di rumah utama selama dirinya belum menikah.


Bima tidak sembarang membuat keputusan. Keputusannya itu disetujui oleh mama Maya dan Ella. Hal itu membuat Kiki mengagumi mama Maya dan semakin menaruh hormat kepada wanita tua yang disakiti oleh mama kandungnya itu.


Bukan tanpa alasan mama Maya mengijinkan Kiki kembali tinggal di rumah itu. Mama Maya sudah mendengar dari Lita tentang Kiki yang sangat berbeda dengan Linna. Sebagai seorang wanita, mama Maya merasa jika apa yang dilakukan oleh Linna selama ini merupakan hal yang memalukan bagi Kiki.


"Jika kamu keberatan. Kami tidak memakai. Keputusan tetap ada padamu," kata Bima kepada Kiki yang masih nampak berpikir untuk kembali tinggal di rumah itu.


"Terima kasih kak. Terima kasih Bu. Mendapat kebaikan dari kalian membuat aku semakin malu akan perbuatan mamaku dulu," jawab Kiki jujur. Jika boleh meminta sebelum dilahirkan ke dunia ini. Kiki tidak mau terlahir dari rahim Linna.


"Santai saja Kiki. Selama kamu bersikap baik dan tidak meniru sifat mama kamu. Kamu tidak perlu malu."


Kiki hanya menatap Nada setelah mendengar perkataan itu. Mana bisa dirinya tidak ikut malu mengetahui sifat busuk mamanya.


"Kiki, apapun perbuatan mama kamu kepadaku itu bukan kesalahan kamu. Itu murni kesalahan mama kamu jauh sebelum kamu ada. Bima dan Nada adalah saudara kandungmu. Mereka akan lebih berdosa membiarkan kamu sendirian di luar sana. Jangan merasa tersisihkan karena kamu terlahir dari wanita yang berbeda dengan mereka. Kalian bersaudara. Mama berharap kalian bisa akur dan hidup damai. Saling menghormati dan menghargai. Tidak ada yang lebih indah dari hidup bersaudara yang saling mendukung."


Kiki merasakan matanya memanas mendengar nasehat dari mama Maya. Sepanjang hidupnya dia hanya melihat obsesi Linna akan harta Yuda. Tapi hari ini, dia mendengar nasehat bijak dari wanita yang sudah hancur di tempo dulu karena mamanya.


Kiki merasa dirinya dihargai. Satu hal yang tidak dia dapat dari Linna. Linna hanya menggunakan dirinya sebagai alasan untuk mendapatkan harta Yuda.


"Sekali lagi terimakasih bu," kata Kiki sambil mengusap sudut matanya yang sudah mengeluarkan air mata. Melihat adiknya menangis, Nada bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Kiki. Nada bisa melihat kehancuran di mata adiknya sejak pertama kali bertemu.

__ADS_1


Pemandangan indah itu membuat mama Maya dan Ella tersenyum. Ella juga merasakan kebaikan dan ketulusan hati Kiki sejak pertama kali bertemu. Bagi Ella, tidak adil jika Kiki juga mendapat hukuman dari apa yang diperbuat oleh Linna.


"Sudah acara peluk pelukannya. Jika sudah kita berangkat sekarang," kata Bima.


"Berangkat kemana kak?" tanya Nada antusias. Bima dan Ella tersenyum.


"Tiga jam lagi kita sudah harus di bandara. Sore ini kita terbang ke Paris," jawab Bima santai. Bima dan Ella mengajak keluarganya untuk liburan ke Paris sebelum menggelar resepsi pernikahan.


Nada melonjak gembira mendengar liburan itu.


"Mama dan papa ikut kan?" tanya Nada.


"Mama ikut tapi tidak dengan papa," jawab Bima. Awalnya Bima juga ingin berlibur bersama dengan papa Yuda. Tapi melihat keberatan di wajah mama Maya membuat Yuda harus rela tidak mengajak papanya.


"Ajak saja papamu Bima. Dia bisa menyusul kita," kata Mama Maya yang tidak tega melihat raut wajah kecewa putri kesayangannya. Melihat sifat manja putrinya kepada Yuda membuat mama Maya semakin bijaksana menyikapi hubungannya dengan Yuda. Biarkan mereka hidup tetap sebagai mantan. Tapi kasih sayang untuk anak anak dan cucu mereka kelak tetap nomor satu.


"Ini baru oke," kata Nada setelah Bima menghubungi papa Yuda dan setuju untuk ikut dengan mereka untuk berlibur.


Sementara itu Linna harus merasakan tidak enak hidup di penjara. Setelah mendekam beberapa bulan di penjara. Tidak seorangpun pernah mengunjungi dirinya di hotel tidak berbayar itu. Hal itu membuat dirinya sering melamun dan membayangkan kehidupan mewahnya selama menjadi istri Yuda. Linna benar benar merasa sendiri. Apalagi tahanan lainnya tidak ada yang berminat ingin berteman dengannya.


"Arghhh," erang Linna memukul kepalanya sendiri. Makin kesini Linna semakin menyadari jika usaha maksimal yang dia lakukan untuk memiliki Yuda ternyata tidak membuahkan hasil yang maksimal. Berharap bisa menguasai harta Yuda ternyata berakhir di penjara.


"Aku bodoh," cicit pelan tapi kemudian tersentak karena suara bising sel yang dibuka. Seorang tahanan baru bergabung dengan kamar sel sempit itu. Linna memandang kamar mereka yang sudah dibagi tiga itu. Dibagi tiga saja sudah terasa sesak kini sudah bertambah penghuni baru.

__ADS_1


"Kasus apa?" tanya wanita yang dikenal sebagai ketua di kamar itu.


"Penggelapan harta," jawab penghuni baru itu tanpa ekspresi. Mendengar tanya jawab dua wanita itu membuat Linna terus memusatkan pendengarannya kepada dua wanita itu. Ternyata bukan hanya dirinya yang dijebloskan ke dalam penjara karena harta.


"Dasar wanita wanita sampah. Demi harta rela melakukan apa saja," kata wanita itu sambil menendang penghuni baru yang duduk dilantai. Entah apa dendam wanita itu terhadap wanita penggila harta. Yang pasti terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


"Hei, mulutmu yang sampah. Apa hak kamu memperlakukan dia seperti itu?.


Wanita yang dijuluki ketua itu menatap garang ke arah Linna yang membela penghuni baru. Dia paling tidak suka jika dijawab seperti itu. Wanita itu melangkah dan mendekati Linna.


"Kamu membelanya karena sama dengan dia kan?. Asal kamu tahu aku berada di tempat ini karena wanita penggila harta seperti kalian. Aku difitnah oleh wanita setan seperti kalian."


"Itu urusanmu bukan urusan kami. Dasar bodoh tidak berguna."


"Iya anda benar. Bukan urusan kalian. Tapi mengetahui alasan kalian disini ada baiknya aku melampiaskan amarah ini kepada kalian. Tidak bisa melampiaskan ke orang yang memfitnah aku setidaknya melampiaskan kepada kamu yang tidak jauh sifatnya dengan orang yang memfitnahku."


Belum saja Linna untuk berbicara sebuah tonjokan kuat mendarat di mulutnya. Linna memegang mulutnya dengan kesakitan yang luar biasa. Dia menjerit ketika melihat telapak tangannya yang sudah berdarah.


"Siapa yang bodoh. Katakan siapa yang bodoh," bentak wanita itu. Tapi itu tidak membuat Linna ketakutan. Tidak memperdulikan kondisi mulutnya yang robek Linna mendorong wanita itu hingga terduduk di lantai.


Duel tahanan wanita itu kini sudah bergulat di lantai dengan tangan saling menjambak rambut lawan. Dua wanita lainnya yang ada di ruangan itu tidak berani melerai.


Linna meraung keras setelah mendapat banyak pukulan di tubuhnya. Bagai anak kecil dia menjerit jerit memanggil penjaga untuk menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2